
Dua helikopter mendarat di bandara terdekat di mana pesawat dengan lambang KS Tirta Group sudah menunggu, siap untuk lepas landas. Rangga turun lebih dulu, menurunkan satu persatu ketiga tuan mudanya. Li turun, kemudian menggendong Karina dengan lembut, tak ingin membangunkan Karina yang masih terlelap. Brian menatap hal itu senyum lebar sedangkan Basurata dan Bahtiar menatap heran.
Emir, Osman, dan Rayan serta Aldric yang berjalan dengan bantuan tongkat mendekat. Emir terkesiap dengan apa yang ia lihat.
Kaira bisa tidur senyenyak itu dalam gendongan orang ini? Sedangkan denganku? Ia selalu waspada.
Hal itu juga yang ada dipikirkan Basurata dan Bahtiar.
Li menatap Osman, Emir, Rayan, dan Aldric dengan mata menyipit. Menilik penampilan yang menggunakan pakaian tradisional.
Ah lupakan. Eli juga begitu dulu, pikir Li.
"Mengapa Anda menatap kami begitu, Tuan Li?" Osman bertanya tak suka.
"Tidak. Tidak ada," jawab Li, tersenyum.
"Ayo silahkan ikuti saya," ujar Li, melangkah memimpin jalan diikuti oleh yang lain.
Brian, Basurata, dan Bahtiar takjub dengan suasana bandara. Mereka lebih kaget lagi ketika Li menaiki tangga berjalan pesawat. Begitu juga dengan yang lain, kecuali Rayan yang tersenyum geli.
Ketiga anak itu berdiri diam di depan tangga. Menatap Li sudah sudah tiba di depan pintu dan kini menatap mereka.
"Naiklah. Ini pesawat Ibunda kalian," ucap Li, kemudian masuk.
"Paman?" Brian menatap Rangga.
"Jangan terkejut begitu, Tuan Muda. Kekayaan dan kekuasaan Ibunda kalian jauh dari apa yang kalian bayangkan. Ini hanya salah satunya," tutur Rangga.
"Lebih dari yang kami bayangkan?" Bahtiar dan kedua kakaknya membulatkan mata.
"Benar. Sekarang ayo naik," ujar Rangga. Ketiga anak itu terlihat ragu-ragu dan ada sedikit rasa takut untuk menaiki tangga berjalan itu.
"Naik saja," gemas Rangga, menggandeng tangan Brian dan Basurata, Basurata sendiri menggandeng Bahtiar.
"Huwah Paman!"pekik ketiganya.
"Anak-anak!"seru Osman dan Emir cemas.
"Giliran kalian, lekaslah," ucap Rangga setelah tiba di depan pintu.
Emir naik duluan, disusul Osman, Rayan, dan Aldric.
"Paman ini menegangkan tapi seru!"ucap Bahtiar yang diangguki Basurata dan Brian. Rangga tersenyum lebar, mengajak mereka masuk.
"Di mana Kaira?"tanya Emir.
"Di kamar," jawab Li yang datang dari sisi kanan, baru keluar dari kamar Karina.
"Mengapa diam? Duduklah," ujar Li heran, duduk di kursi tunggal, menepuk tangan memanggil pramugari.
Osman, Rayan, Aldric dan tiga anak Karina mengagumi interior pesawat ini. Emir tak peduli, ia menatap Li dan Rangga yang kini menikmati coklat hangat. Di meja juga tersaji beberapa gelas coklat hangat serta cemilan.
Brian, Basurata, dan Bahtiar memilih menemani Karina di kamar.
"Aku punya pertanyaan yang belum sempat aku utarakan," ucap Emir dengan logat pemimpinnya. Li menaikkan alisnya bertanya. Rangga memilih mendengarkan sembari mengerjakan laporan perjalanan bisnis kali ini.
"Silahkan."
"Bagaimana bisa Kaira Queen Pedang Biru?"
__ADS_1
"Tidak ada yang mustahil. Bukankah tiada yang tidak mungkin bagi sang Pencipta? Empat tahun lalu, Karina pergi untuk perjalanan bisnis. Tapi perjalanan tidak berjalan mulus. Cuaca buruk menyebabkan kerusakan pada pesawat dan meledak di atas samudra. Kami sudah berusaha untuk mencarinya. Setelah seratus hari, kami menghentikan pencarian di samudra, mulai mencari di daratan. Tak ku sangka akulah yang pertama kali bertemu dengannya. Tuan Emir bagaimanapun kami berhutang budi pada kalian. Kami akan membalasnya," jelas Li.
