
Sesampainya di kediaman Wijaya, Arion segera mematikan mesin mobil dan segera keluar untuk membukakan pintu untuk istri tercintanya. Hatinya sangat cerah secerah malam minggu hari ini.
"Silahkan turun, Sayang," ujar Arion membungkuk hormat. Karina tidak bergeming dan menatap Arian penuh senyuman. Arian menaikkan satu alisnya bingung.
"Gendong," ucap Karina manja mengangkat kedua tangannya ke depan.
"Dengan senang hati Sayangku," sahut Arion langsung menggendong Karina ala bridal style.
Karina mengalungkan kedua tangannya ke leher Arion. Rumah sudah sepi, Amri dan Maria serta Bayu sudah memasuki kamar masing-masing dan menuju alam mimpi. Karina mendekatkan wajahnya ke telinga Arion dan mengigitnya gemas.
"Jangan nakal Sayang. Nanti kita jatuh," lirik Arion yang saat ini tengah menaiki satu -persatu anak tangga menuju kamar mereka. Arion berusaha keras menahan geloranya, sebab sepengetahuannya tamu bulanan Karina belum pergi.
"Aku ingin dirimu," ujar Karina menatap sayu Arion.
"Jangan menggoda. Kau tak akan tahan," ucap Arion pelan.
Kini mereka sudah tiba di pintu kamar. Arion ingin menurunkan Karina untuk membuka pintu namun Karina tak ingin turun.
"Bagaimana cara kita masuk ke dalam kamar jika aku tak menurunkanmu?" tanya Arion heran. Karena mengangkat tangan kanannya menunjukkannya ke hadapan Arion kemudian mengarahkannya membuka memutar handel pintu.
Ceklek.
Pintu terbuka.
"Masalah selesai," seru Karina mengangkat alisnya.
"Kau ini," ucap Arion pelan. Ia segera masuk dan membaringkan Karina di ranjang. Saat hendak bangkit lagi untuk menutup pintu, Karina malah menahan lehernya dan menatapnya menggoda. Hidung mereka bersentuhan. Mata mereka saling beradu pandang.
"Aku ingin dirimu," ujar Karina.
"Sayang. Bagaimana bisa? Tamumu kan masih belum pulang," tolak Arion halus.
"Dia sudah pulang tadi pagi," jawab Karina tetap memeluk leher Arion. Mata Arion membulat, senyumnya mengambang.
"Benarkah? Berarti kita bisa malam pertama sesungguhnya?" tanya Arion semangat.
Karina mengangguk. Tanpa aba-aba, Arion langsung mencium bibir Karina. Karina membalasnya. Lidah mereka saling melilit. Arion mengabsen setiap isi rongga mulut Karina. Arion melu*at bibir manis istrinya dengan semangat.
Karina semakin menarik leher Arion. Lima menit kemudian, Arion melepaskan ciumannya. Karina melepaskan pelukan di lehernya. Arion berdiri. Ia segera mengunci rapat pintu agar tak ada yang menganggu serta mengaktifkan mode kedap suara kamarnya.
Ya sejak Karina memutuskan kembali ke kediaman Wijaya, Karina meminta Arion membuat kamar ini kedap suara yang bisa berubah jika diinginkan.
Karina menyandarkan punggung di kepala ranjang. Dan menatap Arion yang membuka kemejanya menampilkan roti sobeknya yang menggoda. Mata Karina berbinar seketika. Ia menggigit telunjuk kanannya dan menatap Arion.
Perlahan, Arion mendekati Karina. Menyelipkan rambut ke telinga kanan Karina. Arion menatap Karina penuh cinta.
"Kamu serius mau?" tanya Arion memastikan.
"Tentu. Aku merasa sudah cukup penolakanku terhadapmu. Lagian aku juga sudah mengatakan aku mencintaimu. Sangat. Dan juga Mama sama Papa sibuk merengek minta cucu yang dari kita," jawab Karina membelai pipi Arion. Arion memejamkan matanya menikmati belaian Karina.
"Kita mulai ya?" ujar Arion mencium tangan Karina dan menariknya ke dalam pelukannya. Kepala Karina tepat berada di dada bidang Arion. Arion menangkup ke pipi Karina dan mulai menciumnya lagi. Karina memeluk leher Arion kembali.
Karina menggelijal saat tangan kanan Arion menyusup ke dalam dressnya. Meremas dada kanan dan kirinya. Arion melepas ciumannya dan mulia menyusuri leher jenjang Karina.
