Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 112


__ADS_3

Pagi menjelang. Mentari terbit menyinari dunia. Mengusir kegelapan yang melanda. Cahaya yang hangat, membangunkan setiap insan. Menyambut harapan baru di hari yang baru.


Seperti janji Darwis tadi malam. Pukul 08.00 setelah sarapan. Darwis ke kembali ke kamar Joya. Dengan membawa seutas kain penutup mata.


"Ayo," ujar Darwis saat memasuki kamar Joya. Joya yang duduk di meja rias mengangguk. Dengan drees berwarna toska, rambut digerai dan riasan natural membuat Joya tampil cantik pagi ini. Darwis tersenyum, melihat calon istrinya yang memakai drees pilihannya.


"Kemarilah dulu. Aku akan menutup matamu dulu," ujar Darwis lagi. Membuat Joya mendekat seraya menautkan alisnya. Bingung.


"Mengapa harus tutup mata?" tanya Joya ketika tepat berada di hadapan Darwis.


"Karena kejutan. Kamu belum boleh mengetahui di mana kamu sekarang. Rahasia. Makanya aku kurung kamu di kamar ini saja."


Darwis menerangkan seraya memutar tubuh Joya membelakanginya.


"Memangnya ini di mana? Misterius banget sih. Ini bukan tempat tinggal kamu ya?"


Joya memalingkan kepalanya menatap Darwis.


"Bisa dikatakan begitu. Tetapi tenang saja. Ada saatnya kamu tahu," jawab Darwis kembali mengembalikan posisi kepala Joya menghadap depan. Lalu memakaikan penutup mata. 


Joya mendengus kesal.


"Terserah deh. Tapi kamu yakin mau lamar aku hari ini juga?" tanya Joya. Darwis mengiyakan pertanyaan Joya.


"Sekarang bagaimana caraku berjalan? Pandanganku gelap. Bisa-bisa aku nubruk dinding atau pilar. Kamu mau aku dead?" tanya Joya lagi mengerucutkan bibirnya. Darwis mengarahkan telunjuknya ke bibir Joya.


"Jangan pernah katakan tentang kematian. Aku ingin hidup denganmu selama. Masalah berjalan, aku ada cara yang lebih efektif," jawab Darwis lembut. Joya memiringkan kepala tak mengerti. Darwis mengarahkan tangannya menuju pinggang Joya dan mengangkatnya.


Joya sontak memekik kaget dan mengalungkan tangannya mencari leher Darwis.


"Menggendong adalah caranya," ucap Darwis mulai melangkahkan kakinya keluar. 


Di halaman utama markas Pedang Biru, Darwis berpapasan dengan Li dan Gerry yang juga sepertinya menuju parkiran mobil. 


"Mau kemana kalian?" tanya Darwis tanpa menurunkan Joya. Joya menggerakan kepalanya mencari siapa yang ditanya oleh Darwis.


"Mau keluar bentar. Ada panggilan," jawab Li santai, tetapi Gerry menatap serius Darwis.


"Oh," ucap Darwis.


"Wis, kamu serius ingin bersama dengannya? Memangnya dia sudah memberi izin?" tanya Gerry yang membuat Joya mengerut bingung.


Dia? Izin? Siapa dia? Apakah orang tua Darwis? Dan mereka ini apakah teman atau saudara Darwis? Tapi kok suaranya berbeda dengan yang pernah aku temui?


Joya bertanya-tanya dalam hati.


"Ya. Dia sudah memberiku izin," sahut Darwis santai.


"Wis, mereka siapa?" tanya Joya mengutarakan satu dari sekian pertanyaannya.


"Mereka ini adalah saudaraku," jawab Darwis.


"Saudara? Berapa banyak saudaramu?" tanya Joya lagi, jiwa kepo seketika melambung tinggi.


"Nanti juga tahu," jawab Darwis.


"Ck."


Joya berdecak lidah. Li dan Gerry terkekeh pelan. Mereka menerka bagaimana reaksi Joya saat mengetahui jika Darwis adalah bawahan Karina.


"Wis, kita duluan ya. Selamat berjuang!" pamit Gerry yang diangguki Darwis.


Li dan Gerry segera memasuki mobil. Kini mobil yang dikemudikan Gerry melaju perlahan meninggalkan parkiran.


Darwis segera membuka pintu untuk Joya dan mendudukkan Joya di kursi mobil. Joya anteng saat Darwis memasangkan sabuk pengaman.

