
"Papa hari ini kita akan ke tempat Mama. Mengapa Papa tidak menghias rambutku seperti biasanya?"
Gadis kecil dengan netra coklat, bertanya dengan nada lembut pada sang papa. Papa gadis kecil itu tersenyum lembut, mengusap rambut panjang yang putri yang tergerai indah hingga sepinggang.
"Karena Papa ingin menghiasnya di sana," jawabnya.
"Papa bilang Mama pasti akan kembali. Papa … apa bisa orang yang sudah tiada kembali? Atau apa Mama itu putri duyung yang bisa hidup di lautan?"
Sang papa terkekeh geli dengan pertanyaan sang putri. Putrinya menatap dirinya heran, mengerucutkan bibir yang membuatnya terlihat sangat mengemaskan.
"Sayang sekalipun Mama sudah tiada, bagi Papa, Mama tetap hidup dan selalu berada di sisi kita. Dan putri duyung itu cuma dongeng. Mama kalian manusia yang sangat luar biasa," tuturnya.
"Benarkah? Bintang juga merasa begitu. Bintang selalu merasa bahwa Mama ada di samping Bintang, setiap saat."
"Anak baik, Mamamu pasti bangga memiliki putri sepertimu," tutur Arion, mengusap kepala Bintang.
Bintang mengangguk senang.
"Papa, Mama sangat cantik," ucap Bintang menatap foto pernikahan Arion dan Karina yang terpanjang apik di dinding atas ranjang.
"Ya. Mamamu sangat cantik," sahut Arion, memeluk Bintang sembari mengedarkan pandangan.
"Papa sudah saatnya berangkat!" Dua orang anak laki-laki yang mana salah satunya memiliki wajah persis dengan sang gadis kecil masuk tanpa izin ke kamar Arion dan Karina. Sedangkan yang satu lagi adalah anak yang berteriak memanggil Arion. Arion menunjukkan wajah tak suka.
Kedua anak laki-laki yang menyadari tatapan kesal sang papa, tersenyum lebar menunjukkan deretan gigi putih mereka, menggaruk leher dan kepala yang tak gatal.
"Berulang kali Papa katakan, ketuk dan minta izin dulu sebelum masuk kamar orang lain. Jangan asal masuk!"
"Tapi kan kita bukan orang lain," bantah Biru, dengan nada dan wajah datar. Arion menatap kesal Biru, yang dibalas tatapan acuh. Persis seperti Karina. Arion menghela nafas kasar.
"Papa tahu itu. Ini peringatan terakhir atau Papa akan menghukum kalian bertiga!"
Kedua anak itu membentuk jari mereka menjadi huruf "O".
"Loh kok bertiga Pa? Yang salah kan cuma Biru sama Bima?"protes Bintang.
"Karena kalian adalah saudara. Kalian adalah satu tubuh. Apa kamu senang melihat sebagian dari dirimu sakit?" Arion mencolek hidung Bintang. Bintang menggeleng pelan.
"Banyaklah belajar mengenai hubungan dari paman-paman kalian." Bintang dan Bima mengangguk paham.
"Biru?"
"Hm."
"Okay Pa. Jadi mari kita berangkat," ajak Bima.
"Hm."
Arion berdiri dari ranjang, keluar diikuti oleh ketiga anaknya. Di ruang keluarga, sudah berkumpul Amri, Maria, dan Enji juga Alia. Senyum mereka kembangkan melihat Arion dan ketiga anaknya menuruni tangga, terlihat anggun dan elegan.
Gaun putih keemasan, rambut digerai, ditambah wajah datar berwibawa membuat kesan seorang putri dari rahim seorang Queen terlihat jelas. Netra coklat yang begitu dalam dan tajam seakan masuk dan membaca apa yang ada dipikiran lawan. Anak pertama Karina itu sudah menunjukkan aura seorang pemimpin.
Biru dan Bima sama-sama memakai setelan jas berwarna biru. Wajah dingin Bima dengan tatapan tajam. Manik matanya yang berwarna hitam sangat mirip dengan manik mata Karina. Biru memang paling mirip dengan Karina sedangkan Bintang lebih condong ke Arion.
Sedangkan Bima, anak itu memiliki wajah yang sama rupawannya dengan Biru. Perbedaan mereka hanyalah sifat. Bima lebih hangat dan murah senyum.
"Kakek! Nenek!"seru ketiga anak itu, berlari menuju Amri dan Maria.
"Duh tampannya cucu-cucu Kakek, sudah nggak sabar ketemu Mama ya?"
Amri yang duduk di antara Bima dan Biru mengusap rambut kedua bocah itu.
__ADS_1
"Kakek!"protes Biru dan Bima bersamaan.
"Susah payah merapikan rambut jadi berantakan lagi kan," keluh Biru. Amri malah terkekeh.
Bima merapikan rambutnya sendiri, sedangkan Biru membiarkan rambutnya berantakan.
"Biar Papa yang merapikannya nanti," ujar Arion.
"Baik." Biru mengembangkan senyum
Bima berhenti merapikan rambutnya, malah ia berantakan kembali.