Meninggalkan jejak kemerahan di sana. Ciumannya semakin turun ke dada Karina namun terhalang oleh dress yang masih Karina lengkap. Ingat akan peringatan Karina yang tak boleh merobek baju, Arion menghentikan ciumannya dan menatap Karina.
"Apa?" tanya Karina.
"Lepas dulu dressnya. Aku tak mau merobeknya," pinta Arion.
Dengan cepat Karina dibantu Arion melepas dressnya. Kini Karina hanya menggunakan bra dan celana dalamnya saja. Senyum Arion merekah.
Arion melanjutkan aktivitasnya. Ia mulai mencium pundak mulus Karina, tangannya masih tetap bermain di dada Karina.
"Ahhh …," lenguh Karina. Tangan Arion berusaha melepaskan kaitan bra Karina, saat itu lepas, mencuatlah apa yang selama ini ditutupi. Dengan cepat Arion mencium, menjilat, mengisap dada Karina dengan rakusnya.
"Ahhh … Ar … ahhh …" desah Karina yang membuat Arion semakin bersemangat.
Perlahan Arion membaringkan Karina di ranjang. Satu tangan lainnya menyusup ke bawah, bermain di milik Karina. Desahan Karina semakin sering. Ia meremas rambut Arion. Arion menatap Karina yang memejamkan matanya.
Aku mencintaimu, Sayang, batin Karina.
Lambat laun, kini mereka sudah tak memakai sehelai benang pun. Adik kecilnya sudah mengembang sempurna. Mata Karina sempat tertegun.
Aduh. Dulu pas di rumah kan gak segitu, ringis Karina dalam hati.
Melihat kekhawatiran istrinya, Arion segera menenangkannya.
"Tenang saja," ucap Arion. Ia segera memposisikan tubuhnya di antara paha Karina. Perlahan memasukan adik kecilnya ke milik istrinya.
"Auhhh …," ringis Karina. Arion sangat kesulitan memasukkannya. Padahal baru sedikit yang masuk.
"Uhh … sempit sekali," keluh Arion. Karina membuka matanya yang semula terpejam.
__ADS_1
"Ya iyalah. Namanya aku masih suci," sahut Karina.
Arion berusaha semaksimal mungkin. Tak lama seperti ada tembok yang menghalanginya.
Pasti ini selaput dara, batin Arion.
"Sayang, teriaklah jika sakit. Jangan ditahan. Ini adalah wajar bagi pasangan baru," bisik Arion di telinga kanan Karina. Karina mengangguk paham.
Arion menarik pinggulnya ke belakang dan menghentakkannya masuk dengan kuat.
Jlebb.
"Ahggg … aduh … sakit …," keluh Karina. Ia memejamkan matanya menahan air mata. Percuma saja, air matanya semakin lolos. Rasa sakit dan perih hinggap di miliknya.
Arion diam sejenak. Kini adik kecilnya sudah masuk sepenuhnya menjebol mahkota Karina. Adik kecilnya serasa dijepit oleh gua yang sangat sempit. Darah menetes ke seprai dari milik Karina. Lama kelamaan semakin banyak. Arion tersenyum melihat darah itu.
"Ar … sakit …," aduh Karina. Tangan Arion mulia kembali bermain di dada Karina, bibirnya kembali mencium bibir Karina berusaha mengalihkan rasa sakit menjadi kenikmatan.
Benar saja. Karina mulai mendesah nikmat. Perlahan Arion mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur.
"Ahhh … ahh … ahh Sayang, Ar …," jerit Karina merasakan kenikmatan yang selama ini cuma ia saksikan pada saat menghukum musuhnya baik itu sesama pria maupun lawan jenis. Keringat bercucuran dari seluruh tubuh Karina dan Arion, Karina memeluk erat leher Arion.
"Ya. Sayang, desahkan terus namaku,"ucap Arion parau. Kenikmatan yang pernah ia lupakan selama ini kini kembali ia rasakan.
Dua jam berlalu, Arion mencapai puncaknya bersamaan dengan Karina dan menyemburkan benih cintanya di rahim Karina berharap dan berdoa menjadi segumpal darah.
"Ahhhhh …," lenguh Arion ambruk di atas tubuh Karina dengan kondisi mereka yang masih menyatu.
Nafas Arion masih memburu, begitu juga Karina.
"Sayang …," panggil Arion.
"Hmm …," gumam Karina memejamkan matanya menikmati sisa kenikamatan yang tersisa.
"Terima kasih telah menjaganya untukku," ucap Arion menyingkir dari atas tubuh Karina tanpa melepas tautan miliknya dari milik Karina.
