Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 165


__ADS_3

"Biarlah Nyonya Elsa juga yang berbicara dengan Anda. Selanjutnya baru saya!" jawab Karina tersenyum.


Dahi Reza mengerut. Posisinya kini bersimpuh di hadapan Elsa. Elsa tersenyum sinis menatapnya. Pandangan Reza mendongak, menatap wajah Elsa.


Plak!


Satu tamparan lagi Elsa layangkan pada Reza. 


Elsa menunduk, mensejajarkan tingginya dengan Reza yang bersimpuh.


"Jawab pertanyaanku Mas! Jawab!" teriak Elsa.


"Aku-aku tak tahu bagaimana rasanya! Maaf untuk semuanya," jawab Reza meringis sakit pada bibir dan bibirnya.


"Hahaha? Tak tahu? Jika tidak tahu mengapa kau lakukan itu padaku? 29 tahun Mas, 29 tahun aku hidup dalam penderitaan. 13 tahun dalam ruangan gelap itu, tanpa cahaya. Aku tak tahu kapan siang dan malam, yang ku tahu adalah kegelapan. Syukurlah aku bisa keluar dari sana. Keluar dari neraka dunia itu!"


Elsa tertawa terbahak. Reza menunduk. Jika boleh jujur, ia kaget dengan perubahan Elsa. Dulu sewaktu mereka bersama, masih satu rumah. Bahkan berteriak saja Elsa tak berani. Namun kini, main tangan pun Elsa tak ragu. Padahal dulu ia yang selalu main tangan.


"Itu salahmu sendiri. Mengapa kau menerima perjodohan itu dan mengapa kau jatuh cinta padaku," sahut Reza, tak mau disalahkan. 


Elsa berhenti tertawa dan menatap datar Reza.


"Cinta tak pernah salah memilih tempatnya Tuan, hanya saja perlakuan terhadap cinta itulah yang mungkin membuat cinta itu kesalahan," tutur Karina.


Elsa diam, tak menambah ataupun menanggapi ucapan Karina. Reza mencoba bangkit dan berdiri. 


Setelah akhirnya ia berhasil berdiri, Reza menghela nafas. 


"Apa kau masih mencintaiku, Elsa?" tanya pelan Reza. Jauh di sudut hatinya berharap ya. Tapi melihat tatapan Elsa padanya, tatapan penuh kebencian membuatnya ragu dengan jawaban iya tersebut. 


Bukannya jawaban ucapan, Elsa malah menendang Reza hingga terjerambab di lantai. Tubuhnya membentur dinginnya lantai dini hari.


Elsa berjongkok dan menarik rambut Reza, hingga kepala Reza terangkat dan kedua saling beradu pandang.


"Setelah semua ini, apa kau berpikir aku masih mencintaimu? Setelah apa yang kau berikan pada putriku, setelah kau gagal menjadi ayah sebab kesucian seorang anak hilang sebelum menikah dan setelah semua perbuatanmu padaku, kau masih menanyakan aku cinta padamu atau tidak hah? Kau itu bodoh atau apa?!" sarkas Elsa.


Nyut. Hati Reza terasa sakit. Jutaan anak panah menancap di hatinya. Sakit akibat tamparan dan jambakan Elsa tak sebanding dengan sakit di hatinya. Kepingan memori atas perlakuan kasar yang ia lakukan pada Elsa terbayang di benaknya. 


Apalagi selain air mata yang bisa ia keluarkan? Hukuman terbaik adalah penyesalan dan hidup dalam bayangan tanpa bisa merubah masa lalu. Menyesal selalu datang belakangan. Berharap pada kata andai. Tapi kata andai tak bis merubah masa lalu juga, jika masa depan, kemungkinan bisa.


"Bagus Mas! Tunjukkan wajah putus asa dan penyesalanmu itu. Tunjukkan sama persis dengan lukisan putus asamu yang ku buat!" 


Elsa melepaskan jambakannya. Ia merogoh bagian dalam jaket yang ia gunakan dan mengeluarkan satu lukisan yang ia buat terakhir. 


Reza meraihnya dan melihatnya. 

__ADS_1


"Apa tak ada setitik rasa lagi untukku? Apa jika aku mati bisa membuatmu bahagia dan kembali mencintaiku?" tanya lirik Reza, menggenggam erat lukisan tersebut.


Elsa kembali diam. Reza berani mengatakan hal tersebut karena alasan tugasnya telah selesai sebagai ayah, sekarang ia hanya perlu mendapat maaf dari istrinya.


Karina malah menguap bosan. Tak ada yang menarik dari tontonan di hadapannya ini. Ia kira Elsa akan menoreh luka di tubuh Reza, nyatanya cuma tamparan dan tunjangan. Apalah artinya itu bagi seorang mafia? 


Tapi Karina sedikit menyipitkan matanya kala Elsa ditanya apakah masih ada cintanya untuk Reza. Karina langsung masuk dalam mode selidik dan waspada. Ia tak boleh lengah sekalipun terhadap kawan satu di hadapannya ini.


