
Sore harinya. Pukul 04.30. Di markas Pedang Biru. Kamar di mana Joya berada. Terlihat sedang membaca buku. Selama dua hari ini dia sudah membaca tuntas 10 buku. Mulai dari novel, buku politik, ekonomi dan lainnya. Buku apa saja yang berada di atas nakas.
Tak berapa lama, Darwis datang, membuka pintu perlahan.
"Sweetheart apa kau bosan?" tanya Darwis lembut, duduk di dekat Joya.
Joya mendongak dan menutup buku di tangannya.
"Bagaimana aku tak bosan? Kau mengurungi selama ini."
Joya memberengut kesal dan memanyunkan bibirnya.
"Emph?"
Joya membulatkan matanya saat merasakan ada yang menempel di bibirnya. Apalagi kalau bukan bibir Darwis yang menciumnya. Lama-kelamaan ciuman itu semakin intens. Joya dengan canggung membalasnya.
Kali ini dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya, bukan dalam pengaruh obat perangsang.
Tangan Darwis mulai bergerak Lia. Meraba sana-sini. Lima menit kemudian Darwis melepaskan ciumannya. Menatap Joya sayu.
Joya menunduk malu.
"Hei jangan malu. Aku sudah pernah lebih dari ini padamu," ujar Darwis memegang dagu Joya. Mengangkatnya hingga mata mereka beradu pandang. Wajah Joya memanas dan memerah.
Gemas. Darwis kembali mendaratkan ciumannya pada Joya. Tetapi kali ini sepertinya lebih serius. Darwis membaringkan Joya di ranjang. Suara gemericik rantai mengiringi persatuan mereka.
Sore yang indah bersama dengan desahan sepasang insan di peraduan. Darwis melakukan dengan hati-hati. Tentu saja sebab Darwis masih ingat akan anaknya yang berada di dalam rahim Joya.
Setelah senja menghilang digantikan dengan gelapnya malam. Mereka menyudahi kegiatan mereka. Darwis bangkit dari ranjang dan mengenakan pakaiannya. Setelah itu membuka rantai kaki Joya.
"Bersihkanlah tubuhmu. Aku pergi dulu. Besok aku akan mengantarmu pulang sekaligus melamarmu," ujar Darwis mencium kening Joya. Joya mengangguk.
"Aku menunggu hal itu," ucap Joya tersenyum. Darwis ikut tersenyum. Bahagia sekali rasanya. Darwis segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar Joya. Sepanjang perjalanan di koridor senyumnya tak pernah pudar.
"Darwis."
Rian dan Satya menepuk pundak Darwis. Membuat Darwis kaget setengah mati dan memegang dadanya.
"Hahahaha … awas jantungan," ledek Rian.
"Kampret loe berdua. Untung saja gue gak jantungan," kesal Darwis menjewer telinga Rian dam Satya.
"Aduh. Sakit Wis. Lepasin," pekik Rian mengaduh sakit.
"Darwis yang tampan, kita cuma bercanda. Lagian kamu juga jalan senyam-senyum sendiri. Kesambet kamu ya?" rayu Satya memelas. Darwis melepaskan jewerannya. Bersedekap tangan.
"Iya. Gue kesambet. Kesambet cinta Joya," ketus Darwis membuat Rian dan Satya bertatapan bingung.
"Loe habis gituan? Gak takut anak loe kenapa-kenapa?" tanya Satya.
"Maksudnya?" tanya Darwis tak paham. Rian melirik Satya menantikan jawaban.
"Kepentuk gitu. Bisa saja nanti anakmu pas lahir agak gimana gitu otaknya," jawab Satya meringis.
Wajah Darwis menggelap. Ia menendang kaki kanan Satya, membuat Satya mengadu sakit. Rian menahan tawanya.
"Rasakan. Anakku belum genap sebulan sudah kau sumpahin. Tentu saja aku tak sebodoh itu. Aku melakukannya dengan hati-hati," kesal Darwis menghentakkan kakinya lalu pergi menuju kamarnya.
Rian dan Satya mengangkat bahu mereka bingung. Mereka kemudian berangkulan menuju ruang makan. Waktunya makan malam bagi Pedang Biru.
"Kayaknya otak Darwis yang kepentuk deh," ujar Rian di tengah perjalanan. Satya menaikkan satu alisnya.
__ADS_1
"Sudah tahu Joya hamil masih saja dimakan. Memangnya dia tak bisa menahan diri apa sampai anaknya lahir?" tambah Rian.