"Dia benar-benar wanita hebat," kagum Rayan, tak bisa berhenti mengagumi Karina.
"Aku mengerti. Tak ada yang mustahil bagi yang Kuasa sekalipun itu di luar nalar. Baiklah, aku ajukan pertanyaan kedua. Penyebab fisik Kaira kian melemah, itu racun atau apa?"
"Itu tidak bisa disebut racun, mirip madu namun sangat membahayakan jika tidak diberi penawar. Manis yang berlebih tidak baik, kekurangan gula juga buruk, itulah yang terjadi pada fisik Kaira. Jadi bisa kalian simpulkan apa itu?" Li menatap Emir dengan senyum tipis.
Emir diam, dahinya mengerut dalam, mencari jawaban. Tak lama kemudian ia menghela nafas pelan, menggeleng menandakan tidak tahu. Li terkekeh pelan.
"Ada pertanyaan lain?"
"Mengapa kalian masih yakin Kaira masih hidup setelah sekian lama?"
"Keyakinan kami. Karina tidak akan mengingkari janjinya. Ia berjanji akan pulang dengan selamat dan janji itu sudah terpenuhi. Dan sekalipun ia sudah tiada, ia masihlah hidup di hati kami, keluarga dan bawahannya!"tegas Li.
Emir terhenyak. Tak menduga latar belakang Kaira yang begitu luar biasa. Pemimpin yang sangat dihormati, dihargai, disegani, dicintai, dan disayangi oleh seluruh keluarga dan bawahannya. Seorang wanita hebat yang mampu memimpin perusahaan dan organisasi besar. Betapa bagusnya jika ia menikahi Karina, tapi sepertinya itu tinggal khayalan.
"Ada lagi?"
"Yang terakhir, mengapa Anda begitu santai menjawab pertanyaan saya? Bukankah seharusnya Anda curiga? Dan apa Anda tak waspada dan khawatir dengan saya? Bisa saja kan saya menjadi duri dalam hubungan keluarga Kaira?"
Li menatap datar Emir. Emir menatap penasaran Li. Pria tinggi itu tertegun melihat Li yang tertawa lepas.
"Jawabannya sederhana!" Li berujar datar. Suasana yang tadinya ringan berubah serius.
"Yang pertama, Karina mengizinkan kalian ikut artinya Karina menganggap kalian keluarga. Aku sebagai tangan kanannya harus menyambut kalian dengan baik. Selain itu, pertanyaan itu bukanlah hal baru. Anda juga tahu kondisinya secara Anda sempat menjadi suami palsunya! Terlebih keterangan yang berikan tidak akan berguna bagi Anda!"
Emir merasa tersindir saat Li menekankan kata"suami palsu". Wajahnya berubah kecut, Li malah tersenyum lebar.
"Aku mengaku salah. Seharusnya aku benar-benar menikahinya!"gerutu Emir.
"Hmph!"
"Baiklah. Jawaban selanjutnya, jika Anda benar-benar mencintai Karina, Anda tidak akan menghalangi apalagi menghancurkan kebahagian sejati Karina. Anda tahu betul perasaan Karina pada Anda, kosong. Hati Karina hanyalah milik suaminya. Janji dan cinta mereka sejati, mustahil orang luar untuk merusaknya. Kepercayaan di antara mereka sangatlah tinggi!"
Li mengatakan hal itu untuk membuat Emir sadar diri dan melupakan niatnya jika ada untuk jadi orang ketiga. Emir benar-benar disudutkan.
"Jika Anda melakukan hal itu, menghalangi dan merusak itu artinya bukan cinta melainkan obsesi. Tuan … jika memang obsesi lebih baik Anda segera turun dari sini. Kami tidak akan pernah mengizinkan dan memaafkan obsesi apapun yang ditujukan pada Karina. Jika Anda melakukannya, kami akan membuat hidup Anda lebih parah dari kematian! Aku dengan tanganku sendiri akan menghancurkan dirimu!" Aura intimidasi Li keluarkan. Kecuali Rangga, yang lain merasa tertekan. Li menatap tajam Emir, memberi ancaman dan peringatan.
"Aku benar-benar mencintai Kaira!"seru Emir.
"Maka jangan ganggu kehidupan dan keluarganya!"
"Baik! Selama Kaira bahagia aku juga bahagia! Selama Kaira senang aku juga senang. Ini cinta bukan obsesi! Tapi jika Kaira tidak bahagia dengan suaminya, aku akan merebutnya!" Mata Emir berapi - api.
"Merebutnya? Hm aku sangat penasaran." Li tersenyum misterius. Emir merinding dengan senyum Li.