__ADS_1


Semangat Darwis. Dengan izin dari Karina dan Yang Maha Kuasa pasti kau bisa mendapatkan izin untuk menikahi wanita di sampingmu kini, batin Darwis menyemangati dirinya sendiri saat mulai menginjak pedal gas melajukan mobil.


***


Pukul 11.00. 


Suasana ramai mulai melanda cafe Karina. Kebanyakan dari mereka adalah mahasiswa yang sudah selesai ngampus. Terlihat di meja nomor 11, Li dan Gerry duduk sembari menikmati pesanan mereka. Mereka menunggu Karina yang masih belum kembali dari perusahaan.


"Mengapa Karina lama sekali, tak biasanya dia terlambat," keluh Li mengaduk-aduk latte.


Gerry  melihat jam tangannya. Mereka janji bertemu pukul 11.00 pas. Sekarang sudah pukul 11.10. Terlambat sepuluh menit.


"Macet kali," ucap Gerry menduga. Li mendesah pelan.


"Ngomong-ngomong bagaimana tentang penelitian Karina mengenai membuat mobil terbang seperti yang ia baca di novel Hujan?" tanya Li.


"Sepertinya baru dimulai," jawab Gerry.


Lima menit berlalu. Karina memarkirkan mobil Marcedes Benz putihnya di parkiran cafe yang diperuntukan untuknya. Dengan langkah tegas dan wajah datar, Karina memasuki cafe. Tas selempang kesayangannya tetap dipakainya.


Karina segera menghampiri Li dan Gerry.


"Bicara di ruanganku," ucap Karina lalu berbalik menuju ruangannya.


"Baik," jawab Li dan Gerry bersamaan. Mereka segera bangkit dan menyusul Karina. Sesampainya di ruangan Karina, Li dan Gerry segera mengambil tempat duduk di hadapan Karina.


Karina duduk di kursi kebesarannya dengan bersilang kaki.


"Mengapa Anda telat?"


Li mengutarakan pertanyaan atas keterlambatan Karina. 


Aduh Li, mengapa kau bertanya? keluh Gerry meringis dalam hati.


Karina menautkan alisnya. 


"Ada. Anda selalu menanamkan waktu adalah uang, dan sekarang Anda terlambat," ujar Li. Gerry resah. Ingin menyumpal mulut Li dengan sepatunya. 


"Ya maaf. Namanya juga macet, masa aku harus jalan kaki?" terang Karina dengan wajah memelasnya. Membuat Li merasa bersalah. 


Pimpinan tak pernah salah. Peraturan tak tertulis Pedang Biru. Gerry terperangah.


"Sudah. Aku panggil kalian kemari bukan untuk mewawancarai keterlambatanku. Aku ada tugas untuk kalian berempat, tetapi aku hanya memberitahukannya pada kalian. Selanjutnya kalian yang menjelaskannya pada Rian dan Satya."


Karina memulai pembicaraan dengan serius. Ia menarik laci meja dan mengambil sesuatu dari sana.


Setelah dapat, ia letakkan di atas meja.


"Bagaimana dengan Darwis? Apa dia free tugas kali ini?" tanya Gerry agak tidak terima Darwis tidak diikutsertakan.


"Iya Karina. Apa kau membuatnya terus di mabuk cinta? Jujur saja kami agak jengah melihat Darwis dan Joya tadi pagi. Pakai acara gendong-gendongan lagi," tutur Li. 


Li dan Gerry masih ragu akan Joya. Tetapi tidak diperlihatkan di depan Darwis sebab takut persaudaraan mereka terputus. Memang bukan sedarah tapi senasib sepenanggungan sebagai sama-sama anggota Pedang Biru. Kisah hidup mereka pun tak jauh beda.


"Biarkan saja dia di mabuk cinta. Kalian tidak usah cemburu. Setelah masanya tiba akan kita beri dia hadiah istimewa andaikan tua bangka itu merestuinya. Terlebih lagi Joya. Pasti dia belum tahukan siapa Darwis sebenarnya dan siapa dia sebenarnya."


Karina menjawab dengan seringai tipis namun hanya sekejap. Membuat bulu kuduk Li dan Gerry berdiri. Mencoba menerka rencana Karina.


"Anda benar. Joya hanya tahu bahwa Darwis adalah Tuan muda dari kasino Anda di negara K. Heart of Queen," imbuh Gerry.


"Baiklah. Kami tak cemburu. Hanya sakit mata saja," timpal Li tertawa kecil.


