Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 186


__ADS_3

Jam makan siang di kantor pusat KS Tirta Grub telah tiba. Lila mengerucutkan bibirnya melihat meja Raina yang kosong. 


Sasha dan Aleza yang melihat itu saling pandang dan segera mengajak Lila untuk makan siang bersama di kantin.


Lila mengangguk dan segera bergabung dengan Sasha dan Aleza. Di kantin, Lila memesan makanan yang memiliki cita rasa manis. Hal itu membuat Sasha dan Aleza mengeryit. 


"Kak, biasanya kan kau memesan makalah manis? Tumben hari ini manis, ngidam ya?" terka Aleza. 


Lila mengangkat pandangannya dari layar handphone-nya.


"Kayaknya iya, soalnya lidah aku pengen makanan manis," jawab Lila. Memang itu yang ia rasa. Membayangkan makanan manis saja yang ada untuk hari ini.


"By de way kondisi kak Rara gimana ya? Sudah enakkan belum perutnya, rasanya hamil itu gimana ya?" tanya Sasha menatap Lila. 


"Ah ya benar, kak Lil, Kak Raina ada ngasih kabar?" timpal Aleza.


Lila kembali menatap layar handphonenya dan berkirim pesan dengan Raina. Lila membelalakan matanya melihat kiriman photo Raina bersama Calvin berada di daerah seperti sungai atau sejenisnya. Lila lebih heran lagi melihat jarak mereka. Biasanya kan Raina dan Calvin lengket kayak lem kalau sudah berdua.


"Kenapa kak?" tanya Aleza.


"Raina sudah sehat, sekarang malah blusukan di pinggir sungai. Kasihan Calvin panas-panas gini malah mancing. Ya demi keinginanan anak dan istri apapun harus dilakukan," terang Raina.


"Hah? Calvin mancing? Ragu gue." Aleza memukul meja sangking kagetnya. 


"Aku juga ragu sih, tapi ya mau gak mau bisa gak bisa ya harus mau dan bisa," jawab Lila.


"Kak kau belum menjawab pertanyaan keduaku," keluh Sasha. Lila diam dan memikirkan jawabannya. 


Tak menunggu lama, bukan jawaban tetapi pesanan mereka datang. Lila langsung berhenti berpikir dan menikmati makan siangnya dengan suka  cita. Sahsa mencembikkan bibirnya, kesal juga.


Aleza menyentuh pundak Sasha dan mengisyaratkannya untuk makan dulu. Sasha menurut dan menyantap suap demi suap makan siangnya hingga habis, begitupun dengan Aleza.


"Uhm, maaf ya, masalah rasanya hamil itu nano-nano, tapi lebih banyak bahagianya, tidak setiap waktunya sangat berharga. Hm, intinya kamu bisa deskripsikan sendiri setelah nanti kamu menikah dan hamil," ucap Lila setelah mengelap bibirnya dengan tisu.


"Begitu ya?" sahut Sasha. Lila mengangguk pasti. 


"Tapi aku mau nikah dengan siapa?" tanya Sasha lagi, menoleh ke arah Aleza. Aleza mengeryit.


"Apa?" tanya Aleza.


"Siapa yang mau menikah denganku? Aku ingin menikah dan hamil," ujar Sasha.


Aleza membulatkan matanya. Lila malah tersedak dan menatap Sasha, mengerjap dan menyakinkan pendengarannya.


"Sha, kau mau menikah dan hamil? Bukankah kau dulu pernah bilang tak mau menikah dan mau jadi bujangan seumur hidup? Hidup sendiri dan bebas tanpa ada ikatan selain dengan Queen?"


Sebagai teman satu angkatan namun setelah lulus beda lokasi kerja dan baru dipersatukan di perusahaan membuat Aleza paham sifat Sasha.


"Itu dulu, manusia kan bisa berubah. Aku melihat kehidupan kalian setelah menikah sepertnya tambah bahagia, aku juga ingin. Setelah ku pikir-pikir, hidup sendiri juga tak baik, aku butuh teman hidup namun berbeda gender denganku. Jika sama, aku bisa dibilang homo lagi," tutur Sasha, tersenyum lembut dan melempar pandang ke arah jendela. Memandang menara dua yang merupakan bagian gedung KS Tirta Grub.


"Pedang Biru kan banyak pria tampan, karakter dan finansialnya juga terjamin, di sini juga masih ada pria yang single, cus tinggal pilih."

