
"Nona kita menerima undangan pernikahan dari Jaya Company. Apakah anda akan pergi Nona?"terang Lila
"Hmm ... tidak. Kau dan Raina saja yang mewakili aku."ujar Karina tanpa berpaling dari laptopnya.
"Baik Nona." jawab Lila.
Karina menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menarik salah satu laci mejanya dan mengambil kartu kredit berwarna gold.
"Gunakan ini untuk membeli hadiah pernikahan."ujar Karina meletakkan kartu itu di mejanya.
"Baiklah Nona."jawab Lila mengambil kartu itu dan keluar.
Karina kembali disibukkan dengan tugasnya. Walaupun besok adalah hari pernikahannya Ia tetap berangkat ke perusahaan.
Persiapan pernikahan semuanya dihandle oleh Amri dan Maria. Karina dan Arion tinggal terima bersih.
Drrttt.
Drrtt.
"*Ya?"sahut Karina.
"Nona gaun pernikahan anda sudah selesai. Apakah saya antar ke rumah anda atau bagaimana?"tanya Enji.
"Besok pagi kau kirim gaunnya ke hotel Grand Nusa!"perintah Karina*.
Tut.
Karina mematikan panggilan sepihak.
Karina kembali fokus pada pekerjaannya.
15 menit kemudian.
Drttt ....
Drtt ....
"*Ya??"sahut Karina.
"Nona jam berapa saya harus mengirim gaun Nona?"tanya Enji.
"Jam 7 pagi!"jawab Karina.
"Baiklah Nona."ujar Enji*.
Karina mematikan panggilan namun kali ini tidak sepihak.
Drtt ....
Drtt ....
Karina kesal mendengar dering handphonenya lagi.
"Bisakah kau tidak menelpon ku lagi Enji! Kau kan sangat pintar pikirkan saja sendiri."ucap Karina tanpa mendengar dan melihat siapa yang menelpon.
Tut.
Karina mematikan handphonenya lagi dan ....
Phar.
Karina melempar handphone berlogo apel yang sudah tergigit itu ke sembarang tempat.
Suara itu membuat Lila kaget dan segera menuju ruangan Karina. Lila melihat Karina yang fokus dengan laptopnya dan handphone dengan layar yang pecah di sudut ruangan.
Melihat itu membuat Lila mengurungkan niatnya untuk bertanya. Lila kembali ke mejanya.
Di sana Ia menemukan Raina yang tampak resah.
"Ada apa Na?"tanya Lila
"Lila ada apa dengan Nona? Tadi aku mendengar ada suara seperti lemparan?" cercah Raina.
"Entahlah aku pun tak tahu. Sepertinya Nona sedang kesal. Sebaiknya kita tak mengganggunya."saran Lila.
"Oh oke."
Di lain tempat ....
Arion tengah kesal bercampur bingung.
Awalnya ia ingin bertanya pada Karina tentang persiapan pernikahan mereka dan yang pasti ia merindukan Karina.
Ia menelpon Karina. Namun sayang sekali Karina dalam mode sibuk dan kesal hingga Arion lah yang kena batunya. Ia mengacak-acak rambutnya kesal sampai membuat Ferry bingung.
Tapi tunggu Karina mengatakan bahwa aku adalah Enji. Berarti dia tidak melihat siapa yang menelpon dong? Tapi siapa itu Enji? Karina mengatakan biasanya berarti mereka sering berhubungan. Aiya ... apa aku di hianati ?batin sedih Arion.
"Tuan muda??" panggil Ferry pelan.
Arion diam tak menjawab. Entah tidak dengar atau bagaimana. Ferry memanggil Arion lagi namun dengan nada sedikit kuat.
__ADS_1
"Tuan muda??"panggil Ferry lagi.
Tetap saja Arion diam. Kekesalan Ferry mulai naik dan ....
"TUAN MUDA APA ANDA MENDENGAR SAYA??!!"teriak Ferry sambil menggeprak meja.
