Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 210


__ADS_3

"Bagaimana ini? Semua perusahaan memutuskan kerjasama dengan perusahaan ini? Apa yang harus aku lakukan agar perusahaan ini tidak tumbang?" erang frustasi seorang pria seraya mengacak-acak rambutnya. Tatapan matanya cemas, takut, juga putus asa. 


Pria itu lantas menyandarkan tubuhnya di kursi presdir menggantikan sang ayah yang kini diproses itu pihak kepolisian dan KPK. Pria itu tak lain tak bukan adalah anak sulung keluarga Aditya Alamsyah, Rifki Aditya. 


Kantung mata terlihat jelas dengan warna kehitaman, matanya memerah menahan kantuk sebab begadang untuk menstabilkan perusahaan namun tetap jalan di tempat, malah semakin mundur. Kemeja hitam yang ia gunakan juga kusut dengan dua kancing teratas terbuka.


Belum lagi masalah sang adik, ingin meledak rasanya kepala ini. Saat sedang menenangkan diri dengan memejamkan matanya, ada yang mengetuk pintu ruangan kerja yang ia tempati kini.


"Masuk," ucapnya serak. Membuka mata dan menenggak air putih di atas meja.


Seorang pria paru bayah, masuk dengan wajah tegangnya, ia tak lain adalah sekretaris Aditya Alamsyah yang kini menemani Rifki mengendalikan perusahaan.


Rifki menaikkan pandangannya. Sekretaris tersebut menunduk hormat.


"Bagaimana?" tanya Rifki datar, menumpuk kedua tangannya di atas meja.


"Hanya ada satu harapan Tuan Muda," jawabnya, meletakkan map berwarna biru yang ia bawa di atas meja.


Rifki meraihnya dan membuka map lalu membacanya.


"Mereka belum mengambil tindakan apapun terhadap kerjasama dengan kita?" tanya Rifki datar, menatap sekretaris dengan tatapan rumit. Yang ditanya menggeleng. 


"Pihak mereka tidak mengatakan apapun, hanya perusahaan ini sendiri yang belum membatalkan kerjasama dengan kita, saya rasa kita ada harapan untuk bangkit, dan mempertahankan perusahaan ini," jelasnya dengan binar harapan mata.


Rifki kembali menurunkan tatapannya pada map dan membacanya sekali lagi.


Seketika ia mengingat sesuatu.


"Kau benar. Pemiliknya adalah teman seangkatan adikku dan adikku juga menyukainya. Dia pasti akan membantu! Aku akan ke rumah sakit menemui Ibu dan Rizki lalu ke langsung ke rumahnya," ucap Rifki spontan, dengan binar mata di mata dan secercah harapan.


Seakan mendapat setetes air di tanah gersang dan tandus dan angin segar di tengah hawa panas yang mendera.


"Selamat berjuang Tuan. Perusahaan berada di bawah tanggung jawabmu kini!" ucap sang sekretaris.


Rifki mengangguk mantap dan segera menarik jasnya yang ia sampirkan di atas sofa. Lalu langsung keluar ruangan dengan semangat yang berkobar. Sang sekretaris menatap kepergian Tuan Mudanya dengan tatapan nanar. Ia menarik senyum tipis kemudian menggeleng pelan.


Dia masih seperti anak ayam yang baru menetas, ingin berhadapan dengan elang di langit biru yang gagah. Semoga berhasil Tuan, apapun hasilnya, aku akan setia pada kalian. Hidup dan matiku adalah untuk kalian. Semoga saja memang mereka serius tidak membatalkan kerja sama ini, bukan sekedar pemberi harapan palsu yang akan menghempaskan tuan muda dari langit ke bumi, batinnya dengan tersenyum kecut lalu membereskan ruangan yang berantakan.


*


*


*


Saat perusahaan Aditya kalang kabut, sepasang insan yang merupakan biang keladinya malah asyik duduk bersantai di atas karpet di bawah pepohonan buah yang sedang berbunga dan sebagian lagi sudah berbuah. 