"Memang sudah seharusnya," jawab Karina melirik Arion.
Lima belas menit kemudian, setelah berbincang, mereka melanjutkan pertempuran mereka kembali, Arion semakin bersemangat mendapat lampu hijau dari Karina.
Sungguh malam minggu yang sangat sempurna dan bahagia. Malam yang panjang dan indah ditemani sinar rembulan. Dua insan bersatu dalam mahligai cinta. Kedinginan dan kemarahan melebur menjadi kehangatan.
Karina yang awalnya sangat dingin dan berambisi menggunakan Arion sebagai loncatan untuk balas dendam meleleh atas perhatian, cinta dan kasih sayang Arion yang juga awalnya hanya memanfaatkan Karina agar posisinya sebagai pewaris tunggal tetap aman dan terjaga malah terperangkap dalam pesona dingin Karina.
Ya malam yang panjang ditemani desahan dan rintihan kenikmatan. Mereka sudah sah sebagai pasangan suami istri bukan hanya di atas kertas.
Karina mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk. Hal pertama yang ia lihat adalah wajah suami tercintanya. Mereka tidur berpelukan. Teringat kembali permainan panas mereka. Wajahnya memanas mengingatnya.
"Ah … apa yang aku pikirkan?" gumam Karina. Karina melirik sekilas jam dinding yang berada di dinding arah ia melihat.
Jam sepuluh pagi ya, batin Karina.
Karina kembali mengalihkan perhatiannya pada Arion.
Karina membelai lembut wajah suaminya, merapikan anak rambut yang menutupi dahi Arion.
"Kau sangat tampan, kau berhasil meruntuhkan ego dan kedinginanku. Tapi satu hal yang paling aku benci, penghianatan," lirik Karina.
"Aku sangat membencinya," lirik Karina.
"Aku tak akan berhianat Sayang," suara serak Arion mengejutkan Karina. Karina menyimpan tangannya kembali.
"Kau mendengarnya?" tanya Karina.
"Tentu. Aku sudah terbangun saat kau menyentuh wajahku," jawab Arion duduk bersandar pada kepala ranjang. Selimutnya jatuh sebatas pinggang, menampilkan otot-otot perut Arion.
Arion memegang kepalanya sedikit pusing. Karina ikut menyandarkan punggungnya di pundak Arion setelah membungkus tubuhnya polosnya dengan selimut.
"Auh … ah … pinggang aku remuk redam. Kamu jahat banget sih …," keluh Karina merasakan pinggangnya sakit luar biasa. Arion segera memeluk Karina memberi rasa tenang.
"Maaf. Tadi malam aku kelewatan," sesal Arion. Karina mendengus kesal.
"Lain kali lebih pelan. Tapi masalah ucapanku tadi. Baguslah jika dirimu sudah tahu. Jangan sampai dirimu berhianat," ujar Karina mengancam Arion. Arion tersenyum manis. Karina meringis tertahan.
"Tentu Sayang. Kau adalah yang terakhir dan semoga secepatnya di sini segera berisi buah cinta kita," ucap Arion memegang perut Karina.
"Aku juga," sahut Karina.
"Sudah ah. Aku mau mandi," ujar Karina beranjak turun dari ranjang. Saat menapakkan kedua kakinya di lantai dan baru satu langkah, Karina meringis dan jatuh terduduk meresakan sakit dan perih pada miliknya.
"Auhh … ini juga sakit …," keluh Karina merengek. Dengan cepat Arion turun dari ranjang tanpa sehelai benang pun dan menghampiri Karina lalu menggendongnya ke kamar mandi.
"Maaf ya," pinta Arion.
__ADS_1
"Hmmm …,"gumam Karina.
"Kamu kok gak pakai baju?" tanya Karina heran.
"Sengaja," jawab Arion.
"Sengaja untuk?" tanya Karina tak paham.
"Mengulang kenikmatan tadi malam," jawab Arion menurunkan Karina ke dalam buth up dan menghidupkan keran mengisi air hangat.
"Gak. Aku gak mau," tolak Karina.
"Kenapa? Padahal tadi malam kamu kamu jambak dan mendesah di bawah aku?" tanya Arion heran.
"Gak. Tadi malam memang nikmat tapi sekarang sakit. Bisa gempor kaki aku nanti jika terus-terusan kamu goyang. Besok aku mau ke negara B, lihat perkembangan cabang baru cafe aku," terang Karina. Arion duduk di pinggir buth up.
