Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
Pasar Tradisional


__ADS_3

Arion masih terjaga. Ia belum merasa ngantuk. Arion menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Arion menatap istrinya yang sudah terlelap. Arion ingin keluar dari kamar dan melihat Joya.


Dengan perlahan ia bangkit dari ranjang agar tak membuat Karina terbangun. Saat hendak melangkah tangan Arion seperti ada yang menahan. Arion melirik ke belakang.


Ternyata tangan Karina memegang tangan Arion dalam kondisi Karina masih tertidur. Arion dengan hati-hati mencoba melepaskan pegangan tangan Karina. Namun, sayang pegangan Karina sangat erat. Arion pun segera mengurungkan niatnya sebelum singa betina terbangun.


Perlahan Arion kembali membaringkan tubuhnya ke ranjang dan mulai tertidur.


Mata Karina terbuka sedikit. Senyum sinis menghiasi wajahnya kemudian kembali tidur.


***


Cahaya pagi mengusik tidur sepasang insan. Karina menggeliat pelan dan membuka matanya perlahan. Tepat di hadapannya Arion masih tertidur pulas. Karina mengarahkan tangannya ke wajah Arion. Masih tampak sedikit bekas tamparannya semalam.


Karina menyentuh wajah Arion.


"Ada apa denganku ini? Apa aku sudah jatuh hati dengannya?" gumam Karina pelan. Merasa ada yang menyentuh wajahnya, Arion mulai terbangun dan membuka matanya.


"Apa wajahku begitu enak disentuh dan dipandang?" tanya Arion serak khas bangun tidur.


Karina terperajat namun tetap dalam mode wajah datarnya. Ia segera bangun dan masuk ke kamar mandi. Arion terkekeh pelan melihat itu. Ia pun ikut bangkit dan berjalan keluar kamar menemui Joya.


Di sofa, Joya tertidur dengan posisi meringkuk. Suhu ruang tengah lebih dingin beberapa derajat. Arion prihatin dengan keadaan Joya.


Andai saja ia tak menyetujui keinginan Joya pasti hal ini tak akan terjadi. Tapi nasi sudah jadi bubur. Arion mengguncang pelan tubuh Joya agar terbangun.


"Emmm …." gumam Joya yang masih mengantuk. Ia malah menepis tangan Arion.


"Joya bangun. Aku akan mengantarmu pulang dan berbicara dengan Ayahmu," ujar Arion. Perlahan Joya mulai membuka matanya. 


"Benarkah?" tanya Joya memastikan. Arion mengangguk. 


"ARION …." panggil Karina kencang dari  dalam kamar. Arion terperajat.


"Iya …." jawab Arion.


"Joya cepatlah mandi. Di dapur ada satu kamar mandi lagi," ujar Arion pada Joya dan langsung lari ke kamar.


"Ck … dasar suami takut istri," kesal Joya.


Ia menyentuh bekas tamparan Karina kemarin kemudian meringis.


Di dalam kamar Karina menunjukkan raut wajah kesal. Baru ditinggal mandi saja Arion sudah ngeloyor.


"Ada apa?" tanya Arion setelah masuk ke kamar.


Karina yang sudah selesai mandi dan berpakaian hanya menunjukkan wajah kesal.


"Cepatlah mandi. Temani aku berbelanja," jawab Karina. 


"Eh … tapi aku mau mengantarkan Joya pulang," ucap lirik Arion. 


"Kau temani dulu aku," ketus Karina keluar kamar.


"Haih … ya sudahlah," pasrah Arion langsung masuk ke kamar mandi.


Setelah keluar kamar Karina segera menuju dapur untuk membuat sarapan pagi. Menu sederhana saja yang dimasaknya. 


Ceklek ....


Suara pintu kamar mandi di dapur terbuka. Joya keluar dengan menggunakan pakaian kemarin sebab ia tak membawa pakaian. Joya menatap tajam Karina.


"Mengapa kau menatapku seperti itu? Apa tamparan kemarin kurang?" tanya Karina datar.


Bukannya menjawab, Joya malah pergi begitu saja kembali ke sofa. Karina hanya menaikkan bahunya acuh. Setengah jam kemudian sarapan pagi sudah terhidang di meja makan. Arion keluar dari kamar menggunakan celana ponggol dan juga baju kaos. Wajahnya nampak lebih segar dari sebelumnya.


"Honey …," panggil Joya mendekati Arion dan bergelayut manja. Alis Karina menyatu. 


"Cepatlah kemari. Jangan seperti kera yang berayun di pohon," ucap Karina datar.


Arion melepaskan diri dari Joya dan segera duduk di kursi. Joya mengikut kesal. 


"Mengapa hanya ini? Apakah makanan kemarin habis?" tanya Arion yang hanya menemukan nasi putih dan telur ceplok serta kecap di meja makan. 

