Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 178


__ADS_3

Pintu pesawat terbuka dan melemparkan tangga yang terbuat dari tali seperti tali tambang.


"Queen, pesawat Anda telah tiba," ujar Kapten memberitahu. Karina mengangguk sembari mengusap bibirnya dengan tisu.


"Ayo kita lanjutkan perjalanan, pesawat telah tiba," ajak Karina.


"Loh kami kira kita akan ikut dengan kapal ini," ucap Maria.


"Sudah ku duga," gumam Enji.


"Oye, ayo kita tunjukkan siapa yang pantas dan tidak pantas." Bayu terlonjak senang.


"Tapi Kak, barang-barang kita bagaimana?" Sedari tadi Ferry termenung memikirkan nasib barang-barang mereka.


"Tak usah dipikirkan, nanti beli baru," sahut Arion.


Ketujuh orang itu segera menuju lantai paling atas yang terbuka sebagian. 


"Hei kau anak sombong, mari yok battle sombong," teriak Bayu melambai memanggil orang-orang yang mengejeknya tadi. Tampak mereka yang mengejek Bayu tadi wajah mereka pucat tak percaya, terlebih melihat siapa keluarganya.


"Hahaha, ngango kan kalian di sana, makanya jadi orang jangan bermulut merak kalau dompet isinya lalat," ejek Bayu lagi.


Karina dan lainnya hanya tersenyum mendengar itu. 


"Sudah ayo naik, kita harus segera terbang lagi," suruh Karina. Enji membantu Bayu menapakkan kaki pada anak tangga.


Bayu mulai menaiki satu demi satu anak tangga yang berjumlah kurang lebih dua puluh itu.


Setibanya di pesawat barulah disusul oleh Maria dan Amri, Ferry kemudian Enji. Setelah mereka semua di atas, barulah Karina mulai menaiki tangga ditutup oleh Arion.


"Selamat jalan Queen, hati-hati di perjalanan," seru kapten dan beserta anggotanya hormat kemudian melambai pada Karina. Karina membalas hormat mereka dan mengangguk. 


Tangga ditarik, pintu segera ditutup. Pesawat mulai kembali terbang melaju menuju Korsel.


"Syukurlah kita kembali lanjut," ucap lega Amri.


"Ma, semuanya Karina tidur dulu ya," pamit Karina.


 Mereka yang dipamiti oleh Karina mengangguk. Karina segera menuju kamar tempatnya tidur. Sedangkan yang lain membahas apa yang akan dilakukan selanjutnya.


***


Pukul 04.00 waktu Korsel, pesawat yang Karina dan keluarga naiki landing sempurna. 


"Lah sudah sore," heran Bayu.


"Perasaan baru 1 jam kita terbang dan dari sana tadi jam satu lewat sikit ya," tambah Bayu. Amri dan Maria tertawa. Karina dan Arion tersenyum. Ferry cuek. Enji mengacak-anak rambut anaknya itu.


"Kamu pasti belajar tentang letak geografis bukan? Perbedaan waktu antar negara loh Bayu, itu perbedaannya 2 jam," jelas Enji.


"Oh, lantas kita dimana akan menginap?" tanya Bayu lagi.


"Rumah kakak, apartemen juga boleh," jawab Karina.


"Kak please jangan pamer!"tegas Enji.


"Lah apa masalahnya denganmu? Iri bilang bos!"


Karina tersenyum dan memakai kacamata hitamnya. Berjalan duluan menuju mobil yang terparkir cantik menunggu dirinya.


"Ck, iri padamu bikin kepala pusing, bagusan aku berusaha agar bisa berada di posisimu, Kak," balas Enji.


"Amin," sahut Maria, Amri, Ferry, Bayu serta Arion.


"Sudah yuk," ajak Karina.


Keenam orang itu memasuki mobil yang disediakan. Beberapa saat kemudian, melaju satu persatu meninggalkan bandara.

__ADS_1


"Tunda peresmian cabang sampai hari Rabu," titah Karina pada seseorang melalui handphone-nya.


Setelah beberapa obloran, Karina mengakhiri panggilan via handphone-nya. Ia kemudian menatap Arion yang duduk di samping dengan menggenggam tangannya lembut. 


Karina dengan senyumnya bersandar pada bahu Arion. Keduanya kemudian melemparkan pandang ke arah jendela mobil dan menikmati apa yang ditawarkan dan berada di sepanjang perjalanan menuju apartemen Karina.


Dua mobil di belakangnya dengan jarak yang dijaga mengekor mengikuti arah kemana mobil Karina.


Kini tibalah mereka di gerbang pintu untuk memasuki kawasan apartemen. Karina memberikan kartu pengenalnya bahwasannya ia adalah salah seorang penghuni kawasan apartemen mewah ini. 


