
Joya mengerjapkan matanya bingung melihat apa yang ada di hadapannya dan di mana sekarang ia berpinjak. Bangunan berwarna biru berlist putih dengan lambang mawar dan pedang berwarna biru di atap bangunan, berkibar ria diterpa angin. Serta dua air mancur berbentuk kepala singa di depan pintu masuk.
Hari ini memang Darwis memboyongnya ke kediaman sang suami. Ia berpikir akan ke negara K nyatanya malah ke markas Pedang Biru.
It's ok. Tenang Joya, batin Joya.
Joya berpikir positif, mungkin saja ingin membahas kerjasama sekaligus silaturahmi sebelum ke negara K. Darwis sedari di perjalanan bungkam tak buka mulut. Kini pun sama, hanya senyum hanya sulit Joya artikan yang terpatri indah di bibir sang suami.
"Welcome in my home, Joya," ucap Darwis yang membuat Joya membelalakan matanya serta menepuk pipinya kuat. Sakit, bukan mimpi.
"Are you seriously?"tanya Joya.
"Yes, I'm seriously," jawab mantap Darwis.
"Don't joke, Wis. Not funny, we are in here to talk over cooperation. Really?"protes Joya kesal. Darwis tetap tersenyum. Menyapa dan membalas sapaan anggota Pedang Biru lainnya.
"Darwis, answer!"pekik Joya merasa diabaikan.
"I'm not joke Joya. It's true. It's my home. Karina is my Queen, I am member of Pedang Biru. Karina is owner Casino heart of Queen, not me. Welcome," jelas Darwis. Joya lemas seketika. Artinya ia sekarang secara tak langsung adalah Pedang Biru. Joya tahu siapa yang menikah dengan Pedang Biru otomatis menjadi anggota Pedang Biru. Khusus di luar keanggotaan Mafia ini ya.
Darwis menarik tangan Joya yang linglung. Pikiran Joya rasanya kosong.
Darwis membawa Joya menuju kamarnya. Sepanjang koridor mereka saling sapa layaknya semut, biarpun hanya senyum dan anggukan kecil.
"Wis, sudah balik saja kamu, kenapa istrimu itu? Kaget atau gimana?"tanya Li yang mau pergi ke rumah Karina karena ada panggilan. Maklum, Karina mode mager on. Jadi tinggal menelpon bawahan suruh datang ke rumah. Kok gak lewat handphone? Agar lebih jelas ceritanya.
"Kaget aku siapa," jawab Darwis.
"Li, aku ikut ya. Bosan di markas saja." Elina datang menyusul Li. Elina mengerutkan dahinya melihat Joya yang linglung dan diam saja bak batu. Ditarik pun ikut seperti kerbau dicucuk hidungnya.
"Oke, Eli," sahut Li.
"Kasih pengarahan dulu Wis, biar pikirannya balik. Awas kebablasan jadi masuk RSS dia. Kan kasihan hamil masuk RRS," saran Li. Darwis memicingkan matanya.
"RRS? Apaan tu?"tanya Darwis yang tak biasa dengan bahasa singkatan.
"Rumah sakit jiwa," jawab Elina mewakili Li.
Darwis ber-oh-ria.
"Komm schon Liebes," ajak Li pada Elina.
"Bahasa apa yang kau pakai?"tanya Elina bingung. Bahasa asing yang ia kuasai cuma bahasa inggris dan sedikit korea serta jepang.
"Let's go Honey," ulang Li menarik Elina.
"Joya? Shin' aina," panggil Darwis.
Joya mengerjapkan matanya dan melihat sekitar.
"Hai," jawab Joya.
Mereka kembali melangkah dengan pandangan Joya yang masih melihat sekelilingnya. Tiba di kamar, Darwis langsung mandi sedangkan Joya duduk di pinggir ranjang dengan tatap mengamati apa yang ada di kamar Darwis.
***
Li dan Elina sudah tiba di kediaman Karina. Li keluar mobil kemudian membukakan pintu untuk sang istri. Elina tersenyum manis.
Mereka kemudian menuju pintu masuk rumah dan mengetuknya. Pintu terbuka, Enji dengan gayanya yang cool namun cute menebarkan senyum. Mata Li membulat. Elina terlonjak kaget. Li dan Elina saling pandang kemudian memandang Enji yang memiringkan kepalanya, Enji sedang mengingat siapa dua orang ini.
