
Tiga hari berlalu, Arion sudah diperbolehkan pulang. Sebenarnya Arion minta semalam untuk pulang. Merengek bak anak kecil pada Karina. Akan tetapi ketegasan Karina dan dokter membuatnya harus menurut. Dengan penuh rasa bahagia, Arion sudah siap untuk kembali ke rumah, rumah Karina tentunya.
Walaupun tak bisa melihat, binar kebahagian tetap terpatri di mata Arion. Kini Arion duduk di pinggir ranjang, kakinya menggantung di udara, sedikit lagi menyentuh lantai. Dengan tongkat hadiah yang dokter berikan, Arion menggerakkan tongkatnya meraba sekitarnya. Memukul lantai dan mengangkatnya memeriksa ada apa di depannya.
"Yang," panggil Arion menggerakkan kepalanya mencari Karina. Karina yang tengah memeriksa handphonenya sejenak menatap Arion. Dia berdiri bersandar pada dinding biru muda rumah sakit.
"Ya," sahut Karina.
"Kamu di mana?" tanya Arion. Karina menyimpan handphone-nya dan menghampiri Arion.
"Aku di sini," jawab Karina memegang lembut tangan kiri Arion. Tangan kanannya masih di pen.
"Jangan jauh-jauh," pinta Arion memeluk Karina dan menumpukan dagunya di pundak Karina.
"Aku selalu di dekat kamu, di hati kamu. Kamu memang gak bisa lihat aku pakai indera penghilatan kamu. Tapi kamu bisa lihat aku pakai mata hati kamu, walaupun aku jauh di mata. Aku akan selalu terlihat di dalam hati kamu," ujar Karina.
"Hm," gumam Arion.
Mereka larut dalam pelukan. Maria dan Amri yang duduk diam di sofa ikut berpelukan. Biar usia sudah bukan darah muda, tetapi jiwa tetap muda kan?
"Em … ayo kita pulang. Pulang ke rumah Papa sama Mama saja ya," ujar Maria berharap.
"Iya Ar, Karina. Sebaiknya kalian pulang saja ke rumah kita," tambah Amri menyetujui Maria.
"Hmm … Ar sama Karina pulang ke rumah Karina saja Ma, Pa. Gak papa kan?" sahut Arion menggerakkan kepalanya menangkap arah suara.
"Iya Ma. Karina sama Ar pulang ke rumah Karina saja. Masalah keamanan Mama sama Papa gak perlu khawatir. Ada kok yang akan setiap dampingin Arion setiap waktu selain Karina," ujar Karina tersenyum. Amri dan Maria saling tatap. Tak lama mereka mengangguk menyetujui.
Jangan katakan dia adalah Miu, batin Arion.
***
Karina dengan memegang lengan kiri Arion kini berjalan di lobby rumah sakit. Amri dan Maria di belakang mereka. Barang-barang Karina selama di rumah sakit sudah Pak Anton boyong duluan ke bagasi mobil.
Si putih dengan Pak Anton sebagai pengemudi telah menunggu manis di depan lobby. Suara ketukan tongkat dan lantai menghiasi perjalanan mereka. Arion dengan kacamata hitamnya berjalan dengan wajah wibawanya.
Di belakang Si putih adalah mobil dari Amri dan Maria. Pak Anton langsung membukakan pintu untuk Tuan dan Nonanya.
"Rasanya aneh berjalan dengan ini," keluh Arion.
"Kamu harus terbiasa sebelum ada donor mata buat kamu. Semangat My Hubby. Aku mendukungmu selalu," semangat Karina pada Arion.
"Iya Yang, tapi rasanya setiap aku melangkah mikirnya aku akan tersandung atau nabrak," sahut Arion melepas kacamatanya. Karina tersenyum simpul.
Maria dan Amri menuju mobil mereka. Tepat pukul 10.00, mereka meninggalkan Tirta Hospital. Menuju rumah Karina yang hijau, nyaman dan tentram.
***
Halaman luas kediaman Argantara, terlihat ramai dengan para pekerja Organizer Wedding. Acara pernikahan Darwis dan Joya, baik ijab qabul maupun resepsi dilaksanakan di sini. Tidak di luar kediaman.
Tenda-tenda untuk para tamu undangan nantinya mulai dibangun dan disusun. Ruangan dalam juga dirapikan dan disusun untuk acara ijab qabul.
Joya dengan Reza kini tengah duduk berdua di sofa. Wajah ceria terukir di wajah mereka.
__ADS_1
"Semoga acara pernikahan Joya dengan Darwis lancar ya, Pa," harap Joya bersandar pada bahu Reza. Reza mengusap pundak Joya.
