Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 340


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Darwis, Satya, dan Gerry berkumpul di ruang keluarga menunggu kepulangan Rian. Riska yang awalnya ingin ikut menunggu tidak diizinkan oleh Satya. Satya menyuruhnya untuk istirahat. Begitu juga dengan baby Gibran yang telah tidur. Oleh karena itu Darwis bisa duduk tenang menunggu Rian.


Lima menit, sepuluh menit Rian tidak kunjung pulang. Gemas menunggu, Darwis mengambil handphone dan memeriksa pelacak di mobil yang digunakan Rian. 


"Bagaimana?"tanya Satya menatap penasaran Darwis.


"Sudah di gerbang utama," jawab Darwis.


"Anak itu … sebenarnya apa yang dia beli sampai selarut ini?"heran Gerry, meminum wine yang tersedia di atas meja.


"Cari jodoh mungkin," sahut Satya, dengan nada bercanda disambut dengan kekehan Darwis.


Tak berselang lama, pintu utama mansion terbuka. Ketika tuan muda itu serentak melihat ke arah pintu. 


"What the hell?"


Mata mereka membulat sempurna, terdiam kaku melihat Rian yang kembali dengan seorang wanita di samping kiri dan seorang anak dalam gendongan Rian, tertidur. Ketiganya kemudian menatap Rian dengan tatapan tidak percaya.


Rian yang sudah menduga reaksi mereka hanya mendengus, menyerahkan anak dalam gendongannya kepada pelayan. Rian kemudian mengambil tempat duduk. 


Angela merasa canggung dengan reaksi Darwis, Satya, dan Rian. Sungguh kesalahpahaman yang sempurna. Ia sendiri masih berdiri kaku, berusaha tersenyum saat mata Darwis, Satya, dan Gerry menatapnya penuh selidik. Sesaat Angela merasa ketiga orang tersebut adalah pria mesum.


"Hentikan tatapan kalian itu. Itu menakutinya. Kalian sudah menikah mengapa menatap intens wanita lain?"tegur Rian menggunakan bahasa inggris amerika agar Angela mengerti.


Angela menghela nafas lega mengetahui hal tersebut.


"Pantas saja kau sangat santai dalam hal pasangan. Ternyata kau diam-diam sudah memiliki istri dan anak ya, Rian," ledek Satya menatap Rian penuh selidik, menggunakan bahasa indonesia yang tidak dimengerti oleh Angela.


"Kalian salah paham …."


"Ah apakah kau menikahi seorang janda anak satu? Pantas saja kau lama kembali," potong Darwis menatap kagum Rian.


Rian mendengus.


"Apa kau sudah mendapat izin Karina?"sambung Gerry. 


Ketiganya kini menatap Rian meminta penjelasan.


Rian menghela nafas kesal.


"Kalian salah paham. Kami tidak ada hubungan apapun," tegas Rian.


"Lantas? Apa kau memungut mereka di jalan?"tanya Darwis sembarangan.


"Sayangnya iya."


Darwis kini menatap tajam Rian. 


 Menyadari suasana sudah berubah menjadi serius, Rian menyuruh pelayan untuk mengantar Angela ke kamar tamu. Angela membungkuk kecil kemudian meninggalkan keluarga mengikuti pelayan.


"Jelaskan!"titah Darwis dengan nada datar.


Rian kemudian menjelaskan dengan detail bagaimana ia bertemu dan akhirnya membawa Angela pulang. Mendengar cerita Rian, ketiganya tak mampu menahan tawa. 


"Hentikan tawa kalian!"geram Rian.


"Baiklah-baiklah. Lantas bagaimana dengan anak itu? Di mana kau memungutnya?"sahut Satya.


"Di jalan pulang. Anak itu berkeliaran di jalanan. Hampir saja menabrak mobil. Aku kasihan padanya. Sepertinya anak itu memang sengaja ditinggalkan kalau tidak kabur dari rumah," jelas Rian.


"Kau menjadi lebih lembut, Rian," celetuk Gerry setelah mendengar seluruh penjelasan Rian, diangguki oleh Darwis dan Satya.


Rian mengeryit tipis.


"Kalian harus mencari asal-usul anak itu. Juga pikirkan akan kalian kemanakan dia. Kalau saranku sih masukkan saja ke dalam panti asuhan," lanjut Gerry.


