
Karina memeriksa beberapa kamar di lantai dua, mencari kamar Darwis dan Joya. Yang mana memang kamar Darwis, Rian, dan Satya terpisah.
Setelah membuka dan menutup beberapa kamar setelah mengetahui siapa pemiliknya.
Rupanya kamar Darwis dan Joya berada paling ujung. Karina memutar knop pintu dan memastikan dikunci apa tidak.
Ceklek!
Pintu terbuka. Karina memasukkan kepala ke dalam dan memastikan itu kamar Darwis dan Joya. Terlihat Joya yang tidur dan Darwis yang tidur dengan posisi duduk menyangga kepalanya.
Darwis yang tidur ayam, membuka matanya mendengar suara pintu yang terbuka. Walaupun pelan, telinga tajamnya tetap dapat mendeteksi.
Karina dengan langkah santai memasuki kamar Darwis dan Joya. Darwis terbelalak kaget dengan kehadiran.
"Kau? Bagaimana bisa kau datang? Dan mengapa tak mengetuk pintu? Ck, kalau kami sedang olahraga bagaimana?"
Darwis berkata cepat dan kesal. Ia berdiri dan menunduk hormat pada Karina. Joya menggumam tidak jelas.
Karina hanya mendatarkan wajahnya. Ia menarik kursi rias dan duduk di samping ranjang.
"Lantas aku tak boleh kemari begitu? Kau datang mengadu padaku. Masa' aku diam saja di sana? Dan mustahil kau olahraga dengannya di kondisi begini. Jangan berlebihan," ucap Karina, mengamati wajah Joya yang damai dalam tidurnya.
Darwis hanya diam mendengus dan ikut duduk di ranjang.
"Lain kali ketuk pintu dulu," ucap Darwis, tegas.
"Kalau nggak lupa. Bagaimana kondisinya?"
Karina membenarkan letak anak rambut Joya yang berserakan di wajahnya.
"Stabil. Yang penting sering kontrol," jawab Darwis.
"Hm, kau dari negara Y langsung kemari? Apa kau datang sendiri?" tanya selidik Darwis, dengan suara pelan, takut membangunkan Joya.
"Tidak. Aku habis dari negara B dan baru pulang juga dari Korea Selatan. Aku bersama dengan Arion, kedua mertuaku, Bayu, Enji dan anak kakek Bram dan Nita," jawab Karina pelan.
"Oh, lantas di mana mereka? Apa di bawah?" tanya Darwis lagi.
"Ya iyalah," sahut Karina.
Darwis mengangguk dan berniat keluar. Ia izin keluar untuk menyambut atau sekadar menyapa tamunya.
"Kau tak perlu risau ataupun takut Joya. Aku telah mengerahkan ilmuwan terbaik Pedang Biru untuk mencari cara agar penyakitmu sembuh," ucap Karina, mengusap dahi Joya.
Merasa ada hawa panas di dahinya, Joya mengeryit dan membuka matanya.
"Ehm? Wis?" panggil Joya pelan, pandangannya buram tak jelas.
Joya bangun dan bersandar pada kepala ranjang.
Ia mengucek matanya agar pandangannya jelas.
"Ouh, kau bangun, maaf," ucap sesal Karina.
"Hah? Karina kau datang?" kaget Joya.
Karina tersenyum dan mengangguk.
"Bagaimana aku tak datang mendengar kau sakit? Hem?" tanya balik Karina, menaikturunkan alisnya.
"Darwis memberitahumu?" terka Joya.
Karina lagi-lagi hanya mengangguk.
Joya terdiam sejenak. Ia menatap Karina. Tanpa aba-aba ia langsung memeluk Karina erat dan menumpahkan air mata di bahu Karina. Karina mengusap punggung Joya.
"Ini pasti karma atas perbuatanku. Aku pantas menerimanya," tangis Joya.
"Hei, jangan menangis. Untuk apa menangis? Karma itu memang ada. Jangan menyesal jika telah mendapatnya. Penyesalan tiada arti kalau kau terpuruk," ujar Karina menenangkan Joya.
"Tetap saja," jawab Joya.
Joya melepas pelukannya dan menatap sendu Karina. Matanya memerah dan sembab. Karina menghapus air mata yang masih mengalir di pipi Joya.
"Ini bukan Joya yang ku kenal. Ayolah sepupuku, jangan melemah. Kesembuhan akan datang jika orang tersebut mengharapkan sembuh dan berusaha. Namun, jika ia sudah pasrah tanpa berusaha. Maka kematian adalah pilihannya," hibur Karina.
