
"Sudah ditangkap, keluarga itu hancur sempurna kini," ucap Arion puas, setelah menerima kabar dari orangnya mengenai penangkapan Rifki.
Karina ikut tersenyum. Suasana hatinya sudah membaik. Apakah mempan dengan rayuan gombalan Arion? Tidak! Tidak semudah itu. Tentu saja Arion harus mendapat kejahilan dari Karina.
Setelah puas membuat jantung Arion berdebar melihatnya mengemudi, juga ditambah dengan membayar jajanan yang Karina makan. Dan sialnya lagi, dia tak bawa uang tunai seperti yang ia ucapkan tadi.
Jadinya ia harus mencari ATM untuk mengambil uang tunai, sebab stand yang Karina kunjungi dan menunya ia beli dan makan di tempat, tidak menyediakan pembayaran nontunai.
Aku ambil uang untuk diriku, sedangkan kau kan suamiku. Sudah sewajibnya kamu menafkahi kebutuhanku. Dan ini juga bagian dari kewajibanmu, membuatku senang dan bahagia. Aku tak minta perhiasan ratusan juta. Mobil milyaran. Rumah mewah, hanya jajan seharga di bawah uang merah, sulit kah?
Itulah jawaban Karina tadi, saat ia bertanya tentang uang yang Karina ambil.
Mengeluh? Ya pasti, untuk apa Karina berhenti di ATM jika tidak mengambil uang? Ya bisa sih transfer, tapi buat siapa? Secara semua bawahan dan anggotanya lah yang mengirim uang padanya, itupun langsung ke rekening bank.
Tapi ya sudahlah. Kini keringat dan keluhannya dibayar tunai dengan senyuman Karina padanya. Ya begitulah.
"Akan tetapi aku sangat kasihan dengan Nyonya Aditya. Setahuku dan setelah ku cari tahu, ternyata dia wanita yang baik. Sayang, suami dan anaknya malah ambyar. Malah yang satu lagi suka padaku. Ck, untuk apa pria semacam itu, beraninya mencintai dalam diam. Ungkapkan kek, biar gak salah paham dan sakit sendiri."
Karina kesal dengan Rizki. Arion menaikkan kedua alisnya seraya menikmati bakso bakar dengan isian ayam merco.
"Jadi jika diungkapkan padamu, kau mau menerimanya dan memaduku begitu?" tanya Arion menatap Karina lekat meminta jawaban.
"Hm, memangnya kau mau dimadu? Mungkin aku akan menerimanya itupun sebelum aku bertemu dan menikah denganmu. Jika sekarang, akan ku suruh dia melupakanku dan mencari wanita lain, kalau dia nekat menghancurkan hubungan kita, akan ku tendang dia ke luar maut," jawab Karina, dengan sorot mata berapi-api.
"Ya aku lega. Tapi bukankah kau sudah membuatnya di antara hidup dan mati?" Arion menaik-turunkan alisnya. Karina menarik sudut bibirnya dan mengangguk.
"Hehe, mari kita kunjungi mereka, dan ambil keputusan setelahnya, jika memang masih bisa dipertahankan, maka aku akan tetap bekerja sama dengan mereka, mengenai masalah penggelapan dana dan kasus presdir dan anak tunggalnya bukan urusanku. Yang penting kerjasama dengannya aman tak tersandung apapun," ajak Karina, lagi-lagi mengulas senyum smirk. Arion tersenyum dan mengangguk pelan.
"Kau mau mempertahankan kerjasamanya atau mengakusisi perusahaannya?" tanya Arion penasaran.
"Kau saja yang akusisi. Beli semua sahamnya mumpung turun drastis. Masalah nama perusahaan, itu bisa diatasi. Aku akan ikut membantu di balik layar. Kinerja mereka bagus, tapi sang presdir terlalu gila harta hingga menyeleweng," ucap Karina, menatap Arion dengan tangan melipat di dada.
Arion terkesiap. Ini tak ada dalam pikirannya, akan tetapi sudah dikasih peluang, maka tak boleh disia-siakan.
"Aku harap kau tidak menyesal nantinya, Sayang," ujar Arion.
"Ya, setelah besar lagi akan ku ambil, sebab 50% saham sudah milikku, jadi kita imbang jika kau mengakusisinya," jawab Karina disertai kekehannya.
