
Acara pertunangan telah selesai. Satu langkah menuju halalnya hubungan Aleza dan Emir. Pernikahan mereka akan dilangsungkan tiga hari dari sekarang. Terlalu cepat mungkin tapi disetujui oleh kedua belah pihak. Bagian yang menangani pernikahan anggota sibuk mengurus surat-surat pernikahan mereka karena menghubungkan dua negara. Untung saja Pedang Biru punya pengaruh yang luas lagi kuat, segala sesuatu yang berkaitan dengan surat-surat pernikahan dan izin telah selesai dalam dua hari. Kedutaan juga diundang sebagai saksi.
Pernikahan akan dilangsungkan di Tirta Hotel. Persiapan sudah rampung, besok adalah hari -H.
Malam ini Karina dan keluarga menginap di markas. Saat anak-anak dan suaminya sudah terlelap, Karina keluar dari kamar. Menyusuri koridor dan duduk di ayunan taman. Menatap langit dengan mata menerawang jauh. Hembusan angin membuat rambutnya berkibar.
"Nona." Karina menoleh. Aleza berdiri di sampingnya.
"Duduklah." Aleza duduk.
"Apa yang ingin kau katakan, Leza?"tanya Karina, kembali menatap langit.
"Saya ingin mengucapkan terima kasih untuk semua yang Nona lakukan untuk saya." Aleza menatap Karina teduh.
"Sudah seharusnya," jawab Karina.
"Saya tidak bisa membayangkan jika seandainya saya tidak pernah bertemu dengan Nona. Saya yakin saya tetap akan terpenjara seandainya Nona tidak mengeluarkan saya," tutur Aleza. Karina tersenyum tipis.
"Penderitaanmu memang harus berakhir setelah sumbernya musnah!"sahut Karina.
"Nona benar. Tapi dampak perbuatan saya akan tetap terasa. Jikapun saya keluar sesuai dengan waktu hukuman, masyarakat hanya menganggap saya sebagai sampah. Bagi masyarakat sayalah yang salah. Tak peduli apa penjelasan saya, sayalah yang sepenuhnya disalahkan," papar Aleza. Karina menoleh, bibirnya tersenyum miring.
"Leza kita tidak bisa membuat yang hitam jadi putih dan yang putih jadi hitam. Setiap tindakan pasti ada dampaknya. Bagi orang yang berpikiran realistis, tindakanmu itu memang salah tapi kau tidak sepenuhnya salah. Siapa memangnya yang mau hidup dengan cacian dan hinaan terus menerus? Seekor hewanpun akan memberontak jika diperlakukan buruk! Apalagi manusia yang punya akal dan pikiran?"
"Apa ada penyesalan di hatimu?" Aleza menggeleng.
"Semua sudah takdirku untuk apa disesali, Nona?" Aleza tersenyum.
"Baguslah. Kejujuranmu pada Emir mengenai masa lalumu adalah langkah awal hubungan kalian. Dia pria yang baik. Dia terlihat arogan padahal sangat lemah dan rapuh. Kalian punya masa lalu yang hampir sama, jadikan itu sebagai kekuatan pernikahan kalian. Aku yakin kau sudah banyak melihat jalannya rumah tanggaku juga anggota lain. Kepercayaan dan kejujuran adalah pondasi sebuah hubungan. Aku merestui pernikahan kalian, bahagialah selalu," tutur Karina. Mata Aleza berkaca-kaca.
Beruntung bertemu dengan Karina. Sangat bersyukur Tuhan mempertemukan dirinya dengan malaikat tak bersayap ini. Sungguh sampai kapanpun kesetiaannya Aleza tetaplah milik Karina meskipun statusnya berubah.
"Masa lalu bisa dilupakan tapi tidak bisa dihilangkan. Selama dunia fana ini ada, rekam jejaknya kehidupan itu abadi," imbuh Karina, menarik Aleza agar bersandar pada bahunya. Aleza merasa kaku sesaat, tepukan ringan Karina membuatnya rileks dan menangis bahagia.
"Nona apa salahku terlahir karena perselingkuhan?"tanya Arion, serak.
"Anak itu terlahir dalam keadaan suci. Yang salah bukanlah dirimu, melainkan orang tuamu. Mengapa kau mengingat hal itu?"tanya Karina, tetap menepuk ringan bahu Aleza.
"Aku tidak ingin mengingat hal ini. Tapi ingatan ini datang sendiri saat aku memikirkannya kehidupan pernikahanku kelak. Nona aku gugup bukan karena besok tapi memikirkan apakah aku mampu bertahan dengan budaya mereka? Di sini bebas sedangkan di sana penuh dengan aturan. Kemarin saat di sana, aku melihat banyak perbedaan. Untunglah aku bukan bagian dari mereka tapi nanti, aku harus menerapkan aturan itu! Pakaian … aku kurang cocok dengan pakaian mereka, Nona. Belum lagi aturan yang lain."
