Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 357


__ADS_3

Ketika tiba di dermaga, ternyata yang lain sudah berlayar lebih dulu. Arion mengedarkan pandangan, tidak ada satu kapalpun di sini.


Arion lantas menatap Karina meminta jawaban.  Karina yang kini menggendong Bima tersenyum lalu menaikkan pandangan ke langit. Arion ikut mendongak. Mendengus senyum kala melihat sebuah helikopter datang mendekat. 


Baling-baling helikopter yang berputar, menyebabkan angin kencang sejenak saat mendarat. 


Pilot helikopter keluar, memberi hormat pada Karina. Karina mengangguk dan segera mengajak Arion untuk naik. 


"Sayang … aku masih penasaran villa di pulau mana yang kau booking?"


Karina tersenyum.


"Kau akan tahu setelah tiba di sana. Aku yakin kau tidak akan kecewa. Itu sebanding dengan bujet yang kau keluarkan," ucap Karina.


"Begitukah? Lantai bus, kapal, dan helikopter ini juga kita yang menanggung?"


"Kita yang mengajak tentu saja kita yang bertanggungjawab. Ya ku akui kantongku berkurang banyak tapi tak masalah," jawab Karina.


"Alright. It's okay. But … i still don't believe you," ujar Arion yang dibalas senyuman manis Karina.


"No problem," sahut Karina.


Helikopter terbang mengudara di atas laut biru. Bintang, Biru, dan Bima sangat antusias melihat pemandangan di sekitar mereka. 


"Mama," panggil Bintang sembari menunjuk ke arah laut. 


Karina melihat ke arah yang ditunjuk Bintang. Ada sekelompok lumba-lumba yang tengah berenang di sana. 


"Itu namanya Lum-ba-lum-ba," ujar Karina. 


"L-lu-lu-lu?"


"Lum-ba-lum-ba," ulang Karina sekali lagi.


"Lu-lu-lum … baaa - umba?"


Karina terkekeh pelan.


"Baiklah. Nanti di villa kita kenalan dengan mereka," ucap Karina.


Bintang kembali asyik melihat luasannya lautan. Biru dan Bima sendiri tertidur di tengah-tengah Arion dan Karina. 


"Sweetheart, I'm jealous with you," keluh Arion.


"Why?"tanya Karina.


"Ketiga anak ini sudah pandai memanggilmu mama tapi belum pernah sekalipun aku mendengar mereka memanggilku papa," jelas Arion.


"Papa? Papa Ar maksudnya?"


Karina menggoda.


"Atau Papa merak? Papa Wijaya? Atau apa?"


"Tentu saja, Papa Ar," jawab Arion.


"Hem? Coba aku ajari dulu," ujar Karina.


Karina kemudian memanggil Bintang. Bintang menoleh. 


"Sini Sayang," ujar Karina, memangku Bintang.


"Coba sekarang Bintang panggil Papa," ucap Karina menunjuk Arion.


Bintang diam, memperhatikan Arion. Arion tersenyum dengan mata berharap.


"Mama?"


Karina menepuk dahinya pelan, menatap Arion yang matanya sedikit meredup.


"Papa Sayang. Ini Mama."


Karina menunjuk dirinya sendiri.


"Itu Papa. Pa-pa," jelas Karina mencelakakan kata Papa.


"Pa?"


"Pa."


"Pa-pa?"


"Yes! Papa Bintang," seru Arion sumringah.


"Good job, Bintang," puji Karina.


Bintang tersenyum, menunjukkan beberapa giginya yang sudah tumbuh, menepuk-nepuk kedua tangannya, kini tertawa riang.


"Thank you, Sweetheart," ucap Arion.


"Sudah seharusnya bukan? Ah jangan panggil aku sweetheart. Aku merinding mendengarnya, malah teringat dengan Darwis dan Joya."


"Hm. Baiklah, Sayang," jawab Arion.

__ADS_1


"Bintang, coba panggil Papa lagi," pinta Arion.


Bintang menatap Karina. Karina kembali memandu Bintang untuk memanggil Arion papa. 


*


*


*


Saat Arion dan Karina masih dalam perjalanan, yang lain sudah tiba di pulau. Mereka berdiri di pinggir pantai pulau dengan tahapan takjub. Pulau yang sangat hijau dengan kelapa sebagai tanaman utama, ada juga pohon pisang dan tanaman-tanaman lain.


Dari tempat mereka, mereka bisa melihat sebuah bangunan megah terletak sekitar 200 meteran dari mereka. Bangunan itu memiliki atap berwarna merah biru dengan beberapa bendeda berkibar di sudut atap. Darwis, Rian, Satya, Li, Gerry, dan Enji mengeryit melihat salah satu bendera yang mempunyai lambang tak asing bagi mereka.


