Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 399


__ADS_3

Aldric semakin gugup mendekati detik-detik ijab qabul. Tangannya berkeringat dingin saat menjabat tangan wali hakim nikah untuk Sasha. Sasha juga gugup tapi ia yakin Aldric pasti bisa. 


Di belakang keduanya, duduk sudah Karina dan keluarga. Karina, Arion, dan Enji tampak tetap mengenakan setelan kerja mereka. Anak-anak yang ikut juga hanyalah tiga anak termuda Karina. Sedangkan yang lain, Ali, juga Laith belajar di sekolah. 


Elina memegang handphone merekam acara ijab qabul yang akan segera berlangsung. Direkam agar Aleza dan Emir bisa menyaksikannya dari tempat mereka berada. Sebenarnya Aleza ingin pulang, akan tetapi Emir tidak mengizinkan. Emir khawatir akan perjalanan yang jauh dengan kondisi Aleza yang tengah hamil trimester pertama. Awalnya Aleza kekeh ingin pulang, Emir bahkan hampir menyetujui. Untunglah Karina turun tangan dan akhirnya Aleza menurut. 


"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan saya kawinkan kamu dengan Sasha Mahendra, anak perempuan Candra Mahendra sebagai orang yang mewakilkan kepadaku dengan mahar sebesar seperangkat alat salat tunai!"ucap wali hakim.


"Saya terima pernikahan dan perkawinan ini untuk saya, dengan mahar yang telah disebutkan!"jawab Aldric lantang dalam sekali tarikan nafas. 


"Bagaimana para saksi, Sah?"


"Sah!"


Penghulu mengucapkan syukur kemudian memanjatkan doa. Helian menitikkan air mata, tersenyum teduh melihat adik kandungnya sudah menikah dengan pria yang ia cintai. Biarpun bukan ia yang menjadi walinya, tapi setidaknya Helian menyaksikan secara langsung moment bahagia ini.


Tepuk tangan meriah kala Aldric mencium kening Sasha untuk pertama kalinya. Perasaan haru dan bahagia sangat mendominasi pengantin baru itu.


Sasha menitikkan air mata kala bibirnya mencium punggung tangan sang suami. 


Setelah menandatangi surat nikah dan sesi pengambilan gambar, mereka melangkah keluar dari ruangan dan kini berkumpul sejenak di depan KUA. 


"Sasha! I'm verry happy for you. Selamat menempuh hidup baru, saudaraku! Aku doakan kalian langgeng selalu dan cepat punya anak. Maaf aku tidak bisa hadir langsung, tapi tenanglah saat usia kandunganku sudah aman aku akan segera pulang. Aku akan tetap pulang biarpun mereka melarangnya! Aku sangat merindukanmu!" 


Sasha tersenyum lebar mendengar ucapan Aleza. 


"Tidak. Jangan bahayakan kehamilanmu. Apa kau tahu, aku dapat hadiah bulan madu di tempatmu. So kita akan segera bertemu."


"Benarkah? Ini serius kan?"


Sasha mengangguk.


"Bagus! Aku akan mengajakmu berkeliling. Sha biarpun di sini tanah tandus tapi tidak sepanas yang kau bayangkan. Ah kau belum pernah naik unta kan? Nanti kita jalan-jalan naik unta. Setelah itu berbelanja dan …."


"Stop. Stop Leza. Kita akan lakukan apa yang bisa kita lakukan di sana nanti. Dan mengapa aku merasa kau lebih banyak bicara sekarang?"


"Eh benarkah? Perasaan biasa saja. Ah lupakan saja. Anggap saja bawaan bayi. Tapi kapan kalian berangkatnya?"


"Kemungkinan besok pagi. Ada perayaan kecil di markas sore nanti."


"Baiklah. Aku akan menunggu kalian."


Setelah berbicara beberapa patah lagi, percakapan itu diakhiri.


"Sha sejak kapan kita dapat hadiah pulang ke Maroko?" Aldric mengeryit heran.


"Baru saja. Kau tidak ingin pulang ke kampung halamanmu?" Karina menjawab. 


"Kakak?"


"Ya?"


"Terima kasih."


"You are welcome."


"Pernikahan kalian sudah selesai. Papa dan Mama juga masih ada urusan. Kami pergi lebih dulu ya," ucap Amri.