"Loh-loh?" Enji terheran. Bima menjawab dengan tersenyum lebar.
"Tapi aku duluan. Kan aku anak pertama," ucap Bintang, melirik kedua adiknya.
"Ck. Hanya lima menit saja belagu!"gerutu Bintang.
"Jelaslah!"
"Baiklah kakak Bintang yang cantik," ucap malas Biru. Bintang menatap kesal adik kembarnya itu.
Arion dan lainnya tertawa lepas.
"Sudah-sudah. Ayo kita berangkat. Paman dan tante kalian pasti sudah menunggu," ajak Maria.
"Paman Enji kapan Paman bawa gandengan? Masa' asal pergi sendirian terus?" Enji merasa terpojok dengan ucapan Bima. Anak itu memang terlihat paling baik dan anteng tapi sekali bicara membuat lawannya mati kutu.
"Iya nih. Paman-paman yang lain sudah punya anak, paman malah betah single." Bintang menimpali.
"Paman juga punya anak tahu!"kilah Enji.
"Oh sepupu Bayu maksudnya? Perasaan kami belum pernah bertemu dengannya, bagaimana kami bisa percaya?" Biru ikutan juga.
"Karena ia masih belajar! Bayu akan kembali saat ia sudah selesai dengan study nya!"
"Kalian salah anak-anak. Waktu umur kalian sekitar delapan bulanan kalian sudah bertemu dengannya. Ia juga bersama dengan kalian saat kalian ini belum lahir," ujar Arion.
"Oohhh. Kalau begitu kapan sepupu Bayu pulang?"
"Mungkin lima tahun lagi," jawab Enji, berubah sendu, merindukan Bayu.
"Sudahlah. Ayo berangkat. Kita nostalgia di perjalanan saja," saran Amri yang disetujui semuanya.
Empat tahun sudah berlalu. Suka duka Arion lewati bersama dengan ketiga anaknya. Empat tahun tanpa Karina dan menjadi single parent Arion lewati tanpa mengeluh. Ia hanya mengadu pada sang pencipta. Bintang, Biru, dan Bima adalah alasannya untuk tetap kuat dan tegar.
Selama empat tahun itu, Arion menjaga, membesarkan, dan merawat ketiga anaknya dengan tangannya sendiri. Tentu saja dibantu oleh Amri, Maria, Enji, dan serta tangan kanan Karina. Pesan Karina benar-benar ia jalankan dengan sepenuh hati. Bagi Arion, memang raga Karina tak bersama dengannya akan tetapi setiap waktu yang ia lewati, Arion merasa ia selalu ditemani oleh Karina.
Tak ada secuil bahkan setitik niatnya untuk mencari ibu sambung bagi anak-anaknya. Pernah beberapa kali Maria yang cemas dengan kondisi Arion menanyakan rencana Arion untuk masa depan mereka. Setiap pertanyaan dijawab dengan jawaban yang sama.
"Aku sudah berjanji dan bersumpah hanya menikah sekali seumur hidup. Isteriku hanyalah Karina seorang. Biarpun ia telah pergi, aku tidak akan pernah mendua. Cinta kami sejati dan abadi walaupun dipisahkan oleh kematian. Lagipula apa nanti pertanggung jawabanku jika Karina kembali dan mendapati aku memiliki wanita lain? Aku tak ingin Karina kecewa. Hatiku hanyalah untuknya."
Maria yang merasakan keteguhan hati dan pembuktian ucapan sang putra, hanya bisa mendukung keputusan Arion. Benar juga, jikapun Arion menikah lagi, belum tentu menantunya itu bisa seperti Karina. Benar kata suaminya, hanyalah Karina, menantu satu-satunya keluarga Wijaya. Hanya Karina yang pantas!
Bintang, Biru, dan Bima bukanlah anak yang polos yang bisa dibohongi. Usia mereka memang baru menginjak lima tahun tapi pemikiran dan pengetahuan mereka lebih dari umur mereka.
Mereka tahu bahwa Mama mereka entah di mana dan bagaimana kabarnya. Entah masih hidup ataupun tiada. Menurut umum pun mustahil untuk selamat. Pemikiran mereka awalnya pun begitu. Tapi melihat keyakinan Arion, pesan Karina tetap membekas di sang Papa juga mereka yang sudah mendengarnya, membuat mereka ikut yakin bahwa suatu saat nanti pasti Karina akan kembali.
Bukan mudah mengurus tiga anak di tengah kesedihan. Tiga bulan. Arion menghabiskan waktu tiga bulan untuk belajar mengurus anak yang benar dari Maria, media sosial, juga dari dokter anak, dan baby sister di markas Pedang Biru, juga dari catatan yang Karina tinggalkan. Menjadi single parent benar-benar membuat hati dan tenaga Arion diuji.
Kadang Arion merasa tak sanggup. Tapi saat-saat Karina mengasuh ketiga anak mereka tanpa bantuan yang mana tugas Karina juga banyak, lelah badan dan pikiran, Karina selalu melewatinya dengan tersenyum, tak mengeluh sedikitpun, terlintas di ingatan Arion. Padahal saat itu, tanggung jawab Karina akan pekerjaan lebih besar darinya.
