Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
Permintaan Enji


__ADS_3

" Aku kira kamu wanita baik-baik ternyata kamu wanita liar yang membawa pria asing ke rumah." 


"Barapa banyak laki-laki yang sudah masuk ke kamar kamu hah?"


Karina tetap diam mendengarkan itu. Ia hanya mengangkat salah satu alisnya.


"Oh hanya dia."


"Apa kamu tak mau mendengar penjelasan aku?" tanya Karina datar.


"Penjelasan? Aku sudah lihat itu! Apa lagi memangnya yang mau kamu jelaskan?"


"Hmmm ... banyak! Tapi sepertinya kamu tidak ingin mendengar jadi kamu akan melihatnya dengan mata kepalamu sendiri." ucap Karina. Nadanya berubah menjadi dingin.


Arion yang masih emosi tak memikirkan akibatnya. 


"Oh ya ... aku mau lihat buktinya. Kalau penjelasan kamu berdasarkan fakta maka aku akan meminta maaf padanya."


"Jika tidak?" tanya Karina


"Jika tidak pernikahan kita batal dan aku akan menghancurkan hidupmu."


"Hmm ....baiklah," ucap Karina.


Karina memanggil seluruh pekerja yang ada di rumahnya. Mereka yang merasa langsung menghadap nonanya.


"Semua telah berkumpul Nona," ujar pak Anton yang diangguki yang lain.


"Oke saya mau kalian menjelaskan padanya siapa laki-laki yang sering kerumah ini? Dimulai dari kamu," ucap Karina menunjuk pak Anton.


"Tunggu! Kamu pikir saya percaya dengan bukti seperti ini! Kamu pikir aku anak SD yang bisa dibohongi? Bisa saja kan mereka berbohong secara mereka orang-orangmu!" 


"Lalu aku akan menjelaskan bagaimana? Atau kamu mau bukti seperti ini?" ucap Karina . Ia mulai naik pitam. Ia menyuruh Pak Anton dan kawan-kawannya pergi menyelesaikan tugas mereka.


Karina mengambil handphone-Nya dan membuka rekaman CCTV di handphone itu. Karina menunjukkannya pada Arion.


"Kalau kau bilang itu bohong maka sungguh ternyata aku akan menikahi seorang yang bodoh," sarkas Karina.


Arion melihat rekaman itu. Di situ terlihat Enji yang disambut ramah oleh seluruh rumah. Semua orang terlihat menyukainya.


Di tempat lain yang ia yakini kamar Karina. Tampak Enji dan Karina berbicara serius. Kalau dari rekaman itu Enji memang terlihat tidak takut dengan sikap dingin Karina. Ia malah seperti biasa saja dengan itu. Tak jarang ia bermanja dan bercanda. Karina merespons walaupun tidak pernah secara langsung.


Rekaman itu tidak hanya sekali tetapi itu adalah rekaman yang sudah digabungkan. Dan memang Enji biasa datang ke rumah Karina. 


Mimik wajah Arion mulai berubah. Ia menatap Karina. Sungguh bodoh rasanya dia terlalu dan terbawa emosi.


"Bagaimana? Sudah jelaskan? Enji itu adalah orangku." 


"Maaf ... maafkan aku ... aku sudah menuduhmu yang tidak-tidak padahal besok kita menikah," sesal Arion


"Ya sudahlah! Aku pun tak masalah! Tapi sesuai ucapanmu kau harus minta maaf pada Enji."


"Ah ... apa?? Tidak! Aku tidak mau!" Gengsi Arion mengalahkan janjinya.


"Tidak? Ternyata kau orang yang suka ingkar janji ya? Apa lebih baik aku batalkan saja pernikahan kita besok?" tanya Karina pada dirinya sendiri.


Arion panik mendengar itu. Susah payah mendapatannya masa sudah di depan mata harus dibatalkan sih? Akhirnya setelah bergelut dengan egonya akhirnya ia memutuskan untuk meminta maaf pada Enji.


