
Kini Sam sudah tiba di depan pintu gerbang markas Pedang Biru. Gerbang dengan warna senada warna gerbang kediaman Karina itu menjulang tinggi, menenggelamkan lantai dasar yang tidak terlihat dari luar. Suasana begitu sepi, suara berisik bendera organisasi yang bersanding dengan bendera kebangsaan yang diterbang angin menyambut Sam saat ia keluar dari mobil.
Sam merapatkan jaket kulitnya sebab udara tengah malam yang dingin. Sebuah cahaya menyinari Sam dari atas. Sam menengadah dan menaikkan tangannya di depan mata menghalau cahaya yang masuk ke matanya.
"Siapa itu?" tanya penjaga menara gerbang. Di silaunya cahaya itu, Sam menangkap ia ditodongkan senjara laras panjang dari atas. Wajar saja para penjaga itu mengira Sam musuh.
Sam merogoh kantong celana bagian kiri dan menunjukkan sebuah kartu berwarna biru kepada para penjaga. Itu adalah sesuatu yang Karina lemparkan tadi padanya. Salah seorang penjaga menggunakan pembesar untuk melihat detail kartu.
"Sudah izin Queen," ujarnya pada rekan semenaranya.
"Kartu biru?" tanya rekannya itu.
"Iya, suruh saja dia memasukkan kartu di bagian login, jika asli maka pintu akan terbuka, kalau tidak alarm akan berbunyi, kita siaga saja," ujarnya lagi, dengan suara berbisik.
Rekannya itu mengangguk.
"Tuan, masukkan kartu Anda ke bagian login kartu di gerbang, gerbang akan terbuka otomatis!" teriak rekannya itu pada Sam bersamaan dengan mematikan senter yang menerangi Sam. Sam mengangguk. Hatinya tidak sabar untuk bertemu Lila.
Sam segera memasukkan kartu di bagian login kartu. Sidik jarinya juga diminta. Setelah melewati serangkain keamanan, terdengar suara gerbang dan membuka otomatis. Sam menatap senang itu, ia masih di tempatnya, menanti kartu biru itu keluar dan mengambilnya. Akan tetapi, satu menit menunggu, kartu tidak kunjung keluar.
"Hei-hei! Kembalikan kartuku!" pekik Sam pada sistem di depannnya itu. Sam mengetuknya kesal.
"Hei, ayo kembalikan! Aku harus mengembalikannya pada Karina. Bagaimana bisa kamu menelannya? Sistem keamanan, ayo muntahkan. Kau tidak akan kenyang menelan itu!"
Penjaga gerbang yang melihat itu dari menara, mengeryit heran. Mereka saling pandang dengan wajah yang tidak mengerti.
"Sistem kurang ajar! Kau mau membuatku dibunuh oleh pemilikmu? Kembalikan atau ku pecahkan layarmu!" ancam Sam, entahlah, Presdir Anggara Company itu agaknya hilang akal. Efek begadang mungkin.
Mengkonfirmasi nada ancaman. Gerbang akan tertutup dalam lima belas detik!
Sam terperajat kaget saat sistem keamanan
berbentuk layar laca berwarna biru di depannya ini menjawab.
Hitung mundur dimulai, 10. Sam panik.
"Hei, aku bercanda. Jangan marah," ucap panik Sam.
8
"Tuan segeralah masuk, setelah gerbang tertutup, kamu akan ditembaki olehnya," seru penjaga gerbang.
Tanpa pikir panjang, Sam langsung berlari masuk. Saat hitungan berakhir, gerbang tertutup dengan cepat diikuti suara tembakan. Sam membulatkan matanya dan mengintip kondisi mobilnya. Ia terbelalak kaget melihat kondisi mobilnya yang mengenaskan.
"Good bye my car. Terima kasih telah menjadi kendaraan yang baik untukku," gumam Sam melihat kondisi mobilnya yang hancur.
"Segeralah masuk Tuan. Masalah kartu Anda, memang begitu aturannya. Kartu itu hanya bisa digunakan satu kali untuk satu orang. Sistem akan menelannya dan tidak akan pernah mengembalikannya. Hanya Queen yang bisa mengambilnya," terang penjaga gerbang lantang pada Sam yang masih mengintip mobilnya.
"Begitu ya? Syukurlah," gumam Sam.
"Tolong urus bangkai mobilku. Makamkan dia dengan layak. Dia berjasa dalam hidupku," ujar Sam memerintah, lalu memutar kakinya dan berjalan menuju mansion utama. Jarak yang cukup jauh, membuatnya harus berlari.