"Kami?"


Satya dan Darwis saling pandang.


"Rian yang membawa, Rian yang harus tanggung jawab," ujar keduanya serentak menatap Rian.


"Aku tahu. Aku sudah melakukannya," sahut Rian, malas.


"Ah ya katamu tadi wanita itu handal dalam hal investasi dan sarjana keuangan. Apakah kau berniat memasukkannya ke dalam kasino?"tanya Satya, serius.


"Separuh benar separuh salah," jawab Rian.


"Maksudmu?"tanya Darwis heran.


"Karina. Bukankah Karina membuka bidang baru? Aku rasa dia cocok menjadi salah satu karyawan di sana. Dia akan berkerja sebagai magang di kasino sebagai uji coba. Jika lulus aku sendiri yang akan menjamin dirinya. Magang ini juga aku yang akan bertanggung jawab," jawab tegas Rian.


"Aku mencium ada kuncup bunga yang hendak mekar."


Gerry berkata setelah minum wine. Rian hanya tersenyum tipis menanggapi hal itu.


"Oh ya bagaimana kondisi Joya?"tanya Rian pada Darwis.


Darwis tersenyum.


"Kankernya sudah hilang sepenuhnya. Kondisinya stabil, hanya menunggu kapan ia akan sadar," jawab Darwis yang kini bisa bernafas lega.


"Syukurlah," ucap lega Rian.


"Tapi Rian, untuk masuk ke bidang keuangan baik magang ataupun tetap, haruslah mendapat izin Karina. Selain itu ia juga harus mempelajari bahasa kita," ujar Satya, mengingatkan. 


Pelayan di sini rata-rata mengusai minimal tiga bahasa. Untuk menjadi seseorang yang direkomendasikan tentunya harus mempunyai kemampuan yang lebih tinggi daripada pelayan.


"Aku mengerti. Aku akan menghubungi Karina besok."


"Baguslah. Besok aku akan kembali. Jadi aku harus istirahat."


Gerry berdiri, meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya.


"Apakah besok aku langsung bekerja?"tanya Rian, matanya berharap jawaban Darwis tidak. 


Sayangnya Darwis mengangguk lengkap dengan senyum lebar.


"Kalau begitu aku harus istirahat."


Rian hendak berdiri namun ditahan oleh Satya.

__ADS_1


"Kau masih harus menceritakan misimu pada kami, Rian."


"Besok. Aku lelah, ranjang pesawat tak senyaman ranjang kamarku," ucap Rian memelas.


"Baiklah."


*


*


*


Sudah hampir pukul 23.00 tapi Arion masih bergelayut dengan laptop di pangkuannya. 


Semenjak perusahannya berkembang pesat dan berganti nama, Arion jauh lebih sibuk dari sebelumnya. Karina melarang Arion lembur di kantor. Lebih baik lembur di rumah menemaninya tidur di kamar.


Di samping Arion, Karina sudah tertidur nyenyak. Awalnya Karina ingin membantu Arion menyelesaikan pekerjaan tapi Arion larang. Karina sudah cukup lelah dengan pekerjaannya sendiri, tidak mau menambah beban Karina.


Sebagai gantinya, Karina membawakan vitamin dan suplemen kesehatan untuk Arion. 


Arion mengusap matanya yang mulai mengantuk, menahannya karena pekerjaannya hampir tuntas. Untung saja besok tanggal merah jadi pekerjaannya sedikit berkurang. 


Besok ia dan Karina berencana untuk membeli perlengkapan untuk kedua anak mereka yang akan segera lahir. Kamar untuk keduanya sudah disiapkan tapi masih kosong melompong.


Arion melihat jam, sudah pukul 23.20. Arion menghela nafas lega karena pekerjaannya telah selesai. Menutup laptop dan meletakkannya di atas nakas.


Merenggangkan tubuh sejenak kemudian minum air mineral, mengisi cairan dalam tubuh. Arion menatap wajah Karina sejenak, tersenyum lembut sembari mengusap pipi Karina. Karina menggumam.


"Good night, Sayang," ucap Arion, memberikan kecupan mesra di dahi Karina.


Arion kemudian mematikan lampu kamar dan menyusul Karina yang semakin terlelap.


