
"Wah-wah rumahmu begitu menakjubkan, Karina." Marlena berdecak kagum ketika turun dari mobil. Ini adalah pertama Marlena menginjakkan kaki di kediaman ini.
"Jika begitu tinggallah di sini," sahut Karina.
"Aku sebenarnya ini tinggal di sini lebih lama, akan tetapi besok pagi aku harus pulang. Hah punya anak tunggal perempuan ternyata ada baik dan buruknya."
Elina menatap Marlena datar sedangkan Ali merasa ucapan selanjutnya dari mertuanya ini mengharuskannya untuk bekerja keras.
"Milikilah satu anak lagi untuk menemaniku." Marlena menatap anak dan menantunya.
"Ibu!"rengek Elina merasa malu.
Li tersenyum simpul, lekas mengangguk seraya merangkul pinggang Elina.
"Tentu. Tunggu saja kabar baiknya, Ibu."
"Bagus - bagus. Aku percaya padamu." Marlena menepuk keras pundak Li.
"Lebih baik kalian segera mandi lalu kita makan malam," ujar Amri mengakhiri pembicaraan di depan rumah.
*
*
*
Makan malam dimulai setelah salat Isya. Karena meja makan yang tidak cukup, sebagian ada yang makan di ruang keluarga, ada juga yang duduk di lantai.
Karina, Arion, dan keenam anak mereka memilih duduk di lantai beralas permadani berwarna biru. Begitu juga dengan Li, Elina, Gerry, Mira, dan anak mereka tentunya. Amri, Maria, Enji, dan Marlena duduk di meja makan sedangkan selebihnya berada di ruang keluarga.
Rumah terlihat dan terdengar lebih riuh. Beragam ekspresi dan suara berada di dalam satu atap.
Selesai makan malam, bagian mencuci peralatan makan jatuh pada Mira, Elina, dan Joya. Sedangkan yang lain berada di ruang keluarga, menonton televisi yang menanyakan kartun anak.
"Joya sepertinya kau tahu apa alasan kami menatap Karina begitu tadi," ucap Elina.
"Ya." Joya menjawab tanpa menoleh.
"Hatiku terus digelitik penasaran. Tapi aku ragu menanyakannya baik pada Karina maupun Li," ujar Elina.
"Tapi sebaiknya kita langsung bertanya. Mati penasaran itu sangat menyebalkan!"ucap Mira.
"Akan ku tanya pada Darwis dulu, mana tahu ia tahu jawabannya," ucap Joya.
"Ah hampir kelupaan sama hubunganmu dan Karina. Cepat tanyalah."
"Apa yang ingin kalian tanyakan padaku?" Ketiga wanita itu terperanjat kaget dan melihat ke belakang. Karina berdiri dengan tangan bersilang di dada serta mata menyelidik.
"Karina sejak kapan kau di situ?" Joya merasa gugup, dan dua lagi merasa takut.
"Sejak kalian membicarakan diriku. Huh dasar emak-emak pantang nggak ngerumpi!"sahut Karina.
"Jadi apa yang kalian ingin yang tanyakan padaku?" Mau menghindar tidak bisa, berhenti juga tidak bisa. Ya sudahlah, lanjutkan saja.
"Ah aku tahu. Apa Aleza mengatakan yang bukan-bukan tentangku?" Baru saja Elina mau buka mulut Karina sudah menjawab apa yang ingin ia jawab.
"Errr benar." Elina dan Mira mengangguk.
"Oh kalau begitu tanyakan saja pada suami kalian." Karina memutar langkah dan meninggalkan dapur. Tiga wanita itu saling tatap heran.
"Nggak marah?"
"Sesantai itu?"
"Sikap dan tindakannya semakin tidak mudah ditebak." Elina menghela nafas kasar.
"Tapi jika ia sudah berkata begitu pasti tidak akan masalah menanyakannya pada suami kita. Oh ya tadi kalau tidak salah ingat Karina mau berbicara bertiga dengan Satya dan Riska, ada masalah apa?" Ganti topik dan ganti orang. Joya tampak bingung menjawab pertanyaan Elina.
"Aku tidak yakin apa masalahnya," jawab Joya.
"Ku tebak jika bukan mau diberi hukuman pasti hadiah," ucap Mira, hatinya cemas dengan apa yang akan terjadi pada Satya dan Riska.
"Ah lupakan saja! Masalah mereka pasti selesai karena Karina turun tangan!"putus Joya, mengelap tangannya.
*
*
*
"Kalian berdua ikut aku!" Karina menatap tajam Satya dan Riska. Kedua orang itu langsung berkeringat dingin dan mengangguk pelan.
"Jangan terlalu emosi, Sayang." Arion berbisik di telinga Karina sebelum Karina bangkit.
"Hm."
Mira memberikan tatapan cemas pada Riska. Riska tersenyum tipis mengisyaratkan jangan cemas.