"Aku juga ada meeting. Enji nebeng sama Papa dan Mama ya?"


"Ya sudah ayo."


Dan ketiga orang itu meninggalkan KUA.


"Aku juga harus mengantar Mira ke rumah sakit, kami pergi dulu."


Gerry dan Mira masuk ke mobil, disusul oleh Li dan Elina. 


"Lantas kami naik apa?" Baru sadar bahwa tidak ada mobil untuk mereka tumpangi lagi. Karina mana mungkin, Arion gelahatnya saja sudah sibuk melihat waktu.


"Sayang aku pergi lebih dulu ya. Meeting ternyata dipercepat," ucap Arion.


"Baiklah. Hati-hati di jalan."


"Anak-anak, Papa berangkat kerja dulu ya. Assalamualaikum," pamit Arion.


"Waalaikumsalam Papa. Papa semangat kerjanya ya!"


Arion mengangguk, mobilnya segera meninggalkan KUA.


"Nona, bagaimana dengan kami?" Sasha menatap Karina, memelas.


"Tuh kendaraan umum banyak. Nggak mungkin nggak ada ongkos kan?"


Sasha menghela nafas pelan sedangkan Aldric sedikit tercengang. Saat hendak berangkat tadi mereka bagaimana raja dan ratu, mengapa saat pulang malah seperti raja dan ratu yang kehilangan kekuasaan? 


Bara terkikik geli melihat wajah Aldric yang kini bingung. Karina tertawa pelan.


Anak-anak masuk ke mobil, begitu juga dengan Karina.


"Sha apa kalian tidak mengerti maksudku?"tanya Karina sebelum menutup pintu.


"Maksud Nona?" Alis Sasha mengerut mencari jawaban. 


"Nggak paham?"


Karina melirik ke arah gerbang KUA. Di seberang jalan sana ada tempat penyewaan sepeda. Sasha mengikuti arah lirikan Karina.


"Apakah?"

__ADS_1


"Benar. Bersenang-senanglah. Tapi jangan sampai kalian lupa waktu!"ucap Karina. Senyum Sasha mengembang, mengangguk paham sedangkan Aldric masih bingung.


Pintu tertutup, mobil putih itu segera melaju pergi.


"Sha?"


Aldric menggenggam jemari Sasha.


"Kita naik sepeda, jalan-jalan keliling taman sebelum pulang," ujar Sasha menuju tempat penyewaan sepeda di seberang jalan.


"Tapi Sha, kamu kan pakai kebaya?" Aldric menawar, Sasha tersenyum.


"Ada toko pakaian di sebelahnya."


"Aku pakai jas. Aneh rasanya pakai jas naik sepeda." Kembali menawar.


"Kamu gengsi?"


"Errr …." Aldric menyentuh kepalanya, terlihat gelagapan. 


"Aldric kamu aneh. Ada yang kamu sembunyikan dariku?"


"Err … tidak ada. Hanya saja …."


"Hanya saja?" Sasha mendesak Aldric. Bulir keringat mulai bermunculan, Aldric memalingkan wajahnya.


"Aku tidak bisa naik sepeda." Wajahnya memerah malu. Sasha tertegun sejenak. Tak lama tersenyum lebar.


"Begitu rupanya. Ternyata ada hal yang tidak bisa dilakukan oleh suamiku ini. Baiklah kalau begitu biarkan istrimu ini yang mengajarimu mengendarai sepeda!"ucap Sasha dengan mata berbinar.


"Uh haruskah kita bersepeda?"


"Aku tahu kelemahanmu. Ayo temani aku beli pakaian, kau juga ganti pakaian." Sasha menarik lengan Aldric untuk menyeberang. Terlebih dulu masuk ke toko pakaian. Tak lama keluar dengan pakaian couple. Sasha yang sangat bersemangat langsung menuju tempat penyewaan sepeda. Memilih satu sepeda dan membayar biayanya di muka.


"Mengapa cuma satu?"


"Kan kamu nggak bisa naik sepeda. Ayo naik, aku yang akan memboncengmu," jawab Sasha.


Aldric yang memegang bag belanjaan menatap Sasha dan sepedanya. Tidak ada tempat untuk duduk. 


"Naik di mana?" Sasha menghela nafas pelan. 


"Tuh kan ada pijakannya, kamu berdiri di sana terus pegangan  di bahuku. Tasnya sini."