"Kalian siapa?"tanya Enji.
"I'm Li and she is my wife, Elina," jawab Li dengan nada sedikit cemburu dan kesal. Li merangkul pinggang Elina posesif. Maklum, Enji kan mantan pengantin Elina. Takut cinta lama bersemi kembali walaupun Elina secara tegas mengatakan bahwa dialah satu-satunya cinta dan lelaki Elina. Enji malah mengerutkan dahinya. Enji adalah tipe pelupa jika sudah lama tak bertemu, kecuali pada Karina, kakak tercintanya.
__ADS_1
"Oh, what do you need?"tanya Enji.
"Oh Enji apa kamu melupakan aku dan Li? Kau adalah calon pengantinku dua tahun lalu dan Li adalah tangan kanan Karina," jelas Elina.
"I asked what do you need?"ulang Enji.
"Kami disuruh kemari, Enji apa kamu jadi stupid karena kelamaan menghilang?"tanya Li.
"Hmm … I'll remember for a moment. Wait," ujar Enji menutup pintu dan berjalan menemui Karina.
"Li anak itu pikun aku ternyata. Kita diginian masa', awas saja nanti dia caper sama kamu, ku jadikan koid dia sekalian," kesal Li berkacak pinggang. Li dan Elina memutuskan duduk di kursi yang tersedia di dekat mereka.
***
Sedangkan Enji menuju kebun buah samping rumah. Waktu sore hari adalah waktu yang indah untuk bersantai ditemani keluarga serta pelengkapnya. Apalagi di bawah pohon yang rindang dengan buah lebatnya. Teduh sekali rasanya. Membuat mata mengantuk dan tertidur.
Karina bersantai dengan membaca majalah bisnis serta dunia entertainment, dalam kurun waktu dua sampai tiga minggu belakangan ini.
Arion juga belajar membaca ditemani seorang ahli untuk penyandang disabilitas. Gurunya lelaki ya, kalau perempuan pasti nantinya kena kick sama Karina.
"Kak ada tamu, katanya ada janji sama kakak, eh maksudnya kakak suruh kemari," terang Enji mencomot otak-otak di atas meja.
"Who?"tanya Karina menoleh sekilas ke arah Enji.
"Li dan Elina," jawab Enji.
"Biarkan mereka masuk. Ada yang mau aku bicarakan," ucap Karina.
"Do you remember them, Enji?"tanya Karina menaikkan alisnya.
"Yes, I guess,"jawab Enji kembali beranjak untuk membuka pintu bagi Li dan Elina.
"Ayo masuk," ajak Enji ramah.
"Kek kek loe kira gue kakek loe hah? Dasar tua bangka, buyut!"teriak Enji kesal. Li abai dan menunjukkan jari tengahnya untuk Enji. Enji mengeraskan rahangnya.
"Gelud yuk, ngajak perang kamu ya,"kesal Enji mengejar Li dan Elina.
"Malas, untuk apa gelud sama orang penyakitan. Nanti jantung kamu kumat dan aku tak kau Karina sedih," sahut Li santai tanpa berbalik.
"Kau!"kesal Enji.
"Patience, Ji," ujar Elina mengerlingkan matanya sebentar ke arah Enji. Enji tertegun.
"Kerlingan ini, kayak pernah tahu, ah masa' stupid. Mending santai tidur di pendopo," gumam Enji berjalan menuju pendopo rumah.
***
"What?"pekik Li dan Elina kaget mendengar misi dari Karina. Arion dan gurunya refleks menutup telinga.
"Apaan sih?"gerutu Arion. Waktu belajarnya terganggu.
"Why?"tanya Karina santai melihat ekspresi terkejut dua anggotanya ini.
"Queen, Anda tahukan dia bintang besar? Bagaimana bisa kita menculiknya? Yang ada seluruh dunia heboh dan gempar," ujar Li.
"Apalagi dia leader boyband itu. Bisa-bisa polisi dunia turun tangan," tambah Elina.
