Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 372


__ADS_3

"Tapi aku di sini bukan sebagai Ratu melainkan sebagai perwakilan!" Kiara akhirnya bersuara. Li membulatkan matanya, cangkir digenggamannya jatuh. Li menatap Kaira rumit yang dibalas tatapan acuh Kaira.


"Karina?"ucap lirik Li, menunggu Kaira selesai membuka cadarnya.


Mata Li dan Rangga terbelalak melihat wajah Kaira. Rangga hendak berteriak namun Li tahan. Jika wanita itu sudah angkat bicara pasti ada sesuatu yang penting. Biarpun wajah itu wajah yang sangat ia rindukan, Li harus tetap tenang, melihat apa yang wanita itu lakukan. Sebenarnya banyak pertanyaan di benak Li. Salah satunya mengapa bisa jadi ratu dan siapa ayah ketiga anak itu? Akan tetapi semua ia tahan dan melihat kelanjutan adegan tegang antara Kaira dan Osman. 


Osman melotot murka pada Kaira. Selain dilarang masuk ke ruang pertemuan, wanita juga dilarang menunjukkan wajah mereka kepada orang asing, termasuk para pelayan. Li tercengang setelah menilik lekat wajah itu. Ada bekas luka yang terlihat jelas dari tempatnya duduk. Luka itu berada di pipi juga di kening. 


"KAIRA! JANGAN KARENA KAU RATU KAU BISA SEENAKNYA! KAU TAHU JELAS ATURAN KELOMPOK KITA! CEPAT KELUAR ATAU AKU SENDIRI YANG AKAN MENYERETMU KELUAR!"teriak Osman murka yang ditanggapi acuh oleh Kaira.


"Apakah Anda tuli? Sudah ku katakan aku di sini bukan sebagai ratu tapi sebagai perwakilan! Jika Anda tak bisa menerima wanita ini sebagai perwakilan, maka sampai kapanpun kalian tidak akan pernah maju!"sahut acuh Kaira.


Osman maju dengan cepat ke hadapan Kaira, Rangga hendak menahan tapi lagi-lagi Li menahannya.


"Kakak itu adalah …."


"Aku tahu. Kita lihat saja dulu." Li yakin jika Kaira punya rencananya sendiri. Panggung Kaira tak boleh ia ganggu.


Osman hendak melayangkan pukulan pada Kaira. Emir sigap menahannya. Ketiga anak lelaki Kaira menatap Osman. Mereka dengan kompak menahan kaki Osman.


"Ayah mohon kontrol emosi Anda. Di sini masih ada tamu," ujar Emir lembut. 


"Kiara ayo kembali. Anak-anak kalian keluarlah lebih dulu," ujar Emir, penuh harap pada Kaira.


Kaira dan Osman tak menggubris, mereka tenggelam dalam adu tatapan. Rayan bingung harus berbuat apa. Ia hanya diam mengamati.


"KAIRA AYO KELUAR!"teriak Emir yang sudah kehabisan kesabaran. 


Dalam sekali gerakan, Emir memanggul Kaira bak memanggul karung beras. Kaira langsung memberontak, mengerahkan tenaga memukul leher Emir. Emir yang tak menyangka langsung tak sadarkan diri. Kaira berdiri dibantu oleh ketiga anaknya. Rayan bergegas menghampiri Emir dan membawanya keluar.


"KAIRA!!"


"BERHENTI BERTERIAK, PAK TUA!"


Nafas Kaira memburu, ketiga anaknya menatapnya cemas. 


"Ini sudah zaman modern. Abad ke-21! Anda tak bisa lagi melakukan diskriminasi gender! Wanita dan laki-laki itu setara!"


"Ini kelompokku! Aku berhak membuat aturannya! Kau hanya wanita asing, jangan coba menyetir kami!"


"Heh? Menyetir kalian? Bukankah kemajuan kalian berasal dariku? Aku sudah lama menyetir kalian. Osman, Jika sikapmu terus begini, lebih baik batalkan saja kesepakatan ini! Lebih baik aku membuat kalian tunduk dengan cara kekerasan!"geram Kaira.


"APA KATAMU?! KAU PIKIR SIAPA DIRIMU HAH? BERANINYA KAU MENGANCAMKU! PENGKHIANAT! BERANINYA KAU BERPIHAK PADA ORANG ASING!"


"SIAPA AKU? KAU MAU TAHU SIAPA AKU?"


Uhukkk !


"IBUNDA!"


Kaira melihat telapak tangannya, ada segumpal darah di sana. Li langsung bangkit dari duduknya, wajahnya terlihat terkejut. Akan tetapi instruksi Kaira menyuruhnya untuk tetap diam. 


"Lihatlah. Kau bisa bertahan hidup karena kecerdasanmu. Tubuhmu kian lemah. Jika kau tetap keras kepala aku yakin kau akan mati di sini. Kaira aku masih berbaik hati padamu. Kau cerdas, jadi cepatlah keluar, aku akan memaafkanmu," ucap Osman, ia juga menatap cemas Kaira.