"Maaf mengganggu kenyamanan Anda," ujar penjaga itu membungkukkan badannya.


"Tak apa, itu tugasmu," jawab Karina tersenyum.


Pintu gerbang yang menghalangi jalan terbuka, ketiga mobil itu segera melaju masuk menuju parkiran. Karina diikuti Arion keluar dari mobil, keduanya serentak membuka kacamata yang mereka kenakan.


"Akhirnya sampai juga, eh baru sadar, aku kan punya apartemen juga di sini." Arion melihat nama kawasan apartemen ini.


"Iya benar, kalau tak salah tiga tahun lalu kan kamu membelinya Ar?" Amri ikut menimpal.


"Syukurlah, jadi apartemennya bisa dibagi untuk kita tinggallin selama di sini," sahut Karina. 


"Kalau begitu ayo cepat kita naik, lelah juga Mama," ajak Maria. Karina kembali memakai kacamatanya diikuti yang lain.


Mereka segera melangkahkan kaki menuju menara paling tinggi di mana letak hunian mereka berada, menuju lift. Arion menekan tombol berangka 40. 


"Sandinya kau ingat kan Fer?" tanya Arion setelah tiba di lantai 40.


Ferry mengeryitkan dahinya mengingat, tak lama ia menggeleng lemah.


Arion berdecak.


"Hari pernikahanku dan istriku, itu sandinya," ucap Arion.


Ferry mengangguk, ia keluar dari lift diikuti Enji dan Bayu.


Karina menekan tombol menutup pintu lift dan kembali menekan tombol berangka 56.


Karina mengangguk.


"Gak tinggi gak seru Ma," jawab Karina tersenyum.


Setelah tiba di depan pintu apartemen miliknya, Karina mengelurkan kartu akses dan segera membukanya. Bukan Karina namanya kalau tidak menambahkan fitur keamanan lain. Setelah serangkaian prosedur, barulah pintu terbuka.


"Jarang kamu tempati pun keamanannya tingkat tinggi," keluh Arion, mendaratkan tubuhnya di atas sofa.


"Cuma beberapa kali aku tinggal di sini, rencananya sih mau aku jual lagi, tapi sayang. Karina terlanjur jatuh hati dengan apartemen ini walaupun harus LDR-an," sahut Karina membuka gorden putih yang menghalangi cahaya masuk.


"Kayak hubungan saja," celetuk Amri.


"Kalau begitu kamu gak lelah LDR-an terus? Berapa banyak rumah yang kamu anggurin Karina?" heran Maria menatap Karina.


"Gak tahu Ma," jawab Karina menaikkan bahunya.


"Untuk apa LDR sama benda mati? Suami tampan se asia di depan mata?" Arion mencembikkan bibirnya.


"Hm, by the way gak ada yang ingat sesuatu yang istimewa beberapa hari kemarin?" tanya Arion mengedarkan pandangannya menatap Karina, Amri dan Maria. 


Ketiga orang itu saling pandang dan menggeleng. Arion mendengus. Ia kemudian berdiri dan menuju kamar untuknya dan Karina.


Karina menatap Amri dan Maria. Ketiga kemudian tersenyum. 


****


Pagi telah tiba, setelah rutinitas setelah bangun tidur, kini mereka termasuk Ferry, Enji dan Bayu tengah menikmati sarapan mereka. Karena lidahnya lidah negeri sendiri, ya menu sarapan khas negeri sendiri di sana. 


"Agenda kita sama-sama nanti setelah jam makan siang, seusai kita selesai dengan urusan masing-masing," ujar Arion setelah selesai sarapan.

__ADS_1


Pakaian formal khas CEO telah melekat di tubuhnya. Ferry pun sama halnya dengan Arion.


"Kalau begitu Mama sama Papa mau mencari alamat sahabat lama Papa, kalau dapat ya sekalian silahturahmi," ucap Amri.


"Kalau kamu Sayang?" tanya Arion.


"Jalan-jalan sekalian masuk markas mereka," jawab Karina.


"Lah kenapa mereka lagi?" keluh Bayu.


"Kakak sudah berjanji pada mereka Bayu, kalau Kakak mampir di sini, Kakak akan ke markas mereka, ucapan adalah janji dan harus ditanggungjawabin Bayu, apalagi untuk posisi Kakak, berat tanggung jawab dari sebuah ucapan walaupun yang satu kata," jelas Karina.


"Oke Bayu paham, kalau begitu Bayu ikut Kakak, mau bertemu dengan Papa Bear," ujar Bayu.


"Astaga, kecil-kecil sudah jatuh sama kpops," cetus Amri menggelengkan kepalanya.