Arion kaget dengan teriakan Ferry itu. Ia menatap polos Ferry.
"Ah apa?"tanyanya.
Hilang sudah kekesalan Ferry melihat wajah polos Arion. Ia menarik napas panjang.
"Tuan muda persiapan pernikahan anda sudah selesai 99% dan besok anda tinggal menuju hotel Grand Nusa jam 8 pagi. Acara Ijab Qabul di mulai pukul 10.00 dan seterusnya adalah resepsi pernikahan anda bersama Nona Karina. Tuan?"terang Ferry menjelaskan.
"Bagus!"seru Arion.
"Ya sudah kau bisa kembali mengerjakan pekerjaanmu!"ucap Arion dengan maksud mengusir secara halus.
"Baik Tuan muda."ucap Ferry.
Ferry keluar dari ruangan Arion meninggalkan Arion yang kembali galau.
"Sudah sudah. Ayo kembali bekerja . Aku yakin dia bukan siapa-siapa Karina." gumam Arion menyemangati dirinya sendiri.
Arion kembali bekerja. Namun, pada kenyataannya ia tetap gelisah.
"Ah ... lebih baik pulang kerja nanti aku ke rumah Karina. Aku akan memastikannya."gumam Arion lagi.
***
Kantor Karina.
"Lila apakah kamu sudah menyelesaikan yang saya suruh?"tanya Karina.
"Sudah Nona. Semua informasi yang anda inginkan ada di dalam sini."ujar Lila memberikan flashdisk .
Karina mengambilnya.
"Baik kau bisa keluar."titah Karina.
Yang diangguki Lila.
Karina mencolokkan flashdisk ke laptopnya. Ia melihat data-data yang diberikan Lila.
Sepertinya ini lebih cocok untuk Enji yang menyelesaikannya.batin Karina.
Karina menarik salah satu laci dan mengambil handphone dari sana. Ia menghubungi Enji.
"*Ya saya Nona??"sapa Enji .
"Tugas apa itu Nona?"tanya Enji.
"Hmm ... tidak bisa aku jelaskan di telepon. Lebih baik kau ke rumahku saja jam 08.00 tepat. Ingat jangan terlambat!" jawab Karina.
"Baik Nona."sahut Enji*.
Karina mengakhiri panggilannya. Waktu menunjukkan jam 02.00 WIB.
Malam hari ....
Arion mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah Karina. Waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB.
Sementara itu Enji tengah bersiap menuju rumah Nonanya. Sebenarnya Enji adalah asisten bayangan Karina. Usianya baru menginjak 22 tahun. Satu tahun lebih muda dari Karina. Dia sudah menganggap Karina sebagai kakaknya.
Malam ini ia menggunakan pakaian santainya. Celana ponggol dan kaos berwarna hitam melekat di tubuhnya. Ia mengendarai motor sportnya kencang menuju rumah nonanya. Sedetik saja ia terlambat maka hukumannya akan sangat besar.
Sedangkan Karina tengah bersantai di kamarnya. Besok adalah hari pernikahannya. Tentu itu akan melelahkan baginya.
Jam 19.55 Enji tiba lebih dulu dari Arion.
Ia kemudian memencet bel rumah Karina.
Ting.
Ting.
Ting.
Pintu terbuka dan Ia disambut Bik Mirna.
"Enji silahkan naik ke kamar Nona. Kamu sudah ditunggu."ujar Bik Mirna.
"Oh baiklah bik. Aku naik dulu ya ...."ucap Enji tersenyum.
Enji menaiki tangga menuju kamar Karina.
Tok.
Tok.
Tok.
__ADS_1
"Nona saya sudah hadir ...." ujar Enji.
Karina yang mendengar suara Enji lantas memgambil remote di sampingnya dan menekan tombol hijau untuk membuka pintu kamarnya.
