Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 377


__ADS_3

Prok 


Prok 


Prok 


"Benar-benar penyambutan yang luar biasa!"


Deg!


Seorang wanita yang menggunakan dress biru muda masuk, bertepuk tangan dengan sorot mata tajam. Wajahnya tertutup oleh cadar. Li tersenyum penuh arti, sedangkan yang lain saling pandang dengan tatapan bingung, kecuali Arion. Pria menatap menatap lekat wanita itu, tanpa sadar ia melangkah mendekatinya. 


Wanita itu menatap Arion, matanya tak bisa menyembunyikan rasa rindu. Kedua tangan Arion kini memegang tangan wanita itu, perlahan naik ke pipi. Bibir Arion bergetar, dengan mata yang berkaca-kaca.


"Sayang, aku sangat merindukanmu!" Dalam sekali gerakan, wanita itu kini berada dalam peluknya. Bahu Arion bergetar, isak tangis terdengar jelas. Wanita itu tak lain adalah Karina, memejamkan mata membalas pelukan Arion. 


"Kau mengenaliku?" 


"Bahkan jika hanya tersisa abumu, aku akan tetap mengenalimu, isteriku Sayang!"jawab Arion. 


"Aku benar-benar bahagia bisa pulang," balas Karina. Keduanya berpelukan erat.


"Istri?"gumam Amri dan Maria, Enji sendiri masih menatap lekat Karina. Berbeda dengan Bintang, Biru, dan Bima yang mendekati kedua orang tuanya. Elina dan Gerry menatap Li, meminta penjelasan. 


"Kakak kau sudah pulang?" Enji dengan nada bergetar, melangkah mendekati Karina.


"Aku sudah berjanji. Aku tak akan berbohong, Zi!" Karina menatap Enji lembut. Arion melepas pelukannya, menatap mata Karina dengan bahagia tak terkira. 


"Huwah … Kakak!" Enji langsung menghambur dalam pelukan Karina, Arion tersingkir sedikit. Tapi tak marah, ia masih menatap Karina, matanya menyipit melihat cadar Karina. Tiga anak pertama Karina masih diam mengamati, tatapannya mereka sangat penasaran.


Maria dan Amri mengusap air mata mereka. Menantu mereka kembali, hari yang sangat membahagiakan. Keduanya berpelukan, menatap penuh haru Karina. Elina sendiri memeluk Li, sangat bahagia Karina kembali. Gerry sendiri tersenyum lebar dengan mata memerah. Hatinya sungguh bahagia. 


"Kakak kemana saja kau selama ini? Aku tersiksa dengan kerinduan ini!"tangis Enji, menangis di pundak Karina. Karina merasa pundaknya basah, oleh air mata. 


"Anak nakal, usiamu sudah 28 tahun dan kau masih menangis seperti anak kecil?"ejek Karina, tetap mengusap punggung Enji. 


"Aku memang anak kecil padamu!"bela Enji.


"Ya-ya. Kau tetap anak kecil di mataku," ucap Karina, melepas pelukan, mengusap air mata Enji.


"Jangan menangis, kau tampak lebih tua," ucap Karina. Enji tersenyum, mengangguk pelan. Menangkap tangan Karina agar tetap mengusap pipinya.


"Ck!" Arion berdecak sebal. 


Grep!


Karina kembali dalam pelukan Arion. Memeluk pinggang Karina dari belakang, meletakkan dagunya pada pundak Karina.


"Sayang, mengapa kau menggunakan cadar?"bisik Arion. Belum sempat Karina menjawab, Bintang memegang tangan Karina, mendongak menatap Karina. Karina menunduk.


"Bintang?"


"M-Mama!" Bintang langsung memeluk kaki Karina.


"Mama … akhirnya Mama pulang!" Biru ikut memeluk kaki Karina. Bima menatap kedua saudaranya, bingung mau memeluk Karina di mana.


"Mama … apa Mama mendengar doa kami?" Bima memutuskan memegang tangan Karina. Karina merasa aneh sejenak. Kedua kakinya dipeluk, kedua tangan juga dipegang, dirinya juga  dipeluk Arion dari belakang.


"Ibunda, di mana kami harus memelukmu?" Brian dan dua saudara yang sedari tadi memperhatikan, akhirnya bersuara. Arion menoleh ke sumber suara, begitu juga dengan yang lain kecuali Karina. Mereka bingung siapa ketiga anak itu juga apa yang mereka katakan, kecuali Li. 


"Bintang, Biru, lepaskan dulu kaki Mama, Nak," ujar lembut Karina. 


