
Di salah satu kamar, seseorang terbaring lemas di atas ranjang. Matanya menatap sayu langit-langit. Jemarinya terasa dingin, bibirnya pucat dan sorot mata yang mulai meredup.
"Sayang di mana kamu sekarang? Mengapa belum kembali juga? Cepatlah pulang. Aku dan anak-anak sangat merindukannya," ucapnya lirik.
Air mata tak kuasa ia tahan. Lingkar matanya hitam, sembab, cekung kekurangan tidur serta kebanyakan menangis. Walaupun sebisa mungkin ia tak menyalahkan diri sendiri, sebisa mungkin tak menyesali keputusannya mengizinkan Karina pergi, mungkin Karina kini masih berada di sampingnya.
Tapi nyatanya, penyesalan dan rasa bersalah itu tetap dan kian mengusik Arion. Seandainya saja saat itu Arion melarang Karina tegas, tak mengizinkan Karina pergi dengan alasan apapun, pasti Karina tidak akan pergi walaupun ia dan Karina harus berperang. Biarpun Karina akan marah padanya, setidaknya ia tetap bersama dengan Karina.
Tapi itu hanya seandainya. Kenyataannya berbeda. Arion kini hanya menggenggam hati Karina tapi tidak raga Karina.
Arion menoleh pelan ke arah pintu ketiga mendengar suara berisik mengetuk pintu kamarnya. Arion tahu pasti siapa yang berani mengetuk keras pintu kamarnya, siapa lagi kalau bukan Enji, dan tangan-tangan kanan Karina. Arion berusaha untuk bangkit dari ranjang, membuka pintu kamarnya.
"Ar … Ar. Cepat buka pintu kamarnya. Kau harus makan untuk mencari Karina. Jangan siksa dirimu sendiri!"
Arion menyahut tapi dengan suara lirik, sungguh ia merasa tubuhnya kosong tanpa tenaga. Saat ingin berdiri, Arion tak sanggup menahan berat badannya alhasil terduduk di lantai. Arion merasa kepalanya sangat teramat pusing, perutnya juga sakit, dirasanya asam lambungnya naik dan beberapa detik kemudian, Arion tak sadarkan diri.
Di luar kamar, wajah keenam pria itu cemas. Enji segera menghubungi bagian kamar, meminta kunci cadangan. Tak berselang lama, pintu kamar Arion terbuka.
"ARION WIJAYA!"seru mereka panik mendapati Arion yang tak sadarkan diri. Li segera menghubungi dokter. Gerry dan Darwis membaringkan Arion di ranjang.
"Astaga! Berapa hari ia tak mandi?" Satya menggeleng pelan melihat penampilan Arion yang kacau.
"Dahinya panas sekali. Sepertinya ia demam," ujar Gerry.
"Siapkan pakaian ganti untuknya. Sebelum ditangani oleh dokter, kalian berdua bersihkan tubuhnya," ujar Li menunjuk Rian dan Satya. Keduanya mengangguk.
Enji sendiri berdiri di sudut ruangan dengan wajah tertekan. Ia tahu betul seberapa besar terpukul dan terpuruknya Arion. Yang ada di pikiran kakak iparnya itu hanyalah Karina, Karina, dan Karina.
Jika bukan paksaan dari mereka, Arion tak akan makan barang sesuap. Jika bukan desakan dari mereka Arion tak akan memikirkan kesehatannya sendiri. Tapi hari ini, mereka semua fokus mencari dan membuat rencana jangka panjang. Alhasil, Arion sendirian dan tenggelam pada keterpurukan.
Kini Arion telah ditangani oleh dokter. Asam lambungnya naik, kekurangan istirahat, kekurangan nutrisi, dehidrasi, serta beban pikiran. Jarum infus menancap di lengan Arion. Dada Arion terlihat naik turun, lebih teratur daripada sebelumnya.
"Zi kau jaga kakak iparmu, kami mau berdiskusi sebentar," ujar Li. Enji mengangguk pelan. Li, Gerry, Darwis, Rian, dan Satya keluar dari kamar, menuju ruangan khusus untuk mereka berdiskusi.
"Jika terus begini aku khawatir ia akan mati kering. Kita juga harus menjaganya. Anak-anak Karina juga membutuhkan dirinya. Menurut kalian apa yang harus kita lakukan?"tanya Darwis.
"Aku rasa kita harus mengirimnya pulang. Setidaknya jika bersama dengan anak-anaknya, ia bisa mengurangi kesedihannya. Ia akan sadar bahwa masih ada mereka. Alasan untuk ia tetap hidup!"ucap Gerry.
