
Para tamu semakin banyak yang hadir. Mereka memuji pengantin wanita yang cantik dan pria yang tampan. Menurut mereka itu adalah pasangan yang serasi.
"Huft," keluh Karina merasakan sakit pada pergelangan kakinya. Memang dia sengaja memakai hak yang tidak terlalu tinggi namun itu tetap saja sakit.
Dia dan Arion sudah berdiri lebih dari satu jam karena banyak tamu yang memberikan selamat atas pernikahan mereka.
"Kenapa?? Apa kakimu sakit??" tanya Arion
Karina mengangguk.
"Iya," jawab Karina.
"Ya sudah lebih baik kau duduk saja," ujar Arion.
"Hmm ...," gumam Karina.
Karina duduk di pelaminan sambil memijat pergelangan tangannya. Melihat itu Arion langsung mengambil alih pekerjaan Karina.
"Sudah biar aku saja," ucap Arion.
"Hmm ...." Lagi-lagi hanya jawaban gumaman Karina.
Arion memijat pelan pergelangan kaki Karina. Wajahnya tampak serius. Karina asyik memperhatikan wajah Arion. Merasa diperhatikan Arion mengangkat wajahnya.
Deg ....
Matanya beradu pandang dengan Karina.
Bersamaan dengan itu Lila dan Raina telah tiba di hotel Grand Nusa. Mereka melangkahkan kaki menuju aula tempat acara. Tak lupa kado di tangan mereka.
Sesampainya di aula mereka langsung mencari pengantinnya. Mereka menemukannya sedang duduk di pelaminan. Lila dan Raina menghampiri pengantin.
Karina dan Arion masih asyik berpandangan. Mereka tak menyadari kehadiran Lila dan Raina.
Lila kemudian mendehem menyadarkan mereka. Merasa ada tamu lagi yang ingin memberi selamat membuat Arion dan karina menoleh ke sumber suara.
Betapa kagetnya Lila dan Raina melihat Nonanya jadi pengantinnya Tuan Muda Jaya Company. Lila dan Raina saling berpandangan.
"APA??" pekik kaget mereka berdua.
Suara keras mereka menyita perhatian para tamu lain tak terkecuali keluarga Wijaya. Sedangkan Arion dan Karina menutup telinga mereka.
"Apa kalian tak punya sopan santun?" tanya kesal Karina.
Mendapat teguran dari Nonanya dan perhatian dari para tamu lain membuat Lila dan Raina salah tingkah. Mereka segera menundukkan 90° kepada Karina dan Arion serta para tamu.
"Maafkan kami telah menggagetkan para tamu sekalian," sesal Raina.
"Mengapa kalian berteriak hah? Apa ada yang salah?" tanya Arion .
Lila ingin menjawab bahwa yang menjadi istrinya adalah Nona mereka. Namun, tatapan tajam Karina mengurungkan Lila mengatakan itu.
"Emm ... begini Tuan Muda kami kaget karena ternyata mempelai wanitanya adalah sahabat kami," terang Raina takut-takut. Ia takut jawabannya membuat Karina marah namun tak diduga.
"Iya benar mereka sahabatku," ujar Karina cuek.
Lila dan Raina lega mendengar itu.
"Iya benar dia sahabat kami," tambah Lila.
"Karina mengapa kau memberitahu pada mereka kalau kau menikah denganku? Apa aku terlalu buruk untukmu ya?" tanya Arion pada Karina.
"Bukan seperti itu! Aku hanya memberi mereka kejutan," jawab Karina.
"Kejutan?" beo Arion.
"Iya ... kalau kau bertanya lagi maka jawabannya nanti!" tegas Karina.
"Baiklah No ... ah ... Ka ... ri ... na kami pergi dulu ya menikmati acara kalian sekalian menyapa para tamu lain," ujar Raina yang kesulitan memanggil nama Nonanya langsung.
"Baiklah," sahut Karina.
"Ahh ... ini hadiah untuk kalian ... kami ke sana ya," ucap Raina menyerahkan hadiahnya pada Karina dan segera menarik cepat Lila yang masih kikuk turun dari pelaminan dan segera menenggelamkan diri di antara para tamu.
Arion terkekeh melihat itu.