__ADS_1


"Hanya ini yang ada. Dan untuk makanan kemarin sudah habis dimakan oleh kekasihmu itu," jawab Karina mulai menyantap makanannya.


Joya menunduk malu mendengar sindiran Karina. Memang tadi malam ia sangat lapar. Hingga tanpa sadar ia menghabiskan makanan yang tersedia di meja.


"Sudah cepat makan. Dari semalam kau komen saja," ujar Karina.


Arion dan Joya mulai menyantap sarapan mereka. Sepuluh menit kemudian ternyata menu yang terhidang di meja makan ludes tak tersisa. Karina tersenyum tipis melihat itu. 


"Kau cuci piring kotor ini," perintah Karina pada Joya. Mata Joya membulat.


Seumur hidup belum pernah ada yang menyuruhnya mencuci piring bahkan ayahnya sendiri pun tak pernah.


"Kau sudah numpang tidur, makan malam dan juga sarapan. Cuci piring saja tak mau. Atau jangan-jangan kau tak pernah mencuci piring? Ck … mau jadi istri harus tahu kerjaan rumah," sindir Karina beruntun.


Dengan hati-hati Joya bangkit dan segera mengumpulkan piring kotor lalu mencucinya.


"Kau keterlaluan," ucap Arion pelan namun masih terdengar oleh Karina. 


"Biarkan saja," jawab Karina acuh. 


Karina mengambil sesuatu dari saku bajunya dan memberikannya pada Arion.


"Apa ini?" tanya Arion menerima botol kecil berwarna putih. Arion membuka tutup botol dan aroma mint langsung menyeruak masuk ke hidungnya.


"Krim untuk bekas tamparanku. Gunakan secukupnya. Dalam lima menit itu akan menghapus bekas tamparanku," jawab Karina bangkit dan berjalan menuju kamar.


Arion dengan ragu mengoleskan krim itu pada wajahnya. Rasa dingin langsung terasa sampai ke tulang. Perlahan rasa dingin menjadi hangat.


Lima menit kemudian, rasa hangat mulai menghilang. Arion mengambil handphonenya dan melihat wajahnya dari layar handphone.


"Hilang?" gumam Arion takjub memegang wajahnya. Rasa sakitnya sudah hilang sempurna.


"Ayo cepat," ujar Karina yang sudah berganti pakaian melemparkan kunci mobil pada Arion. Arion menangkap kunci mobilnya.


"Tunggu aku ikut!" seru Joya yang baru siap mencuci piring.


Arion menatap Karina meminta persetujuan. Karina hanya memutar bola matanya malas.


"Jangan sampai merepotkan. Berikan dia juga krimnya," ujar Karina. Arion dan Joya hanya mengangguk patuh.


***


"Sudah sampai," ucap Arion menarik tuas rem tangan.


"Bukan di sini," jawab Karina menyilangkan tangannya.


"Jadi? Bukankah kau mau belanja?" heran Arion. Mendengar perdebatan mereka membuat Joya angkat bicara.


"Kemarin dia sudah belanja di sini," ujar Joya.


"Hah?" respon Arion meminta jawaban pada Karina.


"Sudah. Ikuti saja ini." putus Karina meletakkan handphonenya di dashboard mobil menunjukkan peta. Arion kembali melajukan mobil keluar dari parkiran mall mengikuti panah biru yang bergerak di maps.


Tiga puluh menit kemudian, sampailah mereka di pasar tradisional. Karina segera keluar dari mobil diikuti Arion dan Joya.


Arion membuka kaca matanya memastikan


bahwa benar ini tempat yang ditunjukkan oleh maps. Bau menyengat hinggap di hidung Arion.


"Bau apa ini? Apa kau tak salah? Bagaimana cara belanja di sini? Lebih baik kita kembali saja ke mall," ucap Arion menutup hidungnya.


"Sudah ayo. Gunakan ini," ujar Karina memberikan masker pada Arion dan Joya. Karina sendiri sudah memakainya sebelum keluar mobil.


Karina mulai masuk ke pasar tradisional. Karena sehabis hujan jadi jalanan pasar yang masih tanah menjadi becek. Namun itu tak mengurangi keramaian orang yang berbelanja.


Sepanjang perjalanan, hanya suara bising tawar-menawar antara penjual dan pembeli serta suara penjual yang menawarkan dagangannya.


Joya malah mendekatkan tubuhnya ke arah Karina. Arion berusaha menghindari genangan air dan bersinggungan dengan orang lain.


Karina berhenti di lapak penjual sayur-mayur dan bumbu dapur. Joya dan Arion mendekat.


"Mau beli apa Non?" tanya ibu pemilik lapak ramah. Karina tersenyum ramah.

__ADS_1


"Cabe bawang Buk," jawab Karina.