"Aku setuju. Besok pagi kita kirim Arion pulang bersama dengan Enji. Kita akan disini selama dua minggu ke depan," setuju Satya.
"Aku setuju. Akan tetapi bagaimana jika mereka menolak? Kalian tahu kan betapa keras kepalanya mereka berdua? Hanya Karina yang bisa menangani itu," ragu Rian.
"Gampang. Berikan saja obat tidur untuk mereka. Dokter juga akan ikut dengan mereka. Aku akan segera menyiapkan helikopter. Gerry hubungi pilot untuk stand by di bandara," ucap Li.
"Obat tidur? Ku rasa itu solusi terbaik," ucap Rian, diangguki oleh Darwis, Gerry, dan Satya.
__ADS_1
Setelah helikopter siap, Darwis dan Li segera memindahkan Arion ke dalam helikopter. Enji yang awalnya menolak dan memberontak, terpaksa dibuat pingsan oleh Satya.
Kelima orang itu menatap helikopter yang terbang menjauh dari kapal pesiar. Menghela nafas kasar dan saling tatap dengan perasaan campur aduk.
*
*
*
Saat sadar, Arion marah besar karena dipulangkan oleh tangan-tangan kanan Karina. Begitu juga dengan Enji. Begitu sadar, mereka mendapati diri berada di kamar masing-masing di kediaman Karina.
Untung saja, Bintang, Biru, dan Bima menjadi pereda amarah juga kesedihan Arion. Arion menghela nafas kasar, berusaha tersenyum lembut pada ketiga anaknya yang kini menatapnya cemas.
"Papa baik-baik saja. Bagaimana dengan kalian?"
"Mama?" Biru bertanya.
"Mama?" Arion diam sebentar.
"Mama masih ada urusan penting. Pasti akan pulang dengan selamat. Kita tunggu saja Mama pulang," ujar Arion.
Ketiga anak itu mengangguk percaya, ah mungkin hanya dua yang satu mengangguk dengan tatapan menyimpan kecurigaan. Enji yang kini melihat interaksi Arion dan anak-anaknya, tersenyum lembut.
*
*
*
Seratus hari telah berlalu. Hasil pencarian tetap sama. Tak ada kepastian. Jika yang melakukan pencarian adalah tim sar publik, niscaya mereka dipastikan telah meninggal dengan jenazah yang ditelan lautan. Entah itu hancur saat pesawat meledak, ataupun dimakan oleh hewan laut.
Tim penyelamat Pedang Biru pun sempat putus asa. Tak ada harapan. Tepat seratus hari pencarian, di tengah samudra, yang lama ke lima tangan kanan Karina masih berada di atas kapal pesiar mengelar bentuk penghormatan kepada samudra tempat Karina hilang. Pagi hari yang cerah dengan pakaian serba putih, kelima pria itu serta seluruh penghuni kapal mengheningkan cipta sejenak, menunduk dengan mata berkaca-kaca.
Memejamkan mata, merelakan Karina dengan secercah harapan yang masih tersimpan. Sekalipun Karina benar-benar tiada, ia akan selalu hidup di hati anggotanya dan keluarganya yang sangat menghormati, menyayangi, dan mencintai Karina. Semua pengorbanan, pertolongan, dan pelajaran yang Karina berikan pada mereka akan teringat selama-lamanya.
Menjaga sebaik mungkin kerja keras Karina, menjaga dengan sepenuh hati keluarga besar Pedang Biru dan KS Tirta Grub. Menjaga keluarga, anak-anak, dan suami Karina. Hidup dengan baik dan terus berkembang agar Karina tersenyum bangga pada mereka.
Selesai mengheningkan cinta, kelima pria itu maju, menaburkan bunga atas samudra, juga melemparkan mawar putih. Bunga-bunga itu segera menjauh dan terombang - ambing di bawa ombak. Hujan ringan turun, tak membuat terik meredup.
Pada bawahan kecuali lima pria itu selesai menaburkan bungan mereka mengambil sikap siap sempurna dan melakukan penghormatan, menatap lurus ke depan dengan tatapan berusaha keras menahan air mata.
"Jika Queen memang masih hidup, cepat atau lambat kita akan menemukannya. Jika Queen selamat, cepat atau lambat ia kembali pada kita."