"Ya mungkin saja. Tetapi menurut gue, kita akan merasakannya saat kita menikah terus istri kita hamil."Satya menanggapi santai perkataan Rian.
"Ngomong-ngomong tentang menikah dan istri apalagi anak. Loe ada calon gak?" tanya Satya membuat Rian tercengang.
"Gue belum ada. Kalau loe?" jawab Rian nyengir.
"Sama. Belum juga," sahut Satya polos.
"Bangs*t," umpat Rian kesal. Kiraiin nanyain tentang itu, Satya sudah ada calon, tahunya belum ada juga.
"Bang Satria bajak Hitam," ucap Satya menanggapi umpatan Rian.
"Hah?" bingung Rian.
"Gak nyambung loe," kesal Rian. Percakapan mereka dijeda dulu saat telah tiba di ruang makan.
***
Di meja makan kediaman Wijaya.
Tampak seluruh anggota keluarga berkumpul dan menikmati makan malam mereka dengan tenang tanpa gangguan.
Selesai makam malam, mereka beralih menuju ruang keluarga. Berbincang malam. Kecuali Bayu yang pamit ke kamar duluan. Ada tugas sekolah katanya.
"Karina sayang, bagaimana kehamilanmu? Apa anak tengil ini mengganggumu saat malam tiba?" tanya Maria memegang tangan Karina.
"Baik Ma. Untuk itu. Dia tak menggangguku kok," jawab Karina meletakkan telapak tangan kirinya di atas pegangan tangan Maria.
"Iya Ma. Arion bisa nahan diri kok," timpal Arion sembari menikmati cemilan di atas meja.
"Syukurlah."Maria mengusap dada lega. Arion menautkan alisnya heran.
"Gak papa. Cuma mau bersyukur saja. Gak boleh memangnya?" sahut Maria. Arion mengerucutkan bibirnya kesal.
"Oh ya … apa kamu sudah masuk fase ngidam? Jika sudah Arion siap sedia memenuhinya," ucap Maria lagi. Karina menggeleng.
"Untuk saat ini belum ada Ma." Karina menjawab seraya tersenyum manis.
"Tunggu. Kok aku sih yang memenuhinya?"
Arion bertanya dengan polos. Membuat Maria memelototkan matanya kesal pada putranya.
"Kamu ini. Namanya juga istri dan anak kamu, ya kamu lah yang harus memenuhi keinginan jikalau istrimu itu ngidam. Masa Papa atau Kakek sih yang memenuhinya?"
Amri menjawab pertanyaan Arion. Ia malah teringat perjuangannya saat memenuhi ngidam Maria.
"Iya Arion sayang. Kamu kayak gak tahu saja," timpal Maria. Karina terkekeh pelan. Arion nyengir menunjukkan deretan gigi putihnya. Tak lupa menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Arion bingung Ma. Soalnya Arion pernah nonton sinetron di televisi, saat istrinya ngidam bukan suaminya yang memenuhi melainkan mantan pacarnya. Mana tahu juga nanti Karina begitu," jelas Arion menyampaikan apa yang pernah ia lihat.
"Bisa juga sih. Tapi apa Karina punya mantan?" imbuh Maria menatap Karina. Karina melirik Arion.
"Ada Ma. Mantan musuh," sahut Karina dengan wajah serius. Membuat Amri tergelak tawa.
Nyindir aku nih? batin Arion.
"Hah? Maksud Mama mantan pacar sayang, bukan mantan musuh. Memang musuh bisa jadi mantan?"
Maria tertawa kecil seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Ya ada Ma. Tapi kebanyakan sih musuh tapi menikah. Tapi kalau menantu kita kebanyakan musuh bisnis, iya kan Karina?"Amri menangggapi ucapan istrinya.
"Eh Ar. Terus bagaimana kelanjutan sinetron yang kamu lihat itu? Jadi istrinya ngidam apa?" tanya Karina penasaran pada cerita Arion.
"Iya Ar. Kayaknya Mama ngelewati episode itu deh. Buruan gih kamu ceritakan," tambah Maria dengan wajah penasarannya.
"Ck. Korban sinetron," komentar Amri malas. Ia malah meminta pelayan membuatkannya teh jahe.
"Papa juga."Maria mencubit perut Amri. Amri mengaduh sakit.
"Maksudnya Ma?" tanya Karina.
"Papamu ini memang bukan korban sinetron melainkan …," ucapan Maria disela oleh Arion.
