
#Masih sambungan Flashback
"Hmm … ledakkan drone itu," perintah Karina tegas.
Pasukan elite menekan tombol merah pada remote control dan seketika ke sepuluh drone itu meledak menciptakan percikan api di udara.
Boom.
Boom.
Boom.
Boom.
Empat drone membumihanguskan sisi barat markas.
Dor.
Dor.
Dor.
Agh.
Aghr.
Suara tembakan yang dilepaskan entah dari mana sukses membuat dua pasukan mereka terbujur kaku.
"Sialan!" umpat Arion.
"Siapa kalian? Tunjukan diri kalian! Dasar pengecut!" teriak Arion geram.
Hening. Tak ada balasan dari pihak Karina. Lima menit kemudian, terdengar deru suara baling-baling helikopter. Helikopter itu melayang di atas markas Black Diamond.
"Aku di sini Triple leader," sahut Karina menggunakan pengeras suara. Tampak ia duduk dengan santainya di pintu helikopter. Satu kaki ia turunkan menggantung bebas di udara.
"Kau! Berani kau!" kesal Sam menunjukkan Karina.
"Yo … suruh siapa kalian mengancamku. Lebih baik aku maju selangkah dulu bukan?" kekeh Karina.
Karina terlihat mengangkat tangan kirinya. Ia menyalakan sebuah senter. Itu adalah sebuah sinyal.
Tiba-tiba gerbang utama markas di ledakkan menyisahkan serpihan kasar. 100 pasukan elit ditambah Li dan Gerry menyerang markas. Ini adalah pertempuran utama.
Aksi tembak saling menembang pun tak terelakkan. Pasukan Karina memberondong pasukan Black Diamond beserta ketiga leadernya dengan rentetan peluru. Sontak saja Black Diamond langsung posisi bertahan. Mencari tempat yang aman dari peluru. Arion bersembunyi di balik pilar markas. Ia berpencar dengan Sam dan Calvin.
Dari helikopter, Karina sibuk menghabiskan apel di tangannya. Melihat pertunjukkan dari atas.
Dor.
Dor.
Dor.
Suara tembakan saling bersahutan. Pasukan Karina terus mendesak Black Diamond. Satu persatu pasukan Black Diamomd tumbang dengan peluru atau sayatan senjata tajam mendarat di tubuh mereka.
Tak bisa terus seperti ini. Aku harus pikirkan sesuatu, batin Arion.
"Sam, Calvin gue ke pusat komando markas. Tahan mereka agar tak masuk," seru Arion lantang dari earphone.
"Oke," sahut Sam sembari kembali mengisi amunisinya. Ia sendiri berlindung di balik mobil yang terparkir di halaman.
"Loe mau lepasin misil?" tanya Calvin menduga.
"Yoi," jawab Arion. Selepas itu Arion segera mempersiapkan senjatanya. Ia bergerak dengan cepat menuju pusat komando yang berada di sisi timur.
Itu tak terlepas dari pandangan Li. Li menarik senyum smirk. Ia yang menggunakan katana bergerak mengejar Arion. Apa yang menghalangi ia tebas.
"Woi. Mau kemana loe. Gue sibuk ngadepin dua leader loe mau kabur," pekik Gerry kesal. Rompi anti pelurunya mulai terasa berat.
"Gue mau ngejar leader utama. Loe kan bisa lawan mereka," jawab Li setengah teriak dan kembali mengejar Arion.
Gerry mendengus kesal. Kini ia berhadapan face to face dengan Calvin.
"Selamat malam Tuan Arca," sapa Gerry tengil. Arca adalah nama samaran Calvin di dunia gelap. Bukan hal yang mengherankan lagi jika para pelaku dunia hitam menyamarkan nama mereka.
"Heh? Malam juga Tuan Acer," sahut Calvin tak kalah tengil. Sama seperti Gerry, Calvin pun punya nama samaran yaktu Acer.
Calvin mengusap luka akibat berondongan peluru di lengan kanannya. Ia menatap tajam Gerry. Mereka berdua mulai bergerak memutar. Calvin sudah mengganti senjatanya menjadi pedang. Calvin mulai menyerang Gerry. Gerry berusaha menangkis setiap serangan.
