
Waktu menunjukkan pukul 17.00, helikopter yang Karina kirim untuk menjemput Amri, Maria serta Bayu sudah di bandara sudah kembali, turun perlahan di landasan.
Arion dan Karina dapat merasakan kencangnya baling yang belum berhenti, menerpa wajah mereka, seketika rasa dingin menjalar. Arion memeluk Karina, mengurangi rasa dingin.
Pintu helikopter terbuka, Marialah yang pertama turun diikuti Amri dan terakhir Bayu yang diturunkan oleh Amri.
"Mama …," ucap Karina melepas pelukan Arion.
"Sayang …," sahut Maria memeluk Karina, menciumi pucuk kepalanya.
"Selamat ya. Kamu semakin sempurna, Tuhan memberi kepercayaan pada kalian berdua," ujar Maria.
Karina mengangguk pelan. Maria melepas pelukannya.
"Kak? Aku jadi paman ya?" tanya Bayu memeluk Karina dengan tubuh pendeknya.
"Ya Bayu," jawab Karina mengelus rambut Bayu.
"Kamu memang CEO sejati. Ucapan dan janjimu dapat dipegang. Belum satu bulan penuh kami akan jadi kakek dan nenek," ucap Amri serius memuat semuanya tersenyum ria. Amri mendekati putra tunggalnya, merentangkan tangan seraya tersenyum.
Arion membalas rentangan tangan itu dengan memeluknya.
"Thanks Pa. Inikah juga atas doa kalian," ucap Karina.
"Hahaha ... Nona Presdir, ini doa kami berdoa siang-malam, sedangkan kalian begadang tiap malam," ucap Amri yang membuat Karina dan Arion tersipu malu.
"Pa, jangan meledek. Jika di luar sana memang aku adalah CEO tapi saat ini, saat bersam kalian aku adalah menantu kelurga Wijaya serta istri dari Tuan muda Wijaya," ujar Karina tegas. Amri mengangguk saja menyetujui.
"Papa ini, malah godain mereka. Kasihan tahu," kesal Maria.
"Iya nih Papa, yang pentingkan jadi, prosesnya dinikmati saja," sahut Arion merangkul Karina. Karina menghindar, risih akan hal itu.
"Sudahlah, ayo kita masuk saja, dingin di luar," ajak Karina menggandeng tangan Bayu dan Maria. Akhirnya mereka berlima masuk ke dalam villa. Barang ketiganya dibawa oleh pelayan.
Di ruang tengah yang luas, dengan sofa yang dibentuk melingkar, Sam, Lila, Calvin dan Raina saling bencengkrama lepas, gelak tawa tak sepi terdengar.
Suara batuk Arion, membuat mereka berhenti bercanda, menoleh ke sumber suara. Mereka langsung beranjak dan menyalami Amri dan Maria.
"Malam Om, Tante," sapa Sam dan Calvin bergantian mencium tangan kanan keduanya. Sedangkan Lila dan Raina hanya menyapa dan tersenyum.
"Malam Sam, Vin," sapa balik Amri.
"Kalian juga di sini? Kapan sampainya?" tanya Maria sedikit terkejut.
"Tadi siang Tante," jawab Sam.
"Hahahaha … kita ini pertemuan keluarga bukan honeymoon bareng kan? Kurang Mama dan Papa kalian berdua saja," tanya Amri terkekeh pelan.
"Kalau aku sama Karina sih memang honeymoon Pa, tapi kalau dua alien ini gak tahu mau ngapain?" jawab Arion menunjuk Sam dan Calvin. Sam dan Calvin memberengut kesal. Menarik masing-masing pasangan mereka dan merangkulnya.
"Kita juga honeymoon, ya kan Ra?" balas Calvin. Kasihan melihat Calvin yang songong di depan tetapi menangis di belakang membuat Raina mengangguk.
"Iya Om, jalan-jalan sebelum masa tegang," timpal Raina tersenyum. Sam dan Lila pun sama, tindakan mereka bagai pinang dibelah dua. Mirip sekali.
__ADS_1
"Sudah, ayo duduk. Capek tahu berdiri terus," celetuk Bayu yang nyatany sudah duduk duluan. Serentak mereka mengambil posisi duduk, menikmati aneka sajian yang tersedia di meja.
Sam iseng menyuapi Lila, ternyata diterima dan dibalas, Calvin tak mau kalah, mengikut juga tapi ditolak oleh Raina, malah mendapat Raina yang mendelik kesal.