Setelah pintu terbuka Enji masuk menemui Nonanya. Ia duduk di hadapan Karina. Memang Enji terbiasa begini dengan Karina. Tak jarang ia bermanja walau tidak ada balasan.
Enji dengan santainya meminum minuman yang tersedia di meja dan memakan cemilan yang ada. Karina hanya memandang Enji datar.
"Kau pelajari ini semua. Cari informasi yang sudah aku siapkan di dalamnya. Waktumu adalah 1 minggu." ucap Karina datar meletakkan flashdisk di meja.
"Baik Nona." ujar Enji dengan mulut penuh makanan. Terkesan tidak sopan tapi itulah Enji bila bersama Karina. Sikapnya berubah dari singa menjadi kucing kecil.
"Apa kau belum makan malam Enji?"tanya Karina menyilangkan kedua tangannya di dada.
Enji menggeleng.
"Bagaimana aku bisa makan malam? Anda menyuruh saya tepat waktu."
"Oh jadi kau mau bilang aku yang membuatmu kelaparan?"tanya Karina menjewer telinga kanan Enji.
"Aduh ... aduh ... sakit Nona. Ampun Nona ... maafkan saya."aduh Enji.
Karina melepas jewerannya. Enji mengusap telinganya.
"Ayo ke bawah. Kita makan malam."seru Karina
"Ah baiklah Nona."sahut Enji.
Mereka pun ke bawah menuju meja makan untuk makan malam. Enji dengan lahap menyantap makanan yang ia sediakan. Sesekali ia menyuapi Karina.
***
Arion kini telah tiba di rumah Karina. Ia menemukan motor sport Enji di depan rumah Karina. Ia mulai resah. Namun ia segera menekan bel rumah Karina.
Ting.
Ting.
Ting.
"Ah Nona sepertinya ada yang menekan bel rumahmu?"ucap Enji.
Karina hanya menaikan bahu acuh tak acuh.
Ting.
Ting.
Ting.
Bel rumah kembali berbunyi. Kerena merasa terganggu Karina menyuruh Enji membukakan pintu dan melihat siapa yang datang. Enji segera menuju pintu dan membukakan pintu.
"Ya??" ucap Enji.
Arion berhenti menekan bel mendengar jawaban dari dalam. Tapi ia merasa janggal.
Kok kayak suara laki laki?
"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"tanya Enji yang mendapati Arion di depan.
"Kamu ....kamu siapa?"tanya Arion syok
"Saya? Saya hanya tamu yang diajak makan malam."jawab Enji.
"Apa??"kaget Arion.
Arion kaget sekaligus emosi. Ia menerobos masuk ke dalam. Ia mencari Karina dan menemukannya tengah makan malam dengan santainya.
Brakkk!!
Arion memukul meja yang membuat makanan tumpah di meja.
Karina tetap santai dan tenang.
"Hei kau siapa? Apa maksudmu? Mengapa kau masuk sembarangan hah?" tanya Enji bertubi-tubi.
"Aku siapa? Mengapa tak kau tanya padanya?"ucap Arion menunjuk Karina.
Karina menghentikan aktivitasnya. Matanya menatap Arion datar. Ia mengalihkan tatapannya kepada Enji.
"Naiklah ke atas tunggu aku di kamar." ucap Karina kepada Enji.
"Baik."
Arion membulatkan matanya. Kamar? Karina menyuruhnya ke kamar Karina.
"Hei apa maksudmu ... tunggu dulu kau jangan pergi dulu!!" cegah Arion mencekal tangan Enji.
"Lepaskan dia. Urusanmu denganku."
Arion melepaskan cekalannya kasar.
__ADS_1
"Karina apa maksudmu? Besok kita akan menikah. Mengapa kau menyuruh pria itu ke atas? Apa kau mau bercinta sebelum menikah denganku?"
Karina tetap santai mendengar ucapan Arion. Menurutnya biarlah Arion mengungkapkan isi hatinya sebelum menikah dengannya besok.