__ADS_1
Karina meletakkan hadiahnya di samping. Kemudian ia mengedarkan pandangan mencari sesuatu. Dia menemukan yang ia cari namun tak semuanya. Yang Ia temukan hanyalah Li dan anggota Pedang Biru yang ia undang.
Li dan yang lainnya tak terlalu kaget karena sebelumnya mereka sudah diberitahu Karina perihal pernikahannya.
Mereka menyebar melindungi tempat acara pernikahan Queen mereka.
Karina tampak puas dengan itu. Tanpa sadar ia tersenyum hingga membuat Arion mengikuti ke arah mana Karina memandang. Wajah Arion berubah masam melihat Karina memandang Li sambil tersenyum.
"Hei ... sampai kapan kau memandangnya? Apa lebih tampan dia daripada aku?" tanya Arion.
Karina memalingkan pandangannya kepada Arion.
"Memang! Tapi karena kau sudah jadi suamiku jadi di mataku, kau lah yang paling tampan," ucap Karina datar namun terselip rayuan.
Wajah Arion memanas karena itu pertama kalinya Karina memujinya.
"Aku lapar ...," aduh Karina.
"Lapar? Baiklah akan aku ambilkan makanan untukmu!" seru Arion bangkit dan mengambilkan makanan untuk Karina.
Tak lama Arion kembali. Tangan kanannya membawa piring berisi makanan dan tangan satu lagi membawa gelas berisi air minum. Karina makan dengan disuapi Arion.
Suasana romantis itu tak luput dari perhatian keluarga Wijaya, Li dan anggota Pedang Biru serta Lila dan Raina.
"Na ... aku masih gak nyangka loh kalau Nona menikah. Soalnya Nona kan dingin banget," ujar Lila yang masih tak percaya dengan apa yang ia lihat. Seraya menikmati minumannya.
"Iya benar kamu Lil tapi ya kita harusnya bersyukur karena ada yang bisa menghangatkan Nona es kita," sahut Raina.
"Hmm ... okelah," ucap Lila.
Saat sedang asyik menikmati minumannya dari belakang ada yang mendorongnya hingga Lila hampir terjatuh jika Raina tidak menahan tubuhnya. Namun, gaunnya kotor terkena tumpahan minumannya.
"Aduh ... siapa sih? Kalau jalan hati hati dong!" gerutu Lila.
"Iya ini ... jadi kotorkan gaun teman saya," sungut Raina .
"Ah ... maaf Nona-Nona ... saya membuat kalian jadi kesal ... tapi saya benar benar tak sengaja," sesal pria yang mendorongnya yang tak lain adalah Sam.
"Maaf ya maaf tapi gaun saya kotor jadinya bagaimana coba ini??" tanya kesal Lila.
"Kalau begitu saya akan
"Mau kemana kau Sam?" tanyanya yang tak lain adalah Calvin. Wajahnya yang tampan kotor dengan krim kue.
"Kau sudah mengotori wajahku! Kini kau mau lari lagi?" ujar Calvin geram.
Sam menggigil ketakutan. Ia berbalik menatap Calvin
"Maaf kawan aku tak sengaja," cicit Sam.
"Tak sengaja kau bilang? Kalau tak sengaja mengapa kau lari hah?" kesal Calvin.
"Itu ... aku mau mencari air untuk membersihkan wajahmu," ujar Sam.
"Kau ini sudah pandai ngeles ya?" ucap Calvin menjewer telinga Sam.
"Aduh ... aduh ... sakit tau!!" pekik Sam mengaduh.
Pertengkaran kecil mereka membuat Lila dan Raina semakin kesal.
"Sampai kapan kalian mau bertengkar? Bagaimana dengan gaun temanku ini?" tanya Raina.
Calvin mengalihkan pandangannya ke depan. Ia melepas jewerannya. Sam mengelus telinganya.
Deg ....
Calvin terdiam menatap Raina.
"Cantik," gumamnya tanpa sadar.
"Apa kau bilang? Kau ini,"ucap Raina kesal lagi. Ia gantian menjewer telinga Calvin.
"Aduh sakit," pekik Calvin.
"Hei sudah sudah! Kok jadi jewer-jeweran sih? Hei kau Tuan tolong segera ganti gaunku ini!" ucap Lila menunjuk Sam.