Karina dan Arion saling pandang kemudian sama-sama tersenyum lebar. Di depan mereka terdapat laptop, handphone mereka berdua, serta susu dan kopi.


"Kejutan akan segera tiba, bahkan sebelum dia tiba di sini," ucap Karina, bersandar pada dada Arion. Sembari mengusap perut Karina, Arion mencium rambut kemudian turun ke dahi Karina.


"Keluarga mereka akan sepenuhnya hancur! Itulah akibat berani menggoda istriku!" balas Arion, tersenyum lebar. Karina mengangguk.


"Ku dengar di alun-alun ada festival kuliner, ke sana yuk," ajak Karina, menatap Arion penuh harap dengan mata berbinarnya.


Arion terdiam berpikir. Setelah beberapa saat ia mengangguk. 


Istriku ini lebih cepat lajunya kepada makanan daripada barang mewah, batin Arion, mengusap lembut rambut Karina.

__ADS_1


"Tapi," ucap Arion, membuat Karina mengerutkan dahinya dan menunjukkan wajah bertanyanya.


"Pajak dulu, di sini," lanjut Arion, menunjuk bibirnya.


"Tadi pagi kan sudah, kamu ini kesempatan dalam kesempatan deh," keluh Karina, memanyunkan bibirnya.


"Ya sudah, kita gak usah pergi," ancam Arion, dengan senyum smirk-nya. Karina langsung mendinginkan wajahnya.


"Kalau gitu aku pergi sendiri, gak ada kata kita!"


Dengan segera Karina bangkit dan berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Arion yang mengerjap polos. Tak lama ia meruntuk dan segera menyusul Karina. Tiba di kamar, Karina sudah berganti pakaian dan sudah siap untuk pergi dengan tas selempang yang biasa istrinya gunakannya.


"Tungguin," ucap Arion, menuju lemari dan mengambil pakaian kasual.


"Untuk apa? Bukankah kamu gak mau pergi kerena gak dapat pajak?" ketus Karina, keluar kamar meninggalkan Arion yang masih berganti pakaian.


"Yang, jangan ngambek dong," teriak Arion.


"Bodo'," teriak balas Karina.


Arion dengan secepat kilat menyelesaikan memakai baju, semprot parfum dan merapikan rambutnya.


Karina sudah masuk ke dalam mobilnya, ia berniat menyetir sendiri. Mesin mobil sudah hidup, tinggal ijak gas saja langsung keluar garasi. 


Terdengar suara pintu mobil sebelahnya dibuka dan Arion menunjukkan wajahnya. 


"Aku yang nyetir, kamu duduk sini." Arion memerintah, dibalas tatapan acuh Karina.


"Yang, nurut loh sama suami," tegas Arion. Karina memutar bola matanya malas.


"Masuk atau tinggal," ucap Karina tegas. Bersiap menginjak gas.


"Kalau begitu bawa mobil sendiri," jawab Karina. Menekan tombol di sampingnya untuk membuat pintu yang terbuka menutup otomatis. Arion refleks menarik tangannya saat tangannya mau terjepit. 


Karina membuka kaca mobil yang Arion buka tadi, lalu meliriknya sekilas dan langsung keluar dari garasi. 


"Ckckck, memang keras kepala," kesal Arion, mengambil kunci mobilnya dan segera menyusul Karina dengan menggunakan mobilnya sendiri.


"Hei-hei, lihatlah caranya mengemudi. Mengapa sifat bar-barmu tak hilang Sayang, kau sedang hamil, setidaknya berperilakunya seperti wanita hamil," ucap Arion berbicara sendiri melihat cara Karina mengemudi. Salip sana, salip sini, depan kosong lalu tancap gas. 


Karina menghentikan mobilnya di pinggir jalan, padahal ini belum sampai di alun-alun kota. Karina keluar dengan tas dan kacamata hitamnya. Menoleh sebentar ke arah mobil Arion yang ikut berhenti di belakang mobilnya.