Aldric mau tak mau menurut. Awalnya cukup payah. Terlebih postur tubuhnya yang tinggi tegap. Aldric kagum dengan kekuataan Sasha. Bisa menjaga keseimbangan saat ia masih berusaha berdiri.


"Sudah?"


"Hm."


"Pegangan yang kuat ya. Aku tidak tanggung jawab jika kamu jatuh!"


"Kau ini!"gerutu Aldric. Aldric memekik pelan saat Sasha mulai mengayuh sepedanya. 


Dan lagi-lagi dunia terasa terbalik. Sepanjang jalan mereka menjadi perhatian. Senyum lucu yang 


canggung membuat Aldric tersenyum simpul.


"Kenapa? Kau malu?" Sasha tetap fokus ke depan.


"Kau tahu jawabannya."


"Ini pertama kalinya aku digondeng oleh wanita. Juga asing rasanya menjadi pusat perhatian." Nada pelan dan malu.


"Hahahaha. Jangan malu. Kamu tidak berbuat sesuatu yang memalukan. Justru kamu harus bangga karena punya istri yang strong dan cerdas sepertiku." Sasha tersenyum, melirik sekilas ke belakang.


"Ini tetap saja malu, Sha."


"Angkat saja wajahmu, jangan menunduk. Tidak semua orang serba bisa," ujar Sasha meyakinkan Aldric. Aldric melirik sejenak ke sekitar. Dan kini tidak ada lagi tatapan dengan senyum lucu seakan pemandangan ini hal biasa. Aldric tertegun sesaat melihat seorang pria yang dibonceng oleh seorang wanita, mengendarai sebuah motor sport dengan kecepatan tinggi.


"Ya." Senyum Aldric sumringah. 


"Aku paham sekarang," imbuh Aldric.


*


*


*


"Loh-loh kok pengantin prianya kayak habis kecelakaan gini?" Gerry menatap cemas Aldric yang datang dengan dipapah oleh Sasha. Terlihat lutut yang dibalut dengan dasi dan ada perban di pelipis. 


"Kalian kemana saja? Kenapa jadi begini?"


Bukannya cepat menjawab, Aldric malah tersenyum lebar. Gerry menatap Sasha.


"Jatuh dari sepeda, Kak."


"Jatuh dari sepeda? Bagaimana bisa?"


"Tadi aku ngajari Aldric naik sepeda di taman kota. Tapi berulang kali Aldric jatuh. Sudah dibilang cukup Aldric tetap kekeh. Baru berhenti setelah lancar jadinya gini deh."


"Hahaha akhirnya aku berhasil! Aku lega sekali." Aldric tertawa. Sasha mendengus sebal sedangkan Gerry terkekeh pelan.


"Berhasil sih berhasil tapi lihat kondisimu!"


"Ini sebanding!"


"Ck, undur saja jadwal kepergian kita ke Maroko!"

__ADS_1


"Eh tidak perlu, Sha. Ini cuma luka ringan. Diobati sama dokter Rey saja sudah sembuh. Jangan marah ya, oke?" 


"Benar tidak papa?"


Aldric mengangguk.


"Baiklah. Ayo ku antar ke kamar."


"Hei jangan ke kamar lagi, tapi kamar kalian. Kalian sudah suami istri!"tegur Gerry.


Astaga aku lupa. Suami istri? Apakah nanti malam aku akan dilalap olehnya? Sasha merinding malu dan secepat kita berlari meninggalkan Aldric dan Gerry.


"Hei Sasha! Sasha apa yang kau lakukan?"teriak Gerry.


"Huh dia malu, Kak. Kakak sih mengingatkan dia tentang malam nanti."


"Hei bocah polos, apa kau sudah belajar tentang itu?"


"Hehehe ada banyak buku tentang itu di perpustakaan. Aku sudah mengingat semuanya."


"Tapi kondisi begini apa sanggup?"


"Cuma luka ringan, apa masalahnya?"


"Yayaya. Jika gairah sudah memimpin, kecuali saat-saat yang dilarang, masalah apapun tidak dianggap." Gerry mengangkat bahunya. Aldric tersenyum penuh arti.