__ADS_1


Lila melempar pandang ke arah belakang, melihat karyawan lain yang makan siang di ruangan sebelah yang hanya disekat dengan kaca. 


Yang unik adalah Lila dan yang berada satu ruangan dengannya bisa mengamati aktivitas karyawan yang makan siang di ruangan sebelah, namun tidak dengan yang di lain ruangan. Yang dapat para karyawan lihat hanyalah pantulan diri mereka sendiri.


"Tak maulah, mau cari yang di luar perusahaan dan Pedang Biru, seperti seniman atau chef," cetus Sasha.


"Apapun jodohnya, aku kita kembali bekerja, jam makan siang sudah mau habis dalam hitungan 10, 9, 8, 7, 6, 5, 4, 3, 2, dan 1. Deng deng, ayo kerja lagi," ucap Aleza. 


"Okelah, ayo," sahut Sasha. Lila dan Sasha segera memberikan kartu khusus mereka untuk membayar makan siang pada pelayan kantin. Setelah kartu mereka balik barulah mereka keluar dari kantin dan kembali menuju ruang dan meja masing-masing.


Di jalan, Lila kepikiran tentang Raina dan Calvin. Tiba-tiba saja matanya membulat dan refleks mengambil handphone-nya.


Ia berniat menghubungi seseorang namun ia batalkan. Lila lalu langsung kembali jalan dan menuju mejanya.


"Sudahlah, masa' dia istrinya gak tahu, atau bisa saja itunya sudah sembuh," gumam Lila, kembali bekerja. Waktu kerjanya tinggal satu sampai dua jam lagi sebelum ia pulang.


***


Setelah kurang lebih 4 jam perjalanan, Karina, Arion, Amri, Maria dan kakek Bram tiba tak jauh dari tempat di mana Nita dan Alia ditahan. 


Jaraknya sekitar kurang lebih dua ratus meter lagi. Tersembunyi tak terlihat jika tak diperhatikan dengan teliti. Di sana sudah terparkir tiga mobil lain yaitu mobil Enji, pengawal kakek Bram dan beberapa anggota Karina.


"Bagaimana Zi?" tanya Karina serius pada Enji.


Enji menggeleng. Kakek Bram was-was. Ia mendekati Enji dan meminta kejelasan.


"Kakak lihat deh hasil rekaman pengintai robot nyamukmu yang aku terbangkan tadi, ekspresi kak Nita kayak kosong gitu, terus Alia juga dikasih sesuatu biar gak berisik," ucap Enji menunjukkan hasil rekaman pengintai kepada Karina dan Arion.


Sedangkan kakek Bram, Amri dan Maria ditarik agar tak shock. Akan tetapi hal itu semakin membuat kakek Bram kalap. Ia memberontak dan memarahi Amri dan Maria. Karina mendengus dan menyuruh anggotanya untuk menenangkan kakek Bram. Pengawal kakek Bram tak dapat berbuat banyak, mereka diam tak berani melawan. 


"Kau kenal pria tua itu Ar?" Karina menunjuk seorang lelaki Tua, usianya kurang lebih seperti usia Amri. Ia duduk sebuah kursi dan menatap dingin Nita yang duduk terantai pada sebuah bangku kayu. Nita tak menampilkan raut wajah apapun, hanya tatapan kosong tak ada gelora kehidupan. 


Arion menggeleng tidak kenal. Bagi mereka, dikenal oleh banyak orang diseluruh penjuru dunia sudah biasa, tapi belum tentu mereka mengenal setiap orang yang kenal dengan mereka.


Di sekitar mereka ada sekitar kurang lebih dua puluh orang berjaga. 


Karina menggeraskan rahangnya melihat itu. Ia geram, ia dapat menerka apa yang terjadi pada Nita.


"Manusia ******** itu!" geram Karina mengepalkan tangannya.


"Tak ada kata ampun! Hancurkan saja bangunan itu berserta orang-orang, kecuali Nita dan Alia! Tapi ingat aku mau pria tua itu dibawa ke hadapanku! Segera!" titah Karina tegas.


Amarah menyeruak memenuhi rongga dadanya. Melihat Karina yang kelebihan emosi, membuat Arion khawatir. Dengan segera Arion memeluk dan menenangkan Karina.