"Cabe bawang? Kebetulan tadi baru ada barang baru. Ayo silahkan dipilih Non. Masih seger semua. Harganya damai-damai saja," ucap penjual memberikan kantong plastik pada Karina.


"Arion tolong pilihkan tomat dua kilo saja," pinta Karina memberikan kantong plastik pada Arion. Arion menerima ragu. 


"Yang mana tomat?" tanya Arion yang tak tahu. Dia hanya tahu makanan yang sudah siap saji.


"Itu yang warna merah bulat di ujung," tunjuk Karina pada tumpukan tomat yang menggunung.


Arion segera memilih tomat sedangkan Joya hanya mengamati sambil terus memegang ujung baju. 


"Kau jangan di situ. Nanti ada yang hinggap di kepalamu," ucap Karina ketus memperingatkan.


Joya masih saja membandel dan tak mau bergerak dari tempat. Dari arah belakang seorang penjual ayam yang masih hidup sibuk mengejar beberapa ayamnya yang lepas. Ia memegang golok di tangannya. 


"Neng awas Neng!" seru penjual ayam itu memperingatkan Joya. Joya berbalik dan seokor ayam hinggap di kepalanya.


"Ahhhhhh …."


Joya kaget dan berputar mengusir ayam yang ada di kepalanya. Namun, memang nasib sialnya seekor ayam lainnya menerjang dirinya hingga terjatuh.


Brukkk ….


Joya terjatuh ke tanah. Baju serta wajahnya kotor akibat menghantam genangan air. Di mulutnya ada sebuah tomat yang tergigit. Karina menahan tawanya.


"Joya!" seru Arion langsung meninggalkan tomatnya dan membantu Joya berdiri. Joya terdiam melihat bajunya yang basah dan kotor.


"Huah … bajuku kotor," tangis Joya. Karina mendengus kesal.


"Ck merepotkan saja," gumam Karina.


"Nah … dapet juga nih ayam. Awas ya kalian ku jadikan sate kalian nanti," ujar senang penjual itu langsung pergi.


"Hei Pak tanggung jawab dulu sama dia!" seru Arion marah.


Penjual itu berbalik dan mengacungkan goloknya ke arah Arion.


"Jelas-jelas si Eneng yang salah. Sudah tahu ini persimpangan masih saja berdiri di tengah jalan," balas penjual ayam itu dan kembali melanjutkan perjalanannya. Sesekali ia mengomel pada ayam-ayamnya.


"Aduh Neng lebih baik ganti baju saja dulu," saran seorang ibu-ibu.


"Buk ini uangnya. Saya minta semua bumbu dapur masing-masing satu kilogram dan juga rempah-rempah ini masing-masing seperempat," ujar Karina memberikan uang ratusan sebanyak sepuluh lembar.


"Aduh Non ini kebanyakan," ucap penjual itu tak menerima semua uang yang Karina berikan.


"Sudah Ibu terima saja. Saya sekalian minta tolong antarkan belanjaan saya ke warung depan dekat mobil berwarna biru," lanjut Karina mendekati Joya dan Arion.


"Baik Non. Saya terima ya," ucapnya mengangguk. Karina mengangguk.


"Sudah ayo ikut aku," ajak Karina menarik tangan Joya.


Arion mengikut di belakang. Pasar yang semakin ramai membuat mereka harus berdesak-desakan. Tak sampai lima menit, Karina berhenti di toko baju. Ia terus menarik tangan Joya masuk.


"Ada yang bisa dibantu?" tanya Pemilik toko.


"Tolong satu set baju untuk sepupu saya," jawab Karina.


Alis Joya menyatu mendengar Karina menyebutnya sepupu. Ia ingin bertanya namun sudah disela duluan oleh pemilik toko.


"Nona ini bajunya," ujarnya memberikan celana dan juga baju. Karina menerimanya dan segera memberikannya pada Joya.


"Cepat gunakan ini," ujar Karina.


"Gak aku gak mau. Kainnya kasar tak cocok dengan kulitku," tolak Joya.


"Ck … cepatlah atau ketinggal kau di sini," ancam Karina.


Dengan kesal Joya mengambilnya dan pergi menuju kamar ganti. Lima menit kemudian, Joya keluar dengan menggunakan celana jeans dan baju kaos bertuliskan jomblo. 


"Jomblo?" baca Karina. Joya menutupi tulisan pada kaosnya.


Di luar Arion bingung ke arah mana Joya dan Karina pergi. Padahal toko baju yang di masukin mereka tepat di sebelah kanannya. Namun karena banyaknya pakaian yang di gantung di depan toko membuat siapa saja yang di dalam menjadi tidak terlihat jelas.

__ADS_1


"Kemana sih mereka perginya?" gerutu Arion memegang lehernya.


__ADS_2