Karina terkikik geli dengan ucapan Aleza.
"Lantas bagaimana dengan Elina dulu? Dari suku pedalaman bisa mudah beradaptasi dengan lingkungan modern. Di sana kan tidak sekuno Elina dulu, bahkan makan saja masih pakai piring rotan, gelas bambu. Sedangkan di sana, rumahnya saja mirip istana. Aku yakin kau bisa beradaptasi dengan cepat. Kenali budaya mereka lebih jauh aku yakin kau akan jatuh cinta dengan budaya itu. Lagipula Emir bukan tipe lelaki pemaksa," tutur Karina.
Aleza mengangguk.
"Aku akan berusaha, Nona!"
"Bagus! Itu baru tangan kananku!"ucap Karina, menepuk dengan tambahan kekuatan. Aleza tersenyum lebar.
"Nona, bolehkah saya memeluk Anda?" Aleza bertanya ragu.
"Aku sudah membawamu bersandar padaku," sahut Karina. Aleza langsung memeluk Karina, kembali menangis.
__ADS_1
"Menangislah." Aleza mendongak, tangisnya masih terdengar. Sesaat Aleza tersipu menatap wajah Karina yang menatap lurus ke depan.
"T-terima kasih, Nona." Aleza buru-buru melepas pelukannya, duduk sedikit jauh dari Karina. Karina mengeryit bingung.
"Kau kenapa?"
"Tidak Nona. Rasanya tidak pantas bawahan memeluk pimpinan." Aleza menghapus air matanya. Karina mendengus.
"Lupakan sejenak formalitas. Hanya pelukan apa yang salah?"
Aleza menunduk. Karina mengambil inisiatif memeluk Aleza lebih dulu. Aleza kini terdiam kaku. Aroma mint yang mulai memudar merasuki indera penciumannya. Aroma yang menenangkan sekaligus membuat hatinya berdebar.
Aleza benar-benar terpesona dengan Karina. Walaupun sering bertatap muka tapi tidak pernah sedekat ini. Nonanya ini memang memiliki dua sisi. Feminim dan maskulin, sungguh biarpun sudah menginjak usia 30 tahun dan melahirkan 5 orang anak, fisik Karina tidak banyak berubah.
"Jangan terpesona denganku," bisik Karina, memberikan ciuman pada dahi Aleza kemudian bangkit dan melangkah pergi. Aleza membeku, menyentuh keningnya. Wajahnya panas, hatinya semakin berdebar. Nonanya tahu ia terkesima dan tetap menggoda dirinya? Ah Karina tetaplah Karina.
"Huwah mikir apa sih aku?!" Aleza berteriak frustasi.
"Nona Anda sangat jahil!"pekik Aleza. Karina yang mendengarnya tertawa, melangkah menyusuri koridor.
*
*
*
Pagi buta, suasana markas sudah hidup dengan segala kesibukan. Bagian yang ditunjuk menjadi bagian tata rias segera melakukan tugas mereka. Aleza yang tadi malam tidak tidur nyenyak, ngantuk-ngantuk ayam saat didandani. Make natural yang cocok dengan wajahnya. Gaun berwarna putih keemasan yang tampak sederhana namun elegan ia kenakan. Perhiasan hantaran untuknya ia kenakan. Kalung dengan permata berwarna biru, serta anting bersama senada dengan permata membuat Aleza tampil cantik menawan.
Sasha yang menemani dengan mata ngantuk pun langsung membuka matanya lebar, terperanjat dengan penampilan Aleza. Aleza yang biasanya memakai celana panjang dengan baju kemeja atau koas. Saat bergabung ke perusahaanlah Aleza mengenal pakian formal, itu pun digunakan hanya saat meeting.
"Leza ini benar-benar dirimu?" Aleza sedikit mengeryit heran.
"Jadi siapa lagi?"
"Coba lihat ke cermin," suruh Sasha. Aleza melihat ke arah cermin. Matanya terbelalak melihat penampilannya sendiri.
"I-ini aku?" Aleza menunjuk pantulan dirinya.
"Aku benar-benar takjub kau secantik ini. Tenyata Alezaku lebih cantik dari kilau mutiara," puji Sasha, takjub dengan perubahan Aleza.
"Haruskah ku ucapkan terima kasih?"
"Tentu saja. Lezaku sayang, kau harus memberiku ucapan terima kasih." Sasha menunjukan wajah berharap. Aleza tersenyum, menggenggam kedua tangan Sasha.
"Sasha, saudariku, sahabatku, dan rekan kerja terbaikku, terima kasih. Terima kasih untuk semua hal yang kita lakukan bersama. Terima kasih telah setia dan percaya padaku. Terima kasih telah menjadi tempat keluh kesahku, terima kasih telah menjadi tempatku bersandar. Aku sangat menyayangimu, Sha," ucap Aleza mantap dengan nada menahan tangis.
