Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 247


__ADS_3

Li berjalan santai menyusuri koridor lantai tiga. Ia bersiul ria sembari melihat para anggota yang melakukan aktivitas sore langkah diri. Li melewati pintu kamarnya dan Elina. Langkah Li terhenti di depan kamar bernomor 121. Ya, kamar Gerry. Li mengetuk pintu dengan keras. 


Gerry yang sedang menggali informasi lebih tentang Mira pun mendengus dan segera beranjak membuka pintu.


"Ada apa? Ada tugas kah?" tanya Gerry setelah melepas kacamatanya.


"Enggak ada, cuma mau ngobrol saja samamu, boleh aku masuk?" tanya Li. Gerry mengeryit tapi tetap mempersilahkan Li masuk. Li masuk dan mengedarkan pandangannya mengamati seluk beluk kamar. 


"Ngobrol hal apa? Tidak biasanya kau ke kamarku? Serius kah?"tanya Gerry seraya menyodorkan gelas berisikan cairan berwarna merah alias wine. Li menerima namun tidak meminumnya. 


Gerry duduk di sofa dan menyesap wine di gelasnya. Li terlihat menarik nafas dan menghembuskannya perlahan.


"Kau, sungguh-sungguh pada Mira?" Li membuka pembicaraan. Gerry tidak langsung menjawab, matanya menatap Li dengan selidik, menerka apa maksud Li.


"Kau tahu diriku Li. Apa aku pernah begini terhadap wanita selain pada Mira? Karina pengecualian ya." Gerry menjawabnya dengan melemparkan pertanyaan. Li menyelis kesal. 


"Lantas bagaimana hasil lamaranmu? Sudah empat hari loh sejak kau berkoar padaku." Li menggoyangkan gelas lalu meminumnya perlahan, sudut mata Li menangkap reaksi muram Gerry. Gerry menenggak habis minumannya dan mengisi gelasnya lagi.


Tak perlu dijelaskan, Li tahu jawabannya. Pertanyaan tadi hanya basa-basi. Jika sudah diterima, atau setidaknya ada kabar terbaru dari Mira, Gerry pasti langsung cerita. Bahkan kalau sudah diterima, pasti Gerry langsung menghadap Karina untuk meminta izin menikah.


"Aku sudah tahu maksud perkataan kalian, andai saja kalian mengatakannya secara gamblang padaku, mungkin aku tidak akan percaya. Mira, punya kesulitannya sendiri untuk memiliki kekasih lagi. Kalian memperingatiku, agar aku tidak salah langkah kah? Sayangnya aku sudah melakukannya. Seharusnya aku menaklukkan hati mertuanya dahulu, baru hati Mira. Tapi ya sudahlah semua sudah terjadi." 


Gerry berdiri lalu membawa laptopnya ke hadapan Li. Li melihat apa yang Gerry tunjukkan. Semua tentang Mira sudah terangkap di sana, jelas sekali. 


"So?"tanya Li meminta kepastian. Gerry menghembuskan nafas pelan dan menatap Li dengan sorot mata percaya diri.


"Aku akan tetap mengejarnya, seperti yang ku katakan, apapun halang rintangnya pasti akan ku taklukan. Sekeras-kerasnya batu pasti bisa dihancurkan, begitu juga dengan hati. Ya kan?"


Li mengangkat kedua alisnya, ia tidak terkejut, jika Gerry sudah menandai sesuatu pasti akan ia dapatkan. 


"Tapi … ada yang kurang di sini," ucap Li, Gerry menunjukkan wajah tidak percayanya.


"Benarkah? Harusnya ini kan sudah sedetail-detailnya. Apa yang kurang?" tanya Gerry cepat. 


"Satya," jawab Li enteng, menghabiskan winenya.


"Satya?"beo Gerry bingung. Dahinya mengerut mencari arti jawaban Li. Hatinya merasa cemas, cemas akan pemikirannya sendiri.


"Apa hubungannya dengan Satya?" Gerry meminta jawaban. Li tersenyum penuh misteri. 


"Li, ayo jawab. Jangan buat aku penasaran. Uring-uringan, ayo beri tahu aku!" desak Gerry.