 Tak dapat ia dipungkiri bahwa kemajuan keluarganya tak lepas dari campur tangan Kaira. Selain itu ia juga tak bisa membuat hubungannya dengan Emir rusak seandainya ia melukai Kaira. Osman menghembuskan nafas kasar. Kaira menatap dingin Osman. Mendengus senyum.

__ADS_1


"Anak-anak kalian lihatlah dari sisi mereka berdua," ucap Kiara menunjuk Li dan Rangga. 


"Tapi Ibunda …."


"Ibunda tahu apa yang Ibunda lakukan. Menurutlah, bawa adik-adikmu."


Ketiga anak itu patuh, mengikuti perintah sang ibunda. Ketiga anak itu bukannya tak terkejut dengan sikap ibunda mereka kali ini. Melihat emosi dan keberanian Kaira menantang Osman. Walaupun mereka tahu bahwa Kaira itu sangat berani akan tetapi Kaira juga tak pernah menjawab amarah Osman secara langsung. Apalagi memanggil Osman pak tua dan nama tanpa embel-embel. 


"Memangnya kenapa jika tubuhku lemah? Setelah menghinaku beraninya kau menyuruhku? Yang seharusnya keluar dan berlutut adalah dirimu! Osman jangan kira tubuhku lemah kau bisa menekanku!"


"LANCANG! PELAYAN AMBILKAN CAMBUK!"


Osman kini benar-benar murka. Persetan dengan akibatnya. Pikirkan nanti setelah ia melampiaskan amarahnya.


Cambuk itu kini berada di tangan Osman. Osman mengayunkan cambuknya ke arah Kaira. Sebelum cambuk itu mengenai tubuhnya, Kaira menangkap cambuk tersebut. Tatapan matanya yang tadi tenang kini berubah dingin. Aura membunuh Kaira memenuhi ruangan. 


Li dan Rangga harap-harap cemas. Sedangkan ketiga anak Kaira menatap cemas sang Ibunda.


"Paman fisik Ibunda sangatlah lemah. Aku mohon segera akhiri ketegangan ini." Brian menatap Li.


"Anak pintar, Ibunda kalian punya rencana sendiri. Tapi mengapa fisik Ibunda kalian sangat lemah? Adakah penyebabnya?" Li juga penasaran tapi ia tak bisa ikut campur sebelum ada perintah.


"Kami kurang tahu pasti. Itu seperti racun tapi tak ada penawarnya. Paman ku dengar Pedang Biru ahlinya pengobatan, apakah ada obat untuk Ibunda?"tanya Bahtiar. 


"Jika Ibunda kalian bersedia ikut ke markas pusat, pasti ada penawarnya. Oh iya bolehkah Paman tahu nama kalian bertiga?"


"Namamu Brian. Aku yang tertua," ujar Brian.


"Aku Basurata, yang kedua," sambung Basurata.


"Nama-nama yang indah. Kalau begitu perkenalan, nama Paman, Li Angkasa sedangkan Paman ini bernama Rangga," ujar Li.


"Kami mengerti," jawab ketiganya serentak.


"Jangan menguji kesabaranku, Osman! Aku sudah memberimu kesempatan tapi kau sangat keras kepala!"


"WANITA SIALAN! KU KEMBALIKAN UCAPANMU!"


"Sialan?! Kau berani mengatakan aku sialan? Memangnya kau tahu siapa aku sebenarnya hah?"desis Kaira dingin.


"Kau! Kau hanya wanita antah berantah yang dibawa pulang oleh putraku. Jika bukan karena Emir dan kecerdasanmu, aku pasti sudah mengusirmu sejak lama! Tapi kali ini aku akan membunuhmu!"


"Mengusirku? Membunuhku? Apa kau pantas?"


Kaira tersenyum smirk. Dalam sekali tarikan, cambuk di tangan Osman lepas dan berpindah pada Kaira.


"Dengarkan aku baik-baik, Osman! Aku bukanlah Kaira. Aku bukan istri putramu apalagi menantumu! Aku Karina Tirta Sanjaya! Pemilik KS Tirta Grub sekaligus Queen Pedang Biru. Osman karena jasa putramu padaku, mulai sekarang kalian adalah sekutu Pedang Biru. Li catat keputusanku!"


Mata Osman terbelalak. Ia mundur beberapa langkah. Menatap rumit Kaira atau Karina Tirta Sanjaya. Karina kembali tersenyum smirk.


  


Ketiga anak kembar itu terkejut dengan ucapan sang ibunda. Yang pertama terlintas di benak mereka adalah siapa ayah kandung mereka? Li tersenyum lebar. Ia berdiri, diikuti Rangga. Ketiga anak itu mengikut dalam diam. Melihat sang ibu sekarang sungguh jauh berbeda.


