
"Mengapa ke kantormu? Pekerjaanku masih banyak dan kau membawaku ke sini?" Karina menatap kesal Arion. Arion tersenyum dan menggenggam jemari tangan Karina.
"Aku khawatir jika kau ke perusahaanmu sekarang, kau akan kembali bertemu dengannya," ucap Arion, dengan nada cemburu.
"Dan aku akan melepas dulu cincin itu," lanjut Arion, menyentuh cincin di jari manis Karina.
Karina memutar bola matanya malas. Arion segera menarik tangan Karina untuk menuju ruangannya. Sesampainya di ruangannya, Arion mendudukan Karina di sofa lalu melangkah menuju kamar mandi dan kembali dengan botol sabun cair beserta isinya.
Karina mengulurkan tangannya, Arion membasahi cincin dan jari Karina, lalu dengan perlahan berusaha mencopotnya. Setelah berusaha cukup keras, akhirnya cincin tersebut berhasil lolos jari jari manis Karina.
Arion segera mengelap jemari tangan kanan Karina menggunakan tisu.
"Maaf, aku pakai tenaga tadi, jari kamu jadi merah," ucap sesal Arion, melihat ruas pangkal jari manis Karina memerah.
"Gak Papa, sudah biasa, yang penting cincin itu lepas dan dia tidak lecet," ucap Karina tersenyum, mengambil alih cincin di atas meja.
"Aku yang simpan. Mulai hari ini kamu pakai cincin yang aku belikan," ucap Arion, merebut cincin tersebut dan memasukkannya ke saku jas. Arion cemberut dan mengundang gemas Arion. Dengan gemas, Arion mencubit pipi Karina.
"Sudah ah, aku mau kembali ke kantor," ujar Karina, menepis tangan Arion.
"Kamu gak ikhlas cincin ini aku yang simpan? Atau kamu mau beli yang baru lagi? Tenang, aku turutin kok," tanya Arion, melihat tampang kesal Karina.
"Bukan itu! Cincin itu kamu saja yang simpan tapi jangan sampai hilang. Suatu hari pasti akan diperlukan. Dan aku tak mau membeli barang apapun saat ini. Kamu kan tahu aku paling malas sama yang begituan," ucap Karina dengan nada datarnya.
"Tentu aku tahu! Tak ada salahnya bukan menawari istri? Kalau begitu, kamu di sini saja, temani aku bekerja ya," pinta Arion, menetap lembut Karina.
"Ayolah, jangan seperti anak kecil. Pekerjaanku masih satu meja lagi. Kau mau aku lembur nanti malam? Lagipula, aku harus segera menyelesaikan itu agar kau bisa menghukumku nanti malam."
Karina mengerling pada Arion. Arion membulatkan matanya sesaat dan tersenyum lebar.
"Ya baiklah. Jangan terlalu lelah," ucap Arion, mencium dahi Karina.
"Hm," jawab Karina.
Arion kembali mengantarkan Karina sampai mobil. Karina segera pamit dan masuk ke dalam mobil. Arion melambaikan tangannya saat mobil mulai bergerak maju. Setelah mobil lepas dari pandangannya, wajah Arion yang semula tersenyum berubah menjadi dingin. Ia mengepalkan tangannya dan dengan segera memasuki lobby, lift menuju ruangannya.
"Selidiki semua tentang Tuan Muda Kedua Aditya Alamsyah, secepatnya!" titah Arion pada Ferry. Ferry segera mengangguk.
"Habislah mereka, mencari masalah dengan kedua orang ini," gumam Ferry menyeka keringatnya dan prihatin dengan apa yang akan terjadi pada keluarga Aditya Alamsyah.
*
*
*
"Gerry, ku beri waktu setengah jam, kirimkan semua informasi tentang perusahaan Alamsyah, beserta data diri pemilik dan keluarganya!" titah Karina pada Gerry melalui handphonenya.
Karina menunjukkan wajah dinginnya dan mengepalkan tangannya. Pak Anton, berusaha keras untuk tenang walaupun keringat membasahi dirinya.
Duh, sepertinya akan ada trending topik, batin Pak Anton.
__ADS_1
"Mereka mencari masalah denganmu?" tanya Gerry penasaran.
"Begitulah. Sudah jangan banyak tanya, waktumu tinggal 28.45 menit," jawab Karina.