Pasangan itu melangkah mengikuti Karina. Karina membuka pintu ruang bawah tanah. Sebuah lift terpampang di depan mereka. Saat keluar dari lift, hal pertama yang mereka lihat adalah jajaran koleksi mobil Karina. Berjajar rapi sesuai dengan mereknya.
Kini mereka berdua berdiri tegak di hadapan Karina yang duduk dengan menyilangkan kaki. Tatapan tajam menyelidik membuat keduanya merasa dikuliti. Senyum dingin membuat mereka berdua semakin merinding.
"Tahu apa alasanku memanggil kalian?" Nada datar yang terkesan sinis.
Satya dan Riska diam. Menunduk menatap lantai.
__ADS_1
Karina mendengus sebal karena pertanyaan tak kunjung dijawab.
"Apa aku bertanya pada patung?!"bentak Karina, melemparkan penghalus papan tulis, mengenai bahu Satya. Satya tetap diam, sedangkan Riska melangkah mundur dan membentur dinding. Ini adalah pertama kalinya ia melihat Karina murka.
"Ah ternyata memang patung. Sepertinya kepergianku selama empat tahun membuat kalian melupakan sifatku. Haruskah aku memukuli kalian?"
Aura intimidasi Karina semakin berat. Karina memutar pisau dengan jarinya. Tersenyum tipis dan sorot mata datar.
Diam. Keduanya tetap diam. Entah pura-pura tidak tahu atau tidak sanggup menjawab karena tekanan Karina.
"Hei Satya! Jangan sampai pisau ini menancap di tubuhmu. Kau sudah cukup menguji kesabaranku." Satya tetap diam dan menunduk. Bibirnya terkunci rapat, tidak bergeming dengan ancaman Karina.
Karina terkekeh pelan. Lama-lama menjadi tertawa terbahak. Riska semakin takut dengan perubahan ekspresi Karina.
"Sepertinya ucapan tanpa bukti tidak berguna. Kalau begitu…."
Pisau di tangan Karina dengan cepat menuju ke arah Satya. Satya meringis kala pisau menyerempet lengannya dan menancap di dinding.
"Ah!" Riska berteriak kaget melihat darah menetes dari lengan Satya mengotori lantai. Dengan cepat mengoyak baju bagian bawa dan membalut luka Satya. Tatapan Satya rumit pada Riska. Tetap diam dengan sesekali meringis.
"Uh sepertinya kemampuan melempar pisuaku menurun. Harusnya menancap di lenganmu bukan di dinding."
Karina menggelengkan kepala dengan wajah tidak puas.
"Cukup! Aku tahu alasannya. Jangan sakiti suamiku!"
"Oh nada tinggi. Inikah yang kau ajarkan pada istrimu saat berbicara denganku, Satya?"
"Jangan karena aku memperlakukan kalian dengan baik kalian lupa siapa kalian! Jangan karena aku menganggap kalian keluarga kalian jadi lupa batas! Di sini aku adalah pimpinan dan majikan kalian! Ini peringatan terakhir, jawab pertanyaanku dengan cepat atau kalian tanggung sendiri akibatnya!"kecam Karina.
"Paham?"
Keduanya mengangguk pelan. Karina tersenyum miring.
"Baiklah. Kita lanjutkan pertanyaan selanjutnya. Apa kalian siapa yang mengadu padaku tentang hubungan kalian?"
Keduanya menggeleng.
"Hahahaha."
"Sangat menggelikan!"
"Apa kalian pikir kalian itu pasangan baru?" Karina berdiri dari tempatnya. Melangkah mendekati Satya dan Riska yang mundur dan terhenti karena dinding.
"Aku tidak masalah kalian mau pukul-pukulan ataupun saling membunuh. Aku tidak peduli karena yang rugi adalah kalian sendiri! Yang aku pedulikan hanya satu, calon pengganti tiga Tuan Muda Kasino Heart of Queen, yaitu Dylan!"
"Jadi …." Satya bergumam lirik.
"Kau bahkan tak tahu akibat dari perbuatanmu. Apa kau pantas disebut sebagai seorang ayah? Sosok yang seharusnya menjadi panutan malah ditakuti. Dan apa kau tahu rasa takut seorang anak lambat laun bisa menjadi benci!"
"Aku tidak peduli siapa yang benar dan siapa yang salah. Yang ku tahu kalian sudah dewasa dan aku yakin setiap masalah bisa kalian selesaikan dengan kepala dingin. Tapi ternyata aku salah. Aku kecewa dengan kalian, terutama kau Satya!" Karina melepaskan luka Satya.
"Uh." Darahnya mulai terlihat jelas walau sudah diperban.
"Aku turun tangan karena anak kalian. Jika memang tidak bisa disatukan maka lebih baik berpisah dan Dylan akan ikut denganku!"
