
Sedangkan di kamar mandi, Enji yang polos mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air shower. Enji meletakkan tangannya di dinding dan memejamkan matanya. Ingatannya kembali pada beberapa jam lalu.
Flashback.
Enji baru saja keluar dari sebuah cafe seusai melakukan meeting dengan kliennya. Waktu masih menunjukkan pukul 09.00.
Dengan segera Enji menaiki motornya hendak kembali ke perusahaan. Sayangnya, saat sudah memasukan gigi motor dan bersiap melaju, ada seseorang yang dengan kasar naik di jok belakang.
"Bang, ayo cepat jalan!"
Suara wanita, memerintah dirinya seraya menepuk keras bahunya.
Dahi Enji mengeryit.
"Bang, ayo cepat. Malah bengong lagi, buruan!"
Wanita itu kembali berseru dengan melihat kanan-kiri.
"Woi, jangan lari loe!"
Teriak dua orang berbadan kekar meneriaki Wanita itu.
Enji segera melajukan motor. Terdengar helaan nafas lega, saat mereka sudah separuh jalan.
Saat melintasi taman, Enji memberhentikan laju motornya.
"Lah, kok berhenti Bang?" heran wanita itu menepuk pundak Enji lagi.
Enji melepas helmnya dan menatap tajam wanita itu. Wanita itu, sesaat menatap lekat wajah Enji, tampak terpesona.
Ganteng banget! pekiknya dalam hati.
"Turun!" ucap Enji datar.
"Hah? Kan belum sampai tujuan? Gimana sih Bang? Mau saya kasih bintang 1?" kesal wanita itu setelah Enji menyadarkan lamunannya.
Enji kembali mengeryit.
"Bintang satu? Memangnya saya ojol apa hah?" bentak Enji kesal.
"Ya, kan memang iya. Helmnya saja helm ojol," sahut santai wanita itu, bersedikap tangan di dada.
"Turun! Saya bukan ojol. Kamu salah orang!"
Suara Enji yang dingin tidak membuat wanita itu takut, malah tersenyum.
"Saya tidak percaya! Sudah ayo jalan lagi! Nanti saya kasih tips sama bintang 5. Ayo buruan, saya telat nanti!" ujar wanita itu, dengan nada memelas di ujung.
Enji mendengus, namun tidak tahan dengan wajah imut yang wanita itu tunjukkan, Enji pun luluh. Dengan segera memakai kembali helmnya dan melaju.
Tapi, kemana tujuan wanita ini? Ah, masa bodo*! Lebih baik aku ke perusahaan saja! batin Enji dengan hati yang kesal.
Sekarang tibalah mereka di perusahaan Enji. Enji memarkirkan motornya di area khusus.
Wanita itu tampak terheran dan menatap rumit Enji. Sedangkan Enji, tampak santai dan tersenyum remeh menatap wanita itu.
Wanita itu tampak memegang lehernya. Sekalian melihat jam tangan.
"Bang ojol, kok Abang bisa masuk kesini ya?" heran wanita itu.
Sedari tadi ia tidak memperhatikan sekitarnya yang mana para staff menghormati Enji.
"Saya bukan ojol! Sudah keluar sana kamu!" ketus Enji hendak memasuki lift.
"Eh, tunggu Bang. Ini uangnya," seru wanita itu, meletakkan sejumlah uang di telapak tangan Enji lalu pergi. Enji tertegun.
"Sialan! Nak, jahilnya dirimu pada ayah!" gerutu Enji.
Helm ojol itu adalah hasil dari lukisan Bayu dengan media helm, karena waktu itu Enji sedang sibuk, maka ia tidak mengawasi Bayu dengan benar.
Alhasil, helmnya jadi korban. Malah ia belum sempat beli yang baru, karena waktu yang begitu mepet, makanya Enji tetap memakai helm khas ojol itu.
Sedangkan di lobby perusahaan, Wanita itu tampak duduk di bangku tunggu seraya membenarkan riasannya. Ia lantas melihat handphone-nya. Wanita itu mengeryit dan menyipitkan mata.
__ADS_1
"Lah, jadi Abang itu benar-benar bukan ojol? Aduh, gimana ini ya? Malah gue enggak percaya lagi tadi. Duh, semoga di bukan petinggi di perusahaan ini," gumam cemas wanita itu.
*
*
*
Singkat cerita, hari ini Enji akan menginterview beberapa pelamar pekerjaan di bidang yang dibutuhkan secara pribadi. Ya, posisi ini cukup penting.
Enji kini tampak sedang menginterview seorang pria, wajahnya samar menunjukkan rasa tidak cocok. Dan giliran yang terakhir adalah yang paling mengejutkan.
"Kamu?" seru Enji dan wanita yang mengira ia ojol tadi bersamaan.
"Jadi kamu melamar pekerjaan di sini?" tanya Enji yang masih tidak percaya.
"Jadi Abang direkturnya?" seru balik wanita itu.
Enji tersenyum smirk.
"Iya, saya pemilik perusahaan ini, ada masalah, Nona?" tanya Enji.