"Jangan merengek. Tidak cocok lagi dengan usiamu!"ketus Li melihat mata memaksa dan memelas Gerry.


"Ayo jawab. Masker limited edision buatku, atau make up untuk Elina, ayolah Li, otakku sudah panas. Kamu mau lihat aku mati karena pecah otak?"desak Gerry lagi. 


Li memutar bola matanya malas, tak lama ia terdiam.


Apa katanya? Mati karena otak pecah? Dia mau bunuh diri? … sepertinya aku kasih tahu saja, batin Li khawatir Gerry berniat bunuh diri.


"Oke," putus Li.


"Mira dan Satya itu dulunya satu panti dan setelah diadopsi, mereka satu tempat ibadah. Mereka berteman baik. Aku tidak mengatakan mereka ada hubungan selain pertemanan, dari segi rasa, Mira sangat cinta dan sayang pada Eko. Untuk Gerry, kemungkinan dia ada rasa yang dipendam terhadap Mira. Dia dan kamu sama-sama berpeluang mengejar Mira. Terlebih kalian satu keyakinan. Masalah identitas, juga imbang. Tapi tetap saja, keputusan ada di tangan Mira, terutama izin mertuanya." 


Gerry menggenggam erat gelasnya. Gelasnya yang rapuh di tangan Gerry seketika pecah dan isinya menodai lantai putih dan sofa biru itu di bawahnya. Wajah Gerry tampak mengeras, tatapan matanya jauh ke depan dengan hati yang kacau. Tangan Gerry berdarah akibat serpihan gelas. Li tampak hanya menyunggingkan senyum.


"Hei, tenangkan dirimu," ucap Li menepuk pundak Gerry. Gerry menoleh. Pandangamnya lalu beralih pada telapak tangan kanannya yang terluka.


"Seberapa dekat mereka?" tanya Gerry serius. Berdiri dan mencari kotak obat.


"Layaknya teman, cuma putus kontak semenjak Mira meninggalkan negara A," jawab Li.


"Masih ada harapan, aku tak akan kalah dari Satya!" tekad Gerry. Li menghela nafas, sejak awal Gerry mengatakan suka pada Mira, Li berbulat hati membantu dan mendukung Gerry. Gerry mengobati telapak tangannya lalu memerbannya sendiri. Rasanya ngilu yang semula hadir digantikan dengan rasa dingin yang menyebar. Gerry kembali duduk.


"Tapi aku harus menunggu Mira kembali kemari baru melangkah. Selama itu aku akan tetap di sini dan mengamati dari jauh," lanjut Gerry dengan mata berapi-api. 

__ADS_1


"Itu keputusanmu. Aku akan mendukungmu. Jangan menyerah. Tetapkan hatimu, tetapkan pilihanmu. Kokohkan pendirian dan tekadmu. Jodoh tidak akan kemana, jika kita berusaha," tukas Li berdiri.


Gerry tersenyum tipis. Li segera pamit. Gerry menunjukkan raut wajah datarnya saat Li sudah keluar dari kamarnya. Gerry menatap telapak tangannya yang terluka.


Eko, bukankah kau sudah memilihku? Kau harus tetap optimis pada pilihanmu. Kau sudah membuatku jatuh cinta pada Mira, sekalipun Satya juga menyukainya, Mira adalah jodohku yang tidak akan terganti! gumam Gerry menarik senyum tipis.


*


*


*


Karina menghela nafas mendengar keputusan Gerry dari Li. Sekarang intinya adalah Mira dan mertuanya. Saat ini Karina berada di ruang tengah rumahnya. Karina sedang menunggu kepulangan Arion, waktu menunjukkan pukul 18.30. Karina, matanya menonton televisi tapi pikirannya melayang mencari penyelesaian.


Lelah bergulat dengan pikirannya sendiri, Karina merasa perutnya lapar. Tapi, tidak ada selera makan masakan di atas meja makan. Lidahnya ingin sesuatu yang lain. Karina meletakkan telunjuk kanannya di pelipis dengan bibir maju sedikit, memilih makanan yang ingin ia makan. Setelah beberapa saat, Karina tersenyum dan segera meraih gawai canggihnya. 