Kedua anak itu patuh.


"Mereka bertiga anakmu," ucap Karina.


"Anakku? Jadi Sayang kau?"


"Jangan dibahas sekarang," ujar Karina, melepas pelukan Arion kemudian berjongkok. Arion ikut berjongkok, Amri, Maria, dan Enji mendekat. 


"Assalamualaikum, Ayah," sapa ketika anak kembar itu, kompak bergantian mencium telapak tangan Arion. Bintang menatap itu dalam diam. Biru dan Bima saling tatap.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," jawab Arion, bergantian mencium kening Brian, Basurata, dan Bahtiar. Jujur ia masih terkejut dengan kenyataan ini. Istrinya kembali dengan tiga anak kembar? Sungguh luar biasa.


"Sayang siapa nama mereka?"tanya Arion lembut.


"Yang keempat bernama Brian Caesar Wijaya. Yang kelima bernama Basurata Yuda Wijaya, sedangkan yang keenam bernama Bahtiar Sakhi Wijaya," ucap Karina, menunjuk satu persatu anaknya. 


"Brian, Bara, dan Bahtiar? Sayang kau menamakan mereka sesuai dengan rencana nama yang kita buat?"


"Walaupun aku hilang ingatan, aku tetap mengingat nama-nama itu. Jujur aku pun heran, tapi itulah yang terjadi," jawab Karina.


"Tapi masalahnya, Sayang aku tidak paham bahasa mereka," ucap Arion.


"Hahaha … biarkan aku jadi penerjemah," kekeh Karina.


"Mama … jadi hanya aku seorang perempuan? Kelima adikku laki-laki? Mereka nakal tidak??"


"Memangnya Biru sama Bima nakal?"


"Enggak sih, mereka jahil," jawab Bintang.


"Berarti Bintang punya lima adik yang jahil. Ah satu lagi ada yang keras kepala juga. Saudara kelimamu itu sangat keras kepala dan sensitif," ucap Karina. Bintang membulatkan matanya.


"Bintang keberatan?"


Bintang menggeleng, malah tertawa. Biru dan Bima bersembunyi di belakang Arion, menatap waspada Bintang.


"Ar?"


"Nanti kamu juga tahu sendiri," jawab Arion.


"Li, Gerry bawa keenam anakku keluar. Biar aku yang mengakhiri masalah ini!"titah Karina. Li dan Gerry mengangguk, bersama dengan Elina menggiring enam anak itu keluar. 


Setelah mereka keluar, Karina membuka cadarnya. Semua mata membulat, terkejut dengan wajah Karina yang terdapat bekas luka.


"Karina wajahmu?" Karina tersenyum tipis.


"Kau kecewa?" Karina menatap Arion.


"Benar, Karina. Luka itu adalah bukti kekuatanmu. Kami tidak mempermasalahkan hal itu!"tegas Amri.


"Terima kasih," ucap Karina. Karina melepas pegangan tangan Arion, melangkah mendekati Sintia yang meringkuk di sudut ruangan. Adam yang menunduk lemas, bahkan mengangkat kepala saja terasa tidak mampu.


"Nona Sintia Isabella. Nama yang bagus tapi kelakuan durjana. Keluargaku mungkin merasa puas tapi aku belum puas!" Karina tersenyum smirk.


"Kejadian di ruangan ini, live di publik. Itu adalah hadiah pertemuan pertama dan terakhir kita. Selamat menikmati amarah publik!"


Sintia mengangkat kepalanya.


"A-apa yang kau katakan?"


"Aku tak masalah jika kau menjebak keluarga lain. Tapi jangan pernah sekalipun menjebak keluargaku! Aku tidak sebaik mereka!"


"Penjaga, lempar kedua orang ini keluar!" 


"Ti-tidak! Jangan lakukan itu. Ku mohon. Aku bersalah. Aku bersalah! Tolong lepaskan aku. Aku berjanji akan pergi jauh dari kalian!"pekik Sintia yang dibalas tamparan keras oleh Karina.


"Pergi atau kau akan mati di sini!" Mata Karina berkilat tajam, nadanya dingin.


"Dan masalah selesai. Ar kau masih hutang penjelasan padaku." Karina berubah menjadi lembut dan ceria. Arion ikut tersenyum.


"Kau juga hutang penjelasan padaku, Sayang," balas Arion.


"KARINA!"


Joya masuk dan langsung memeluk Arion, diikuti Darwis, Rian, dan Satya.