"Hmm … tugas kalian adalah mencari dan mengikuti kelompok Cinnamon. Para wanita itu mengincarku sewaktu di negara A. Hampir saja peluru menembus jantung atau kepalaku," titah Karina. Li dan Gerry tampak geram. 


Mereka sudah berniat membalas Cinnamon sehari setelah insiden di pasar malam, namun Karina mengangkat tangannya menginstruksikan jangan bertindak dulu.

__ADS_1


"Tapi Queen, mengapa namanya agak aneh ya? Kelompok Cinnamon. Padahalkan ciri khas mereka adalah aroma kayu manis?" tanya Gerry. Li menjitak kepala Gerry pelan.


"Itu nama genus dari kayu manis loh Gerry. Memangnya waktu sekolah kamu gak belajar mengenai klasifikasi ilmiah tumbuhan?" kesal Li menerangkan. 


"Lupa," sahut Gerry mengusap kepalanya.


"Sudah. Itu tugas yang pertama. Tugas kedua adalah pesankan dua helikopter pribadi. Harus tiba dalam waktu empat hari," lanjut Karina memberi perintah. Li dan Gerry melongo.


Untuk apa lagi helikopter? Queen ada sudah memilikinya banyak, heran Gerry dalam hati.


Karina mau buat markas baru ya? tanya Li menerka.


"Untuk hadiah pernikahan Lila dan Raina Sabtu ini."


Karina menjawab pertanyaan yang tak tersampaikan.


"Oh. Dua gadis itu akhirnya married juga." Gerry mengangguk paham.


"Ada tugas lagi Queen?" tanya Li.


Karina memegang dagunya. Matanya bergerak kesana kemari. 


"Sepertinya ada," jawab Karina.


"Sebentar aku ingat dulu," tambahnya.


Li dan Gerry menunggu dengan sabar. Tiga menit berlalu.


"Ah ya. Awasi Darwis, Joya dan Reza untukku. Ini khusus untuk kalian berdua. Laporkan jika ada pergerakan dari mereka. Dan terakhir, siapkan 50 pasukan untuk menjaga pesta pernikahan Lila dan Raina hari Sabtu nanti. Tenang saja undangan akan aku kirimkan nanti. Kalian juga jangan lupa datang. Siapa tahu kalian dapat mengait satu gadis untuk menjadi pendamping kalian," ujar Karina menyelipkan godaan terhadap Li dan Gerry yang masih jomblo.


Li dan Gerry tersenyum canggung dan mengangguk.


"Anda royal sekali pada dua Tuan muda itu. Malah yang satu agak somplak lagi," komentar Li.


"Aku royal pada Lila dan Raina, bukan pada Sam dan Calvin. Jika kalian menikah pun akan ku lakukan hal yang sama," tegas Karina. Sontak Li dan Gerry berdiri dari duduknya, berdiri tegak dan posisi hormat.


"Baik Queen," jawab tegas mereka.


"Sudahlah. Laksanakan tugas dariku. Kalian bisa pergi," ucap Karina melambaikan tangannya.


Li dan Gerry undur diri. Selepas kepergian Li dan Gerry, Karina mendesah pelan. Memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Matanya terpejam. Tak lama Karina membuka matanya.


"Semoga saja penyakitku tak kambuh di saat itu," gumam Karina berharap.


Karina kemudian melihat jam tangannya.


"Jam 11. 45, waktunya ngantar makan siang untuk Arion," ucap lirik Karina. Ia kemudian berdiri dan keluar dari ruangannya. Mendekati meja kerja Siska.


"Ini Bos," ucap Siska menyerahkan kotak bekal makan siang. Karina menerimanya dengan senyum lebar.


"Thanks Sis," ujar Karina. Siska tersenyum. Karina segera melangkahkan kakinya keluar cafe menuju perusahaan Arion yang berada di samping cafenya.


Dengan langkah riang, Karina memasuki lobby. Para karyawan yang menunggu jam makan siang tersenyum dan menyapa Karina.


"Siang Nyonya," ujar resepsionis Rita.


"Siang semua," jawab Karina. Ia segera melangkahkan kaki menuju lift khusus Arion dan sekretaris. Menuju ruangan Arion.


________________________________________



BANGSA YANG BESAR ADALAH BANGSA YANG MENGHARGAI JASA PARA PAHLAWAN.~IR. SOEKARNO.


DIRGAHAYU INDONESIAKU YANG KE 75. WALAUPUN DI TENGAH PANDEMI SEMANGAT KEMERDEKAAN TERUS BERKOBAR.

__ADS_1


SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA.


🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩


__ADS_2