"Assalamualaikum, Yang" sapa Karina saat panggilannya dijawab Arion. 


"Waalaikumsalam, My Wife. Ada apa? Sudah kangen dengan suami tampan seasia?"


Karina mendengus kesal dengan nada merak suaminya.


"Bukan!"


"Oh, lalu?"


"Aku ngidam lagi."


"Hah? Fase ketiga?"


"Sepertinya."


Terdengar helaan nafas Arion.


"Martabak," jawab Karina.


"Gampang. Rasa apa?"tanya Arion.


"Aku mau yang di pertigaan kantor kamu. Ada tuh abang martabak enak, menunya martabak andaliman," ujar Karina dengan mata berbinar membayangkan rasa manis, gurih martabak bercampur dengan rasa pedas pedar andaliman.


"Oh yang itu, okey ntar aku pulang aku belikan. Mohon bersabar ya," sahut Arion yang memang familiar dengan tukang martabak yang setiap hari mangkal di pertigaan.


"Aku kira apa, ternyata hanya martabak," lanjut Arion.


"Nah itu masalahnya. Aku mau segerobak dan setukangnya dibawa ikut ke rumah. Aku mau lihat sendiri dia buat martabaknya. Kalau cuma martabak saja bisa pesan online tanpa nelpon kamu," papar Karina yang membuat Arion tersedak.


"Sekomplit itu?"tanya Arion tidak percaya.


"Hm."


"Tapi caranya?"tanya Arion bingung sendiri.


"Masalah kamu, sudah ya, aku tunggu."


Karina langsung memutus panggilan dan tersenyum geli. Ia yakin Arion kelabakan sendiri. Tapi memang mulut dan perut inginnya itu, Karina bisa apa? Ada suami buat apa keluar sendiri.


Karina memilih menonton televisi dengan raga dan nyawa yang bersatu. Kabar berita pun menjadi channelnya. Karina berdecak sebal dengan berita banjir yang menerjang beberapa daerah di negara Y. Beruntungnya ia tinggal di perumahan yang strategis menurutnya dan beruntung juga kota ini memiliki sistem pengairan yang bagus. Karina menghela nafas lalu mengganti channel menjadi sinetron. Karina gonta-ganti posisi menonton sinetron yang membuat hatinya gemas.


"Eh, antara masa lalu dan masa depan? Seperti dalam waktu dekat aku akan melakukan penerbangan," gumam Karina mengendikkan bahunya.


*


*


*

__ADS_1


Arion berdecak sebal menatap layar handphone yang gelap. Permintaan Karina kadang aneh, minta martabak setukang dan segerobaknya dibawa. Otomatis ia harus memborong semuanya, tapi hanya satu yang diambil. Ferry yang baru masuk dan melihat wajah tidak bersahabat Arion mengeryit.


"Ada apa? Wajah loe kok ditekuk?"tanya Ferry.


"Biasa, Nyonya besar minta sesuatu," jawab Arion mematikan dan menutup laptopnya. Ferry langsung paham, ia lantas terkekeh.


"Minta apa Kakak ipar?"tanya Ferry penasaran.


"Martabak di pertigaan sana. Komplit semua harus dibawa pulang." Arion berdiri lalu memakai jas yang ia tanggalkan di sandaran kursinya.


Ferry melebarkan matanya kemudian tertawa kecil. Ia tidak heran dengan Karina, keanehan adalah bagian dari Karina.


"Eh, loe bawa mobil atau motor? Sama Siska enggak?"tanya Arion menatap Ferry dengan penuh maksud.


Ferry mendadak merasa tidak tenang. 


"Bawa mobil, gue pulang sama Siska," jawab Ferry pelan.


"Good! Loe sama Siska ikut gue pulang ke rumah!"seru Arion tegas. Mau tak mau Ferry mengikut. Sebab dibantah atau ditolak, akan sama saja hasilnya. 


Ferry menepikan mobil di depan cafe, Siska yang sudah menunggu langsung masuk. 


"Assalamualaikum, wajah kamu kok sebal sih?" Siska menjulurkan tangannya mencium tangan Ferry. 