__ADS_1
Arion juga tidak pindah dari rumah ini. Di sini adalah rumahnya dengan Karina. Banyak kenangan manis di sini. Arion mengingat ucapan Karina," menerima itu lebih baik daripada melarikan diri. Jangan pernah lari dari kenyataan. Itu membuatmu mirip pecundang!"
Kediaman ini pun tak berubah sama sekali. Setiap sudutnya masih sama, kecuali nona mereka. Bik Mirna dan pelayan lainnya benar-benar terpukul. Mereka telah melayani Karina selama bertahun-tahun. Rumah tanpa kehadiran Karina rasanya tidaklah lengkap. Untunglah ada para pewaris yang menjadi obat luka mereka.
Selain itu, Arion juga tak melupakan kesempatannya dengan Karina. Bintang dan Biru, semenjak mereka lancar berjalan dan fasih berbicara, Arion sudah mengenalkan mereka pada tugas yang akan mereka emban kelak. Bintang menjadi pewaris Pedang Biru. Biru menjadi pewaris KS Tirta Grub.
Sedangkan Bima sendiri, menunjukkan minat pada penerbangan. Cita-cita anak itu adalah menjadi pilot. Arion mendukung apapun cita-cita Bima asalnya itu berada di jalan yang tepat. Benar kata Li dulu. Arion berniat menyerahkan perusahaannya kelak pada anak dari Bintang ataupun Biru. Biarlah ia memimpin sampai saat itu tiba, asalnya janji dan kesepakatannya dengan Karina terpenuhi.
"Paman," sapa Bintang, Biru, dan Bima pada Li dan Gerry.
"Tante." Mereka juga menyapa Elina dan Mira.
"Nona, Tuan Muda," sapa balas keempat orang itu.
"Selamat siang, Nona, Tuan Muda," sapa dua anak lelaki yang usianya tak jauh beda dengan mereka bertiga.
"Siang Ali, Laith," balas ketiga anak itu.
"Aigo harus formal dulu kan sebelum informal?"
Enji berkomentar.
"Ini sudah tradisi!"ketus Gerry.
"Iyalah!"
"Paman Li apakah Tante Raina dan Tante Lila juga ikut?"tanya Bintang penasaran.
"Tentu saja," jawab Li.
"Ooohh."
"Hari sudah siang, lebih baik kita segera berangkat," ucap Arion.
Sore harinya, mereka sudah berada di atas kapal pesiar, yang berlayar di atas samudra hindia. Arion menatap lurus ke depan dari lantai teratas. Anak-anaknya kini bersama dengan yang lain.
"Sayang apakah kamu benar-benar sudah tiada? Empat tahun, empat tahun sudah aku tanpamu. Empat tahun sudah aku bertahan tanpamu. Jujur hari-hariku terasa sangat berat. Rasa rindu ini begitu menyesakkan dada, Sayang. Rasanya mustahil, mereka mencibirku bahwa aku sudah gila karena berharap kau masih hidup. Akan tetapi keyakinanku lebih besar daripada omong kosong mereka. Ucapanmu akan kau akan kembali, selalu menguatkanku. Ini adalah hari kepergianmu. Berkali-kali aku kemari tapi mengapa kau tak kunjung hadir? Karina menatap samudra ini, aku merasa sedang melihatmu di dalamnya. Hatiku selalu bertanya - tanya benarkah ini tempat ragamu beristirahat?"
Arion menghela nafas berat. Menatap senja yang tampak sangat indah di ufuk barat.
"Papa!" Arion menoleh mendapati ketiga anaknya mendekat padanya.
"Ada apa?"tanya Arion lembut. Biru dan Bima mengambil tempat duduk di samping Arion. Sedangkan Bintang memeluk Arion dari belakang, meletakkan dagunya pada pundak Arion.
"Bersama-sama melihat Mama. Papa senja itu begitu hangat, aku merasa seperti Mama yang sedang memelukku," ujar Bintang, menunjuk senja.
"Papa jika air adalah tempat raga Mama, apakah langit tempat jiwa Mama?"tanya Bima.
"Apakah hati Mama ada pada Papa?"tanya Biru.
"Jiwa dan hati Mama akan selalu ada. Yang hancur hanyalah raga," jawab Arion.
"Ya aku merasakannya. Sangat hangat," ucap Biru, bersandar pada Arion.
"Jika Mama ada di sini, pasti akan lebih hangat lagi. Memeluk kita bertiga," ujar Bima, ikut bersandar pada Arion. Arion memeluk kedua anak lelakinya.
"Papa aku sangat merindukan dan ingin bertemu dengan Mama," ucap lirik Bintang, memejamkan matanya.
"Kami juga Pa," ucap Biru dan Bima serentak.
"Papa juga sangat merindukan Mama. Percayalah, Mama kalian adakah orang yang sangat menepati janji. Ia tak akan berbohong. Suatu saat pasti akan kembali," ujar Arion.
__ADS_1
Sayang kau melihatnya bukan? Kami begitu merindukan dirimu!