__ADS_1
Dor.
Ugh.
Erang Gerry saat bahu kanannya terkena tembakan dari Sam. Gerry terdiam. Ia melirik bahu kanannya. Sam dengan nama samaran Angga meniup ujung pistol dan tersenyum manis ke arah Calvin.
"Good Kawan,"ucap Calvin. Sam mengangguk sekilas.
"Good apanya?" tanya Gerry menyeringai.
"Kau kira kami begitu mudah ditaklukkan?" tanya Gerry lagi. Peluru ditembakkan Sam yang berhasil mengenai kulil luarnya.
Sam menukar senjatanya dengan pedang. Calvin dan Sam mulai menyerang Gerry bersamaan. Gerry mendengus kesal.
Dasar leader kaleng sarden. Gue sambal mata baru tahu loe berdua, kesal Gerry dalam hati.
Di lain sisi, Arion sudah berada di pusat komando. Pintu dikunci rapat olehnya. Ia mulai menggerakkan jarinya menari di keyboard monitor. Matanya membulat.
"Sial. Mereka tak bercanda. Bahkan markas cabang pun ia serang," geram Arion. Arion mulai membuka sistem peluncuran misil. Mengarahkannya membidik helikopter Karina.
"Tepat. Jika markasku di seluruh dunia hancur maka Pedang Biru juga harus kehilangan induk," gumam Arion mengarahkan tangan ke arah tombol hijau.
Satu gerakan lagi ia berhasil menekan tombol itu terdengar pintu berbunyi keras. Sontak Arion mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Li mendekatinya dengan pistol yang telah bersiaga.
"Ku kira siapa rupanya Tuan Libra," ucap Arion datar.
"Hmm … ternyata aku cukup terkenal juga ya, Tuan Air," kekeh Li berdiri diam setelah tiga langkah masuk.
Tanpa aba-aba, Arion langsung menarik pistol di pinggulnya dan menembak Li dengan brutal. Li berlindung di balik meja. Ia menilik Arion.
Dor.
Li mengarahkan tembakannya ke layar monitor di belakang Arion. Tembak -menembak kembali terjadi. Sampai amunisi mereka habis tak tersisa. Li dan Arion mulai beradu fisik.
Brugh.
Arion terkena lemparan kursi dari Li. Li beranjak mendekati Arion.
"Ini akibatnya mencari masalah dengan kami," desis Li.
Bugh.
Bugh.
Arion kembali menendang dada Li yang membuat Li terlentang.
"Walaupun aku harus mati akan ku bawa Queen kalian bersamaku," ucap Arion kembali mendekati tombol hijau. Li bangun dari terlentangnya dan berdiri.
"Tak akan ku biarkan," balas Li tajam. Dengan langkah tertatih, Li mulai kembali menerjang Arion . Itu berhasil. Namun sayangnya tangan Arion masih sempat menekan tombol hijau.
Misil siap diluncurkan. Membuka atap pusat komando, suara sistem menggema.
Li panik seketika.
"Terlambat," ejek Arion mengusap sudut bibirnya. Li berusaha menghentikan peluncuran misil.
Tidak bisa dibatalkan. Hitung mundur dimulai.
10.
9.
"Ahgh sial," geram Li. Li mengaktifkan earphonenya.
"Queen segera pergi dari helikopter," pekik Li lantang.
6.
"Tidak mungkin bisa," kekeh Arion.
5.
"Hmm … baik," sahut Karina.
*3.
2.
1*.
__ADS_1
Misil meluncur," suara sistem menggema.
"Lompat sekarang," seru Karina pada pilotnya saat melihat misil mulai mengarah pada mereka.
Pilot meluncur lebih dulu. Diikuti oleh Karina.
Boom.
Baru saja setengah jalan, helikopter mereka sudah meledak menyisahkan kobaran api di udara.
Karina dan pilot mendarat sempurna di tanah dibantu oleh parasut. Karina berdecak sebab. Helikopternya hancur, sama saja asetnya berkurang.
Karina segera menekan salah satu tombol pada jam tangannya memberi sinyal pada seseorang.