Wanita itu menggeleng dan dengan canggung duduk di hadapan Enji.
"Jadi, bisa dimulai interviewnya, Tuan?" tanya wanita itu canggung.
Enji tetap senyum dan membaca resume wanita itu. Dalam hati menggerutu sebal sebab tidak sempat membaca atau mempelajari resume pelamar kerja.
Kualifikasinya pas, tapi sifatnya, hm, batin Enji.
Wanita menatap harap-harap cemas, kedua tangannya menempel di paha.
"Nona Jesica, perusahaan kami mementingkan sifat dan sikap baru kepintaran. Anda memang memenuhi kualifikasi saya, namun sikap Anda tadi terhadap saya membuat saya ragu. Anda dengan seenaknya mendikte saja ojol tanpa pikir panjang, bahkan saya sudah menjelaskan, Anda juga tidak percaya lagi. Maka dengan berat hati, saya menolak lamaran Anda!" ucap tegas Enji.
Wajah wanita itu awalnya menunduk sedih namun berubah menjadi kesal.
"Salah Anda sendiri, mengapa memakai atribut ojol! Saya kan mengira Anda adalah ojol yang saya pesan. Anda tidak bisa begini dong! Saya baik kok, namanya juga buru-buru pasti panik dong. Apalagi tadi saya dikejar penagih hutang, ya saya harus menyelamatkan diri dong!" kesal Jesicca.
"Oh, jadi kamu terjerat hutang ya? Kasihan sekali. Dan silahkan kamu keluar, kamu sudah selesai!"
Enji menyodorkan resume Jesicca dan menunjuk ke arah pintu keluar.
"Tuan, hanya karena kesalahpahaman Anda menolak saya? Inikah jiwa pemimpin perusahaan ini?" cibir Jesicca.
"Benar! Karena Anda membuang waktu saya tadi dan saya tidak suka itu. Terlebih, saya tidak menyukai kamu serta saya pemilik perusahaan ini. So, get out!" tegas Enji.
Jesicca menggertakan giginya kesal. Dengan segera ia berdiri dan membereskan resemunya. Memakai tasnya dan hendak keluar. Sebelum keluar, Jesicca menatap tajam Enji.
Enji santai saja. Di luar dugaan, wanita itu berjalan mendekati Enji. Seperti ia akan melampiaskan kekesalannya dengan memukul Enji.
Sayangnya, karena pada dasarnya Jesicca adalah ceroboh, ia malah terjerembab jatuh di pangkuan Enji dengan posisi kepala menghantam sesuatu di antara kedua paha Enji.
Enji terbelalak terkejut. Berani wanita ini, pikirnya kesal, segera menarik rambut Jesicca membuat si empunya mengerang sakit.
"Aduh, apa yang kamu lakukan, lepaskan!" pekik Jesicca memegang tangan Enji dengan mata melirik Enji marah.
"Jauhkan tubuhmu dariku!" desis Enji, sialannya lagi, sekarang malah satu tangan Jesicca yang menempel di sana.
Perlahan, benda tidur itu mulai bereaksi dan hendak bangun. Jesicca malah menempelkan tangannya disertai oleh tenaga.
Jesicca antara terkesiap dan kesakitan, dengan segera ia bangkit dan Enji melepaskan rambutnya.
"Ah, maaf, maaf Tuan, saya tidak sengaja," ucap Jesicca menyesal dan membungkukan badannya.
"Keluar!" teriak Enji kesal.
Dengan langkah cepat, Jesicca keluar. Enji memejamkan matanya berusaha menahan laju pembangkitan. Sayangnya sia-sia. Dengan cepat ia ke kamar mandi dan menuntaskan hasrat yang menyeruak masuk.
Sialan! Tapi, mengapa wanita itu, hanya menyentuhnya dari luar langsung membuatnya bangkit? Sedangkan saat aku melihat itu, malah butuh waktu? Oh Enji begitu kesepiannya dirimu, pikir Enji di sela-sela desahannya.
Flashback off.
*
__ADS_1
*
*
"Tapi kasihan juga wanita itu, ah memangnya apa urusannya denganku? Berani sekali ia memegang adikku, huh!" kesal Enji mengakhiri mandinya. Seusai berpakaian, Enji langsung on the way pulang ke apartemen.
*
*
*
Seorang wanita berjalan memasuki sebuah gang kecil dengan wajah ditekuk dan kusut. Kakinya sibuk menendang apa yang ada di dekatnya. Batu-batu kecil, botol minuman, atau sekedar bungkus kemasan.
"Akhg! Jesicca di mana harga dirimu? Kau ini tidak punya malu ya? Bisa-bisanya kau menyentuh alat pria dengan wajah dan tanganmu? Aduh, aku ternodai, dan lebih parahnya, aku menodai," teriak Jesicca frustasi, ia malah melihat tangan kirinya dengan kesal.
Untung saja, suasana sepi, jika tidak, bisa diteriaki orang gila dia.