"Plagiat loe Vin," ketus Sam.
"Gak diterima juga," sahut Calvin sedih. Lagi-lagi itu membuat mereka semua terkekeh.
"Makanya jangan plagiat. Buat variasi dong,"}celetuk Karina sembari memeluk tangan Arion.
"Dengarkan itu, Pipin Sayangku," timpal Raina.
"Ya maaf," sesal Calvin.
"Sudah-sudah. Bagaimana rencana pernikahan kalian? Mama sama Papa kalian mengatakan bahwa seminggu lagi kalian menikah. Undangannya juga sudah kami terima. Semoga lancarnya."Maria melerai sekaligus mengutarakan harapannya.
"Iya Om," jawab Sam singkat. Kebahagian terpancar dari wajah mereka.
Tak terasa jam makan malam tiba, Mereka beranjak menuju meja makan, menyantap sajian yang terhidang. Selepas makan malam, mereka membuat acara bakar-bakaran di depan villa, untuk mengisi malam yang sunyi.
Tak lupa anggur hasil perkebunan yang sudah diolah menjadi minuman ikut tersedia. Ditemani api unggun yang menghangatkan, serta petikan suara gitar yang Sam petikkan menambah keramaian.
Lagu bersilih ganti didendangkan. Tak ketinggalan Amri menyanyikan lagu dangdut kesukaannya. Acara kecil-kecilan itu berakhir pukul 23.00. Karina sempat melirik ke arah pohon yang pernah ditunjuk oleh Pak Tri.
"Jangan mengganggu. Kasihan pacarmu itu kau abaikan," gumam Karina menarik senyum tipis kala itu.
Api unggun sudah mulai padam, menyisakan abu dan bara kayu bakar. Mereka bergegas masuk ke kamar masing-masing. Villa yang dulunya sunyi, kamar tak berpenghuni kecuali para pekerja yang bertempat tinggal di bagian villa anak, di belakang villa yang Karina tinggalin saat ini.
***
Di tempat lain, di ruang perapian terdapat seorang pria muda dengan pakaian rumah sakit duduk, menatap datar beberapa pria berjas hitam di hadapannya.
"Bagaimana keadaannya?"ctanyanya pelan.
"Berita bagus, Tuan. Beliau hamil dan telah berdamai dengan suami serta kedua sahabat suaminya itu. Hanya dendam kepada pamannya lah yang belum tuntas," jelas pria yang berada di tengah
Pria itu tampak termenung. Setetes air mata keluar dari matanya. Harapannya tercapai, bahagia sekali rasanya.
"Tuan, apakah Anda sudah tahu bahwa ada seorang anak yang beliau adopsi?" tanya pria yang berada di sebelah kanan. Pria itu tersadar.
"Hmm … bukankah kalian sudah melaporkannya beberapa bulan lalu? Oh ya awasi juga anak itu," titah Pria itu, menatap api yang menyala di perapian dengan senyum terlembut yang ia miliki.
"Lanjutkan pengawasan kalian," ujar Pria itu lagi. Serentak para pria berjas hitam mengangguk dan pamit undur diri. Pria itu memejamkan matanya.
Mengingat masa lalu, sebelum dia meninggalkan dunia yang bebas dan melakukan apa saja yang ia mau, sekarang ia berada di tempat tersembunyi ini. Melakukan pengobatan untuk penyakitnya. Walaupun tinggal tahap penyembuhan dan pemulihan, tetap saja memakan waktu yang sangat lama.
"Aku tak sabar kembali ke sisimu, Nona," gumam Pria itu beranjak dari sofa menuju kamarnya, dibantu oleh seorang perawat pria, memapah tubuhnya yang masih lemah.
***
Tengah malam, Joya merasa terusik dengan suara-suara di sekitarnya. Tangannya mengepal erat, keringat mulai membasahi dahinya.
"Mengapa kau berbohong, Joya? Padahal aku sudah memberikan apa yang dirimu mau? Bahkan kau tak pernah mengunjungi makamku. Kau pembohong Joya. Kau pembohong besar."
__ADS_1
Suara itu terdengar kecewa, membuat bibir Joya bergetar ingin mengucapkan sesuatu.
"Mengapa kau jadi ambisius? Kemana Joya yang dulu aku kenal? Joya delapan tahun lalu? Kemana dia? Ini bukan dirimu Joya. Kembalilah seperti dulu." Pilu, sedih dan kecewa bercampur menjadi satu.
