Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
Kal Ho Na Ho dan Sah


__ADS_3

Enji menyanyikan sebuah lagu berbahasa India. 


Har Ghadi Badal Rahi Hai Roop Zindagi


(Setiap waktu kehidupan senantiasa berubah rupa)


Chaanv Hai Kabhi, Kabhi Hai Dhoop Zindagi


(Kehidupan terkadang teduh, terkadang panas terik)


Har Pal Yahan, Jee Bhar Jiyo


(Setiap saat di sini, hiduplah sepenuh hatimu)


Jo Hai Sama Kal Ho Na Ho


(Suasana seperti ini mungkin tak akan ada lagi esok hari)


Har Ghadi Badal Rahi Hai Roop Zindagi


(Setiap waktu kehidupan senantiasa berubah rupa)


Chaanv Hai Kabhi, Kabhi Hai Dhoop Zindagi


(Kehidupan terkadang teduh, terkadang panas terik)


Har Pal Yahan, Jee Bhar Jiyo


(Setiap saat di sini, hiduplah sepenuh hatimu)


Jo Hai Sama Kal Ho Na Ho


(Suasana seperti ini mungkin tak akan ada lagi esok hari)


Chaahe Jo Tumhe Poore Dil Se


(Seseorang yang menginginkanmu dengan segenap hati)


Milta Hai Woh Mushkil Se


(Dia begitu sulit dijumpai)


Aisa Jo Koi Kahin Hai


(Jika ada seseorang seperti itu di suatu tempat)


Bas Wohi Sabse Haseen Hai


(Hanya dialah yang terindah)


Uss Haath Ko Tum Thaam Lo


(Kau genggamlah tangannya)


Woh Meherbaan Kal Ho Na Ho


(Kekasih sepertinya mungkin tak akan ada lagi esok hari)


Har Pal Yahan, Jee Bhar Jiyo


(Setiap saat di sini, hiduplah sepenuh hatimu)


Jo Hai Sama Kal Ho Na Ho


(Suasana seperti ini mungkin tak akan ada lagi esok hari)


Palkon Ke Leke Saaye Paas Koi Jo Aaye


(Seseorang datang mendekat menaungi pelupuk mata)


Laakh Sambhalo Paagal Dil Ko


(Meski kau ribuan kali menjaga hatimu yang menggila)


Dil Dhadke Hi Jaaye


(Jantungmu akan tetap berdebar untuknya)


Par Soch Lo Iss Pal Hai Jo


(Namun ingatlah bahwa yang terjadi di saat ini)


Woh Dastaan Kal Ho Na Ho


(Kisah itu mungkin tak akan ada lagi esok hari)


Har Ghadi Badal Rahi Hai Roop Zindagi


(Setiap waktu kehidupan senantiasa berubah rupa)


Chaanv Hai Kabhi, Kabhi Hai Dhoop Zindagi


(Kehidupan terkadang teduh, terkadang panas terik)

__ADS_1


Har Pal Yahan, Jee Bhar Jiyo


(Setiap saat di sini, hiduplah sepenuh hatimu)


Jo Hai Sama Kal Ho Na Ho


(Suasana seperti ini mungkin tak akan ada lagi esok hari)


Har Pal Yahan, Jee Bhar Jiyo


(Setiap saat di sini, hiduplah sepenuh hatimu)


Jo Hai Sama Kal Ho Na Ho


(Suasana seperti ini mungkin tak akan ada lagi esok hari)


Jo Hai Sama Kal Ho Na Ho


(Suasana seperti ini mungkin tak akan ada lagi esok hari)


Har Pal Yahan, Jee Bhar Jiyo


(Setiap saat di sini, hiduplah sepenuh hatimu)


Jo Hai Sama Kal Ho Na Ho


(Suasana seperti ini mungkin tak akan ada lagi esok hari)


Jo Hai Sama Kal Ho Na Ho


(Suasana seperti ini mungkin tak akan ada lagi esok hari)


^_^


Prok....


Prok....


Prok....


Suara tepuk tangan menggema.


Tamu hanya hadir kagum dengan suara dan permainan musik Enji. Sebagian tamu ada yang sampai meneteskan air mata kerena mengerti artinya dan yang lain merasa bahwa lagu itu mempunyai makna yang mendalam.


Karina menatap datar Enji.


Mengapa dia menyanyikan lagu ini? Seakan dia mau pergi jauh saja, batin Karina tak suka.


Arion menatap Enji. Jujur ia kagum dengan Enji namun dengan lihainya dia menutupinya.


Tindakan Enji itu tak luput dari perhatian kakek Bram. Beliau bertanya pada Maria.


"Siapa anak itu?" tanyanya.


"Ah ... Enji Yah, dia adik angkat Karina," terang Maria.


"Hmm ... lumayan! Dari yang ku lihat dia anaknya cerdas dan berbakat. Mengapa tak jadi cucuku saja," ujarnya santai.


"Ayah? Apa yang Ayah katakan?" ujar Amri kaget.


"Ya aku mau mengangkatnya jadi cucuku," sahut kakek Bram.


"Ayah bukankah dia akan jadi cucumu juga?" tanya Maria


"Ah kau benar ... aku lupa lagi," ucap kakek Bram tertawa seraya menepuk dahinya.


Amri hanya menahan kekesalannya pada ayahnya ini. Maria menenangkan suaminya.


"Baiklah kita akan memasuki acara puncak selanjutnya yaitu ijab qabul antara Tuan Arion dan nlNona Karina," gema suara MC kembali datang.


"Ehmm ... apakah bisa dimulai Tuan Muda?" tanya Penghulu.


