
"Jadi mereka ke negara A?"tanya Amri memastikan yang diangguki Karina dan Arion.
"Kapan pulangnya?"tanya Maria, jujur ia rindu dengan Bayu.
"Pulang hari Ma," jawab Karina.
"Pulang hari ya, kalau begitu makan malam di tempat Mama. Mama kangen sama kalian semua, kesibukan kalian membuat kalian tidak punya waktu untuk kedua orang tua ini," ujar Maria, memberi perintah dengan nada meminta.
"Hm … walaupun pulang hari, Karina enggak tahu pasti mereka tiba jam berapa, Mama jangan kecewa ya?"
Karina mengatakan hal itu lebih dulu, agar tidak jika terjadi, tidak terlalu sakit.
"Ya Mama paham Sayang," sahut Maria.
"Ya sudah, kalian jam berapa mau pergi lagi? Papa tidak yakin kalian akan tetap di sini sampai malam."
Amri menatap bergantian Karina dan Arion. Karina dan Arion yang sudah tertebak, tertawa kecil.
"Selesai Zuhur, kami ke markas Pa," ucap Arion, merangkul Karina.
Amri mengangguk.
"Berarti sebentar lagi, tapi tidak apa. Waktunya cukup," ucap Amri, wajahnya bersemangat.
Arion merasa ada yang akan terjadi, terlambat untuk melarikan diri.
"Kita main catur!"
Arion menghembuskan nafas kasar. Sudah pasti!
"Baiklah. Tapi satu ronde saja ya," pinta Arion.
"Jalani saja dulu anak tengil. Sudah berapa lama kita tidak beradu otak? Ayo!"
Amri berdiri, menuju halaman samping. Arion juga berdiri, menyusul Amri.
"Ya begitulah, Ar itu sering kalah dari Papa, makanya ia malas," ucap Maria, tertawa melihat wajah lesu Arion.
"Ck. Mudah sekali menyerah. Kalau Ar kalah, Karina yang akan adu main sama Papa," ucap Karina, berapi-api.
Kebetulan ia juga sudah lama tidak bermain catur. Bawahannya terlalu takut bermain dengannya.
"Baiklah. Baiklah … biarkan anak dan ayah bermain, sekarang waktu kita. Kau hobi berkebun bukan?"
Karina mengangguk. Maria tersenyum, mengajak Karina ke kebun belakang. Karina mengekor.
Di kebun belakang, terlihat bunga bermekaran, buah mangga sudah banyak yang tua, ada juga yang berwarna kekuningan.
Begitu juga dengan buah rambutan. Karina menarik nafas, menghirup udara yang bercampur dengan aroma ranum buah dan bunga.
Karina terkesiap saat merasakan tendangan dari dalam perutnya.
"Kalian mau buah?"tanya Karina, menatap buah yang masih bersatu dengan pohon.
"Wah - wah bahkan kedua cucuku tergoda dengan buah segar," ucap Maria tertawa riang, ia mengusap perut Karina, lalu berjalan ke bawah pohon mangga.
Pohon yang tergolong pendek, mudah bagi Maria untuk mengambil buah yang ia inginkan. Karina mengedarkan pandangan, matanya terkunci pada pohon belimbing wuluh yang tengah berbuah lebar.
Karina melangkah mendekati pohon tersebut. Maria yang menyadari, menatap heran Karina.
"Untuk apa Karina memetik asam? Mau buah sayur asam atau sambal joss?"pikir Maria, menghampiri Karina dengan dua buah mangga matang di tangan.
"Mama kok enggak bilang ini berbuah?"tanya Maria, sibuk memilih belimbing wuluh yang sesuai dengan seleranya.
"Ini kan cuma belimbing sayur Sayang. Mama pikir ini tidak sesuai dengan seleramu," jawab Maria.
Karina menggeleng.
__ADS_1
"Aigo, Mama lupa."
Setelah merasa cukup, Karina dan Maria menuju dapur. Di dapur, Karina membuat bumbu rujak, ia mengerjakan sendiri. Bik Susan mengamati kedua nyonyanya yang sibuk meracik.
Di halaman samping, Arion mencembikkan bibir kesal. Kedua kudanya sudah disingkirkan. Pion sudah banyak yang keluar. Sedangkan Amri, hanya beberapa saja, kudanya keluar satu dan benteng juga keluar satu.
"Pa," panggil Arion.
"Hm apa? Mengaku kalah sebelum selesai?"tanya Amri, menatap Arion.
"Bukan. Biarpun aku sering kalah aku pantang menyerah sampai akhir. Hanya saja aku merasa punggungku dingin," aduh Arion, mengusap tengkuk sembari menoleh ke belakang.