"Ya tinggal ganti saja sama anggota kita. Untuk apa punya teknologi topeng? Cepat kerjakan, dalam 34 jam harus selesai," titah Karina tegas.
"Sayang, dalam 24 jam bukan 34." Arion meralat ucapan Karina.
"Terserah aku dong sayang, ya ada 34 jam, satu hari tambah 10 jam esok," jawab Karina.
__ADS_1
"Karina kamu serius?"tanya Li.
"Hm," jawab Karina.
"Baiklah," pasrah Li diikuti Elina. Lima belas menit kemudian mereka lanjut pulang.
"Sayang kamu mau culik siapa?"tanya Arion penasaran, sebab tadi Karina berbisik pada Li dan Elina kala mengatakan siapa yang mau diculik.
Karina mendekat pada Arion dan berbisik pelan. Mata Arion membulat seketika.
"What? Karina are you seriously?"pekik Arion kaget. Sang guru lagi-lagi menutup telinga.
"Tuan, Nyonya saya izin pamit sebab pembelajaran telah selesai," pamit sang guru mengemasi barangnya.
"Baiklah, besok datang pagi saja," ucap Karina. Sang guru mengangguk terpaksa. Beliau segera pergi.
"Iya Ar, aku serius," jawab Karina.
"Sayang kamu kan bisa bertemu langsung tanpa menculik. Lengkap lagi dengan ketujuh membernya bukan hanya leadernya, batalkan lah perintah itu," ucap Arion.
"Lebih asyik culik daripada ketemu langsung. Kita action dulu, kamu santai saja," sahut Karina santai.
"Aih terserah kamu lah sayang," ucap Arion pasrah.
Hmm kira-kira tahu siapa yang mau Karina culik?
****
"Kita bersembunyi dulu untuk beberapa bulan kedepan sampai dia melahirkan. Kita akan menculik anaknya. Aku yakin dia adalah emas yang berkembang. Ibunya hebat anaknya pasti juga hebat. Aku akan jadikan dia penerusku, penerus Robetto," titah seorang pria tua bernama Robetto. Berbicara di depan bawahannya yang berjumlah kurang dari 15 orang.
"Ketua kemana kita akan sembunyi?"tanya salah seorang anggotanya.
"Amazon, aku punya tempat rahasia yang tak seorangpun tahu. Hanya aku dan tuhan yang tahu," jawab Robetto.
"Wow amazon, anakonda aku datang untuk kulitmu," ucap bawahan Robetto girang.
"Aku ingin daging panggang ikan piranha," sambung anggota lainnya.
"Piranha bisa dimakan?"tanya Robetto.
"Makanya saya mau mencobanya," jawab anggota itu.
"Coba buaya guling saja sekalian, enak tu," timpal anggota yang lain.
"Boleh," setuju anggota lainnya.
"Hei kita mau sembunyi bukan travelling," gerutu Robetto.
"Tak apalah ketua, nanti saya buatkan Anda sate anakonda spesial resep turunan keluarga saya," tawa salah satu bawahannya.
"Terserahmu, jika tak ada kamu yang saya jadikan sate!"tegas Robetto.
***
"Li, aku pusing dengan Queenmu itu, punya kekuasaan dan nama baik di dunia malah mau buat skandal menculik leader boyband itu. Heran deh ah, untuk apa coba kekuasaan besar-besar kalau main belakang?"keluh Elina di tengah perjalanan menuju bandara untuk ke negara sang boyband.
"Kamu gagal paham, Li. Cara menculik kami adalah cara yang unik. Lihat saja nanti. Kamu datang bersamaku sebagai perwakilan KS Tirta Grub ke BHE, kita lihat saja keseruannya nanti," jawab Li santai.
Elina mengangguk.
Haih masa Karima ngidam ketemu Kim Nam Joon sih? Malah Enji dah balik, baru sadar wajahnya mirip JK, bukan Jokowi-Yusuf Kalla ya tetapi Kuki or Jungkook, hahahaha wanita dingin itu jadi Kpops, dengarkan lagu terbaru mereka saja lah, dedemit eh maksudnya dynamite, batin Elina.
Elina lantas memutar video lagu dynamite di handphonenya. Mereka menikmati lagi dan menggerakkan badan mengikuti alunan lagu.
__ADS_1