Arion mengikuti arah langkah Karina tanpa beranjak dari dalam mobil. Karina ternyata masuk ke salah satu tempat penarikan uang otomatis simplenya ATM. Antrian tak terlalu panjang. Tak sampai sepuluh menit, Karina sudah kembali masuk ke dalam mobil dan lanjut mengemudi. Arion segera mengikut.


"Aku lupa dia tak punya uang tunai. Dan aku juga tak bawa uang tunai. Kerja bagus, Sayang. Setidaknya menurutku," gumam Arion, mencoba mensejajarkan mobilnya dengan mobil Karina.


*


*


*


Rifki menenteng plastik putih berisi makan siang untuk mamanya. Dengan wajah datar ia segera menuju ruang ICU. Mengingat adiknya yang koma, ia menghela nafas panjang. 


Andai saja perusahaan tak oleng dan ayah tak bermasalah, pasti masih bisa menyewa kamar VIP agar mamanya juga tidak kelelahan menunggu di kursi. Mana pelayan rumah sudah dipulangkan semua lagi. Tinggal satu mobil dan rumah juga sudah terancam.


Semoga saja rumah itu tidak disita! batin Rifki. 

__ADS_1


Ia menemukan sang mama baru saja keluar dari ruang ICU. Ia menebak bahwa mamanya baru selesai menjenguk sang adik. Wajah mamanya tampak lelah dan masih dirundung sedih. Belum ada kenaikkan kondisi dari sang adik.


"Ma," panggil Rifki, menyalami sang Mama dan memberinya pelukan hangat.


"Bagaimana Nak? Perusahaan bisa diamankan kan?" tanya sang mama dengan nada berharap.


"Masih Rifki usahakan. Ada satu harapan lagi. KS Titra Grub, semoga mereka mau membantu kita," jelas Rifki, meminta ibunya untuk duduk. Rifki lalu membuka makan siang yang ia bawa dan menyuapi sang ibu.


"Perusahaan sebesar itu, apa mau membantu kita? Apalagi kasus ayahmu bukanlah hal kecil. Mereka itu lebih peduli pada citra," ujar Nyonya Aditya lemah dan terdengar tak yakin. Rifki tersenyum.


"Jika belum dicoba, kita belum tahu kan ma? Terlebih lagi, hanya perusahaan besar itu yang belum memutuskan kerjasama dengan kita. Dan apa mama tahu siapa wanita yang selalu adik ceritakan tanpa menyebut namanya?" tutur Rifki, terus menyuapi sang Mama.


Nyonya Aditya mengangkat alisnya dan menggeleng.


"Dia adalah pemilik perusahaan itu. Ya aku tahu dia sudah menikah dan adik mencintai wanita yang salah," imbuh Rifki dengan wajah sendu.


Nyonya Aditya tersedak dan membulatkan matanya menatap Putra sulungnya terkejut.


"Kau serius? Itu salah, Nak! Adikmu tidak boleh mencintai wanita yang sudah bersuami. Itu salah, setelah adikmu bangun, Mama akan menasehatinya!" seru Nyonya Aditya. Bebannya kini bertambah. Rifki terperangah dengan penolakan sang mama.


 Ya walaupun ia sudah bisa menebak, mamanya adalah wanita polos dan baik. Dan selamanya ini sang mama yang tahu, bahwa semua okey dan berjalan semestinya bukan menyeleweng. Dalam hati Rifki juga merasa bersalah. Ia juga tidak mengikuti ajaran agama yang ibunya selalu ajarkan. Dia adalah bandar besar obat-obatan yang bekerja di balik layar.


"Baiklah Ma, Nanda mengerti. Mama habiskan dulu makan siang Mama, baru Rifki akan ke rumah Karina. Untuk masalah itu, nanda minta maaf sebab Nanda menyembunyikan hal ini selama ini," pinta Rifki, menyuapi sang mama lagi. Nyonya Aditya makan dengan mulut hambar lagi. 


Selepas menyelesaikan makan siangnya, Nyonya Aditya izin ke toilet untuk membasuh wajahnya.