*


*


*


Perayaan sederhana di markas tengah berlangsung. Di sebuah pelaminan sederhana duduk sepasang sejoli yang menikmati acara sore ini. Perayaan hanya berupa makan bersama, adapun hiburan dibawakan oleh anggota markas sendiri. Anggota tak canggung-canggung untuk menarik bersama diiringi oleh irama yang menggembirakan. Bahkan kedua pengantin saja ditarik untuk ikut menari. 


Pesta pernikahan yang jauh berbeda dari Emir dan Aleza. Perayaan pernikahan ini lebih ke tradisional mirip dengan pesta rakyat sedangkan pesta pernikahan Emir dan Aleza kemarin lebih mirip jamuan istana yang megah.


Tapi apapun itu bentuk perayaannya, megah atau sederhana, besar atau kecil yang paling utama adalah kebahagian yang terkandung di dalamnya. Yang utama semua bahagia, terlebih pengantin yang tampak lebih enjoy dengan begini.


Karina dan keluarga baru bergabung ke perayaan sehabis magrib. 


Ah ada kabar bahagia lagi. Saat ini Karina tengah mengandung anak keenamnya. Tentu saja, segenap anggota Pedang Biru lebih berbahagia dan bersuka cita. 


Arion, pria itu semakin posesif pada Karina, begitu juga dengan Enji dan kedua mertuanya. Dan jangan lupakan keenam anak Karina. Karina diperlakukan layaknya sebuah giok tak ternilai, padahal Karinanya sendiri masih sering bertingkah sembarangan.


"Mama jangan minum alkohol!"pekik Bintang saat melihat Karina hendak meminum wine.


"Why?"


"Ibu hamil nggak boleh mengonsumsi alkohol. Bahaya untuk dedek bayinya!"jawab Bintang serius.


"Benarkah? Seingat Mama saat mengandung kalian, Mama sering minum alkohol. Tapi kalian nggak papa tuh?"


"Tetap saja. Nggak boleh!"


"Bintang jangan seperti itu."


"Maksudmu apa?"


"Melarang Mama sekarang hanyalah angin lalu. Mama bisa minum kapanpun ia mau. Di kamar juga ada selusin wine. Menurutmu apa yang harus kita lakukan?"


Karina merasakan perasaan tidak enak mendengar anak-anaknya yang berdiskusi.


"Ar …."


"Mereka melakukan hal yang benar. Berhentilah sebentar minum alkohol."


"Benar Kakak. Biar aku saja yang mengantikan Kakak minum!"


Enji merebut gelas Karina dan menenggaknya hingga tandas. Karina melongo, ingatannya kembali saat ia masih mengadung Bintang dan Biru.


Ibu hamil bisa minum alkohol asalkan sesuai dengan dosisnya. Lagipula aku punya toleransi tinggi sama alkohol. Dan lihat tatapan mereka seakan hendak menerkamku jika aku melakukan hal-hal yang dianggap bisa membahayakan janinku. Ah sudahlah. Dirawat oleh anak dan suami, rasanya sangat menyenangkan.


"Oke!" Bintang berseru lantang.


"Sudah diputuskan. Mama dilarang minum alkohol, kopi, dan makanan lain yang berpotensi menyebabkan dedek bayi celaka. Nenek telpon Bik Mirna agar menyingkirkan semua minuman alkohol dan soda di rumah!"


"Uh Bintang, tidak seperti itu juga!" Karina tidak rela wine, anggur dan minuman lainnya disingkirkan dari rumah.


"Hah. Kalian ini berpikir terlalu jauh. Tidak perlu menjauhkan alkohol dari Mama kalian. Apa kalian pikir Mama kalian ini akan patuh? Dan Papa yakin Mama kalian tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan calon adik kalian. Jika iya, apa kalian yakin kalian ada di sini sekarang?" Arion memberi tatapan tajam.


"Benar juga." Dan mereka kembali berdiskusi.


"Kami putuskan Mama boleh minum, cukup secangkir kecil ini!" Bintang menunjuk cangkir seukuran tutup botol sirup dengan lambang sebuah pohon.


"Ya baiklah."


Karina menerima keputusan itu. 


*


*


*


"Sha, apa kau siap?"


"Ya, lakukanlah."


"Katakan jika sakit."

__ADS_1


"Oke."


Dan ya terjadilah hal yang biasa dilakukan saat malam pertama. Malam semakin larut, tapi kegiatan pasangan pengantin baru itu belum usai. Ya ya gairah pengantin baru memang besar. 


__ADS_2