"Hei ini tak adil," protes Gerry, baru saja mau mengeluarkan protesan selanjutnya, Karina sudah menutup panggilan dan menghembuskan nafas kasar.
Begitu Karina tiba di ruangannya, email dari Gerry mengenai semua yang Karina titahkan di mobil tadi sudah masuk. Karina segera membuka dan membacanya dengan teliti. Karina menarik sudut bibirnya di pertengahan membaca. Ia kemudian menghubungi seseorang dan memerintahkan sesuatu padanya.
Di lain tempat, Arion mengepalkan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya meremas kertas laporan dari Ferry mengenai Rizki Aditya.
"Karina memang tak punya kekasih selain diriku, tapi ternyata dia punya pencinta dalam diam. Ini akan sulit nampaknya, apalagi pria itu terang-terangan pada Karina sekarang. Aku harus waspada dan menjaga Karina. Rizki Aditya, tak akan ku biarkan kau merusak kebahagiannya keluargaku, jika kau melakukannya, kematianmu adalah jawabannya," desis Arion geram, mencampakkan kertas yang sudah tak jelas bentuknya itu ke tempat sampah.
Arion terdiam dan mengeryit sesaat, tak lama wajahnya berubah menjadi terkejut dan segera menghubungi Sam.
"Hallo Bro, what problem?"tanya Sam dengan nada riangnya.
"Gue perlu bantuan loe," jawab Arion serius.
"Hm, bantuan apa? Katakan saja, aku selalu siap membantu," tegas Sam, menunggu tak sabar ucapan Arion selanjutnya.
"Cari tahu tentang sekolah Bina Dharmawangsyah dan alumni tahun ketamatan Karina dari sana. Aku perlu semuanya dan selengkap-lengkapnya. Tak ada yang boleh terlewat sekecil apapun, kau pahamkan?" ucap Arion memerintah. Sam di tempatnya mengeryitkan dahinya heran dengan perintah Arion.
"Sedetail-detailnya?" tanya Sam memperjelas. Arion mengangguk dan mengiyakan.
"Baiklah. Tunggu saja akan segera ku kirim setelah semuanya dapat," ucap Sam.
Percakapan via telepon segera berakhir. Arion menghela nafas dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Akan tetapi, pikiran dan hatinya tak tertuju pada pekerjaan di depan mata, malah melayang kepada Karina dan Rizki serta curiga bahwa masih ada lagi pencinta dalam diam Arion.
Suara pesan masuk ke handphone Arion. Arion membuka pesan tersebut.
Dari ribuan pria kamulah yang terpilih sebab hatiku memanglah ditakdirkan padamu. Biarlah para pencinta dalam diamku itu lelah sendiri dan akhirnya menyerah. Dari sejak aku berupa setetes air mani, namamu sudah tertulis di Lauhul Mahfudz sebagai takdirku. Jadi jangan cemas berlebihan. Percayalah, kamu adalah cinta sejatiku dan aku adalah cinta sejati dan bidadarimu. Masalah mereka, mau urus masing-masing atau duet? Aku sih terserah. Dan ingat juga bahwa aku juga cemburu saat mendengar cuitan para wanita di luar sana yang memujimu dan terang-terangan mengatakan cinta padamu, huh.
Awalnya Arion merasa damai dan bahagia dengan pesan Karina tersebut, dan berubah jadi membeku dan kesal dengan pesan terakhir Karina. Ia mendengus dan segera membalasnya.
My love and my wife is you, not them! balas Arion tegas. Tanda centang dua berwarna biru tertera, setelah beberapa saat menunggu hanya dibalas jempol oleh Karina.
Dasar aneh, batin Arion.
*
*
*
"Sialan! Siapa mereka?!" umpat Rizki kesal saat mobilnya dipepet oleh dua mobil dari sisi kanan dan kiri saat ia dijalan sepi. Ia terbiasa menyetir sendiri, bukan disetirkan.
Rizki menginjak pedal gasnya berusaha melarikan diri, namun kedua mobil itu tak berniat melepaskannya.
Dan sialnya lagi, merk kedua mobil itu jauh di atas mobilnya dan keahlian mengemudi mereka juga seperti pembalap profesional.
Brak.
