
Pukul 19.00, Karina, Arion, Enji, Bayu dan keluarga Lin tiba di markas pedang biru. Mata keluarga Lin tampak terbelalak, mereka tidak tahu bahwa Karina adalah bagian dari Pedang Biru.
"Tak perlu takut, aku membawa kalian kemari bukan sebagai tahanan tetapi rekan," ucap Karina tersenyum.
"Jadi enjoy saja," timpal Enji.
"Baiklah," sahut Pak Lin pasrah. Mau lari pun tak bisa. Gerbang dan segala sisi dijaga ketat sedangkan mereka tak ada pengalaman atau keahlian yang mumpuni di bidang bela diri.
Maka jadilah mereka dengan kepala tertunduk takut-takut masuk mengikuti ke mana arah langkah Karina dan Arion membawa mereka.
Tiba di perempatan, Karina menghentikan langkahnya dan menjentikkan jarinya. Dua orang anggota mendekat dan membungkuk di hadapan Karina.
"Antarkan keempat orang ini ke kamar tamu, layani mereka dengan baik!" titah Karina.
"Baik Queen," sahut keduanya.
"Mari Tuan, Nyonya," ujar salah seorang anggota mempersilahkan keempat orang itu agar mengikuti mereka.
Keluarga Pak Lin berjalan menuju arah selatan sedangkan Karina dan lainnya meneruskan langkah lurus ke timur.
"Saatnya bekerja," ucap Karina saat tiba di ruang kerjanya.
"Kak, tadi aku sudah mencoba mencari tapi tak dapat," aduh Bayu membuka laptopnya.
Karina hanya menoleh sekilas dan menghidupkan laptopnya. Arion duduk di depan Karina, dipisahkan oleh meja kerja. Ia membuka handphone dan memeriksa sejenak masalah perusahaannya.
Sesudah laptopnya menyala, Karina langsung masuk ke dalam sistem chip anggotanya. Mengetikkan nama Nita dan melacaknya.
Tak butuh waktu lama, lokasi Nita sudah dikantongi Karina. Karina tersenyum tipis dan membuka emailnya, mengenai perusahaan dan organisasinya.
"Bagaimana Kak? Sudah ketemu?" tanya Enji. Enji sendiri santai sembari menikmati minuman yang ia minta dari bagian dapur.
"Sudah, masalah kecil kalau anggotaku hilang," sahut Karina.
"Uhuk?!" Bayu dan Arion terkejut dan menatap Karina tak percaya. Melihat tatapan itu, Karina memutar bola matanya dan menutup setengah bagian laptopnya.
"Secepat itu?" tanya Arion tak percaya.
"Ck, biarpun aku terkesan acuh, masalah anggota dan karyawanku tersusun rapi dalam sistemku. Di dalam tubuh mereka itu terdapat chip yang terpasang di dalam tubuh mereka tanpa mereka sadari atau tidak. Disadari pun mereka tak berani melepas, rasa sakitnya jika dilepas, nyawa melayang akhirnya!" tegas Karina. Arion dan Bayu mengangguk paham.
"Oh jadi jika dilepas paksa tanpa sepengetahuan kakak, akhirnya ia akan tewas? Tapi jika kakak yang melepaskan bagaimana?" tanya Enji, yang juga masih penasaran. Karina menyangga dagunya dengan tangan kanannya.
"Ada dua kemungkinan juga, mati atau berhasil. Perbandingannya 50:50," jawab Karina datar.
"Hm, pantas saja kau punya begitu banyak apartemen dan markas, ternyata mereka sampai mati setia dengan Pedang Biru, lalu bagaimana dengan para lansia dan anak yang mereka lahirkan nanti? Anggotamu kan tak cuma para lelaki," tanya Arion.
"Ya hidup bebas di luar, jika aku butuh tinggal aku panggil lagi. Kalau masalah anak dan wanita hamil, ada apartemen bukan? Selain itu aku sepertinya juga punya pulau dan beberapa kampung pribadi, juga beberapa pegunungan atas namaku, itu adalah tempat mereka beristirahat di hari tua, jelaskan?" Karina tersenyum. Arion dan Enji serentak berdecak, antara kagum dan kesal.
"Kalau begitu di mana posisi nenek dan paman? Apa masih berada di kota ini atau bagaimana?" tanya Bayu.
__ADS_1
"Hm, posisinya ada di kota Ulsan, sepertinya itu gudang atau pabrik tua yang sudah diangguri, tak beroperasi lagi, seperti gudang pembuatan tekstil," jawab Karina.