Membuat Arion membatu dan merasa tertipu oleh Karina. Melihat wajah linglung Arion sukses membuat Karina tertawa.
"Kau ini, suka sekali menerbang lalu menghempaskan!" gerutu Arion kemudian, menunjukkan wajah juteknya.
"Hehe, makanya kerja cepat dong. Peluang bisnis selalu ada selama akal berkembang. Aku sudah tiga langkah kamu masih mau mengambil langkah. Katanya mau mengejarku, maka lakukan detik ini juga!"
Nada bicara Karina jadi serius. Ya, wajar saja dalam bisnis tak ada hubungan keluarga, yang ada dimana ada keuntungan maka disitu tercipta hubungan.
__ADS_1
Karina membakar semangat Arion untuk mengejar ketertinggalannya dengan caranya sendiri, bukan dengan membantunya langsung, namun dengan menemani perjuangan Arion.
Jelas sekali terlihat apa yang kedua mertuanya katakan dulu, ternyata menantu kita lebih kaya dari kita.
"Hm, segera dilaksanakan Presdir Karina. Terima kasih atas masukan dan dukungan Anda. Saya Presdir Jaya Company merangkap suami Anda akan mengejar ketertinggalan saya. Tunggu dan temani saya menuju puncak kegemilangan. Bersama kita kuasai dunia bisnis dan bawah."
Arion menyilangkan kedua tangannya di dada dan menatap Karina mantap. Ucapannya tegas dan penuh semangat.
"Good!" puji Karina menaikkan kedua jempolnya.
Sekian detik kemudian, mereka tertawa lepas dan Arion memeluk Karina setelah membersihkan tangannya.
Aku akan menunggu hari itu tiba. Ekonomi dunia hampir aku kuasai semua. Dunia bawah, juga berada digenggamanku. Akan tetapi semakin bersinar mereka, akan semakin banyak musuh yang muncul. Aku harus siap siaga dan melindungi mereka dengan kekuasaanku! tekad Karina.
Aku pasti bisa. Mereka adalah semangatku. Tapi aku juga harus melindungi mereka dari para musuh yang menghadang dan datang, batin Arion.
Arion melihat jam tangannya. Waktu menunjukkan pukul 15.00. Arion lalu mengajak Karina berkeliling sekali lagi lalu pulang. Karina menambahkan sebelum pulang mampir ke rumah sakit tempat Rizki dirawat. Arion setuju.
Setelah berkeliling lagi dan membeli apa yang menarik selera, mereka kembali ke mobil. Ya masuk ke mobil masing-masing.
"Bawanya biasa saja. Jangan seperti tadi," peringat Arion pada Karina.
Karina hanya menggumam dan melajukan mobilnya, disusul oleh Arion di belakangnya. Tiba di lampu merah, Karina mengedarkan pandangannya. Terlihat ada anak jalanan yang mengamen, mencari uang dengan mengelap kaca mobil, berjual dari pintu ke pintu, mengemis, menjual bunga tangkaian.
Tiba di rumah sakit umum, Karina dan Arion menuju masjid yang terletak di area rumah sakit. Melaksanakan kewajiban baru menjenguk.
Di dalam masjid, mereka melihat sosok yang mereka kenali, ya walaupun lewat foto. Dia adalah Nyonya Aditya yang sedang mengaduh kepada Allah.
Mengambaikan itu sejenak, keduanya langsung menjalankan kewajiban. Ketika mereka selesai salat, mereka mendapati Nyonya Aditya sudah tidak di tempat lagi. Keduanya segera keluar dan mengedarkan pandangannya.
"Ya paksa ke ruang kematian deh," ujar Karina dengan nada malasnya. Arion menggeleng.
"Ruang ICU itu untuk menyelamatkan bukan menjemput ajal, Sayang," tutur Arion, menggenggam tangan Karina lalu melangkah menuju ruang ICU.
"Bagiku itu ruang maut. Dulu sewaktu Pak Arsuf dirawat, aku mendengar dan setiap aku keluar ruangan Pak Arsuf mencari udara segar dan melewati ruang ICU, selalu tangisan duka yang aku dengar. Dan parahnya lagi, dari 22 orang yang masuk selama kurang lebih 2 minggu, hanya 2 orang yang keluar dengan selamat. Malah dulu aku dengar ada yang dijuluki rumah sakit maut, dimana yang sudah dirujuk ke sana dengan kondisi parah, saat pulang dari sana tinggal raga, nyawanya sudah dicabut oleh Izrail," celoteh Karina. Arion tersenyum dan membenarkan ucapan Karina.