"Tentu Joya. Papa tidak sabar melihatmu bersanding dengan suamimu nanti di pelaminan," ujar Reza.
Ceria, jauh di lubuk hatinya terasa sedih. Reza menitikkan air mata. Mengingat nantinya Joya akan diboyong oleh Darwis darinya dan dari rumah ini. Meninggalkannya seorang diri. Bukankah ayah adalah lelaki pertama yang anak cintai?
Walaupun Reza ambisius dan jarang sekali berkumpul dengan Joya, tetap saja di dalam hatinya menginginkan waktu-waktu berharga bersama Joya. Dua hari lagi, Joya akan resmi menyandang status dan tugas istri. Tugasnya pun tinggal menjadi wali untuk Joya.
"Rajin-rajinlah kunjungin Papamu yang sudah renta ini, Putriku. Jangan lupakan Papa jika kau sudah tinggal bersama suamimu nanti," pinta Reza lirik.
Joya mengernyitkan dahinya. Menatap rumit Reza.
"Papa bicara apa? Tentu saja Joya akan kunjungin Papa. Jika perlu aku dan Darwis akan tinggal di sini nanti. Bersama Papa," jawab Joya.
Reza tersenyum dan mengusap rambut Joya. Joya memeluk Reza erat. Menumpahkan air mata campuran. Sedih dan bahagia.
"Itu keputusan kalian nantinya. Papa tidak bisa mencampurinya. Papa hanya bisa menasehati kalian agar tak seperti Papa. Jangan sampai suami nanti melakukan apa yang Papa lakukan pada Mamamu,"ucap Reza.
Reza adalah orang yang kejam selama ini. Pernikahan perjodohan dengan mamanya Joya membuahkan kekerasan dalam rumah tangga. Apalagi Reza adalah mafia. Kesalahan sedikit saja, tubuh mamanya Joya akan terluka. Hukuman yang Reza berikan apabila melakukan hal yang ia kesalahan dilakukan di belakang rumah setelah Joya tertidur lelap.
Jika di depan Joya mereka akan harmonis layaknya pasangan bahagia pada umumnya. Hingga pada usianya 10 tahun, mamanya Joya dinyatakan meninggal dalam kecelakaan. Joya sedih, sangat sedih. Untuk itu Reza mulai menyeret Joya ke dalam dunia gelap mafianya.
Joya perlahan melupakan kesedihannya. Reza tentu saja bahagia. Reza yang melihat Joya serius pada mafianya, mulai beraksi. Bermain dengan para wanita malam untuk memuaskan gejolak hasrat di dalam tubuhnya.
Pernah sekali Joya memergoki Reza dan salah seorang wanita malamnya tengah bermain di kamar Reza. Kala itu Joya baru saja tiba di rumah, kembali dari acara perkemahan. Mendengar suara aneh, Joya mencari dan menemukan pemandangan laknat. Tidak laknat sih kalau sah, tetapi ini sebatas saling memuaskan.
Joya membeku. Melihat papanya asyik bermain. Reza menoleh kala itu. Gelagapan dan mencari kain untuk menutupi tubuhnya. Menjelaskan segala cara agar Joya percaya dan tak salah paham padanya. Dibius adalah alasan yang paling cocok. Akhirnya wanita yang bermain dengan Reza tadi yang menjadi korban. Dua peluru bersarang di dadanya.
"Mama? Bukannya Papa dan Mama sangat harmonis? Masa' Papa mau mengatakan bahwa hubungan Darwis dan Joya nanti jangan sampai harmonis? Papa mau kami perang setiap saat begitu? Papa jahat ih," kesal Joya tak suka. Reza diam. Dia keceplosan. Untung saja tak secara gamblang ia sebutkan.
Joya nampak murung. Kelihatannya anak Reza ini rindu dengan mamanya. Kesibukan sebagai Ketua Muda beberapa tahun belakangan ini membuatnya tak punya waktu untuk mengunjungi mamanya.
Bukan hanya itu, tangis pilu dan ratapan sedihnya juga selalu menghantuiku, entah bagaimana keadaanmu sekarang. Aku akan menjemputmu dari sana. Maafkan aku Elsa. Aku ada segera datang padamu. Aku mencintaimu, batin Reza.
"Pa kita ziarah ke makam Mama ya?" ajak Joya semangat. Mulai menghapus kesedihan.
"Hari ini?" tanya Reza memastikan.
"Iya," jawab singkat Joya.
"Baiklah," ujar Reza. Joya tersenyum dan segera ke lantai atas menuju kamarnya. Reza pun beranjak menuju kamarnya.
***
Setelah makan siang, Reza dan Joya berangkat menuju pemakaman umum. Pemakamannya sama dengan tempatnya pemakaman Enji.