"Kita bertindak malam ini?" Enji menatap Karina. Karina menggeleng.
"Subuh saja, aku lelah, ingatlah aku bukan lagi wanita single, sekarang lihat diriku, aku sedikit tambah gemuk," ujar Karina, berdiri dan memutar tubuhnya menunjukkan bentuk tubuhnya.
Arion berdiri dan menghampiri Karina.
"Benar, besok saja. Kau dan anak-anak kita butuh istirahat sekarang. Ayo ke kamar dan tidur," ujar Arion memegang tangan Karina.
"Eits, tunggu dulu, lambungku minta makan, aku makan malam dulu baru tidur," tahan Karina.
"Ah ya benar, anak dan istriku makan dulu, ayo," ajak Arion. Dengan bergandengan tangan, keduanya menuju ruang makan untuk mengisi perut. Bayu dan Enji saling pandang. Bayu tersenyum smirk. Enji menatap Bayu bingung.
"Apa?" tanya Enji.
"Lapar, mau makan," jawab Bayu.
"Lalu? Ayo ke ruang makan dan makan," sahut Enji.
"Gendong," ucap Bayu mengangkat kedua tangannya ke depan.
"Ck, usiamu sudah hampir 8 tahun, bisa encok ayah jika menggendongmu," gerutu Enji.
"Ayah, kau tak pernah menggendongku dari aku umur 0 hari di dunia ini sampai umur kurang lebih 7 tahun baru bisa bertemu denganmu, ayolah Yah!" Bayu menatap Enji tajam. Bukan tatapan memelas.
Enji tertegun. Tak lama ia tersenyum dan menundukkan tubuhnya untuk menggendong Bayu.
"Jika aku tak lupa," sahut Bayu. Enji segera melangkah menyusul Karina dan Arion ke ruang makan.
***
Waktu menunjukkan pukul 22.00, mata kakek Bram yang terpejam, kini mengerjap pelan. Tak lama kemudian, mata kakek Bram telah membuka sempurna, mengeryir dan menyipit melihat silau cahaya dan warna biru muda yang ia tatap.
Kakek Bram memejamkan matanya sesaat, mengingat apa yang terjadi.
Teringatlah ia kejadian sewaktu di taman dan saat ia di tabrak serta saat ia sadar beberapa saat sewaktu di ruang UGD.
Semoga dokter itu tepat janji padaku, batin kakek Bram membuka matanya.
Kakek Bram berusaha bangkit, ia ingin bersandar di kepala ranjang sembari mencari cara agar ia bisa menemukan anak dan istrinya yang diculik.
Kakek Bram kemudian menghela nafas panjang. Kepalanya terasa pusing.
Ceklek!
Terdengar suara pintu terbuka, kakek Bram mengangkat pandangannya ke depan, melihat pintu masuk. Bukan pintu itu yang terbuka.
"Ayah, kau sudah sadar? Bagaimana perasaanmu? Apa kau merasa sakit?" tanya Maria. Ternyata Maria baru saja keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
"Kau? Menantu? Bagaimana bisa kau di sini? Dan bagaimana kalian tahu aku di sini?" tanya kakek Bram secara beruntun, bingung.
Maria tersenyum dan mendekati kakek Bram.
"Nanti akan menantu ceritakan, sekarang aku akan memanggil dokter untuk memeriksa keadaan ayah," jawab Maria menekan bel memanggil dokter.
Tak lama kemudian, seorang dokter yang menangani kakek Bram tadi datang bersama seorang suster diikuti oleh Amri yang tak sengaja berpapasan dengan mereka berdua.
"Ah Anda sudah sadar, syukurlah," ucap lega sang dokter.
"Ayah, leganya kau sudah sadar," ucap Amri dengan nada lembut, mendekati Maria.
Kakek Bram nampak kembali tertegun dengan nada bicara Amri padanya. Nada bicara yang berbeda selama ini. Biasanya kalau tak datar ya ketus. Ah kakek Bram sadar, ini juga salahnya. Dia yang membuat sikap Amri padanya berubah. Andai saja waktu bisa diputar ke masa lalu, pasti kakek Bram tak akan melakukan kesalahan fatal yang membuat hubungan keluarga merenggang.
"Anda harus istirahat total Tuan, Anda dapat kembali ke rumah dua atau tiga hari ke depan, agar kondisi Anda benar-benar stabil dan oke," ucap sang dokter setelah memeriksa kakek Bram.