Tiba di depan ruang ICU, Nyonya Aditya duduk dan menundukkan wajahnya. Raut wajah kesedihan terukir jelas disana.
Wajahnya juga pucat. Rambutnya juga kusut. Karina dan Arion saling pandang.
"Nyonya," panggil Karina. Nyonya Aditya, Adinda Maharani, diam tak bergeming. Ia tetap menunduk. Sepertinya melamun.
Karina mendekat dan menyentuh pundak Dinda. Dinda tetap diam.
__ADS_1
"Nyonya, Anda okey?" tanya Karina.
"Hm?" Dinda mengangkat pandangannya dan menoleh ke arah pundaknya lalu kepada Karina.
"Anda memanggil saya?" tanya Dinda, serak.
"Tentu," jawab Karina.
Tatapan Dinda menyipit. Otaknya mencari wajah Karina dalam ingatannya. Setelah beberapa saat, wajahnya tambah memucat dan bergetar. Bibirnya membuka sedikit. Tangannya menyentuh tangan Karina.
"Kamu, bukankah kamu … Karina? Saya … saya meminta maaf atas kesalahan anak saya yang mencintaimu yang sudah bersuami. Maafkan saya gagal mendidik anak saya dan sekarang lihatlah akibat perbuatannya, dia terbaring koma di sana, di ruangan ini!" ucap Dinda, dengan nada terbata dan menatap Karina penuh pinta.
"Yang lalu biarlah berlalu Nyonya. Ya karma itu pasti akan datang, cepat atau lambat dan kini keluarga Anda telah menerimanya. Kami kemari untuk memawarkan harapan, apakah Anda menerima atau menolak itu, akan menentukan masa depan kalian selanjutnya. Mau hancur semakin hancur atau kembali bangkit saat badai reda," sahut Arion, merangkul pinggang Karina dan memberikan senyum tipisnya.
"Apa yang kalian tawarkan? Dan terima kasih telah memaafkan anak bungsu saya," ucapnya penasaran sekaligus lega.
Karina dan Arion segera menjelaskan. Tak sampai tiga puluh menit kemudian, kesepakatan tercapai dan akan terealisasi besok.
"Silahkan datang ke Jaya Company dengan membawa semua berkas yang diperlukan. Jangan lupa," peringat Arion, sebelum mereka pulang.
"Baik," jawab Dinda menunduk hormat. Setelah kepergian Karina dan Arion. Dinda kembali duduk dan menatap datar ke depan.
Aku pasti bisa! tekad Dinda, dengan percikan api semangat di dada. Ia tak boleh larut dalam kesedihan, dia harus kuat. Setidaknya untuk dirinya sendiri.
*
*
*
"Wanita sebaik dirinya, tak boleh bersedih terlalu lama," gumam Karina, melirik kaca spion dan goresan senja yang mulai menghiasi langit sore. Karina memutar lagu agamis dan menikmati setiap lirik dan alunan musiknya.
"Sedingin apapun seseorang, pasti akan menghangat dengan hati seorang ibu yang mulia. Yang Tuhan, maafkan kesalahanku di masa lalu yang pernah mengabaikan Mama dan menyakiti hatinya," ucap Arion pada dirinya sendiri, fokus pada jalanan di depannya.
*
*
*
Mira mengerut bingung dimana ia berada sekarang. Sekelilingnya berwarna biru. Sejauh mata memandang, tempat yang tapaki sekarang, semua berwarna biru. Ia mengedarkan pandangannya.
"Tempat apa ini?" tanya Mira, dijawab keheningan.
Ia ingat ia tadi sedang tidur dan begitu membuka mata, ia berada di sini.
__ADS_1
"Apa aku sudah mati? Dan sekarang aku berada di alam kematian? Kalau begitu, aku bisa bertemu dengan suamiku. Akan tetapi di mana jalan keluarnya? Tak ada pintu atau warna lain disini selain warna biru."
Mira kemudian melangkah dan berteriak memanggil. Dan ia baru sadar bahwa warna bajunya juga biru muda. Lelah, Mira memutuskan duduk dan menyeka keringat yang terasa dingin.