Karina berdiri membelakangi mereka. Satya dan Riska tercengang, hati mereka semakin kalut mendengar kata berpisah.
"Aku tahu apa penyebab pertengkaran kalian. Kecemburuan dan keegoisan. Haha … kalian ini pasangan yang buta ya?" Sekali lagi cibiran Karina lemparkan pada keduanya.
"Masalahnya ada pada hati, cemburu hadir karena ketidakpercayaan diri. Hanya merawat seorang pria muda apa yang salah? Kontak fisik itu wajar bagi seorang dokter. Cemburu yang tidak wajar padahal sudah menikah bertahun-tahun. Huh dasar labil!"
"Queen Anda tahu?" Satya menatap rumit Karina.
"Masalahnya terjadi di dalam kekuasaanku, apakah aneh jika aku tahu?"
"Inilah yang membedakan kau dan suamiku. Dibandingkan isterimu aku jauh lebih sering bertemu dengan pengusaha muda pria. Apa kau tahu reaksi suamiku? Ia memang cemburu tapi pelampiasannya tidak dengan kekerasan."
Karina menjeda ucapannya. Karina kembali menatap keduanya, menghela nafas kasar.
"Aku lupa setiap pasangan tidak sama. Ah terserah kalian saja. Percuma aku berbicara panjang lebar jika akhirnya tidak masuk ke pikiran dan hati kalian. Putuskan apa yang akan kalian putuskan secepat mungkin. Apapun itu aku tidak akan ikut campur lagi. Aku lelah kalian tidurlah di sini!"
Karina melangkah keluar dan mengunci pintu.
"Jika memang tidak bisa berbaikan maka akan bertambah lagi kegagalanku sebagai pemimpin," gumam Karina, melangkah pelan menuju lift. Di lantai bawah, tidak Karina temui lagi anggotanya juga beberapa keluarganya. Yang tersisa hanya Arion, Biru, Bara, Dylan, dan Bahtiar yang tiduran di sofa. Bara dan Bahtiar sudah tertidur dengan paha Arion sebagai bantal, Arion dan Dylan juga sudah tidur, sedangkan Biru masih menonton televisi di mana acara sudah berganti dengan siaran horor.
"Mama?"
"Anak kecil apa kau tidak takut melihatnya?"
"Gedung terbengkalai Mama lebih menyeramkan," sahut Biru.
"Kau pernah ke sana?"
"Hanya melewati, di sana banyak hantunya, lantai 3 paling menyeramkan."
Ah Karina lupa bahwa Biru menuruni kemampuannya melihat makhluk astral bahkan berkomunikasi dengan mereka.
"Apa si merah masih di sana?"
"Si merah? Oh hantu yang berpakaian merah dengan mata merah itu ya?"
Karina mengangguk.
"Ada, kalau tidak salah ia tinggal di lantai 3 kan?"
__ADS_1
"Baiklah. Ayo kita tidur, kalian harus sekolah besok."
"Oke, Ma." Biru mematikan televisi.
"Mama kita banguni mereka? Oh iya Paman Satya dan Tante Riska mana?"
"Mereka tinggal di ruangan. Biru kamu gendong Dylan saja ke kamar, biar Mama banguni Papa."
"Oke, Ma."
Biru segera menggendong Dylan. Karina tersenyum melihat Biru yang agak kesusahan menaiki tangga sembari menggendong.
"Mama Dylan berat banget!"keluh Biru setelah berhasil menaklukan separuh anak tangga.
"Bebanmu kelak berkali-kali lipat dari beratnya, anakku!"
Biru tidak menjawab, kembali melanjutkan langkah. Saat beberapa langkah lagi mencapai puncak, Dylan terbangun dan kaget menemukan dirinya dalam gendongan Biru.
"T-tuan muda?"
"Oh kau bangun?"
Selesai menaiki tangga dan menuju ke kamar.
"I-ini tidak pantas. Tuan Muda turunkan saya," ucap Dylan merasa tidak enak.
"Apanya yang tidak pantas? Hanya beban ringan bukan masalah."
"Sudah diam saja nanti jatuh!"
Dylan berhenti bergerak, sesaat ia merasa malu menatap wajah Biru yang menatap lurus ke depan.
Biru baru menurunkan Dylan saat tiba di depan pintu kamar Karina dan Arion. Ya malam ini mereka tidur bersama.
"Mama dan Papa saya?"
"Kata Mama kamu tidur bareng kami. Masuklah jangan banyak tanya!" Mau tak mau Dylan masuk dengan langkah kaku. Mengedarkan pandang sejenak, tidak ada satu orang pun di ranjang. Dylan tercengang saat melihat nona dan tuan mudanya tidur di lantai dan terlihat sangat nyenyak.