"Tunggu dokter, bukankah hanya ketabrak mobil pelan saja? Mengapa sampai selama itu?" tanya Amri heran. Sang dokter nampak terdiam, tak lama ia tersenyum.
"Begini Tuan, kondisi fisik kakek tak seperti kita, tubuh beliau sudah rentan, walaupun hanya pelan, tetapi mampu membuat kakek pingsan bukan? Dan kami memang harus memantau kondisi beliau beberapa hari ke depan," jawab sang dokter.
Amri masih menatap curiga dokter dan kakek Bram.
Ada yang aneh, batin Amri menatap Maria. Maria mengangkat satu alisnya tak paham.
"Kalau begitu kami pamit dulu, hubungi kami jika Anda masalah," ucap sang dokter.
"Kalian berdua? Aku … aku harus pergi," ucap kakek Bram datar berusaha berdiri, sesaat setelah dokter keluar dari ruang rawatnya.
"Ayah, kau masih sakit!" Amri menahan kakek Bram. Kakek Bram menatap datar Amri dan meronta.
"Biarkan aku pergi! Aku harus mencari anak dan istriku!" ketus kakek Bram.
"Ayah, Nita dan anak kalian, Arion, Karina, Enji dan Bayu yang mencarinya. Aku yakin pasti mudah untuk menemukannya, secara Nita itu kan anggota Pedang Biru," ujar Maria.
"Hah? Mereka juga di sini? Tunggu! Enji bukankah dia sudah tiada? Dan siapa itu Bayu?" Kakek Bram mengatur nafasnya yang memburu dan kembali duduk di ranjang.
"Iya, mereka juga di sini, mobil Karina yang menabrak Ayah tadi, masalah dua orang itu nanti saja kami ceritakan, sekarang Ayah makan dulu, lalu kembali istirahat. Masalah Ni- Nita dan anak kalian itu, serahkan saja pada mereka, pasti ketemu," timpal Amri, kesulitan menyebut nama asli Nita sebab biasanya Amri memanggilnya pelayan itu.
"Astaga! Sungguh kebetulan sekali," seru kakek Bram.
"Bukan kebetulan tetapi rencana, Nita, Karina dan istrimu merencanakan pertemuan kita di sini. Mereka ingin agar hubungan kita kembali erat sebelum peristiwa itu, istriku bilang, kebahagian keluarga Wijaya masih ada cela yaitu belum kembali eratnya kita berdua." Amri memegang kedua tangan kakek Bram erat.
"Apa maksud kalian ini? Cela? Mereka mau kita seperti dulu? Tetapi kau tak setuju bukan? Kau selalu menolak untuk kembali ke rumah dan memilih pergi ke negara Y, meninggalkan ayah dan ibu sendiri," ujar kakek Bram datar, namun tak bisa ditutupi matanya berkaca-kaca. Kakek Bram menunduk, sedangkan Amri berdiri tegak dan berbalik.
"Ayah, luka itu aku juga ikut mengukirnya. Saat malam tiba, aku selalu mengingat kejadian yang membuat hubungan kita merenggang. Terakhir adalah masalah kau yang ingin menikah lagi … maafkanlah aku Ayah, aku merasa egois selama ini. Namun gengsi dan ada amarah di dalam hati membuatku enggan meminta maaf duluan, padahal aku tak seharusnya seperti itu," ujar Amri, mulai terisak. Maria menyeka air mata yang mulai menurun.
"Kau? Kau sudah memaafkanku lahir dan batin kah Ri?" Suara kakek Bram terdengar tercekat. Amri kembali berbalik menatap kakek Bram.
"Benar Ayah, kita mulai lembaran baru lagi, melupakan kenangan lalu yang sakit, menjadikannya sebuah pelajaran," ujar Amri, memeluk kakek Bram.
__ADS_1
Kakek Bram tak bisa lagi menahan tangisnya. Kedua orang itu akhirnya menangis bersama dan saling berpelukan. Maria tersenyum puas dengan rencana yang mereka pikirkan berhasil. Walaupun tanpa rencana sesungguhnya.
Terima kasih Tuhan, kau membuat kami kembali bersatu, walaupun hanya sebentar aku akan menikmati dan menghargai setiap waktuku yang mungkin tinggal hitungan bulan, hah andai saja aku bisa lebih lama lagi hidup pasti akan sangat membahagiakan, batin kakek Bram tersenyum puas dan cerah.