"Apa-apa katamu barusan? Kau Queen Pedang Biru? Apa kau sudah mengingat jati dirimu? Kaira apa penyebabnya karena insiden tadi?" Osman menatap Karina tak percaya. Karina mendengus senyum.

__ADS_1


"Empat tahun. Empat tahun aku kehilangan ingatanku. Bukankah wajar jika ingatan itu kembali? Osman, aku tidak akan menghancurkanmu karena jasa Emir dan kelompokmu."


Osman langsung luruh, bersimpuh di lantai dengan menunduk. Ia masih tak percaya. Di lain sisi, Li dan Rangga berlutut pada Karina, memberi hormat pada Queen mereka yang telah lama hilang. Saat memberi hormat, air mata tak kuasa mereka bendung. Apakah buah manis dari sebuah keyakinan? Sangat - sangat manis. 


"Berdirilah."


"Queen ini benar-benar Anda? Anda benar-benar selamat? Saya tidak bermimpi bukan?" Li menggunakan bahasa Indonesia.


"Kau tak percaya?" Karina menyahut dengan tatapan santai.


"Bukan tak percaya. Bolehkah saya memastikannya?"


"Silakan."


"Mohon sebutkan siapa Anda juga keluarga Anda."


"Aku Karina Tirta Sanjaya, CEO KS Tirta Grub sekaligus Queen Pedang Biru. Suamiku bernama Arion Wijaya, aku adalah menantu keluarga Wijaya. Anak pertamaku bernama Bintang Calista Wijaya, anak keduaku adalah Biru Chandra Wijaya, sedangkan anak ketigaku bernama Bima Areksa Wijaya. Aku memiliki adik bernama Enji dan Bayu. Li katakan padaku bagaimana keadaan Arion dan anak-anakku. Oh iya bagaimana keadaan Elina dan lainnya? Apa jenis kelamin anak kedua Raina dan Lila? Juga Rian? Apa Angela sudah mengambil alih keluarganya?" 


Li tak menjawabnya, malah memberi Karina pelukan. Pelukan yang erat dan terasa hangat. Karina memejamkan mata. Dengan segera membalas pelukan itu.


"Karina ini benar kau. Kau sungguh kembali. Aku sangat bahagia. Tolong. Tolong jangan tinggalkan kami. Karina rasa rindu kepadamu sangat menyesakkan dada. Kami hampir putus asa. Tapi … tapi pesanmu membuat kami tetap yakin. Karina aku sangat-sangat bahagia!"


"Hehehe. Aku juga bahagia Li. Sepertinya aku harus berterima kasih pada seseorang."


"Li … fisikku melemah. Kita harus segera kembali," ujar Karina, tak lama kemudian tak sadarkan diri. Li melepas pelukannya, menatap Karina panik.


"Karina? Karina kau kenapa?" 


"Paman ayo ke kamar Ibunda!"ucap Brian. Li segera menggendong Karina. Brian menjadi penunjuk arah. Rangga tetap tinggal. 


Basurata dan Bahtiar juga masih di tempat. Mereka berdua menatap datar Osman yang masih sangat terkejut dengan kenyataan. Kedua anak itu mendekati Osman.


"Kakek, biarpun kami bukan cucu kandung Kakek. Kami tetaplah cucu Kakek. Pelayan!"


"Bawa Kakek ke kamarnya!" Yang memberi perintah adalah Basurata. 


Osman menatap kedua anak itu. Tatapannya rumit. Osman berdiri dengan dibantu oleh dua pelayan, memapahnya menuju kamar. 


"Kakak siapa ayah kandung kita? Ibu bilang Ayah bukan suaminya, apa itu semacam hubungan palsu?"


"Anak-anak kalian akan segera tahu ayah kandung kalian setelah Queen sadar," ucap Rangga hormat, tersenyum lembut pada keduanya.


"Siapapun itu, ayah Emir tetaplah ayah kami!" Basurata melangkah pergi duluan. Bahtiar tersenyum pada Rangga. 


"Paman jangan tersinggung. Sejak kami lahir, kami hanya mengenal ayah Emir sebagai ayah kami. Paman bisa ceritakan sedikit mengenai Ibunda? Aku sangat penasaran."


"Tuan Muda, bukannya Paman tidak ingin memberitahunya, akan tetapi itu bukan wewenang Paman. Hanya Ibunda Tuan Muda yang berhak mengatakannya," tolak halus Rangga.


Bahtiar mengangguk mengerti. 


"Baiklah. Aku akan menunggu. Tapi Paman bisakah Paman menggendongku ke kamar Ibunda?"tanya Bahtiar dengan ragu.


Rangga kembali tersenyum lembut.


"Tentu saja, Tuan Muda. Saya adalah pelayan Anda."

__ADS_1


__ADS_2