"Ar, kamu pimpin penyelamatan ini, aku di belakang layar, gunakan peralatan lengkap, selamatkan korban baru habisi musuh!" Karina memberi instruksi dan memutarkan jari telunjuknya.


Semua bawahan yang hanya berjumlah 8 orang ditambah 4 orang pengawal kakek Bram segera bergerak.


Dengan senjata di tangan ke dua belas orang itu dengan berlari kecil menuju pusat di mana Nita dan Alia ditahan.


Arion ikut, Amri pun ikut mengajukan diri, dengan segera Amri memakai alat pelindung diri.

__ADS_1


Karina dan Maria tetap di mobil menunggu kakek Bram sadar. Karina memantau dari robot nyamuk yang ikut ia terbangkan mengikuti Amri, Arion dan lainnya.


Brak!


Tanpa ragu, Amri dan Arion menendang pintu gedung tua itu. Sudah nampak berkarat dan lapuk. 


Para penculik Nita dan Alia langsung siaga dan membentuk setengah lingkaran di depan pintu.


"Oh, ternyata anaknya pria itu, hubungan kalian sudah erat kembali ya?"


Suara pria yang merupakan dalang penculikan Nita dan Alia terdengar. Mendengar nama Amri disebut dengan inisial membuat Nita menoleh sekilas. Wajah datarnya kemudian mengulas senyum tipis.


Akhirnya mereka datang, batin Nita, berganti dengan tersenyum miris.


"Lepaskan mereka!" seru Arion lantang. Tak takut dengan dua puluh berbadan kekar dan berotot itu. Tatapan mereka menurutnya masih kalah dengan tatapan marah dan tajam Karina.


"Woah? Cucunya juga ikut?" Pria tua itu terkekeh. Ia berdiri dari kursinya dan mendekati Nita.


"Melepaskan mereka? Apa untungnya bagiku? Susah payah aku dapatkan, kalian minta aku lepaskan? Heh mimpi saja! Oh ya di mana pria itu? Apa ia tak ikut dengan kalian?" Dengan nada angkuh ia berbicara.


Amri dan Arion geram. Dengan segera Arion mengangkat tangannya untuk menyerang. Tanpa senjata tambahan, hanya menggunakan anggota tubuh saja mereka berkelahi. 


Pria tua itu mengusap wajah Nita sembari mengamati pertempuran di dekatnya. Nita menghindari dan memundurkan wajahnya agar tak disentuh.


"Uh? Tak mau? Ingat kau sudah menjadi-" ucap kesal pria itu.


"Apa? Aku tak peduli! Kau tak akan bisa mengambil apapun dariku!" teriak Nita marah.


"Tapi, aku sudah berhasil mengambil harga dirimu."


Pria itu tersenyum miring dan mengeluarkan senjata dari balik bajunya. Ia mengeluarkan senjata sebab melihat orangnya satu demi satu tumbang oleh orang Karina.


"Berhenti atau dia mati!" seru pria itu menodongkan moncong pistol pada pelipis Nita. Nita memejamkan matanya. Bukan takut mati tapi takut hati yang akan terluka jika ia tiada.


Amri dan Arion serentak menoleh ke arah mereka berdua.


"Lepaskan dia, atau kau yang akan mati! Kami tak main-main," ujar Arion tegas, dengan langkah teratur maju satu demi satu langkah.


"Berhenti ku bilang!" tegas pria itu lagi. Wajahnya angkuhnya mulai berubah jadi gugup dan takut. Arion berhenti. Ia tersenyum misterius.


Amri dengan segera menyelamatkan Alia yang terpisah cukup jauh dari Nita dan pria tua itu.


Setelah itu, Amri segera keluar untuk melakukan pertolongan pada Alia, diikuti oleh keempat pengawal kakek Bram. Sedangkan anggota Karina masih setia bersama Arion dan mengurus orang pria itu.


"Sebenarnya Anda siapa? Mengapa menculik istri kakek saya serta anak kakek saya?" tanya Arion serius.


"Ku ceritakan pun kau tak bakalan tahu," sahut pria itu, kembali angkuh.


"Oh ya, jadi ini urusannya dengan kakekku begitu?" balas Arion. Pria tua itu mengangguk samar.


Bruk! 

__ADS_1


Tiba-tiba saja tubuh pria tua itu jatuh luruh ke lantai dan tampak tak sadarkan diri.


"Obat bius pada robot," gumam Nita datar.


__ADS_2