Gerry yang ikut masuk, berdecak sebal, ikut berpelukan. Sam, Lila, Calvin, dan Raina yang sewaktu penjelasan Enji tadi keluar, masuk dengan wajah yang cerah. Lila dan Raina ikut berpelukan juga. Ketika tertawa mendengar tangisan ketujuh orang yang memeluknya ini. 


"Nona, Anda kembali!"


"Karina kemana saja kau? Kau membuatku cemas setengah mati!"ketus Joya, melepas pelukan diikuti yang lainnya. Joya memukul keras lengan Karina.

__ADS_1


"Auh!"


Joya terkejut, Karina memegang lengannya dengan wajah kesakitan. Arion langsung memeluk Karina dan menatap marah Joya.


"Karina … jangan bercanda. Itu hanya pukulan keras yang biasa kita lakukan." Joya ketakutan, terlebih melihat Karina yang gemetar.


"Kakak … kau kenapa?"


"Kau benar, Joya. Tapi tubuhku tak sekuat dulu. Uhuk … uhuk!"


Darah keluar dari mulut Karina. 


"SAYANG/KAKAK/NONA?KARINA!"


"Sudah-sudah. Jangan berisik. Sebentar lagi juga sembuh," ucap Karina. Mata Karina mulai mengabur, kepala yang terasa pusing dan Karina pingsan dalam pelukan Arion. Semua menunjukkan wajah panik.


Li yang mendengar keributan langsung masuk.


"Gerry ambil serum Karina di lab!"pekik Li. Li menyuruh Arion membaringkan Karina di atas meja tempat ijab akan dilakukan tadi.


"Li apa yang terjadi?"tanya Darwis cemas.


Li menjelaskan apa yang terjadi, juga pertemuannya dengan Karina di Maroko. Tak lupa, Li juga memberitahu mengenai kelompok Anfa. Semua mendengarkan dengan beragam ekspresi, berubah seiring suasana cerita.


"Jadi begitu."


"Apa pria yang mengaku sebagai suami Karina juga ikut?" Wajah Arion muram, berubah dingin.


"Tentu saja. Dia pangerannya," jawab Li.


"Kurang ajar! Beraninya dia!"geram Arion.


"Tahan amarahmu, Ar. Karina hilang ingatan dengan kondisi hamil, jika akupun menjadi Emir, aku akan melakukan hal yang sama. Lagipula mereka tidak melakukan hal-hal intim. Emir tulus menjaga Karina. Dan ingatlah, biar bagaimanapun kita berhutang budi pada mereka. Jaga amarahmu jika bertemu dengan mereka nanti!"tegas Li.


"Kau benar! Aku harus tetap berada di sisi Karina!"sahut Arion.


"Di mana anak-anakku?"tanya Arion.


"Mereka di luar. Eli mengajak mereka makan," jawab Li.


"Tunggu dulu, Li. Tadi katamu Kakak berniat merekrut salah seorang dari mereka. Apa kemampuannya?"


"Ya, pria itu bernama Aldric. Ia mahir dalam pengamatan. Akan menjadi salah satu bodyguard anak-anak Karina," jawab Li.


"Salah satu? Ada berapa mereka?" Arion mengeryit.


"Delapan. Dan yang terpilih baru empat yaitu Syaka, Aldric, Ali, dan Laith," jawab Li. 


"Itu artinya masih kurang empat lagi, kira-kira siapa yang akan terpilih?" Amri menatap Li. Li menggeleng pelan. 


"Empat adalah angka pasti, itu bisa berubah jika anak kalian lebih dari delapan," ucap Li menatap Arion.


"Apa Bima juga dapat?" Maria bertanya.


"Tentu." 


"Li apa ada obat luka untuk bekas luka Karina?"


"Tentu saja ada. Tapi dengan bekas luka ini butuh waktu yang lama untuk menghilangkannya." 


"Syukurlah," ucap lega Arion.


Tak lama kemudian, Li datang dengan membawa serum Karina. Obat berupa cairan itu kini berada di tangan Li.


"Minumkan ini pada Karina," ucap Li pada Arion. Arion mengangguk, meminumkan serum tersebut dari mulut ke mulut. Enji memalingkan wajahnya, yang lain juga.


"Huek, pahit sekali!"keluh Arion setelah meminumkan serum tersebut. Cepat-cepat Arion mencuci mulutnya.


"Uh!" Karina mulai sadar, memegang kepala yang terasa pusing.


"KARINA!"

__ADS_1


"Sepertinya dosisnya harus ditingkatkan. Padahal baru satu jam tadi aku meminumnya," ucap Karina lemah.


__ADS_2