Joya mengulas senyum tipis dan mengangguk.
__ADS_1
"Pedang Biru adalah keluargamu. Aku sudah menitahkan mereka untuk melakukan penelitian besar-besaran agar bisa mencari cara menyembuhkanmu," tambah Karina.
Joya mengangguk dan tersenyum lebar.
"Oh ya mana Darwis? Tadi diakan menemaniku?" tanya Joya, mengedarkan pandangannya ke seluruh area kamar.
"Ke bawah, menemui Mama, Papa, Arion, adikku," ucap Karina.
"Paman dan Tante Wijaya juga ikut? Aku ingin menemui mereka," ujar Joya, berbinar.
Dengan membantu Joya berdiri, Karina merangkul Joya keluar kamar, menuruni tangga, menuju ruang tengah.
Di ruang tengah, terlihat hanya ada Darwis, Maria, Amri dan Alia yang sedang mengobrol. Untuk Arion, Bayu dan Enji tak kelihatan batang hidungnya, membuat Karina tatapan mata mencari.
Joya segera menyalami Amri dan Maria. Joya lalu mendaratkan bobot tubuhnya di sebelah Darwis. Karina melenggang menuju dapur dan kembali dengan es crim cone di tangannya.
"Hei, kau mengambil es krimku!" pekik Joya memberitahu.
"Sudah tahu," jawab Karina santai.
Joya mencembikkan bibirnya dan melipat kedua tangannya kesal di dada.
Karina hanya melirik sekilas.
"Yang lain mana?" tanya Karina.
Baru mau dijawab, Arion, Bayu dan Enji datang dengan pakaian basah yang masih melekat.
Arion menyampirkan baju dan celana panjangnya di lengan kiri. Membuat Joya kesal dan memarahi mereka.
"Kalian? Berani masuk dengan keadaan basah kuyup? Lihat lantai jadi basah dan licin. Jika ada yang jatuh bagaimana? Jika aku atau Karina jatuh bagaimana? Hmph!" omel Joya, menunjuk lantai yang basah akibat ulah ketiga orang itu.
Arion, Bayu dan Enji hanya tersenyum dan menunjukkan deretan gigi putih mereka.
"Arion!" pekik Karina kesal, melihat Arion yang hanya memakai single dan celana pendek.
Air masih mengalir dari ujung rambutnya. Arion mengerut takut melihat Karina yang menghampirinya dengan wajah garang.
"Cepat ayo ke mobil. Apa kau suka pamer tubuh hah?"
Karina cemburu, sebab melihat tatapan lekat Joya pada Arion. Joya hanya terpanah sebab sudah lama yang melihat body Arion.
Karina segera mengambil kunci mobil di tasnya dan menarik Arion keluar menuju mobil.
"Ma, tolong ambilkan kunci mobil di tasku," pinta Enji, memeluk tubuhnya kedinginan.
Bukan Maria yang mengambil, melainkan Amri. Setelah dapat, kunci mobil langsung dilemparkan pada Enji. Enji dan Bayu segera keluar.
Barulah Darwis membuka mata Joya. Joya menatap kesal Darwis.
"Jangan kesal. Bukan mahrammu, haram," ucap Darwis, menasehati dan menenangkan Joya.
Joya abai dan memilih memanggil pelayan untuk mengeringkan lantai yang basah.
*
*
*
"Auh sakit, Yang," aduh Arion saat Karina menarik telinga.
"Biarin. Dasar kau ini. Mau pamer badan sama mantan kekasih hah?"
Karina melepas jewerannnya dan membuka koper mengambi handuk dan pakaian untuk Arion. Arion mengusap telinganya yang panas dan memerah.
"Siapa yang mau pamer? Aku mau ngambil kunci mobil tadi," jelas Arion, meyakinkan Karina.
Tak terima dibilang mau CLBK dan itu tak akan pernah!
"Alasan!" ketus Karina.
Arion terdiam dan beberapa detik kemudian tersenyum.
"Kau cemburu ya? Ayo ngaku, kamu cemburu sama Joya ya?"
Arion memegang tangan Karina yang masih memilih pakaian. Karina menoleh ke arah Arion dengan tatapan dinginnnya.
__ADS_1
"Cemburu? Dengan Joya? Untuk apa?" tanya Karina.
"Ehm, lantas kenapa kamu marah aku cuma pakai ini di depan Joya? Aku juga gak tahu Joya di ruang tengah," jawab Arion, menggoda Karina.
Karina tetap dengan wajah dinginnya, namun hatinya mengiyakan. Ya siapa yang tak cemburu melihat tatapan kagum dari mantan kekasih. Walaupun mantan kakasih itu sudah punya suami.