"Jika memang Queen sudah meninggalkan dunia ini, maka samudra ini adalah tempat raganya beristirahat. Ingatlah … selama Queen belum ditemukan, ini adalah tempatnya tinggal. Jika kalian melintasi samudra ini baik laut atau udara, kalian wajib memberi penghormatan. Sampaikan titahku ini pada seluruh Biru! Hal ini juga berlaku pada KS Tirta Grub!"tegas Li, dengan nada mantap, melakukan penghormatan. Diikuti oleh Gerry, Darwis, Rian, dan Satya.
__ADS_1
Selesai sudah acara penghormatan. Li menatap sendu samudra. Gerry datang menepuk pundaknya, tersenyum lembut pada Li. Di tangannya ada dua botol soju. Li tersenyum simpul, menerima satu botol soju yang disodorkan oleh Gerry.
"Jalankan saran Satya. Kita akan mencari di daratan. Mencari Queen adalah tugas khusus. Tugas utama mereka tetaplah pekerjaan mereka."
Li duduk, menenggak soju. Gerry ikut duduk.
"Tiga bulan ini, adik-adik perempuan kita sudah berusaha keras memimpin perusahaan dengan baik. Mira dan Elina juga bekerja keras memimpin Pedang Biru. Aku sempat khawatir publik dan jajaran selain orang-orang kita akan mencari masalah karena hal ini. Ternyata aku yang terlalu meremehkan kemampuan wanita-wanita itu."
Gerry menghela nafas pelan, menenggak soju miliknya.
"Mereka berada di bawah bimbingan Karina langsung. Jangan pernah remehkan wanita, jika ia berarti kau meremehkan Karina. Jika Karina ada di sini aku yakin kau sudah ditendang ke air," ucap Li, tersenyum mengejek Gerry.
"Aku lebih rela ditendang olehnya daripada ditinggal olehnya," sahut Gerry serius. Li terkekeh, hambar.
"Kalian membahas apa?"
Tiga lainnya datang dengan masing-masing membawa segelas wine.
"Membahas rencana selanjutnya. Aku sudah mengirim perintah untuk menjalankan rencana Rian," jawab Li.
"Rencana selanjutnya? Benar juga, pusat pasti sangat terganggu."
"Kau salah Ya. Pusat aman terkendali di bawah kendali adik-adik kita dan istri-istri kami. Aku yakin kasino juga aman di bawah kendali istri - istri kalian," ujar Li.
"Aku penasaran bagaimana cara mereka menangani pertanyaan publik dan jajaran direksi."
"Kelamaan di kasino, kau jadi lupa dengan sistem perusahaan Karina. Kepemilikan saham milik orang lain sangatlah kecil. Mungkin hanya sepersepuluh dari keseluruhan. Siapa yang berani membuat masalah di sana?? Asalkan perusahaan terus berkembang pasti publik tidak akan banyak tanya," keluh Li.
"Tak ada yang berhak menjadi CEO selain Karina dan pewaris. Sama seperti tak ada siapapun yang berhak menjadi Queen kecuali Karina dan pewaris. Pewaris telah ada dan tinggal menunggu waktu mereka akan mengambil alih kedudukan itu," tutur Darwis.
"Lantas bagaimana dengan yang lain? Aku yakin seratus persen bahwa Arion nggak akan menikah lagi. Apakah sampai tua ia akan memimpin perusahaannya?" Rian mengatakan kekhawatirannya.
"Itu terserah padanya. Tapi menurut prediksiku jika bukan Bima yang menggantikan dirinya, maka cucunya kelak yang akan menggantikan," sahut Li.
"Aku sependapat dengan Li. Bima bukan pewaris. Apapun keadaanya ia akan membangun namanya atas kerja kerasnya sendiri. Ia dibebaskan memilih masa depannya," timpal Gerry.
"Ku dengar saat ini kondisinya telah membaik. Ia juga sudah kembali ke perusahaan setelah dua bulan terpuruk," ujar Satya.
"Tidak ada yang disalahkan atas kejadian itu. Terlebih ada anak-anaknya. Enji juga tidak akan tinggal diam melihat Arion terus terpuruk," sahut Gerry.
"Ah aku akan berusaha keras agar semuanya sesuai dengan keinginan Karina. Kita akan segera kembali, lebih baik kita bersiap untuk penerbangan," ucap Li.
Semua mengangguk. Sekitar satu jam kemudian, Li, Gerry, Darwis, Satya, dan Rian meninggalkan kapal pesiar menuju bandara terdekat menggunakan helikopter. Mereka akan kembali ke negara masing-masimg. Kembali ke rutinitas sebelum kejadian buruk menimpa Karina.
Sampai jumpa, Karina.
__ADS_1