"Memangnya dia siapa? Berani memerintah kita? Terus apa hubungannya kita dengan mobilnya? Harusnya kan dia yang mengurus," celetuk kesal penjaga gerbang pada rekannya.
"Sudahlah, biar bagaimanapun, dia juga ketua dari kolaborasi mafia kira, Black Diamond," sahut rekannya dengan penekanan di nama Black Diamond.
*
__ADS_1
*
*
Sam mengedarkan pandangannya saat di lantas satu. Terlalu banyak pintu, Sam bingung harus kemana. Mata Sam menangkap sebuah peta markas di dinding dekat lambang Pedang Biru.
Sam mendekatinya dan mengamatinya serius. Mata berbinar seketika.
"Lantai tiga!" gumamnya segera mencari anak tangga, lift ataupun eskalator.
Sam tersenyum lebar mendapati lift tak jauh dari tempatnya, segera ia menekan tombol membuka lift dan menekan lantai 3 setelah berada di dalamnya.
Tiba di lantai 3, Sam membatu melihat banyaknya pintu ruangan dengan nomor sebagai pembedanya. Bangunan utama ini malah mirip sebuah hotel. Terlebih lantai 3 ini.
Malah Karina hanya memberikannya kartu tanpa memberitahunya di kamar mana Lila tahu. Dengan menghela nafas kasar, Same melangkah mantap membuka demi satu pintu.
Penghuni setiap kamar, membuat raut wajah Sam kadang heran, geli, ngangkak hingga takut.
Sekarang Sam membuka kamar nomor 121, Sam memasukkan kepalanya dan mencari saklar lampu. Saat lampu menyala, Sam hampir saja tertawa keras melihat siapa penghuni kamar ini.
Bagaimana tidak, posisi tidur penghuninya abstrak sekali. Kaki berada di atas ranjang, sedangkan dari kepala sampai punggung berada di lantai. Posisi tangan lurus ke kiri dan kanan. Malah wajahnya maskeran lagi. Coklat lagi warnanya.
"Mira, terimalah cintaku!"
Sam membelalakan matanya mendengar igauan pria itu yang tak lain adalah Gerry. Sam yang penasaran, melangkahkan kaki lebih jauh. Kini ia berjongkok di samping Gerry.
"Mira kau sangat cantik. Tak peduli kau janda, kau berhasil mencuri hatiku," igau Gerry lagi dengan bibir tersenyum manis. Sam memiringkan kepalanya.
"Jadi, ini anak suka sama Mira? Ku kira dia tidak pernah jatuh cinta," gumam Sam bersangga dagu.
"Segitunya dia sampai terbawa ke alam mimpi," gumam Sam lagi, lalu berdiri dan mengedarkan pandangannya.
Kamar Gerry hanya dihiasi foto dirinya, Karina, Li dan juga Elina. Satu foto di atas nakas menarik perhatian Sam.
"Waoh, gercep juga dia. Seksi banget oy, dokter Mira."
Sam menatap Gerry dengan senyum jahil, dengan segera ia meraih frame foto itu dan melepaskan fotonya lalu menyimpannya. Sam meninggalkan frame kosong, tak lupa meninggalkan sebuah surat.
Hei Sam, kau ini di saat genting malah sempat-sempatnya jahil. Sam lalu merogoh kantongnya mengambil handphone. Membuka kamera dan memotret Gerry.
Setelah itu, Sam langsung keluar, tak lupa mematikan lampu.
Sam kembali membuka kamar. Sam ragu karena mendengar suara aneh. Ia lalu menghidupkan lampu. Di sini Sam menjatuhkan rahangnya dan menutup mata. Ia malah memergoki Li dan Elina yang sedang olahraga malam.
Li dan Elina yang kaget langsung melepaskan diri di saat asyik-asyiknya dan menutupi tubuh mereka dengan selimut. Mereka panik dan kelabakan bak pasangan mesum yang ditangkap basah oleh keamanan. Elina menyembunyikan wajahnya di balik bantal. Li menatap kesal Sam.
"Ups maaf. Tidak sengaja," ujar Sam mengintip dari jari-jarinya.
"Sam? Mengapa kau di sini?" tanya Li dingin menutupi rasa malunya.
"Mencari Lila. Ada di kamar nomor berapa dia? Aku sudah lelah membuka pintu nomor satu sampai kamar ini," jawab Sam polos, tanpa rasa bersalah telah mengganggu kemesraan Li dan Elina.
"Mencari Lila? Darimana kamu tahu Lila di sini?" tanya Li lagi.
"Karina," jawab enteng Sam.