__ADS_1
Raina melepas jewerannya. Ia menghela nafas pelan.
"Oke-oke tunggu sebentar aku ambil dulu gaunnya," ujar Sam.
"Ya sudah sana cepat," usir Lila.
Sam pergi untuk mencari gaun.
"Eh dari tadi kalian sebut gaun-gaun. Eemangnya ada apa?" tanya Calvin yang belum mengerti keadaan.
"Temanmu itu tadi mendorong temanku dan gaunnya jadi kotor kena minuman," terang Raina.
"Oh begitu rupanya." Calvin mangut kecil.
"Hei Tuan ngomong-ngomong wajahmu sangat tampan ya," goda Raina tersenyum.
"Aku tahu aku memang tampan," balas Calvin percaya diri merapikan rambutnya.
"Iya kau sangat tampan dengan wajah penuh krim kue itu." Raina terkekeh geli melihatnya.
"Ah APA??" seru Calvin. Dia lupa bahwa ia belum membersihkan wajahnya.
Ia kemudian berjalan cepat meninggalkan Lila dan Raina menuju kamar mandi. Sedangkan Lila tertawa pelan.
Di lain sisi Sam tengah kebingungan. Pasalnya ia lupa bahwa ia tak punya gaun untuk wanita. Jika ia memesan dari butik mungkin akan membutuhkan waktu yang lumayan lama.
Otaknya bekerja keras mencari cara. Kemudian ia melihat Lila dan beralih melihat Karina di pelaminan. Ia membandingkan ukuran tubuh mereka.
Sepertinya aku pinjam saja lah gaun dari Kakak ipar. Pasti Kakak ipar membawa gaun yang cocok untuk Nona itu, pikir Sam.
Ia kemudian menghampiri Karina dan Arion.
"Kakak ipar?" panggil pelan Sam
Karina menoleh.
"Ya ada apa??" tanya Karina.
"Kakak ipar apakah kau membawa beberapa gaun? Kalau ada bisakah aku meminjamnya satu?" tanya Sam.
Karina dan Arion berpandangan.
"Apa kau mau memakai gaun wanita seperti dia?" tanya Karina heran menunjuk Arion.
"Bukan begitu Kakak ipar. Aku tadi mendorong seorang wanita dan kini gaunnya kotor jadi dia minta aku ganti rugi," terang Sam.
"Hmm ... okelah ... kau ambil saja di lemari putih di ruang rias," ujar Karina.
"Terima kasih Kakak ipar kau penyelamatku," seru Sam.
Karina hanya mengangguk. Sam segera menuju ruang rias. Sesampainya di sana ia mencari lemari berwarna putih. Ternyata itu ada di dekat meja rias. Sam membuka lemari putih itu dan menemukan satu gaun berwarna hitam dengan lengan mencapai siku.
Tanpa pikir panjang Sam mengambilnya dan segera menuju ke aula.
"Ini gaunnya," ucap Sam memberikan gaun itu pada Lila
"Lil kayaknya aku pernah lihat gaun ini deh?" ucap Raina berbisik.
"Iya aku pun," balas Lila berbisik juga.
"Hei sampai kapan kalian berbisik-bisik. Cepat ambil gaunnya dan segera lah berganti," kesal Sam.
Lila mengambil gaun itu dan segera menuju kamar mandi. Ia kembali setelah bertukar gaun.
"Tuan ... gaunnya bagus aku menyukainya," ucap Lila.
"Baguslah kalau kamu suka ... kalau begitu aku permisi dulu ya," balas Sam.
"Eh ... tunggu darimana kamu dapat gaun ini? Kalau dari butik kan tidak mungkin secepat ini?" tanya Raina yang merasa janggal dengan gaun yang dipakai Lila.
"Aku meminjamnya dari Kakak iparku," jawab Sam santai.
"Oh ... begitu ... Kakak iparmu punya selera yang bagus ... di mana dia sekarang?" tanya Lila.
"Itu ...," ujar Sam menuju ke arah Karina dan Arion.
__ADS_1
Lila dan Raina mengikuti arah tangan Sam. Betapa terkejutnya lagi mereka.
"APA??" pekik mereka lagi.