"Baiklah aku akan minta maaf padanya."


"Sebaiknya besok saja. Aku yakin dia sudah tidur. Aku tak ingin kau menggangguny," ujar Karina


"Mengapa harus besok? Dan mengapa kau tak mau mengganggunya? Seberapa penting dia bagimu sih?" tanya Arion berturut.


" Suatu hari kau pasti tahu. Sebaiknya kau pulang dan beristirahat untuk besok. Besok akan melelahkan," ucap Karina yang mana tersirat usiran.


"Hmm ... baiklah! Tapi kau antar aku sampai depan ya," pinta Arion 


"Haih ... baiklah ayo."


Karina mengantar Arion sampai depan pintu. Sebelum masuk ke mobilnya Arion mencium kening Karina sekilas lalu masuk ke mobilnya dan pulang.

__ADS_1


Karina tetap dengan wajah datarnya. Ia segera masuk menuju kamarnya.


Di kamar Karina Enji menunggu gelisah. Sebenarnya Ia sudah mengantuk, namun rasa khawatir akan nonanya menghilangkan kantuknya. Ingin rasanya dia turun dan membantu nonanya dari orang itu. Tapi apa daya Karina menyuruh naik dan tetap menunggu di kamar. 


Karena frustasi Enji menekan salah satu tombol pada remote. Remote itu memutar TV ke belakang digantikan dengan bar mini. Ia mengambil salah satu Bir dan menuangkan ke gelas kecil. Namun saat hendak meminumnya gelas itu di rebut dari belakang.


Siapa lagi kalau bukan Karina. Karina dengan santainya meminumnya.


"Mengapa kau mau minum ini?"


"Ah ... tidak Nona ... Anda salah paham. Aku ... gelas itu untukmu Nona," elak Enji.


Mengapa Karina melarang Enji untuk minum bir? Entahlah mungkin nanti akan terjawab.


"Benarkah?" 


"Iya ... iya Nona," jawab Enji kikuk.


Enji bernafas lega. Kemudian menarik nafas panjang.


"Nona apa dia tadi calon suamimu?" 


"Hmm ...."


"Ku rasa dia bukan pria yang cocok untukmu Nona," ujar Enji


"Mengapa?"


"Dilihat dari sikapnya tadi ia terlalu emosional. Selain itu ia terlalu cemburuan tanpa menanyakan alasan atau apapun itu," terang Enji.


Karina tersenyum. Malam itu ia tersenyum lebar. 


"Sudahlah ini keputusanku. Kau hanya sekali melihatnya. Aku sudah mengenal dirinya luar dalam. Kau tak pernuh khawatir. Lagi pula siapa yang berani menyakitiku? Hmmm …?" 


"Tapi .…"


"Sudah lah . Sudah sana kau pulang sudah larut malam." 


"Nona aku ada permintaan ... bisakah mengabulkannya?" tanya Enji


Enji tampak ragu mengungkapkannya.


"Bisa kah aku tidur denganmu malam ini seperti waktu kau menemukanku Nona? Hanya tidur saja bisakan?" 


Karina mengerutkan dahinya.


"Tidur di sini? Bersamaku?"


Enji mengangguk. Matanya memelas. 


"Haih ... ternyata kau masih saja manja ya? Tapi ya sudahlah ayo ti ...."


Belum selesai Karina menyelesaikan ucapan nya Enji sudah berlari naik ke ranjang dan berbaring di sana.


"Ayo Nona tidur di sampingku."


Karina menggeleng-gelengkan kepalanya.


Namun, ia menuruti ucapan Enji. Karina membaringkan tubuhnya di samping Enji. 


Enji dengan cepat memeluk nonanya dan mulai tertidur.


"Selamat malam Nona."


"Malam Zizi kecilku," balas Karina mengelus kepala Enji.


Malam itu Karina tidur bersama Enji dengan Enji yang terus memeluk Karina erat seakan tak ingin berpisah. Karina hanya tersenyum melihat itu dan ikut memejamkan matanya menuju alam mimpi.