__ADS_1
Satu mobil menghantam keras mobilnya, membuatnya memepet ke beton pembatas jalan, sedangkan satu mobil lagi menyeruduknya dari belakang. Sisi kiri dan bagian belakang mobilnya ringsek parah.
Sebagai sentuhan terakhir, kaca mobil pengemudi sang mobil yang memepet dirinya, terbuka dan keluarlah tangan memegang pistol.
Dor.
Dor.
Dua tembakan dilayangkan pada ban kiri depan belakang mobil. Disusul dengan tabrakan keras dari belakang membuat mobil terbalik dan mengguling beberapa meter sebelum akhirnya berhenti dengan posisi miring. Kedua mobil itu berhenti bersampingan. Dua orang keluar dari kedua mobil tersebut. Mereka melepas kacamata hitam mereka dan melangkah mendekati mobil Rizki yang sudah rusak super parah. Rizki sudah tak sadarkan diri dengan darah yang mengucur dari kepala dan luka-luka di bagian tubuh lainnya.
"Tangan kanannya patah belum? Coba periksa, jangan lupa pakai sarung tangan," ucap Pria yang memakai baju hitam berlogo FILA pada pria yang memakai baju biru dengan logo yang sama.
Pria berbaju navy mengangguk dan segera memeriksa lengan kanan Rizki setelah memakai sarung tangannya.
"Sudah patah, dan ayo segera pergi dari sini," ujarnya tegas. Pria berbaju hitam mengangguk.
"Tugas selesai!" Pria berbaju navy memotret sekali kejadian itu dan segera menyusul pria berbaju hitam memasuki mobilnya dan melaju cepat meninggalkan tempat kejadian yang sepi.
Kurang lebih 5 menit kemudian, orang-orang mulai berkumpul melihat kejadian tersebut. Disusul dengan datangnya pihak yang berwajib dan berwenang, tak lupa ambulancenya juga ikut. Rizki segera dilarikan ke liang lahat, eits, salah rumah sakit maksudnya. Dan pihak yang berwajib melakukan penyelidikan.
***
"Wah, cukup memuaskan," pekik Karina melihat foto yang dikirimkan orangnya.
"Nona, ada kabar terbaru, saham perusahaan Alamsyah turun drastis setelah presdirnya ditangkap oleh polisi dan kpk dengan tuduhan penggelepan pajak dan penyuapan beberapa proyek selain dari perusahaan kita. Juga terlibat dengan perdagangan gelap," lapor Lila pada Karina dengan tergesa dan terlihat terkejut.
"Owh," respon Karina datar.
"Apalagi, bangkrutkan saja sekalian, tapi jangan batalkan kerjasama dengan mereka. Dan jangan lupa, beri tambahan ya," titah Karina, dengan senyum smirknya.
"Oke, semua dalam kendali," sahut Lila, segera bertugas.
"Keluarga Alamsyah, kalian tamat sekarang! Putra tertuamu itu lumayan juga, dia juga terlihat bersih, aku selamatkan saja dia dan didik menjadi orangku," gumam Karina, menyandarkan kepalanya pada sandaran dan menimang.
"Tapi lihat saja nanti," tukas Karina pada dirinya sendiri dan segera memanggil Aleza dan memberikan perintah.
*
*
*
"Karina bertindak cepat sekali," gumam Arion menonton berita di televisi.
"Tak disangka, perusahaan yang dicap baik oleh semua orang ternyata malah ambyar di belakang layar," ujar Ferry, mendudukkan tubuhnya di samping Arion yang duduk di sofa.
"Peribahasa itu memang benar, sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga dan mereka itu sudah jatuh tertimpa tangga dan tertimpa genteng lagi. Ckck, miris sekali. Kejayaan mereka akan jadi sejarah dari sekarang sebab Karina pasti tidak akan berhenti di sini," tutur Arion, tersenyum bangga untuk Karina.
"Ya, Kakak ipar memang menyeramkan sekali bertindak langsung sampai akar-akarnya," timpal Ferry, meremang ngeri seandainya ia yang cari masalah dengan Karina.
"Hei, kau juga cari tahu dengan tuan muda pertama mereka, aku lihat dia orangnya stay cool di depan publik namun agaknya dia itu pemakai dan bandar obat-obatan," suruh Arion. Ferry mendengus dan bergegas menjalankan tugas setelah mengecap indahnya istirahat walaupun sesaat.
__ADS_1