"Biar gak tegang Pa, hidup juga butuh hiburan serta kehaluan, dari halu kalau berusaha pasti akan berubah menjadi kenyataan, hahaha tapi sayangnya mereka itu suami atau pacar sejuta wanita," jawab Karina, terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Sudah ah, Arion sama Ferry berangkat kerja dulu, Assalamualaikum," pamit Arion, mencium tangan kedua orang tuanya. Diikuti Ferry. 


"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan," sahut Karina, Maria, Amri, Enji dan Bayu.


"Makan siang di restoran baru aku saja ya, sekalian icip menu sebelum diresmikan," ucap Karina setelah menyalami Arion.


"Aku mengikut," jawab Arion. Arion dan Ferry kemudian melangkahkan kaki mereka keluar apartemen untuk melakukan urusan pekerjaan.


Sepuluh menit kemudian, Maria dan Amri pamit untuk mencari dan mengunjungi sahabat lama mereka yang telah lama sekali tak pernah bertemu.


"Kak, belanja dulu ya, bau asam bajunya yang kemarin," ucap Enji mencium sweeter yang ia gunakan.


"Hm." Karina hanya bergumam dan mengambil tas doraemonnya yang berada di kamar. 


Setelah semua siap, barulah ketiga melangkahkan kaki mereka keluar menuju parkiran di mana mobil mereka berada. Karina melemparkan kunci mobil bermerk buggati pada Enji.


Karina segera membuka pintu kursi bagian tengah mobil berwarna biru itu dan segera menaikinya. Enji mengambil posisi mengemudi dan Bayu duduk di kursi sebelah pengemudi.


"Kemana dulu kita Kak?" tanya Enji melajukan mobilnya perlahan.


"Mall, bukankah kalian mau belanja?" Karina meletakkan tangannya di perutnya.


"Baiklah, tapi Kakaknya yang traktir." Enji melirik Karina.


"Enak saja, uangmu kan ada sendiri, kau kan punya usaha. Hari ini kau yang traktir semua belanjaan termasuk juga belanjaanku nanti. Gak bis ditolak atau dibantah, atau ku geprek nanti perusahan yang baru berkembang itu." Karina dengan nada santainya, membuat Enji merasa ingin muntah darah.


"Haha, wajah Ayah kok gitu sih? Kami belanja gak banyak kok Yah, palingan setengah isi kartu blackcardmu lenyap," ujar Bayu meledek Enji.


"Oh kau punya blackcard? Hm, bisalah aku shopping sepuasnya," timpal Karina. Semakin membuat Enji serasa nafasnya tercekik. Ia menangis dalam hati, niatanya kan mau belanja gratis dengan Kakaknya, malah dia yang kena imbasnya. Karina dan Bayu bertos ria.


Sebelum berpisah, aku ucapkan selamat tinggal dulu pada uang yang akan berpindah tempat, huhuhu tak rela sih tapi demi anak dan kakak, tak apalah. Nyawapun aku korbankan, apalah artinya uang jika tak mampu membahagiakan orang terkasih? Uang bisa dicari, akan tetapi kasih sayang lebih penting, batin Enji.


Enji menyetir dengan kecepatan sedang menuju mall terbesar di kota ini. 


Menemani perjalanan, Enji memutarkan lagu yang ia sambungkan dari handphone-nya.


"Ayah mengapa seleramu menjadi zaman dulu?" tanya heran Bayu mendengar lagu yang Enji putarkan.


"Karena mereka punya sejarahnya sendiri, yang membuat generasi muda menyukai lagunya Sayang, lagipula musik kan tak mengenal zaman, lagu zaman dulu masih eksis sampai sekarang," sahut Enji.


"Hm, tapi inikan Korsel Ayah, kota Seoul," tutur Bayu.


"Apa salahnya? Terus kalau kita di sini apa harus melupakan karya negara sendiri? Gak gitu juga Bayu," sahut Karina.


"Lah kakak jadi pelupa ya? Kan kata Kakak di mana langit dijunjung di situ bumi dipijak, ini mah langitnya dijunjung buminya gak dipijak, melayang kayak hantu," balas Bayu menoleh ke arah Karina. Enji menahan tawanya. Karina menyipitkan matanya.


"Hm, ya kau benar, tapi walaupun begitu jangan pernah lupakan langit dan bumi kita pijak sebelum disini, kata simpelnya kolaborasikan saja ataupun kalau tak salah akulturasi ya?" Karina tersenyum.


Bayu diam sejenak tak lama mengangguk. Enji lantas menganti lagunya menjadi lagu campuran korsel dan inggris.

__ADS_1


"Diam dan dengarkan saja, jangan komentar lagi," tegas Enji saat melihat Bayu hendak membuka mulut lagi.


Otomatis Bayu langsung menggerakan tangannya dan mengunci mulutnya. Duduk diam menatap jalanan di depannya.


__ADS_2