"Perasaan kamu saja," ucap acuh Amri.
"Semoga saja."
Baru saja berjalan sepuluh menit, Keduanya menoleh ke arah pintu, mendapati kedua orang yang mereka sayang datang dengan membawa nampan. Arion menelan ludah, merasa terancam melihat senyum Karina.
"Wah sudah hampir selesai ya?"
Karina melihat papan catur, ia tersenyum tipis.
"Panas-panas memang cocok rujak. Perhatian banget sih istri Papa," ucap Amri, melihat potongan mangga dan bumbu rujak. Maria tersenyum, ia dan Karina duduk di kursi yang masih kosong, meletakkan nampan di atas meja.
"Sayang buahnya apa? Aku kok merinding?" Memang nampan Karina tempat buahnya ditutup.
"Tenang, ini bakal buat otak dan mata fresh."
Mata Arion melebar melihat belimbing wuluh segar yang disusun rapi di wadah.
"Sayang ini buat kamu kan?"
Tangan Arion sudah berkeringat dingin. Dadanya berdebar, mengingat bagaimana rasanya belimbing wuluh.
"Untuk berdua, Mama sama Papa kalau mau boleh," jawab Karina.
"Eh kalian berdua saja. Papa cukup ini," tolak Amri cepat, mulai menyantap mangga dan sambal rujaknya.
Arion memejamkan mata, merasa ngilu mendengar suara benturan antara gigi dan belimbing wuluh.
Ternyata menjahili Arion, batin Maria.
"Ayo Ar," ajak Karina, menyodorkan belimbing ke mulut Arion.
"Sayang, aku … aku tidak ingin makan ingin, aku makan mangga saja ya?"rengek Arion.
Karina menggeleng tegas diikuti dengan wajah memelas.
Ayolah Karina, pasti kamu akan jadi aktris sukses. Aktingmu terlihat natural, runtuk Arion dalam hati, dengan hati terpaksa menyantap suapan Karina.
Ahhh asam … asam sekali!
Arion mengunyah dengan memejamkan mata. Karina malah tertawa lepas.
Maria dan Amri menggelengkan kepala melihat kelakuan anak dan menantu mereka. Selain Karina, tidak ada yang berani berbuat seperti ini pada Arion.
Arion sudah berulang kali menjadi korban kejahilan Karina. Jika pun ada yang berani menjahili Arion, berarti di belakangnya ada dukungan Karina.
*
*
*
Setelah membersihkan makam yang sebenarnya sudah bersih, Enji, Bayu, dan Syaka kemudian berdiri, berdoa untuk pemilik makam ini.
Bayu meneteskan air mata sedih, setelah sekian lama ia hidup di dunia ini, akhirnya ia bisa mengunjungi ibu kandungnya walau hanya berjumpa dengan papan nisan dan gundukan tanah.
__ADS_1
Semua perasaan yang dipendam, Bayu keluarkan di sini. Selesai berdoa, Bayu berjongkok, mengusap nisan yang bertuliskan nama sang ibu.
Enji sendiri, matanya memerah walau tidak keluar air mata.
Sayang, apa kau melihatnya dari sana? Aku kemari dengan anak kita, anak yang telah kau kandung dan lahirkan. Anak yang telah kamu pertahankan walaupun aku kita memberimu kepastian. Maaf aku pergi tanpa pamit. Maaf telah menyakiti dan membuatmu menderita. Maaf untuk semua beban yang telah kau tanggung. Sayang, hari ini aku akan mengatakan padamu, aku telah memilih seorang wanita untuk menjadi ibu sambung Bayu. Biarpun begitu, posisimu di hatiku tidak akan pernah berganti. Kamu adalah cinta pertamaku. Kamu adalah yang pertama, selamanya di hatiku, tidak akan pernah tergeser. Maaf, batin Enji, mengusap hidung kemudian memejamkan mata.
"Ibu, Ayah," gumam Syaka, hatinya rindu dengan kedua orang tuanya. Ingin rasanya ingin kembali ke kampung halaman, mengunjungi makam kedua orang tuanya.
Tapi Syaka sadar, ia kini tengah belajar, ia tidak bisa memutuskan dan bertindak sesuka hati. Ada aturan, kewajiban, serta hak yang membatasi.
Ibu Ayah, aku akan jadi lebih kuat lagi!
Syaka bertekad kuat. Ia pasti bisa!
*
*
*
"Bayu tolong kembalikan handphone Ayah. Ayah harus memberi kabar pada Kak Jesicca. Nanti dia kecarian," pinta Enji setelah keluar dari pemakaman dan kini mereka berada di cafe, tengah makan siang.