Satu jam kemudian mereka tiba di pemakaman. Mereka segera melewati gang-gang pemisah antara satu pusaran dan pusaran lainnya. Mencari letak pusaran di mana Elsa dimakamkan. Akibat lama tidak berziarah dan kondisi pemakaman yang banyak berubah, membuat kedua sulit mencari pusaran yang mereka cari.
Dengan bantuan penjaga makam, kini mereka berdiri di samping pusaran bernama nisan Elsa Rianti, Joya berjongkok dan membersihkan beberapa lembar daun yang ada di atas pusaran. Reza tetap berdiri dengan wajah datarnya.
Setelah berdoa untuk Elsa, mereka kembali ke mobil dan pulang ke rumah tentunya.
***
__ADS_1
"Bagaimana? Sudah dapat titik terangnya?" tanya Enji pada bawahannya. Bawahan yang terdiri atas dua orang dan kembar itu berpandangan. Bedanya cuma gelang inisial yang melekat pada tangan mereka.
"Belum Tuan. Insiden itu sangat rapi. Tak bisa menemukan cela di sana," jawab salah seorang dari mereka.
"Hmm … selidiki terus," titah Enji mendesah kasar.
"Baik," jawab keduanya segera keluar dari kediaman Enji.
Enji melamun mengingat Karina. Ia tahu, Karina dapat tegar di luar namun sedih di dalam hati. Mau menyesali keputusannya pun tak berguna. Yang telah berlalu biarlah berlalu.
"Ji, lebih baik kau kembali saja pada kakakmu. Kasihan dia. Dia butuh dukungan. Ya walaupun banyak yang mendukungnya aku yakin dukungan darimu lebih berarti. Lagipula kau sudah sembuh. Tinggal perawatan beberapa aspek saja. Dan itu bisa dilakukakan dimanapun," saran Riri yang baru datang dari belakang dengan membawa nampan berisi obat dan segelas air hangat.
"Jika aku sudah sembuh kok masih minum obat?" tanya Enji menggembungkan pipinya.
"Ini yang terakhir. Ke depannya cuma vitamin yang rasanya manis seperti diriku ini," jawab Riri dengan senyumnya.
"Narsis. Mana yang manis, aku mau mencobanya. Bolehkan?" tanya Enji tersenyum menggoda Riri. Cuma godaan pura-pura. Tapi mampu membuat Riri memerah malu.
"Kenapa malu? Mana biar ku coba. Katanya dirimu manis," ucap Enji.
"Kau ini, minum saja obatmu. Aku rasanya pahit. Lebih pahit dari obat ini. Cepat minum," titah Riri duduk dengan wajah kesalnya namun wajah seperti kepiting rebus.
Enji langsung meminum obatnya sekali telan dibantu dorongan air.
"Kalau kau pahit, bagaimana nanti jika Faisal merasakanmu? Kau mau memberinya madu satu gentong? Atau kau mau mandi air gula?" tanya Enji mengejek Riri.
"Kau … kau mengejekku?" kesal Riri mendelik pada Enji. Enji terkekeh.
"Kau marah? Lucu sekali kau ini Ri," ujar Enji.
"Aku akan pulang. Hari Minggu," ucap Enji serius kemudian. Riri mulai ikut serius.
"Aku akan persiapkan segala," ujar Riri.
"Hmm … kabari Faisal. Dia juga harus tahu hal ini," ujar Enji.
"Mengapa harus memberitahu dia?" tanya Riri.
Enji berdiri dan tersenyum. Riri menatapnya dengan heran.
"Karena dia juga dokterku dan juga calon suamimu," jawab Enji langsung kabur ke kamarnya.
Riri mengerjapkan matanya. Faisal memang dokter Enji juga. Oke dapat diterima. Akan tetapi calon suami? Calonnya? Pacaran saja tidak, kata suka saja tak terucap, bagaimana bisa jadi calon suami.
"Cie dia melamun. Pasti mengkhayal ya? Mana mau Faisal sama wanita tua seperti," ledek Enji teriak dari pintu kamarnya.
Blush.
Enji berhasil menggoda Riri lagi. Riri mengepalkan kedua tangannya.
"Enji, sialan kau!" pekik Riri kesal sampai tingkat tertinggi.
Faisal gak suka sama aku? Kok rasanya sedih ya? Nyesek gitu di sini, batin Riri memegang dadanya.
__ADS_1
Akh … apa aku berharap pada Faisal? Ya Tuhan berikan gambaran yang jelas tentang masa kecil hamba. Jika Faisal memang lelaki yang selalu hadir dalam mimpi hamba, satukanlah kami. Hamba mohon, harap Riri dalam hati.
***