"Negara B? Kok mendadak sekali?" tanya Arion heran.
"Gak mendadak kok. Ini sudah aku rencanai dari empat hari yang lalu," jelas Karina.
"Sendiri?" tanya Arion lagi
"Iya," jawab Karina.
"Aku temani kamu," ujar Arion mematikan keran.
"Bukankah kamu besok ada meeting penting? Lagian aku gak lama kok. Cuma tiga hari saja," ucap Karina membujuk.
"Iya sih. Ya sudah tapi kamu berangkatnya naik pesawat pribadi aku ya," ucap Arion.
"Ya sudah," putus Karina.
Lumayan. Hemat biaya, batin Karina.
"Sudah sana keluar. Aku mau mandi," usir Karina. Bukannya pergi keluar, Arion malah masuk ke dalam buth up ikut berendam.
"Ngapain masuk. Aku kan suruh kamu keluar," ketus Karina. .
"Mandi bareng. Kan aku bilang tadi mau mengulang yang tadi malam," ucap mesum Arion. Darah Karina mendidih seketika.
"Arion Sayang suamiku tercinta. Aku bilang aku tidak mau. Keluar atau ku patahkan adik kecilmu tadi," ancam Karina.
Arion merinding seketika. Tak mau ambil resiko, Arion langsung keluar dari buth up dan menyambar handuk menutupi bagian bawahnya dan segera keluar dari kamar mandi.
"Huh … dikasih satu minta dua. Dasar," kesal Karina. Karina segera membersihkan tubuhnya yang lengket akibat pergulatannya tadi malam.
Karina meraba lehernya. Ia meringis saat menyentuh bekas gigitan Arion. Dengan segera Karina menyelesaikan mandinya. Tiga puluh menit kemudian, Karina keluar dari buth up dan memakai handuk.
Karina lantai berkaca pada cermin yang ada di kamar mandi. Dahinya mengenyit saat melihat banyak ruam merah kebiru-biruan menghiasi leher dan sekitar dadanya.
"Arion!!! Kamu manusia apa kucing??!!" teriak Karina kencang yang mengejutkan Arion yang menunggu gelisah di luar pintu.
Ceklek.
Arion membuka pintu dan menunjukkan kepalanya saja.
"Kelepasan. Lagian itu biasa kan?" tanya Arion nyengir.
"Biasa sih biasa. Tapi ini luar biasa. Semua kamu jejeki," gerutu Karina keluar kamar mandi dan menyenggol bahu Arion.
"Kamu marah?" tanya Arion.
"Gak. Tapi lain kali jangan sebanyak ini," ketus Karina. Arion segera masuk kamar mandi. Karina memilah pakaian yang bisa menutupi jejak di tubuhnya terutama leher.
Karina memutuskan memakai celana panjang longgar dengan kaos lengan panjang serta syal menutupi lehernya. Tak lupa rambut panjangnya ia gerai.
Selesai berpakaian, Karina segera turun menuju meja makan mencari makanan sebab perutnya sudah merontah minta diisi. Langkahnya agak tertatih-tatih karena rasa sakit yang masih terasa.
Di bawah, Maria dan Amri melihat Karina dan cara berjalannya.
"Kamu kenapa Sayang? Jalannya kok gitu? Terus kenapa kalian bangun sangat telat?" tanya Maria bertubi.
Sebenarnya ada tiga kali, Maria membangunkan Arion dan Karina namun tetap saja tak ada sahutan ataupun balasan.
"Habis buat cucu untuk Mama sama Papa. Pinggang aku mau remuk rasanya," jawab Karina gamblang langsung menuju meja makan.
Lagi-lagi Maria dan Amri menjatuhkan rahang mereka mendengar jawaban Karina yang gamblang dan jujur.
"Pantesan. Habis bertempur semalam. Papa jadi ingin," ucap Amri menatap Maria.
"Papa jangan aneh-aneh ah. Ini masih pagi loh," ujar Maria kesal. Amri terkekeh pelan. Tak lama, Arion menuruni anak tangga.
"Ma, Pa lihat Karina gak?" tanya Arion celingak-celinguk.
__ADS_1
"Ke dapur tadi," jawab Maria. Arion segera menyusul Karina. Langkahnya terhenti saat mendengar sindiran papanya.
"Cie yang habis malam pertama. Gak bisa lepas dari istri tercinta. Lain kali mainnya lebih halus, kasihan jalan menantu papa kayak kena gempa. Seok sana, seok sini," sindir Amri melanjutkan membaca majalah.