*


*


*


Matahari telah terbit, memberi kehangatan bagi belahan bumi khatulistiwa. Sinarnya mengusir kegelapan dan hawa dingin. Embun-embun terjun bebas dari dedaunan, membasahi rerumputan di kediaman Karina.


Di ruang makan, Bik Mirna telah meletakkan hidangan terakhir di meja makan. Karina dan Arion juga telah duduk tenang di kuris, mulai menikmati sarapan mereka. Semakin lama usia pernikahan mereka, keromantisan mereka semakin kuat. Lihat saja, keduanya masih tetap suap-suapan satu sama lain, tersenyum lebar. 


Keromantisan yang diselingi dengan kejahilan, membuat hubungan mereka semakin erat dari waktu ke waktu. Keduanya sama-sama puas dengan pasangan masing-masing, menerima kelebihan dan kekurangan. Terlebih bagi Arion. 


Okay. Menu penutup sarapan hari ini adalah ciuman. Bik Mirna memalingkan wajahnya ketika melihat Arion dan Karina berciuman dengan penuh kasih sayang. 


Duh. Nona dan Tuan muda sering lupa tempat deh, gerutu Bik Mirna gemas. 


Memilih melangkah menuju dapur. 


Arion dan Karina kini sudah selesai berciuman, menyentuh bibir masing-masing kemudian tersenyum lebar.


"Rasa yang tak pernah berubah, malah semakin nikmat dan membuatku candu, dari hari ke hari," goda Arion.


"Oleh karena itu, aku tidak pernah melewatkan hari tanpa menciummu, Ar," sahut Karina yang dihadiahi kekehan Arion.


Hening sesaat. Raut wajah Karina berubah cepat menatap Arion, menginginkan sesuatu. Arion mengerjap, menerka apa yang ingin Karina katakan. Perasaan buruk menghampiri Arion, agaknya apa yang akan Karina katakan akan menguji dirinya.


"Katakanlah. Istri hebatku ini ingin apa," ujar lembut Arion.


Mata memelas berubah menjadi penuh binar. Arion mengangguk.


"Tapi aku ragu kau akan ciut nanti."


Secara tidak langsung mengatakan Arion mundur sebelum maju.


"Katakanlah. Aku akan melakukan apapun demi kalian," ujar Arion, mendesak, tidak ingin diremehkan.


"Baiklah. Aku ingin kau tidur," beritahu Karina yang membuat Arion mengeryit tipis.


"Tidur? Bukankah setiap hari kau melihatku tidur?"


"Tidur di kaca," lanjut Karina.


"Katakan dengan jelas."


Arion tidak sabar menunggu ucapan Karina komplit.


"Aku ingin kau tidur di kaca di kolam ikan piranha hari ini," ujar Karina yang membuat Arion menyemburkan air yang belum ia telan, tepat ke wajah Karina.


"What?"


"What?"


Wajah Karina berubah datar dengan tatapan tajam, mengusap wajahnya yang basah karena semburan Arion.


"Eh Sayang, aku tidak sengaja. Jangan marah, oke."


Buru-buru mengambil tisu dan mengeringkan wajah Karina. 


"Kau menolak?"tanya datar Karina.


Arion terdiam dengan tetap membersihkan wajah Karina. Memikirkan permintaan Karina. Menghela nafas panjang kemudian tersenyum.


"Kamu serius?"tanya Arion memastikan.


"Hm."


Masih kesal. 


"Baiklah. Tapi kacanya aman kan?"


Mata Karina berubah menjadi senang. 


"Tentu saja kuat. Miu saja tidur nyenyak di sana," sahut Karina.


"Tapi Sayang aku bukan Miu," rengek Arion, tidak terima dibandingkan dengan jaguar kesayangan Karina.


"Tapi Miu lebih berat dari kamu," bantah Karina. 


Skatmat.

__ADS_1


Arion mengulum senyum setelah Karina membandingkan berat badannya dengan Miu.


"Kacanya ditutup ya," rayu Arion, setidaknya ia tidak perlu melihat gigi tajam piranha. 


Karina menggeleng.


"Kalau begitu airnya digelapkannya," bujuk Arion lagi.


Lagi-lagi Karina menggeleng.


"Baiklah. Aku yakin aku sangat berani!"putus Arion, antara mantap dan putus asa membujuk Karina.