***


Jam 07.00 pagi Karina sudah berada di hotel Grand Nusa. Tempat acara pernikahan

__ADS_1


mereka diadakan. Enji ikut bersamanya.


Saat ini Ia sudah berada di ruang rias. Enji berada di sampingnya.


"Nona Anda yakin dengan pilihan Anda?" tanya Enji lagi


"Hmm ...."


Enji terus mengajak Karina mengobrol. Karina hanya merespon datar. Obrolan mereka terhenti saat Maria masuk ke dalam.


"Hai Sayang ... kau semakin cantik sebelum menikah," sapa Maria mencium pipi kanan dan kiri Karina.


"Mama bisa saja," sahut Karina datar.


"Iya Sayang ... you are very beautiful!"ujar Maria.


"Tentu saja Nyonya. Nonaku sangat cantik. Putramu beruntung mendapatkannya," seru Enji yang dari tadi menyimak.


Maria melihat kanan-kiri mencari suara Enji. Maria menemukan Enji keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada


"Kyaaaiii ...," kaget Maria


"Siapa ini Karina?" tanya Maria pada Karina.


Karina mengendikan kedua bahunya.


"Orang tersesat yang salah alamat mungkin?" jawab asal Karina


"Apa?"


"Hei Nona mengapa ucapanmu begitu kejam," keluh Enji memeluk Karina dari belakang.


Tindakan Enji membuat Maria terbelalak.


"Ini ... ini …?"


Melihat itu Karina tersenyum mengelus pundak Enji


"Ma ... dia adikku! Tepatnya adik angkatku," terang Karina.


"Apa?? Tapi kau bilang kau tak punya keluarga?"


"Seseorang pasti punya banyak rahasia Mama ... dan mungkin aku juga termasuk," ujar Karina santai.


"Aihh ...kau ini ... membuat Mama kaget saja! Hampir saja Mama membatalkan pernikahan ini! Tapi siapa namanya pemuda tampan ini?" tanya Maria menatap Enji yang sudah melepaskan pelukannya.


"Kalau mau di batalkan ya batalkan saja Nyonya. Biar aku yang menikah dengan Nonaku yang cantik ini,"celetuk Enji santai menatap Karina dan Maria bergantian.


Karina yang kesal mendengar itu langsung mencubit perut Enji yang membuat empunya mengadu kesakitan. Sedangkan Maria menatap polos Enji.


"Maafkan dia Ma ... namanya Enji usianya 22 tahun," ucap Karina.


"Ohhh ... Enji. Mama yang bagus," komentar Maria.


"Hmmm ... itu Nonaku yang memberiku nama," ucap Enji bangga


"Nona??" beo Maria.


Karina menyuruh Enji memakai bajunya dan keluar. Enji menurut namun, sekilas ia mencium pipi kanan Karina.


"Dia bekerja untukku. Dan sejak aku menemukannya aku mengajarkannya memanggilku nona. Jadi Ma ... di mana Arion dan Papa?" tanya Karina yang tak melihat batang hidung calon suaminya. Biasanya Arion selalu menemuinya.


"Ohh ******** kecil itu. Ia berada di sebelah. Mama melarangnya menemuimu. Sedangkan Papa mengecek persiapan lagi," terang Maria.


"Ohh ...."


"Ya sudah ayo Mama temani kamu."


Maria memanggil penata rias profesional untuk merias Karina. Karina hanya mengangguk. Sekarang tiba waktunya Karina menggunakan gaun pengantin. Maria bertanya pada Karina di mana Gaun pengantinnya. Karina menunjuk sebuah di dalam ruangan itu.


Penata rias itu berjalan kearah yang ditunjuk Karina untuk mengambil gaun pengantin. Saat membuka bilik itu betapa kagetnya dia

__ADS_1


"Ini ... ini ... kan?" ucap kagetnya seraya menutup mulutnya dan menatap Karina waspada.


Sepertinya dia orang yang berpengaruh, batinnya.


__ADS_2