Mata Sasha berkaca-kaca. Saat Aleza meninggalkan negara ini ikut dengan Emir, Sasha tidak hanya kehilangan rekan kerja terbaik tetapi juga saudara dan sahabat terbaik. Hubungan mereka yang selalu dekat, dikenal sebagai dua lotus es, tak terpisahkan. Di mana ada Aleza di situ ada Sasha dan sebaliknya.
"Jangan menangis. Ini hari yang bahagia jangan nodai dengan air matamu!"ucap Aleza.
"Dasar kejam! Ini hari terakhir kau di sini. Kita akan berpisah tak tahu kapan akan berjumpa lagi. Teganya kau mengatakan air mataku menodai hari bahagiamu!"marah Sasha, melepaskan genggaman tangan Aleza, berpaling dari Aleza menatap pintu.
"Sasha …." Aleza memeluk Sasha dari belakang.
__ADS_1
"Aku hanya bercanda. Rasanya sungguh berat meninggalkan keluarga pergi ke rumah suami. Aku rasanya rusak rela. Tolong jangan menangis, itu membuatku semakin berat," ucap Aleza lirik.
"Ini air mata bahagia! Aku senang kau menemukan cintamu. Salahkan saja cintamu mengapa jauh sekali tinggalnya," gerutu Sasha.
"Aku tidak bisa menentukannya. Sasha terima kasih."
"Hm."
Sasha kembali berpaling menghadap Aleza. Keduanya berpelukan erat. Terlepas saat pintu terbuka, Mira, Elina, Lila, dan Raina masuk.
"Duh-duh mengapa kalian sudah peluk-pelukan sambil nangis?" Lila menatap heran keduanya.
"Wajarlah Lil. Sebentar lagi Aleza akan diambil orang. Kita akan berpisah dengannya. Untung saja pak tua itu tidak keras kepala. Jadinya Aleza terbang ke Maroko setelah resepsi," sahut Elina, menghapus air mata Aleza sedangkan Raina menghapus air mata Sasha.
"Loh secepat itu? Ku kira menunggu besok pagi," kaget Raina.
"Emir itu Pangeran, kepergian yang terlalu lama bisa menyebabkan masalah," ujar Mira.
"Wah kalau begitu kalian malam pertama di udara dong," cetus Lila.
"Benar juga. Pengalaman berkesan itu," timpal Elina.
"Tapi harus tahan suara, ntar kalian asyik-asyikan yang diluar malah meledak," kekeh Mira.
"Hahaha benar-benar. Kamarnya tidak kedap suara," imbuh Raina.
Sasha dan Aleza saling tatap. Wajah Aleza sendiri memerah padam. Empat wanita yang sudah menikah itu malah tertawa geli dengan reaksi Aleza. Mereka malah semakin menggoda Aleza.
"Sudah-sudah. Jangan menggoda Aleza!" Karina masuk bersama dengan Bintang. Ibu dan anak dengan pakaian senada. Gaun biru menyapu lantai dengan taburan mutiara putih, aksesori yang couple dengan Arion, rambut digerai dengan riasan yang cocok, membuat yang lain terpesona dengan penampilan Karina dan Arion.
"Karina berpakaian seperti itu aku yakin banyak yang mengira kau dan Arionlah yang menikah," ucap Elina.
"Oh pakaian ini? Komplain saja sama Arion," sahut Karina, menatap Aleza dari atas sampai bawah. Aleza menjadi salah tingkah.
"Sempurna. Ayo berangkat." Karina memutar langkah, keluar dari kamar.
"Kakak jangan gugup. Paman Emir sangat tampan loh," goda Bintang. Aleza terduduk lemas, jantungnya berdebar kencang. Karina kembali menggodanya dengan mengedipkan sebelah mata padanya. Hanya Aleza yang melihatnya.
"Kakak apa Nona punya ketertarikan seksual pada wanita?"
"Hah?" Kelima wanita itu kaget dengan pertanyaan Aleza.
"Apa maksudmu?" Lila bertanya garang.
"Nona … Nona menggodaku dua kali. Tadi malam sama barusan. Jantungku berdebar kencang karenanya," aduh Aleza.
"Serius? Wah harus diselidiki ini. Karina mulai bertingkah aneh," ucap Elina.
"Tapi siapa yang berani bertanya langsung padanya?" Lila memegang dagu.
"Dungu!"teriak Raina, Mira, dan Elina di telinga Lila.
"Yang namanya menyelidiki mana ada yang bertanya terang - terangan!"ucap Raina gemas.
__ADS_1
"Oh benar juga."
"Aigo, dasar Lola!"