"Lebih baik aku tidak menceritakan tentang adik yang sudah berani membelikan cincin untuk Karina sebagai tanda cinta dan Karina menerimanya. Tapi, Karina ini tahu atau tidak tahu tentang rasa adik padanya?" gumam Rifki, bimbang sendiri.


"Kesalahan apa yang aku lakukan hingga keluarga jadi begini? Padahal aku selalu mengajarkan pada suami dan kedua permataku kebaikan dan agama. Mengapa mereka melenceng? Nanda, kamulah harapan Mama sekarang. Apakah godaan harta, tahta dan wanita berhasil menutup mata hati mereka?" ucap pilu Nyonya Aditya, menatap nanar cermin dan mengamati air matanya yang keluar.


Nyonya Aditya membasuh wajahnya beberapa kali, lalu mengambil tisu dan keluar. Tak jauh dari depan pintu ruang ICU, Nyonya Aditya menghentikan langkahnya melihat sang anak sulung berbicara dengan beberapa pria berseragam pihak kepolisian, atau lebih tempatnya seperti seragam anggota pemberantasan Narkoba.


Seketika rasa khawatir langsung melingkupinya dan segera mendekati. Ia mendengar sang anak berbicara dengan nada lemah lembutnya kepada mereka. 


"Tuan saya mohon tunggu sebentar, saya harus pamit pada Mama saya," ucap Rifki, memohon.


"Ada apa ini?" Suara sang Mama membuatnya berbalik dan menatap sang Mama.


"Ma, aku," ucap Rifki terbata namun dipotong oleh salah seorang anggota polisi tersebut.


"Kami membawa surat penangkapan untuk Rifki Aditya atas kasus Narkoba!" ucapnya, seraya menunjukkan surat penangkapan.


Nyonya Aditya tersentak dan menerima ragu surat tersebut dan membacanya. Sesekali matanya melirik sang anak yang menunduk dengan meremas ujung kemejanya. Pundaknya dipegang oleh dua anggota. 


Setelah membaca lengkap, wajah Nyonya Aditya langsung datar dan mengembalikan surat tersebut kepada anggota tadi. Walaupun wajahnya datar, hatinya berlubang sakit. Sudah sakit tambah sakit lagi. 


"Ma," panggil lirik Rifki, berusaha memegang tangan sang Mama.


"Bawalah dia pergi. Aku tidak ingin melihat wajahnya. Dia sudah mengecewakanku dan menghancurkan harapanku!" ucap datar Nyonya Aditya, dengan nada terdengar meminta. Rifki menggelengkan kepalanya.


"Jangan Ma. Nanda mohon jangan. Maafin nanda Ma," pinta Rifki, memberontak berusaha memeluk sang mama. 


"Pergi! Aku sudah gagal jadi mama dan istri! Apa salahku hingga kalian semua menyeleweng?! Kau bahkan bermain gila dengan barang haram itu! Apa semua ucapanku tak masuk ke telinga dan hatimu? Apa aku tak mengajarkanmu agama dan hal yang baik? Pergilah, jalani hukumanmu. Aku kecewa padamu," hardik Nyonya Aditya, duduk lemas di bangku dan menyeka air mata yang keluar setetes.


"Jangan menangis Ma, Nanda mengaku salah. Mama jangan bersedih ya, nanti mama sakit. Mama harus kuat," pinta lembut Rifki.


"Pergi dan jangan tunjukkan wajahmu padaku lagi! Kau tak perlu mengkhawatirkanku! Kau dan mereka yang membuatku begini!" sarkas Nyonya Aditya, menaikkan telunjuknya mengusir sang anak.

__ADS_1


Rifki membisu seketika dan pasrah saat para anggota itu membawanya pergi meninggalkan mamanya yang kini hatinya hancur lebur sehancur-hancurnya.


Setelah sang anak hilang dari pandangannya, Nyonya Aditya terisak dan meremas dadanya sakit. Tak lama ia jatuh pingsan. Air mata jatuh menetes di lantai. Orang-orang yang menyaksikan hal itu langsung menolong Nyonya Aditya.


__ADS_2