"Tapi korban perasaan. Iya kan Pa?"Arion mengucapkannya dengan santai. Amri membelakan matanya.
"Sembarang saja," ketus Amri.
"Bukan Ar. Tetapi korban film box office yang tengah malam itu loh. Nah Papamu candu banget. Kalau gak Mama jewer suruh tidur, pasti Papamu begadang sampai jam 2 tiap hari," terang Maria menatap Amri yang merengut kesal.
"Lanjutkan ceritamu, Ar," ujar Maria.
"Nah … istrinya ngidam meluk mantan terindahnya. Tapi mantannya itu sudah tinggal di luar negeri dan tidak menetap tinggalnya. Kadang sebulan di kota ini, lalu pindah ke kota lain."
Arion mulai bercerita. Ketiga orang lainnya mendengarkan dengan serius walaupun dengan Amri yang ogah-ogahan.
Arion menarik nafas.
"Sang suami yang dilanca cemburu, resah dan gelisah, akhinya dengan berat hati memenuhi keinginan sang istri yang ngidam, pergi ke negara di mana sang mantan berada. Mereka harus melakukan pencarian ke berbagai kota untuk menemukan sang mantan kekasih istrinya. Seluruh kekuatan sang suami dikerahkan. Akhirnya setelah setengah bulan pencarian, akhirnya mereka bertemu di taman bunga. Musim semi di mana waktunya bunga bermekaran. Sang istri langsung memeluk sang mantan tanpa aba-aba. Sang suami hanya mampu tersenyum kecut. Heran dengan anaknya yang masih dalam berada dalam kandungan, keinginan sang ibu yang membuat ayahnya meratap sedih," lanjut Arion. Menarik nafas dan melanjutkan ceritanya lagi.
"Setelah puas memeluk mantan, sang istri kembali menghempaskan mantan dan memeluk sang suami. Sekarang giliran mantan yang menangis. Hahaha … kemudian mereka kembali ke negara mereka. Perjuangan berhari-hari hanya untuk pelukan selama 5 menit," akhir cerita Arion.
"Itu sih bukan mantan yang memenuhi melainkan suaminya yang hatinya lapang seluas samudra Pasifik dan sedalam samudra Hindia."Amri berkomentar.
"Iya Ar. Suaminya kasihan banget. Cemburu itu sakit loh," ujar Maria ikut berkomentar. Sedangkan Karina diam saja tak berkomentar.
"Benarkah?" tanya Arion. Amri dan Maria mengangguk.
"Jadi kalau ngidam suami harus berada di garis depan ya?" tanya Arion lagi memastikan.
"Iya Ar," jawab Maria.
"Sayang, My Wife, kamu ngidam apa?" tanya Arion pada Karina serius.
Karina mendengus kesal.
"Bukankah sudah aku katakan tadi My Hubby, aku belum ngidam. Masa dipaksa sih," kesal Karina mencoba untuk tetap tersenyum cantik.
"Oh. Jika sudah katakan saja padaku," ujar Arion lagi.
Mereka mengakhiri perbicangan mereka. Segera menaiki tangga menuju kamar masing-masing. Sesampainya di kamar, Karina terlebih dahulu membasuh wajahnya dengan air bersih. Arion bersandar di kepala ranjang sembari memeriksa beberapa dokumen untuk meeting besok di Jaya Company.
Tak lama Karina keluar dari kamar mandi dengan piyama tidurnya. Segera berbaring di samping Arion.
"Ar … kamu ada ngidam?" tanya Karina pelan. Arion mengalihkan pandangannya. Dari dokumen menatap Karina.
"Sepertinya sudah. Waktu kita honeymoon. Kamu lupa ya?" jawab Arion tersenyum.
Karina mangut-mangut ingat. Mengingat Arion merengek meminta buah kecil yang sangat ia benci. Karina tersenyum geli mengingatnya.
"Iya. Gara-gara kamu ngidam, seluruh daftar kegiatan honeymoon kita terbengkalai tidak dijalankan," ujar Karina. Arion mengacak-ngacak rambut Karina. Karina menepis tangan jahil Arion.
__ADS_1
"Kan sudah diganti liburan bareng di perkebunan dan hasil terindah yaitu anak kita di dalam perut kamu."
Arion berdalih. Karina berdecak sebal dan segera memejamkan matanya. Arion tersenyum lebar dan menyimpan dokumennya. Kemudian berbaring dan ikut memejamkan mata menuju dunia mimpi.