"Waalaikumsalam, enggak papa. Kita ke rumah Big Bos dulu ya," sahut Ferry. Siska mengangguk menyetujui.  Siska memang pulang bareng Ferry jika ia masuk shif siang sampai jam 19.00, sedangkan jika ia masuk pagi, ia akan berangkat dengan Ferry dan pulang sendiri.


Siska mengeryit saat Ferry menepikan mobil di belakang semua mobil yang Siska kenali sebagai mobil Arion. Tanpa banyak tanya, Siska menyusul Ferry yang keluar duluan. Wangi khas martabak menggoda lidah Siska. 


Siska melihat Arion dan Ferry tengah bernego dengan penjual martabaknya. Pelanggan cukup ramai, ada lima orang. 


Akhirnya setelah mencapai kesepakatan dan seusai melayani kelima pelanggan itu, penjual itu membereskan gerobaknya. Lalu mendorongnya ke belakang mobil Ferry, Siska yang melihat itu mengeryit sesaat lalu tersenyum mengerti.


Gerobak dihubungnya dengan bagian belakang mobil, dihubungkan sedemikian rupa agar tidak oleng. Setelah selesai, Arion kembali ke mobilnya. Siska dan Ferry masuk ke mobil mereka diikuti tiga orang pria dengan satunya sudah berumur dan dua lagi diperkirakan sebagai anaknya. Sepanjang jalan, ketiga orang itu membahas tentang Arion dan Karina. Biasanya paling banyak, mereka mendapat sepuluh lembar uang merah, kini mereka mendapat sepuluh kali lipatnya. 


Tiba di kediaman Karina, mereka disambut beberapa kursi yang disusun rapi di pinggir jalan masuk. Karina keluar dan segera menyambut suaminya. Ferry dan ketiga orang itu segera membereskan gerobak agar bisa segera membuat martabak. Karina mendekat didampingi Arion. Matanya berbinar saat melihat buih-buih martabak tanda martabak mengembang sempurna. Arion tersenyum dan mengusap rambut Karina.


Beberapa menit kemudian, seporsi martabak sudah tersaji di hadapan Karina.  Dengan segera Karina duduk dan menikmati sajian keinginannya. Arion ikut duduk dan bermesraan dengan Karina. Ferry dan Siska saling tatap, mereka agaknya mau tapi malu untuk meniru Arion dan Karina. Dan jangan lupakan juga, semua pelayan di kediaman ini juga mendapat bagian, tidak terkecuali Ferry dan Siska. Penjual itu merasa senang sebab Karina dan lainnya menyukai jualannya. 


"Apa adonannya sudah habis?"tanya Karina saat selesai mengabiskan seporsi martabak bersama Arion.


"Belum Nona, ada ingin lagi?"jawabnya ramah.


"Tidak, aku sudah kenyang. Habiskan saja adonanmu," ujar Karina. Mereka mengangguk dan segera kembali bertugas.


"Untuk siapa Yang? Bukankah mubazir?"tanya Arion.


"Markas, aku akan menyuruh mereka kemari," sahut Karina mengambil handphonenya lalu menghubungi orangnya. 


Siska dan Ferry lalu izin pamit pulang sebab hari semakin malam, tak lama setelah kepulangan mereka berdua, orang Karina datang dengan mengendarai sebuah sedan putih.


"Saya Queen," ucapnya menunduk pada Karina.


"Bawalah dessert itu ke markas," ujar Karina menunjuk kotak-kotak berwarna hijau sebagai wadah martabak.


"Baik," jawabnya segera bergegas, dibantu ketiga penjual itu, tidak perlu waktu lama.


"Kalau begitu, kami juga izin undur diri ya, Tuan, Nona," pamit penjual yang paling tua.


"Rumah kalian dimana?"tanya Arion, sebab Karina sudah masuk duluan ke dalam rumah.


Ketiganya saling tatap.


"Menginaplah saja di sini, esok pagi baru kalian diantar pulang," ujar Arion.


"Benarkah Tuan?" Arion mengangguk. Ketiganya mengucapkan terima kasih, Arion menyusul Karina masuk. Pak Anton menunjukkan kamar untuk ketiga orang itu tinggalin. Tak lupa mereka mengabari orang rumah mereka agar tidak khawatir

__ADS_1


__ADS_2