"Ku rasa kau tahu jawabannya," jawab Elsa berbalik dan membungkuk di hadapan Karina.


"Saya sudah selesai Nona, sekarang giliran Anda," ucap sopan Elsa.


Karina menaikkan satu alisnya dan mengangguk.


"Sudah selesai kah? Cuma segitu doang? Gak seru kamu Nyonya," tanya Karina.


Elsa mengangguk dan kemudian izin keluar. Karina mengibaskan tangannya menyetujui. Jimin yang mendengar langkah kaki mendekat langsung sembunyi di balik meja. Elsa berjalan menuruni tangga dan menuju ruang tengah.


Setelah kepergian Elsa, Karina menatap dingin Reza yang kini bersandar pada ranjangnya. Kakinya ia tekuk sebelah dan satu ia biarkan menjulur bebas. Satu tangannya memegang perut dan satu lagi bertumpu pada lantai.


"Bagaimana rasanya Tuan Reza?" tanya Karina dingin seraya bangkit dan mendekati Reza.


Reza mengangkat pandangannya.


"Aku tak mengerti dengan tindakan dan jalan pikirmu Nyonya. Salah apa lagi aku padamu? Apa anakku membuatmu marah dan kau melampiaskannya padaku? Satu lagi bagaimana bisa kau menemukan istriku di sumur itu?"


"Kesalahanmu adalah masa lalu, Tuan! Masalah akucistrimu ku rasa itu bukan hal penting sebab sudah terjadi," jawab Karina.


"Masa lalu? Tapi aku tak pernah berhubungan denganmu di masa lalu. Kenal saja tidak," ucap Reza bingung.


Karina memainkan pisau lipatnya dan berjongkok di hadapan Reza. Kondisi Reza yang sebelum kedatangan Karina dan Elsa yang tak sehat membuatnya dengan mudah kalah. Energinya serasa hilang apalagi dengan kejadian ini. Untuk bernafas saja rasanya sulit. Untuk berbicara dengan Karina saja harus terjeda-jeda kata demi katanya.


"Bukan dengan diriku langsung, tetapi dengan seluruh anggota keluargaku. Pembunuh!" desis Karina seraya menggores kilat lengan Reza. Reza memejamkan matanya, pedih rasanya.


"Buka matamu Tuan, dan lihat baik-baik wajahku. Aku ingin lihat apakah kau merasa de javu atau tidak," titah Karina. Menurut, Reza membuka matanya dan mengamati wajah Karina.


Karina menarik paksa tangan Reza yang berada di perut. Reza tak kuasa melawan. Pikirannya hanya tertuju pada siapa Karina, apa hubunganya dengannya. Keluarga mana yang mempunyai anak seperti Karina. 


Ingatannya kembali pada waktu Karina menyambangi perusahaannya. Ia ingat nama ayah Karina. Tapi bukankah Arsuf meninggal karena memang sudah usianya, bukan ulahnya. 


Untuk istri Arsuf beserta keluarga juga telah cari tahu, nyatanya istrinya Arsuf meninggal di usia 2 tahun Karina. Matinya juga bukan ulahnya. Untuk apa bermusuhan dengan perusahaan kecil, tak ada gunanya. Kualifikasinya juga biasa saja. Tak ada yang menarik di Arsuf Company. 


Tiba-tiba saja mata Reza membulat dan jantungnya berdebar lebih kencang. Saat melihat Karina, ia teringat dengan kakaknya. Saat melihat Karina, ia merasa perasaan bersalah yang kuat.


Mungkinkah? batin Reza merasa aneh dengan dugaannya sendiri.

__ADS_1


"Sudah ingat Tuan Reza? Oh bukan Paman Reza Sanjaya!" tanya Karina. 


"***," ringis Reza kala merasa perih dan sakit luas biasa di lengan kanannya. Reza melihat apa yang dilakukan Karina.


Ukiran nama Sanjaya di sana. Bertinta darah dan bermedia lengannya. Tapi itu bukan masalah. Masalahnya Karina memanggilnya Paman, dan penyebutan nama belakang Sanjaya.


"Tidak! Bagaimana mungkin? Mustahil! Aku sudah menghabisi semuanya. Tidak ini ilusi."


Reza menggelengkan kepalanya kuat. Shock


dengan apa yang ia dengar dan pikirkan.


"Semuanya telah aku habisin. Tidak ada yang selamat. Tunggu dulu, usiamu masih 24 tahun, jika kau adalah anak perempuan kakak, berarti usiamu harusnya 28 tahun. Ini kebohongan!"


Reza tak menerima kenyataan. Ia berusaha keras menangkalnya, padahal raut wajahnya menunjukkan ia yakin dengan apa yang Karina katakan.


"Itu kedua kakakku. Aku adiknya. Baiklah aku akan menceritakannya padamu Pamanku tersayang." 