"Daren?" lirik Joya dengan tetap memejamkan matanya erat.
"Kau mengingatku? Tapi mengapa kau berbohong? Apakah janjimu itu hanya mainan?" tanyanya, Joya merasakan ada yang menyentuh wajahnya dengan lembut, jemari kekar dan berisi dapat Joya rasakan.
"Maaf, Daren."Joya mengucapkannya terbata, meremas selimut yang menutupi dirinya. Nafasnya memburu
"Selamat Tinggal, Joya," ucapnya pelan.
Joya gelisah. Sontak matanya terbuka. Menatap datar langit-langit kamar. Jantungnya berdebar-debar.
"Daren," lirik Joya meneteskan air mata.
Mengapa aku memimpikan dia? Maaf Daren aku tak pernah berkunjung ke makanmu. Padahal itu janjiku sendiri, batin Joya.
Joya berusaha menenangkan dirinya, belum teringat bahwa dia diculik. Ia bertekad akan mengunjungi makan Daren, yang sebenarnya hanyalah makam kosong tanpa penghuni, hanya bernama saja. Sedangkan aslinya kini adalah Darwis yang sehat selalu.
Setelah nafasnya mulai teratur, Joya menoleh ke samping kanan, dahinya mengerut melihat seorang pria duduk di kursi samping ranjang, menatapnya intens dengan segelas minuman di tangannya.
"Mimpi buruk?" tanyanya sebagai basa-basi.
"Kau? Bagaimana aku bisa di sini?" tanya Joya berusaha bangkit, sayang kaki tangannya dirantai. Tak ayal dia sedang disekap.
Bagaimana dia bisa di sini? Bukankah dia di negara K? batin Joya resah.
Joya mengingat kejadian tadi siang, sungguh lama sekali efek biusnya.
"Bayiku? Bagaimana dengannya?" pekik Joya meronta, berusaha melepaskan belenggu rantai di tangannya.
"Tenang saja, anak kita baik-baik saja. Aku tak akan mencelakainya," jawab Darwis berdiri, meletakkan gelas dan mendekati Joya. Duduk di samping Joya.
"Anak kita? Siapa bilang ini anakmu hah?" teriak Joya berang, menatap buas Darwis dengan nafas memburu.
"Tentu saja itu anakku, sweetheart. Usia lebih tua daripada usia kau terakhir kali tidur dengan Arion," jelas santai Darwis membelai wajah Joya. Joya terdiam. Memejamkan mata, sesaat nyaman dengan sentuhan itu.
Mirip dengan sentuhan Daren tadi, batin Joya.
"Kau diam, berarti itu benar. Dia anakku," ujar Darwis yang membuat Joya membuka matanya. Darwis menatapnya dengan serius, membuat sedikit wajahnya memanas.
"Mimpi saja kau. Ini anak Arion, benihmu kemarin aku matikan," ketus Joya menoleh ke arah lain.
"Tapi aku tak membiarkanmu melakukan itu. Yang kau lakukan pada benihku bukannya mematikannya malah menyuburkannya. Dan hasilnya adalah rahimmu berisi anakku. Darah dagingku," ucap Darwis penuh tekanan di akhir kata.
Joya membelalakan matanya. Menggelengkan kepalanya kecil dan menatap Darwis meminta penjelasan. Darwis menjelaskan dengan sabar. Joya tak bisa menerima itu. Ia berteriak histeris, ranjangnya acak-acak, bahkan rambutnya ikut acak-acakan.
"Terima kenyataan Joya. Kau milikku. Arion adalah milik Karina. Anakmu milikku bukan miliknya," tegas Darwis berdiri dari ranjang, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari kamar. Meninggalkan Joya yang termenung.
"Tuhan? Mengapa aku tak kau beri kebahagiaan? Apakah selamanya aku harus jadi budak ayahku? Apakah aku tak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan? Yang aku cintai? Daren pergi karena aku, perbedaan status? Mengapa harus ada?" keluh Joya sekali lagi meronta, masih berusaha melepaskan rantai.
"Aku ingin bebas, bebas dari belenggu Ayah. Aku memang bebas secara fisik, aku memang ambisius terhadap apa yang aku inginkan. Hanya Daren dan Arionlah yang berhasil masuk ke hatiku. Aku ingin bebas!!" teriak Joya histeris. Tak lama Joya kembali pingsan, masih tak dapat menerima kenyataan.
__ADS_1