"Pedang Biru?"gumam 


mereka berenam serentak, saling tatap.


"Pedang Biru? Maksud kalian?"


Elina tidak mengerti.


"Bangunan itu berbendera Pedang Biru dan Maladewa, artinya pulau ini milik Karina?"


Semua membulatkan mata tak percaya termasuk Li sendiri.


"Maksudnya pulau secantik, seluas, dan seindah ini adalah pulau pribadi Karina? Are you seriously Li?"


Amri memegang dadanya agar tidak pingsan. Berapa harga pulau dan bangunan di dalamnya itu? Berapa banyak jumlah nol di belakang angka utama? Ia tahu menantunya sangat kaya tapi tetap saja ia terkejut. Bahkan bawahan Karina saja ikut terkejut apalagi yang lain. Lila dan Raina saja saling pandang, mengingat kapan Karina memerintah mereka untuk mencari pulau pribadi di Maldives.


Li dan Gerry juga saling tatap, mengingat kapan kiranya Karina memerintahkan mereka untuk mencari arsitek dan mengurus pembangunan bangunan di depan mereka itu.


"Darwis … apakah bus dan kapal tadi termasuk milik Karina?"tanya Joya.


Ia yang kini baru melihat secara nyata kekayaaan Karina menatap Darwis penasaran. Pantas saja Karina tidak tertarik dengan keuntungan saham miliknya. 


Darwis menggeleng.


"Aku tidak tahu," jawab Darwis.


Yang sudah kenal lama dengan Karina saja tercengang, apalagi Angela. 


Seberapa kaya Nona Karina ini?batinnya, menggandeng Rian yang menilik sekitar.


"Em semuanya sampai kapan kita berdiri di sini?"


Leader Star Boy itu memecahkan kekaguman.


Semua saling tatap. Ini pulau pribadi bukan sewaan, pasti ada izin untuk masuknya. 


Dan sejauh yang mereka ketahui, tidak mungkin pulau ini tidak ada jebakan untuk orang yang masuk tanpa izin. Memangnya sih mereka diantar sampai sini tapi untuk masuk ke dalam pulau? 


"Kita masuk saja. Kakak tidak akan sebodoh dan sekejam itu menyuruh kita duluan jika masih ada bahaya menghalangi," ucap Enji, melangkah maju duluan.


Saling tatap, kemudian mengekor di belakang Enji. Saat baru sepertiga jalan, mereka berhenti dan mendongak ke langit ketika mendengar suara keras yakni tak lain adalah suara baling-baling helikopter.


Mata mereka mengikuti kemana terbangnya helikopter itu, ternyata mendarat di depan bangunan itu. Enji dan Star Boy sontak berlari agar segera tiba di bangunan itu. Sedangkan yang lain tersenyum, menggeleng pelan kemudian kembali melangkah. 


Kini mereka tiba di depan gerbang tinggi menjulang yang membatasi mereka dengan area dalam. Tak lama kemudian, gerbang biru itu terbuka lebar.


Kini mereka dihadapkan pada bangunan yang dari tempat mereka berdiri tadi saja sudah terlihat megah, lebih megah lagi setelah melihatnya dari dekat. 


Bangunan ini lebih mirip sebuah istana yang memiliki tiga lantai dengan warna dominan biru dan putih dengan jendela besar serta tiga balkon di serupa lantainya. Pintu masuk ke dalam istana ini sangat elegan nan mewah dengan ukiran pedang dan mawar biru pada pintu dan keempat pilar di depan pintu. 


"Kakak kau curang!"pekik Enji yang batubsaua pada Karina yang baru saja turun dari helikopter dengan menggendong Biru. 


"Kakak naik helikopter sedangkan aku naik kapal. Ini tidak adil."


Enji mencembikkan bibirnya. 


Arion yang mendengar itu langsung saja memberi hadiah berupa tepukan di dahi Enji. Bintang dan Bima sendiri berdiri dengan berpegangan pada kaki Arion.


"Kak Ar?!"


"Kau sudah dewasa mengapa masih mengeluh seperti anak kecil?"heran Arion.


"Aku memang sudah dewasa, tapi di mata dan di hadapan Kakak aku adalah anak kecil."


Enji malah berpindah di samping Karina, memeluk lengan Karina dengan manja. Karina malah tertawa.


"Aku memang sengaja," sahut Karina.


"Kakak! Kejamnya dirimu. Tahukan kau bahwa aku bolak-balik muntah tadi?"rengek Enji.


"Ternyata kau mabuk laut. Karina kau memberinya pelajaran yang bagus," puji Arion memberikan dua jempol pada Karina.


"Tapi kau tidak terlihat lemas?"


Mata Karina menyipit.