"Oh. Kamar 130 segeralah ke sana. Kamu mengganggu! Dan lain kali ketuk dulu pintu sebelum masuk. Di mana sopan santun seorang CEO, kau tidak punya tata krama ya?!" kecam Li. Sam nyengir.
__ADS_1
"Memangnya setiap CEO harus sempurna? Tidak ada yang sempurna kawan. Kesempurnaan hanya milik Allah. Dan ya, kunci pintu kalau mau olahraga. Kalian sudah menikah, kamar adalah privasi. Bye," balas Sam dengan entengnya tanpa menghiraukan tatajam mata tajam Li, lalu kembali mematikan lampu dan keluar.
"Ada-ada saja," gumam kesal Li. Berdiri dengan tubuh polosnya dan berjalan untuk mengunci pintu.
Mendengar suara pintu dikunci, Elina menampakkan wajahnya. Tangannya memegang erat selimut sebatas dada. Hanya bayang gelap Li yang Elina lihat. Elina mendengar suara langkah mendekat.
"Mengapa kamu tidak mengunci pintu Li?" kesal Elina pada Li.
"Kelupaan, kan biasanya mana ada yang berani nerobos kamar kayak gitu," jawab Li duduk di ranjang.
"Ck, ngunci pintu lupa. Ngungkung aku ingat, huh. Besok kamu bungkam tuh mulutnya. Malu dan kesal sekali aku, sumpah!" cibir Elina. Li terkekeh.
"Sudahlah. Lebih baik kita tidur. Atau mau lanjut?" ajak Li memegang pundak Elina. Elina mendengus.
"Gak mood. Aku mau tidur," jawab kesal Elina membaringkan tubuhnya. Li hanya tersenyum menanggapinya.
Sialan! Seharusnya aku sudah pelepasan. Jadi ngambek kan dia, umpat Li dalam hati meruntuki malah sialnya.
*
*
*
Sam membuka kamar nomor 130. Sama, suasana juga gelap. Pendingin ruangan bekerja dengan baik.
"Apa peraturannya saat tidur harus gelap gitu? Apa mau menghemat listrik, biar bayarnya gak mahal?" heran Sam, sebab setiap kamar yang ia masukin, keadaannya selalu gelap. Sam mencari saklar lampu yang posisinya selalu sama.
Setelah kamar terang, Sam melihat jelas sosok yang tertidur dengan membelakanginya. Selimut diapit rapat dengan ketiak. Mata Sam seketika meredup saat melihat itu. Ia yakin benar bahwa sosok itu adalah Lila, terlebih Li yang mengatakannya.
Dengan segera ia kembali membuat kamar menjadi gelap dan berjalan gontai menuju ranjang. Sam melemparkan tubuhnya di atas ranjang dan memejamkan matanya.
"Akhirnya aku menemukanmu, Sayang," gumam lega Sam. Mulai mengisi kembali daya mata yang sudah 0 persen. Tangan kanan Sam berada di pinggang sosok itu.
*
*
*
Azan Subuh berkumandang dari handphone Karina, membangunkan kedua insan yang masih terlelap, membawa mereka menuju kesadaran. Karina bangun lebih dulu dari Arion. Karina merenggangkan tubuhnya lalu menggapai remote di atas nakas dan menyalakan lampu. Setelah lampu memyala dalam sekedip mata, Karina membangunkan Arion.
Arion yang masih ngantuk bergumam tidak jelas dan malah membelakangi Karina.
Karina menguncang pundak Arion lebih kuat. Arion tetap tidak bangun dan menepis tangan Karina. Kesal, Karina mendekatkan mulutnya ke telinga Arion.
"Bangun atau ku siram kamu dengan air," ancam Karina dengan suara keras tepat di telinga Arion. Arion sontak membuka matanya dan melirik Karina.
"OTW THT Yang," protes Arion merasakan telinganya berdengung. Karina malah menggigit telinga Arion.
"Eh, stop! Aku bangun, jangan makan telinga aku. Enggak ada dagingnya, tipis terus ada dakinya pula. Enggak enak," ujar Arion dengan nada takutnya, seketika duduk dan memegang telinga kirinya.
"Makanya bangun. Ayo salat. Kamu imam," sahut Karina beranjak turun dan mengikat tinggi rambutnya. Arion berdecak sebal seraya menyikap selimutnya.
"Memang kewajiban pria kan menjadi imam," gumam Arion menyusul Karina yang masuk kamar mandi duluan.
Setelah wudhu, keduanya lekas melaksankan salat Subuh berjamaah dan di akhiri dengan membaca ayat suci al-Qur'an.
__ADS_1