"Terserah. Nih ganti pakaian di dalam mobil. Jangan masuk ke dalam sebelum ganti," ucap Karina, menyerahkan satu set pakaian pada Arion.
"Serius di dalam mobil?" tanya Arion memastikan sembari membuka pintu mobil.
Karina hanya menggumam dan menutup bagasi mobil. Tak mau membuat Karina lebih bad mood, Arion segera berganti.
Sekitar lima menit kemudian, Arion keluar dengan setelan celana ponggol berwarna hitam dan baju kaos berwarna biru. Tak lupa juga topi bertuliskan Hubby ia kenakan. Karina memakai topi dengan tulisan Wife. Ya agak bucin sih.
"Sudah. Jangan ngambek dan cemburu lagi ya," ucap Arion, memegang kedua sisi pipi Karina.
Karina hanya menggumam.
"Ayolah jawab Karina, jangan menggumam! Gumamanmu membuatku tak mendapat jawaban."
Arion membawa Karina dalam pelukannya.
"Baiklah. Tapi jaga mata dan hati kamu. Jangan melenceng!" tegas Karina.
"Always Honey," tegas Arion.
Karina membalas pelukan Arion.
Suara deheman Enji dan Bayu membuat mereka melepas pelukan dan menatap kesal Bayu dan Enji. Ayah dan anak itu bersiul dan melenggang pergi. Pura-pura tak lihat, ck padahal sudah menganggu.
***
Akhirnya setelah mendapat dan memastikan dokter, Calvin dan Raina kembali ke rumah.
Calvin menyetir mobil dengan kecepatan sedang, menikmati waktu bersama Raina.
"Ingin apa? Tadi kamu bilang ngidam. Tapi aku bangun kamu Nggak ada bahas," ucap Calvin memecah suasana hening.
"Tadi itu aku nggak mau dicap istri pemaksa. Yang mana memaksa sang suami yang masih terbaring sakit untuk membelikan dan memenuhi keinginan istri yang tak masuk akal!"
Raina menatap Calvin dengan senyum simpul.
"Ohw. Sekarangkan aku sudah sehat, ingin apa?" tanya Calvin serius, memegang tangan kanan Raina.
"Kamu nggak fobia kan sama yang aku mau ini?" tanya Raina, memastikan agar tak terulang kejadian yang sama.
"Memangnya apa?"
Calvin tak sabar menunggu keinginan Raina. Raina menarik nafas dan menatap Calvin, yang kini menatap ke depan mengemudi.
"Aku ingin jadah goreng," ucap Raina, menghela nafas panjang setelah mengucapkan keinginannya.
Calvin mengeryit dan menoleh sekilas ke arah Raina.
"Makanan apa itu? Aku baru mendengarnya," tanya Calvin penasaran.
Ya begitulah. Lidah Raina itu memang yang tradisional.
"Kamu nggak tahu jadah goreng? Gemblong? Itu terbuat dari ketan putih dan kelapa yang ditumbuk, lebih gurih pakai kelapa merah, terus dimakan sama tapei ketan," jelas Raina, menelan ludahnya membayangkan lezatnya jadah yang belum digoreng ditambah asam manisnya tapai ketan.
"Oh dari ketan. Mau beli atau buat sendiri?" tanya Calvin.
Sebab biasa Raina suka yang buatan dapur sendiri.
"Buat sendiri. Aku rasa jarang yang jual itu. Pusing nyarinya. Lebih baik buat sendiri. Tapi nanti kamu yang numbuknya ya?"
Raina menatap Calvin penuh harap.
"Gampang. Cuma numbuk saja kok. Masalah kecil itu," sahut Calvin percaya diri.
"Kalau begitu ayo kita beli ketannya. Kelapa merah di rumah kan ada, entar kamu yang manjat. Nggak boleh pakai galah atau nyuruh Pak Maman," tegas Raina.
Calvin mendatarkan wajahnya dan meringis dalam hati.
"Kamu tega ah, masa' suami baru pulang dari rumah sakit kamu suruh manjat pohon kelapa?" keluh Calvin, mengerucutkan bibirnya.
"Kamu kan nggak luka. Orang di sana kamu cuma numpang tidur dua hari dua malam, belagak lemah lagi . Hm, kalau aku ajak itu kamu pasti semangat 45. Giliran memenuhi keinginan hasil cairanmu kau mengeluh, ckck," cibir Raina.
__ADS_1
Calvin Raina tertegun dan dengan gerakan lambat mengangguk. Raina tersenyum puas.