Arion mengangguk.


"Baiklah silahkan jabat tangan saya," ucapnya tegas.


Arion menjabat tangan kanan Penghulu.


"Bismillahirahmanirrahim ... saya nikahkan dan kawinkan engkau saudara Arion Wijaya bin Amri Wijaya dengan saudari Karina Stephanson Tirta Wijaya binti Surya Tirta Sanjaya dengan mas kawin 100 gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!" ucap tegas Penghulu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Karina Stephanson Tirta Sanjaya binti Surya Tirta Sanjaya dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!" ucap Arion tak kalah tegas.


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Penghulu kepada para tamu undangan yang hadir.


"SAH ...," ucap para tamu serentak.


"Selamat kalian sudah sah jadi suami istri ... semoga sakinah mawwaddah dan warahmah," harap Penghulu mengukir senyum.


Prok ....


Prok ....


Prok ....

__ADS_1


Suara tepuk tangan kembali menggema.


Arion mengulurkan tangannya pada Karina. Karina menerima dan mencium tangan suaminya. Arion mengecup kening Karina.


Kemudian Arion memakaikan cincin di jari manis Karina dan sebaliknya.


Seusai itu pasangan suami istri baru itu berjalan menuju keluarga Wijaya.


Arion memeluk Amri. Amri membalas pelukannya sembari menepuk-nepuk pundak Arion.


Arion matanya mulai berkaca-kaca.


"Semoga kau bahagia Nak," harap Amri.


Arion beralih memeluk Mamanya. Air matanya mulai menetes deras.


"Ma ... maafin sikap Arion selama ini ya Ma ...," pinta Arion.


"Dasar anak b*doh kau ini! Tentu saja Mama memaafkanmu Nak bahkan sebelum kau meminta maaf padaku," ujar Maria.


Ia sangat bahagia. Sekarang giliran Karina yang memeluk uupss bukan menyalami Amri papa mertuannya. Karina tersenyum kecil. Lagi?


"Terima kasih Karina ... kau telah mengembalikan Arion kami," ujar Amri.


"Bukan apa," jawab Karina santai dan beralih ke Maria.


Seperti Arion Karina. Ah bukan Maria lah yang pertama memeluk Karina.


"Hmmm ...," gumam Karina.


"Tak ada yang bisa aku katakan lagi Karina ... kau sungguh ... sungguh ...," ucapan Maria terputus dan memeluk Karina erat.


Selagi Maria memeluk erat Karina. Arion mendapat hadiah berupa jeweran dari kakek Bram.


"Auhh ... Kakek kau sungguh tega Kakek ... beginikah caramu memberi selamat pada cucumu ini??" aduh Arion .


"Iya ini caraku memberimu pelajaran padamu. Dasar kau cucu tengik ... sudah berapa tahun kau tak menemuiku sekali kau menikah kau tak mengundangku!" kesal kakek Bram.


"Haiya ... Kakek aku minta maaf padamu kakek ... tapi itu nanti saja kita bahas ya Kakek?" mohon Arion.


"Sudahlah sana kau cucu tengik aku mau memeluk cucu menantuku!" usir kakek Bram.


"Kakek kau ini ...," kesal Arion bergeser sedikit.


"Ah ... kau sangat cantik cucu menantu. Sini peluk Pria tua ini," ucap kakek Bram merentangkan tangannya.


Karina memeluk kakek Bram. Arion memberengut kesal.


Dia saja belum memelukku, keluh Arion dalam hati.


"Kakek?" sapa Karina.


"Hmmm ... ferpect ... Kakek kau masih sangat tampan," puji Karina.


Kakek Bram tertegun. Namun, tak lama ia tertawa lepas.


"Hahahaha ... kau sangat bermulut manis cucu menantu," tawa kakek Bram.


"Kakek nanti kita lanjutkan lagi ya," pinta Karina.


"Baik-baiklah," balas kakek Bram.


Karina berjalan mendekati Enji. Enji tampak mengeluarkan air mata.


"Hei b*d*h kenapa kau menangis?" tanya Karina.


"Nona bisakah kau tidak mengejekku sekali saja?" rengek Enji manja.


"Haha ... karena hari ini hari pernikahanku maka aku akan mengabulkannya. Sudahlah jangan menangis sini kakak peluk ...," ujar Karina.


Enji semakin menangis keras.


"Huah ... Kakak!!" tangis Enji.


Enji langsung memeluk erat Karina. Arion mengerucutkan bibirnya kesal melihat adegan itu. Ia mendekati kakek Bram.


"Kakek lihat cucu menantumu asyik memeluk pria lain," aduh Arion.


"Apa peduliku? Kau ini masa baru menikah langsung direbut orang," ucap acuh tak acuh kakek Bram meninggalkan Arion dan menyapa para tamu.


Merasa tak dihiraukan oleh kakek Bram. Memang. Arion mendekati orang tuanya.


"Ma ... Pa lihat Karina ...," aduh Arion.


"Kau ini kenapa pula? Karina kan hanya memeluk adik angkatnya? Apa salahnya?" tanya heran Maria.


Lalu mereka berdua ikut menyapa para tamu meninggalkan Arion. Arion yang kesal langsung mendekati Karina dan menariknya ke dalam pelukannya.


"Kau dari tadi memeluk orang lain tapi kau belum memeluk suamimu ini?" keluh Arion.


Melihat kecemburuan Arion. Enji pun pamit ke kamarnya.


"Ya sudah sana," sahut Karina.

__ADS_1


Karina melepaskan pelukan Arion dan berjalan menuju pelaminan.


__ADS_2