"Hehe inilah kebiasan kami. Jadi jangan kira semua tuan muda keluarga kaya itu hidup serba mewah," ucap Biru seraya menepuk pundak Dylan.
"Ayo tidur."
Biru menarik lengan Dylan dan mengambil posisi di dekat Bintang. Rasanya asing dan nyaman tidur satu ruang dengan nona dan tuan mudanya. Rasanya berat untuk memejamkan mata. Dylan baru memejamkan mata saat Karina dan Arion dan mengambil tempat.
Tepukan ringan Karina padanya, membuat Dylan dengan cepat terlelap.
*
*
*
"Kak, maaf ini semua salahku. Andai saja aku mendengarkan ucapanmu untuk resign pasti kakak tidak akan terluka," ucap Riska menyesal, menitikkan air mata memegang lengan Satya.
"Tidak! Ini bukan salahmu. Ini akibat kecemburuan dan ketidakpercaya dirianku. Aku menyesal main tangan denganmu. Anak kita jadi korbannya," sergah Satya, matanya memerah menatap lurus ke depan.
"Andai saja aku lebih percaya diri pasti ini semua tidak akan terjadi," lanjut Satya.
"Tidak. Ini akibat keegoisanku. Keinginanku ternyata menyakiti anak kita. Besok aku akan mengajukan resign dan fokus merawat Dylan. Kakak aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku ingin seumur hidup hanya denganmu." Riska bersandar pada bahu Satya.
"Apakah kau masih mau bersama denganku?"
"Aku bersedia sampai mati denganmu."
"Kalau begitu tidak perlu resign. Tetaplah bekerja, aku sadar akan kesalahanku. Aku tidak bisa membenarkan diriku sendiri ataupun menyalahkan dirimu. Maaf karena aku mengingkari janjiku. Riska terima kasih."
"Kakak tidak masalah lagi?"
"Cemburuku memang berlebihan. Aku buta karena hubungan masa lalu. Ke depannya jika aku cemburu aku akan melampiaskan dengan lembut."
Satya segera mencium bibir Riska.
"Besok pagi kita harus minta maaf pada Dylan,"ucap Riska susah payah karena Satya sibuk menjelajahi lehernya.
"Pasti!"
*
*
*
Kecemburuan Satya yang besar terjadi bukan tanpa sebab. Jika itu pasien asing maka cemburu itu tidak akan sampai menyebabkan mereka bertengkar. Hanya saja pasien jantung yang Riska tangani kali ini adalah seorang pria dari masa lalu Riska, seorang tunangan masa kecil.
Satya jelas tahu karena ia sudah menyelidikinya. Terlebih saat melihat tatapan pria itu pada Riska, masih ada cinta di sana. Status mantan tunangan langsung membakar hati Satya. Beberapa kali ia berdebat dengan Riska. Meminta Riska untuk memberikan tanggung jawab perawatan pada dokter lain. Sayangnya pasien tidak mau berganti dokter. Peraturan rumah sakit pun juga menjadi kendala. Terakhir Satya meminta Riska untuk resign sayangnya Riska juga enggan. Pekerjaan impian baru saja ia nikmati, mana mungkin ia mau keluar secepat itu!
Biarpun pria itu sudah tahu Riska sudah punya anak dan suami, tetap saja gencar mendekati Riska. Amarah Satya yang berakhir dengan kekerasan fisik juga dipicu karena provokasi pria itu.
Riska sendiri tetap sabar menghadapi kecemburuan Satya. Mencoba menjelaskan tapi kerenggangan sudah terjadi. Hampir dua minggu mereka tidak berbicara kecuali jika di depan anak ataupun keluarga yang lain.
Sebenarnya pria itu adalah pria yang dijodohkan dengan Riska sewaktu kecil. Hanya saja karena fakta penyakit jantung diderita pria itu membuat keluarga Riska memutus perjodohan. Riska yang kala itu masihlah anak berusia 5 tahun sedangkan mantan tunangannya sudah berumur 10 tahun tentu saja tidak merasa kehilangan mendalam karena belum tumbuh rasa cinta. Berbeda dengan mantan tunangannya. Rasa cinta sudah tumbuh dan bertekad untuk sembuh. Mengalahkan vonis dokter yang menyatakan ia tidak akan hidup sampai umur 20 tahun. Sayangnya kini ia sudah berumur 28 tahun.
Berniat kembali untuk menjadikan Riska sebagai istri setelah operasi cangkok jantungnya berhasil. Dan kini hanya tinggal melakukan perawatan pasca operasi. Sempat pupus harapan mengetahui bahwa Riska sudah menikah dan punya anak namun tidak serta merta membuatnya menyerah. Ucapan provokasi dan kontak fisik secara sengaja ia lakukan agar hubungan Satya dan Riska merenggang dan akhirnya berpisah.
Tapi rencana itu tidak akan pernah berhasil!
__ADS_1