"No. Ayah sudah janji untuk tidak menyentuh handphone selama di sini! Lagian ini waktu libur, jika ia punya otak, pasti tahu bahwa kau menghabiskan waktu denganku. Dia tidak akan menganggu. Belakangan ini kau sudah menghabiskan banyak waktu dengannya, sekarang giliranku. Jika ia masih menganggu berarti ia bukan ibu yang cocok denganku. Terlebih dia masih orang luar dan kau tidak sanggup mengabaikannya? Ayah kita baru saja ziarah loh ke makam ibu, apa rasa cintamu sudah hilang untuk ibu? Apa permintaanku tidak berarti?"
Bayu menatap Enji dengan tatapan campuran, ada rasa kesal, kecewa, dan sedih. Enji terkesiap. Ia tidak menyangka pikiran Bayu sampai ke sana. Syaka yang sibuk dengan makan siangnya, hanya jadi pengamatan, tidak berniat ikut campur.
"Bukan begitu Bayu. Ayah hanya ingin memberi kabar, hanya mengirim pesan, dibalas atau tidak itu tidak penting. Ayah mohon Yu, jangan kekanak-kanakan. Bukankah kamu yang dari awal menjodohkan kami? Kak Jesicca sebentar lagi bakal dari ibu kamu, Ayah harap kamu menarik ucapan kamu tadi! Satu lagi, cinta Ayah pada ibumu tidak akan pernah terganti!"tegas Enji, ia sedikit kesal dengan Bayu.
Bayu malah terkekeh.
"Belum jadi ibuku dia sudah membuatmu seperti ini? Belum jadi istri sudah begini? Bagaimana jika sudah jadi istri? Apa dia akan memonopoli dirimu seluruhnya? Apa kau akan membuang diriku jika ia mengadu aku bersikap tidak sopan? Apa kau akan melupakan diriku jika sudah memiliki keturunannya dengannya? Ayah aku anak kandungmu! Aku keluarga kandungmu!"
Plak!
Enji menampar Bayu. Bayu terdiam sesaat dengan memegang pipi. Untung saja cafe ini memiliki ruang VIP, jadi tidak menarik perhatian pelanggan lain.
Syaka terkejut dengan apa saja yang baru terjadi. Enji juga tampak terkejut dengan apa yang ia lakukan. Ia menatap bingung tangan yang baru saja menampar Bayu.
"Bayu … Ayah tidak berniat memukulmu, Ayah tidak sengaja," ucap Enji was-was melihat Bayu yang tersenyum lebar dengan tatapan mata tajam.
"Tidak sengaja? Aku tidak bodoh! Kau memukulku karenanya? Aku sungguh tidak menyangka. Kakak saja tidak pernah memukul diriku! Kau."
Bahu Bayu bergetar.
Syaka menepuk pundak Bayu.
"Kendalikan dirimu Bayu. Dia tetaplah Ayahmu," ucap Syaka.
"Heh? Ayah? Mengapa itu terdengar lucu sekarang? Hahahahaha … Ayah mana yang tega memukul anak kandungnya sendiri demi wanita yang baru status pacar? Ayah mana hah?"pekik Bayu, mengeluarkan kekesalannya.
Enji menjadi panik, ia sungguh merasa bersalah. Tapi melihat Bayu, Enji merasa sulit untuk mendapat maaf dari Bayu.
Tak lama, terdengar suara tangis. Bayu menangis. Ia menangis sampai bahunya bergetar hebat.
"Aku mau Kakak. Aku ingin Kakak. Aku membencimu!"
Usai mengatakan hal itu, Bayu berdiri dan berlari keluar dengan membawa tas miliknya. Enji yang kaget tersadar saat Syaka memanggil dirinya. Keduanya bergegas mengejar Bayu.
Tiba di luar cafe, mereka tidak menemukan keberadaan Bayu. Mereka berpencar.
Enji tidak bisa menghubungi Bayu sebab ponselnya berada di tas Bayu. Syaka mencoba menghubungi Bayu, sayang tidak dijawab.
Nak maafkan Ayah. Ayah mohon jangan begini. Ayah salah Nak. Bayu Ayah menyesal. Tolong kembali, Ayah akan melakukan apa saja yang kau inginkan, Anakku Sayang, kau di mana?
Bayu angkat! Jangan membuat masalah! Bagaimana aku menjelaskannya nanti pada Queen? Tuan Enji melarangku melapor pada Queen, ku mohon kembali.
Sayangnya setelah mencari dan bertanya, keduanya belum menemukan Bayu juga. Keduanya kembali bertemu di cafe. Syaka membayar tagihan makan siang.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita ke panti asuhan Bayu? Pasti dia ke sana," saran Syaka.
"Ya kau benar. Ayo!"jawab Enji.