Karina lantas menceritakan semuanya, bagaimana bisa dan menjawab semua pertanyaan Reza yang masih disimpan dalam hati. Reza membeku, lagi-lagi tangisanlah yang ia keluarkan.


"Kakak maafkan aku," ucap Reza terisak. Rasa sakit mengingat perbuatannya dulu tiada obatnya dan duanya.


"Karena kau, aku tak bisa merasakan kasih sayang ayah, ibu dan saudara kandungku seumur hidupku. Aku hanya bisa merasakan kasih sayang ibu selama di dalam kandungan! Karena kau, aku menjadi mafia dan tangan berlumuran darah. Penyebabnya kau! Kau Paman," geram Karina melayangkan tamparan lagi ke pipi kanan Reza. Wajah Reza kini memar dan bibirnya terkoyak.


"Mengapa kau harus membunuh mereka? Banyak di luar sana orang jahat, tapi ia akan menjadi malaikat bagi keluarganya, kau malah menjadi maut bagi keluargamu sendiri!" ucap Karina datar, berusaha menertalkan nafasnya.


"Maaf Nak, maafkan Pamanmu ini. Maafkan aku telah merenggut semua kebahagian masa kecilmu. Kekuasaan dan harta menjadi hati dan perasaanku gelap mata," ucap Reza, penuh dengan penyesalan. Masa tuanya akan dipenuhi dengan penyesalan, bukan kebahagiannya.


Karina berdiri dan membalik badannya membelakangi Reza.


"Kekuasaan dan harta akan menjadikan kita gelap mata, jika kita tidak menempatkannya pada keadaan dan posisi yang tepat. Jika maaf bisa membuatku puas, maka aku tak perlu menghabisi nyawa empat rekan pembunuhmu itu. Jika kata maaf bisa membuatku melupakan sakit selama ini, maka aku bisa menjalani hidup dengan bebas tanpa bayang-bayang dendam. Tapi sayangnya aku tak bisa. Aku tak berdaya. Aku akan tenang jika semua yang bertanggung jawab atas kematian keluargaku, habis di tanganku!" jawab Karina dingin melirik sinis ka arah Reza yang masih duduk di lantai dengan tatapan mata kosong menatap lantai.


"Jika begitu, bunuhlah aku Karina. Bunuhlah dalang penyebab semua penderitaanmu selama ini. Aku ikhlas. Lepaskan aku dari belenggu penyesalan ini. Biarkan aku bertemu dan menyusul kakak, aku ingin memohon maaf pada mereka," pinta Reza memohon, menggerakkan tubuhnya yang rasanya sakit, berusaha bersujud di belakang Karina.


Karina menarik senyum miris. Tak lama ia tertawa terbahak. Chimmy yang masih menguping sangat amat penasaran dengan apa yang terjadi di dalam. Ingin masuk tapi takut ketahuan. Ye sudah ketahuan juga sama Karina.


"Membunuhmu gampang Paman. Dari dulu bisa ku lakukan. Aku maunya kau mati dalam penyesalan, tapi jika kau mau memohon maaf, mungkin aku bisa membawamu ke makam mereka untuk bersimpuh dan memohon. Kematian akibat senjataku tidak cukup untuk itu!" tegas Karina.


Reza mengangkat pandangannya. Benar. Kini ia hidup dalam penyesalan. Nafasnya kian sesak. Ia memilih memejamkan matanya.


Karina bukannya tak mau langsung membunuh Reza seperti membunuh Rudi, Albelrt, Berto serta keluarga Mayer, bukannya Karina tak mau memotong satu persatu tubuh tua itu. Tetapi Karina lebih memilih menikmati wajah keputusasaan yang berlarut-larut daripada kematian yang singkat.


Karina berbalik dan meraih kerah baju piyama Reza, menyeretnya keluar dari kamar tersebut dengan tatapan dingin ke depan. Reza tak bisa melakukan apapun kecuali pasrah pada nasibnya. Tubuhnya terasa semakin sakit tak terhingga ketika Karina membawanya turun tangga dengan tetap menyeretnya. Chimmy yang melihat itu dari tempat persembunyiannya tertegun dan tak percaya. 


"Berhenti Nona!" seru Elsa, menodongkan pistol tepat di dahi Karina. Karina otomatis berhenti dan menatap dingin Elsa. Ia harusnya tak perlu terkejut sebab ia sudah memikirkannya tadi.

__ADS_1


Chimmy mengintip apa yang terjadi dari sela-sela pagar tangga, matanya membulat melihat hal itu. 


"Lepaskan suamiku, atau peluru dalam pistol ini akan bersarang di otak Anda!" ucap Elsa tajam pada Karina. Karina malah tersenyum tipis, ia tak menuruti titah Elsa. Mendengar itu, Reza membuka matanya dan berusaha melihat apa yang terjadi.


__ADS_2