"Hei kiri, mengapa kau lancang sekali? Aku memang pecinta lelaki, tapi kau tidak bisa nyosor begitu dong? Hei wajahku, mengapa kamu nemplok kayak cicak tadi? Malah sakit lagi rambutku dijambak olehnya! Dan sialnya lagi, gue ditolak, huhuhu, gimana gue mau bayar utang ayah dan biaya rumah sakit ibu kalau kayak gini caranya?" erang frustasi Jesicca menjambak rambutnya sendiri.
Kini, tibalah Jesica di depan sebuah rumah sederhana, dengan cat putih yang sudah terkelupas dan bagian luar bawah yang berlumut. Bagian teras masih diplaster kerikil dan semen kasar, pintu rumah juga tampak usang dengan jendela yang berdebu.
Jesicca menghela nafas panjang dan membuka pintu. Debu yang terlihat jelas karena silauan cahaya membuat Jesicca terbatuk dan menyipitkan matanya.
"Gimana? Diterima kerja kan?" tegur seorang pria paru bayah yang merupakan ayah Jesica, saat Jesica baru saja mendaratkan tubuhnya duduk di kursi rotan.
Jesicca menggeleng.
"Ditolak Yah," jawab Jesicca pelan.
Wajah sang ayah galak seketika!
"Dari kemarin ditolak meluluh, kapan diterimanya? Nyesel saya mengkuliahkan kamu, apa gunanya gelar kamu itu kalau melamar kerjapun tidak bisa? Bagusan kamu jadi wanita penghibur di bar. Kerjanya enak, nikmatnya dapat, banyak uang lagi! Beruntung lagi kamu bisa jadi simpanan pria kaya!" bentak Ayah Jesica. Hati Jesicca panas mendengar ucapan sang Ayah.
"Ayah mau Jesicca jadi pelacur seperti Ibu? Sadar Yah, Jesicca tidak diterima kerena siapa? Karena Ayah dan Ibu! Ayah seorang pemabuk dan Ibu seorang wanita penghibur, dan sekarang harus terbaring sakit, sadar enggak Yah, keluarga kita dikucilkan. Ayah hanya peduli uang dan minuman hingga tega menjual Ibu. Ayah mau menjual aku juga? Lebih baik aku mati daripada harus menjual diri!" balas Jesica, berjalan cepat menuju kamarnya dan membanting pintu keras.
"Anak kurang ajar! Kalau bukan kerena adikmu, mana mungkin aku seperti ini? Ibumu dan Adikmu yang menyebabkan aku begini! Anak sialan, kau harus bekerja untuk membayar hutang! Ibumu, sakit karena karmanya sendiri!" teriak Ayah Jesica emosi.
Menggedor pintu kamar Jesicca. Jesicca diam, pilu menangis di sudut ranjang dengan lutut ditekuk dan wajah disembunyikan di sana. Hatinya menangis mengingat kisah keluarganya. Hingga, tanpa sadar, Jesicca ketiduran.
*
*
*
Dayana Pratama, putri tunggal keluarga Pratama. Licik dan pandai memanipulasi adalah ciri keluarga ini. Biarpun begitu, mereka termasuk keluarga terpandang sebab kelicikan mereka disimpan dibalik topeng wajah mereka yang anggun dan berwibawa.
Dayana, wanita cantik dengan akhlak minus itu berjalan memasuki sebuah hotel. Langkahnya memasuki lift dan menekan lantai 4. Setelah sampai di lantai 4, Dayana mencari kamar dengan nomor yang dikirimkan. Kamar 555, adalah tujuannya.
Saat Dayana mengetuk pintu, pintu segera terbuka dan secepat kilat ia ditarik ke dalam.
"Lama sekali dirimu, Baby," protes seorang lelaki sembari menjilat telinga Dayana.
"Aku sibuk, Babe, maafkan aku ya," pinta Dayana mengalungkan tangannya ke leher pria itu.
"Kau harus dihukum karena keterlambatanmu, Baby," ucap serak pria itu meremas dada dan menyambar bibir Dayana dengan bibirnya.
"Apa itu?" tanya Dayana dengan suara menggoda dan memegang dada pria itu yang sudah telanjang.
"Layani aku sampai puas."
Pria itu segera mendorong Dayana ke ranjang dan melucuti satu-persatu pakaian yang Dayana kenakan. Okey, kelanjutannya adalah penyatuan dan pelepasan disertai suara desahan dan erang kenikmatan.
Setelah puas mendapatkan tubuh Dayana, pria itu menatap dan membelai rambut Dayana.
"Dayana, apakah setelah kamu mendapatkan Tuan Muda Anggara, kamu akan meninggalkanku?" tanya sendu pria itu.
Dayana yang masih mengatur nafas menggeleng cepat.
"Setelah aku mendapatkannya, aku akan memecah mereka. Aku akan membuat mereka saling konflik dan hasilnya adalah aku sebagai pemenang tanpa turun tangan. Setelah itu terjadi, maka kita akan hidup tenang bersama. Ketahuilah, aku adalah wanita yang setia hanya pada dirimu. Babe," ujar Dayana.
"Thanks baby," ucap pria itu dan menerkam Dayana lagi
__ADS_1