"Semua sudah jelas, bagaimana dengan kesepakatan kerja sama kita?" Rayan mencairkan suasana dengan mengalihkan pembicaraan pada bisnis.
"Benar juga. Yang kita bicarakan tadi hanyalah penawaran hubungan kerja sama. Sekarang kita sudah sekutu, waktunya membahas lebih dalam. Rangga catat hasil diskusi ini!"
"Pedang Biru menguasai beragam bidang. Salah satunya adalah persenjataan. Kalian memiliki senjata dari material yang kuat, jika digabung dengan teknologi kami maka itu akan sangat luas biasa. Selain itu, kita juga bisa berkerja sama dalam bidang peternakan. Daerah kalian cocok untuk peternakan unta dan kuda," ucap Li.
Mereka tak menyangka Li telah mengamati daerah mereka dalam sekali kunjungan.
"Mengapa heran? Sebelum melakukan perjalanan, aku sudah mengetahui seluk beluk daerah yang akan aku datangi."
Ehem.
__ADS_1
"Biarpun begitu, kendala utama untuk membuat perternakan kuda adalah makanan, juga sumber air," sergah Emir.
"Apa kalian tahu teknik pertanian green house? Mengenai sumber air, pasti ada solusinya," jawab Li.
"Mengapa tak menanam kaktus saja? Kaktus bisa menyimpan air sekaligus menjadi pakan unta," saran Rangga.
"Tepat! Aku setuju!" Li menepuk
pundak Rangga.
"Sumber air, sepertinya aku tahu caranya." Aldric angkat bicara. Semua tatapan tertuju padanya.
"Daerah kita dekat dengan sungai, bukankah kita bisa membangun sebuah bendungan atau waduk?"
"Jelaskan lebih detail!"ucap Li.
"Di dekat lokasi peternakan nanti, kita bisa membangun sebuah kolam. Air dari waduk kita alirkan ke kolam itu dengan bantuan pipa yang di tanam di bawah tanah. Dengan begitu kita tidak perlu takut dan repot mengenai air," lanjut Aldric.
"Sungai? Bendungan? Kolam?" Li memegang dagunya, memikirkan saran Aldric.
"Jika begitu, maka rutenya adalah…."
Li menyingkirkan semua yang ada di meja, mengetukkan jarinya ke meja dan layar hologram pun muncul. Li mencari peta daerah Emir. Benar, ada aliran sungai yang terletak sekitar 3-4 km dari pemukiman Emir.
Li menarik garis dari sungai menuju pemukiman.
"Lumayan jauh. Tapi bukan hal sulit. Ada pendapat lain?" Li menatap Emir dan Rayan.
"Biarpun itu sebuah solusi, tapi kami tidak punya biaya sebanyak itu," ucap Osman.
"Hei-hei. Kita ini kerja sama. Kami modal kalian tenaga. Keuntungan bagi dua," sunggut Li kesal.
"Lebih lanjutnya akan kita bahas di pusat. Kita sudah dapat dua kerja sama, senjata dan peternakan," sela Rangga.
"Jika ada yang ingin Tuan-Tuan ajukan lagi, silahkan ajukan," tambah Rangga.
"Untuk saat ini tidak ada. Aku akan memikirkannya lagi," jawab Emir.
"Baiklah. Kalian silakan istirahat, bisa di sini juga di kamar. Emir kau dilarang keras masuk ke kamar Karina atau aku akan melemparmu dari pesawat!"tegas Li.
"Aku-aku mengerti," sahut Emir takut. Li bukan orang yang bisa ia singgung.
Osman dan Emir ke kamar diantar oleh pramugari sedangkan Rayan dan Aldric tetap bersama dengan Li dan Rangga. Agaknya kedua orang itu kelelahan dan tidur dengan kepala dan bahu bersentuhan.
Li yang kini memijat dahinya, terkejut mendengar nada notifikasi handphonenya, sebuah pesan dari Elina. Li mengeryit membaca pesan tersebut. Matanya menunjukkan rasa marah dengan rahang mengeras. Tangan kiri Li mengepal, Rangga yang sibuk mengetik menoleh ke arah Li, merasa merinding.
"Kakak ada apa?"tanya Rangga penasaran.
"Beraninya! Beraninya dia!"geram Li.
"Siapa?"
"Kau tak perlu tahu!"
Ting!
Ada pesan masuk lagi. Li membacanya dengan seksama. Emosinya perlahan mereda, menghela nafas kasar dan membalas pesan tersebut. Li kemudian meletakkan handphonenya di atas meja, tersenyum tipis.
Benar. Mereka tak kan mengizinkannya!
__ADS_1