Karina tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi putihnya. 


Beginilah jika punya Istri yang unik dan sedikit gila, batin Arion tersenyum melihat senyum Karina.


*


*


*


Arion yang kini sudah berbaring di atas kaca kolam piranha mengeryit heran melihat ikan-ikan bergigi tajam itu berenang dengan tenang dan tidak naik ke permukaan. Air yang bening seperti air kolam renang membuat Arion melihat jelas predator amazon itu. Piranha perut merah itu tampak cantik ketika dalam mode tenang.


Karina sendiri duduk di kursi santai pinggir kolam, mengenakan kacamata hitam, berjemur untuk mendapatkan vitamin D gratis.


Tersenyum lebar melihat Arion yang tiduran dengan wajah heran. 


"Sayang."


Akhirnya Arion menyuarakan keheranannya.


Karina melepas kacamata dan menatap Arion bertanya.


"Mengapa ikan-ikan ini sangat tenang? Apakah mereka sudah kenyang makan atau karena aku yang tidak menarik untuk dimakan?"


Karina tertawa kecil.


"Kau sangat kurus, siapa yang mau makan tulang?"


Ayolah. Lagi-lagi menjadi berat badan. 


"Sayang aku ini kurus berisi," protes Arion, cemberut.


"Baiklah-baiklah. Kalau kau tidak berisi bagaimana caramu memuaskan batinku?"balas Karina.


"Hmhp!"dengus Arion, duduk dengan posisi teratai.


Arion yang masih penasaran mengetuk kaca yang ia tempati. Tersentak saat ikan-ikan itu perlahan naik. Hanya naik sebentar kemudian kembali ke dasar dan tengah.


"Huh makanya jangan baca berkas kerja saja. Sesekali baca artikel untuk rekreasi otak," ejek Karina.


Arion mengangkat alisnya.


"Seperti kama sutra?"


Karina terkesiap, wajahnya sedikit memanas. Arion tersenyum melihat Karina yang malu. 


"Lalu apa hubungannya artikel dan ikan-ikan ini?"


Setelah puas melihat Karina yang tersipu malu, Arion kembali  menanyakan kebenarannya. Karina berdehem, bersiap untuk menjawab.


"Piranha memang ikan buas tapi kebuasannya juga mengenal situasi. Pertama ikan piranha hanya akan agresif ketika mencium bau darah. Kedua ikan piranha tidak akan menyerang jika tidak diganggu. Aku hanya berbaring, tidak mengganggu mereka. Dan yang paling utama mereka sudah kenyang," tutur Karina. 


"Pantas saja," sahut Arion mengerti.


"By de way, sifat ikan ini mirip denganmu," celetuk Arion.


Karina tersenyum tipis, mengeluarkan sebuah kertas dari buku di atas meja.


"Baca puisi dengan lantang," ujar Karina.


Arion menerima kertas tersebut, membaca judulnya.


"Aku?"


"Ya. Setelah itu kita berbelanja."


Arion menarik nafas panjang, berdiri tegak dengan satu tangan memegang kertas dan satu tangan lagi sebagai gerak tubuh sebagai penjiwaan.


Aku 


Kalau sampai waktuku


'Ku mau tak seorang 'kan merayu


Tidak juga kau


Tak perlu sedu sedan itu


Aku ini binatang jalang


Dari kumpulannya terbuang


Biar peluru menembus kulitku


Aku tetap meradang menerjang


Luka dan bisa kubawa berlari


Berlari


Hingga hilang pedih peri


Dan aku akan lebih tidak peduli


Aku mau hidup seribu tahun lagi!


Karina Karina mengabadikan momen itu dalam bentuk video. Setelah Arion selesai membacakan puisi, Arion segera menuju kamar untuk berganti pakaian, bersiap untuk berangkat ke mall.


Karina sendiri mengedit video dan mempostingnya di akun instagram pribadinya, tapi hanya dalam bentuk voice. Tentu saja, karena dalam video Arion hanya mengenakan celana pendek di atas lutut serta kaus tanpa lengan.

__ADS_1


Karina juga menambahkan sebuah caption yaitu Chairil Anwar. 


Karina kemudian menyimpan handphonenya dan kembali memakai kacamata, melanjutkan acara berjemur sembari menunggu Arion selesai.


__ADS_2