"Kesegaranku kembali setelah melihat bendera itu," kilah Enji menunjuk bendera yang berkibar di atap. 


Arion melihat ke arah atap, matanya menyipit.

__ADS_1


"Sayang … kau berbohong padaku. Mengapa harus membayar jika berlibur di pulau pribadimu?"pekik Arion menatap Karina.


"Hehehehe."


Karina menjawab dengan tertawa. Arion menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian mendekatkan wajahnya pada telinga Karina.


"Tak masalah. Tapi kau harus membayar itu nanti malam," bisik Arion dengan nada serak, menggoda. 


Karina membelalakan matanya, jantungnya berdebar kencang, langsung membayangkan apa yang akan terjadi nanti malam. Arion tersenyum puas melihat Karina terlihat gelisah. 


"Kakak, kau kenapa?"


Enji menyadari raut wajah Karina yang berubah.


"Ah tidak. Hanya rencana nanti malam saja," jawab Karina.


"Rencana nanti malam?"


Belum sempat Karina menjawab, Karina malah diserang dengan pertanyaan bertubi-dari dari Li, Gerry, Lila, dan Raina.


"Berisik!"teriak Karina jengah.


Okay. Keempat orang itu langsung tutup mulut. 


"Aku tidak membeli pulau ini!"tegas Karina.


"Lalu?"seru mereka tak sabar.


"Ini hadiah dari presiden sebelumnya negara ini kepadaku!"jawab Karina.


"Atas dasar apa?"


Karina mengangkat kedua bahunya.


"Aku lupa," jawab Karina.


"Hah?"


"Intinya pulau ini hadiah dan lima tahun lalu baru aku membangun istana ini. Tadinya aku membuat istana ini dengan niat sebagai tempat pensiun kelak namun sepertinya istana ini hanya akan menjadi tempat liburan. Mengenai pembangunan, aku menyerahkannya pada kenalan lamaku," jelas Karina lagi. 


"Ooooo…."


"Pantas saja kami tidak pernah mendengar tentang pulau ini."


"Lantas apa nama pulau ini?"


"Tirta Island," jawab Karina.


"Pulau air?"


Karina mengangguk. 


"Ah lebih kita masuk," ajak Karina. 


Enji kini menggendong Bintang, Biru pada Karina, dan Bima pada Arion. Saat memasuki bagian dalam istana, ruangan pertama yang mereka dapati memiliki suasana yang menenangkan. Cat juga perabot yang dominan warna coklat baik muda dan tua membuat kesan menenangkan.


Melangkah lebih jauh, ruang keluarga dengan warna yang lebih beragam menciptakan suasana yang ceria, lengkap dengan tunggu pembakaran saat suasana dingin. 


Kini semua mendudukan tubuh mereka di sofa dan lantai yang berbalut permadani, melepas penat setelah perjalanan jauh. Para pelayan datang dari arah dapur, menyajikan minuman berubah es kelapa muda dan cake berupa bolu dan brownis pisang. Melepas dahaga, letih mereka menuju bangunan ini seakan terbalas dengan kesegaran kepala muda yang baru dipetik.


"Oh iya barang-barang kita di mana?"tanya kakek Tio.


"Tuh."


Karina menunjuk bagian bawah tangga di mana ada belasan koper disusun rapi di sana. 


"By de way Kakak ipar, untuk membangun istana seperti ini berapa bujet yang harus dikeluarkan?"tanya Sam penasaran.


"Hm yang pasti hampir menginjak trilyun," jawab Karina yang membuat Sam tertarik.


"1 T?"


"Ku rasa lebih," tambah Karina.


"Lebih? Aku menyerah."


Sam mengangkat kedua tangan ke atas. 


"Ku rasa harga itu sebanding," ujar Arion.


Lokasi yang di tengah pulau tentu saja harus mempunyai pondasi yang sangat kuat. Selain itu material bangunan juga material pilihan. Belum lagi furnitur istana. Semua kelas atas dengan kualitas terbaik. Belum lagi pengaman dan teknologi yang melengkapi istana ini.


"Hari sudah sore. Lebih baik kalian beristirahat saja. Setelah matahari terbenam baru kita berkumpul lagi. Ah jika ada yang ingin berkeliling, ajaklah pelayan untuk membimbing kalian," pesan Karina.


"Okay!"


Kecuali Karina dan keluarga Wijaya semua beranjak untuk mengambil koper lalu naik ke lantai dua dan tiga untuk memilih kamar. 


"Sayang … kita ke kamar juga yuk. Ketiga anak kita sudah bau asem minta mandi," ajak Arion.


"Baiklah."


Tinggallah Amri dan Maria serta Alia yang masih asyik menikmati daging kelapa muda. Juga Enji yang masih menyantap bolu.

__ADS_1


__ADS_2