Terdengar deru mesin kendaraan. Namun bukan dari daratan melainkan dari udara. Ya, Karina mengerahkan satu pesawat tempurnya.
"Maaf kami terlambat Queen," ucap sesal seseorang dari belakang seraya berlutut.
Karina berbalik, menatap dingin ketiga orang yang berlutut di sana.
"Selesaikan mereka. Hancurkan markas ini. Aku mau riwayat Black Diamond malam ini," titah Karina geram. Ia bahkan tak ikut menyerang. Hanya memberi intruksi dan menonton.
"Baik Queen," sahut mereka yang tak lain adalah Trio Tampan. Sisa pasukan Karina tinggal sekitar 70 orang. Terlihat Calvin dan Sam yang setengah mati setelah dihajar oleh Darwis, Satya, Rian dan Gerry.
Sedangkan di ruang komando, Arion tertawa keras. Mengejek ekspresi Li yang cemas.
"Kau di mana?" Terdengar suara dingin Karina dari earphone.
"Di ruang komando Queen," sahut Li lega.
"Segera keluar. Akan ku ledakkan semua bangunan ini," perintah Karina.
"Baik Queen," jawab Li.
Li tersenyum mengejek Arion.
"Sepertinya kau salah. Selamat tinggal Black Diamond," ujar Li. Arion tertegun saat melihat Li mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya.
"Sebenarnya aku masih ada satu pistol lagi. Ini adalah hadiah dari Queen. Kau beruntung bisa merasakannya. Dari pada kau nanti kepanasan lebih baik kau tiada saja lebih dulu sebelum ini semua diledakkan. Aku baikkan?" tutur Li riang. Li mengarahkan pistolnya ke jantung Arion. Arion yang masih dalam posisi bersandar pada meja monitor menatap rumit Li.
Dor.
Satu peluru berhasil menembus rompi anti peluru Arion. Peluru itu memang sengaja ia siapkan untuk Arion. Li langsung keluar meninggalkan ruang komando dan berkumpul dengan Queen dan rekan-rekannya.
Karina menyuruh pasukan yang tersisa untuk mengurus mayat seperjuangan mereka untuk dikebumikan secara layak dan hormat di pemakaman Pedang Biru.
"Abadikan nama mereka dalam tembok sejarah Pedang Biru," ucap Karina datar.
"Baik Queen," sahut mereka. Karina mendongak menatap pesawat tempurnya yang siap tugas.
"Laksanakan!!" perintah Karina. Serentak pesawat tempur meluncurkan empat misil bersamaan, menggempur markas Black Diamond.
Peluncuran misil dibagi dalam tiga fase itu artinya ada 12 misil yang mendarat di markas Black Diamond. Dan dapat dipastikan bangunan markas itu luluh lantah.
Puas akan itu, Karina meninggalkan tempat kejadian perkara kembali pulang ke markas diikuti pasukannya.
Flashback Off ….
***
Aku salut dengan mereka. Sungguh maut belum mau menghampiri mereka. Aku penasaran bagaimana caranya mereka selamat? Padahal Arion sudah tertembak di jantung sedangkan Sam dan Calvin tak sadarkan diri dan dimasukkan ke dalam markas? batin Karina.
Ia selesai mandi. Keluar dari kamar mandi mengambil paperbag berwarna coklat tua berisi pakaian yang baru ia beli. Pergi dengan secepat kilat membuat Karina tak sempat membawa ganti, memikirkannya saja tak sempat.
Kini Dress berwarna hijau lumut melekat indah di tubuhnya. Karina menggerai rambut panjangnya. Ia melirik jam tangannya.
"Masih jam 15.00," gumam Karina.
Ingin tidur tetapi takut terkena dampak negarif, akhirnya Karina memutuskan menonton televisi. Mencari berita hangat dan terbaru.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara ketukan pada pintu apartemannya membuat Karina terperajat.
"Siapa itu? Perasaan aku gak ada pesan ataupun kenal dengan siapapun di sini kecuali kolegaku," gumam Karina beranjak membuka pintu.
__ADS_1
"Queen. Akhirnya kami menemukan Anda," seru beberapa pria yang berlutut hormat pada Karina. Mereka tak lain adalah Li, Gerry dan Trio Tampan.