Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 256


__ADS_3

Pelukan hangat menyambut Mira saat memasuki rumah. Mira tidak membalas pelukan tersebut malah mengedarkan pandangannya. Ini bukan pelukan dari Intan, apalagi Tuan Adiguna. Disadarinya ada wajah baru yang ikut bergabung dengan Intan dan Adiguna.


Satu pria dewasa dan satu anak laki-laki yang Mira perkirakan usianya masih satu tahunan berada dalam gendongan pria itu. Riska yang tahu itu siapa langsung saja mendekati keluarganya. Ia tidak cemburu, sebab baru sebulan yang lalu bertemu dengan wanita yang memeluk Mira.


"Akhirnya kamu kembali juga Mir," ucap wanita yang memeluk Mira itu dengan nada bahagia dan haru. Mira mengeryit. Mengapa banyak sekali yang wajah lama namun baru yang ia temui hari ini?


"Kamu enggak lupa sama Rena kan Mir?"


Intan berkata sembari menyipitkan matanya menatap Mira. Mira tersenyum, tapi memorinya mencari.


"Emmm, enggak dong Ma," sahut Mira setelah ingat.


Mira membalas pelukan wanita itu. Tak lama, mereka saling melepas pelukan dan berpegangan tangan.


"Kakak bahagia sekali melihat kamu kembali. Sejak kamu pergi, setiap Kakak ke rumah ini, pasti merasa ada yang kurang. Tapi, sekarang sudah lengkap," tutur wanita yang bernama Rena itu dengan riang bahagia. Mira tersenyum lebar.


"Belum Ren. Masih ada Eko yang belum pulang. Adikmu sudah seperti tidak punya keluarga," sangkal Tuan Adiguna yang tidak setuju dengan ucapan Rena. Rena dan lainnya terdiam sejenak, tak lama Rena tertawa.


"Maksud Rena begitu Pa," jelas Rena. Wajah tersenyum, hati nanar.


Belum tega rasanya mereka mengatakan sekali lagi bahwa Eko telah tiada. Adiguna mendengus.


"Bagaimana bisa kamu melupakan adikmu?" kesal Adiguna. Intan segera menenangkan suaminya. Sedangkan kedua wajah baru yang Mira dapati menonton diam. 


"Hehehe, mana mungkin Pa," sahut Rena dengan senyumnya. Mira tampak menghela nafas sangat pelan.


"Oh iya, bagaimana keadaanmu Kakak? Kabar baik apa saja yang terjadi padamu setelah aku pergi?" tanya Mira antusias. Rena tersenyum dan bersiap buka mulut menjawab.


"Ayo duduk. Jangan kelamaan berdiri. Kami juga ingin mendengarnya," tegur Intan. 


Mira dan Rena mengangguk dan segera mengambil tempat. Rena duduk di samping pria dan anak lelaki itu.


Rena duduk di samping Mira sedangkan Riska duduk di sofa tunggal. Karena rasa antusias yang tinggi, mereka kecuali Mira dan Riska belum menyadari pakaian Riska yang telah berganti, untuk Rena dan kedua lelaki berbeda usia itu wajar tidak tahu.


"Nah, kenali ini suami Kakak, namanya Mas Raka. Kakak rasa kamu masih ingat kan? Kan Kakak nikah tiga bulan sebelum kamu nikah," ujar Rena mulai menceritakan.


Pria yang dikenalkan sebagai suami Rena itu tersenyum lalu memperkenalkan dirinya sendiri. Mira mengangguk tahu. 


"Kalau si kecil ini, kamu pasti tahu. Buah hati kami, namanya Reksa Rama Pratama," lanjut Rena menunjuk balita lelaki yang digendong oleh suaminya. Mira menatap baby Reksa dan melambaikan tangannya.


"Hallo Abang Reksa, kenalin nama Tante Mira, kamu bisa panggil Tante aunty Ira, okey Boy," ucap Mira memperkenalkan dirinya yang disambut tawa tanpa suara dari Reksa. 


"Uluh-uluh pipi Abang chubby sekali. Pengen ngunyel-ngunyel deh jadinya. Aunty gendong ya," ucap gemas Mira menatap Rena meminta izin.


Rena dengan isyarat mata mengizinkan dan meminta baby Reksa dari dekapan suaminya. Reksa yang anteng tiba-tiba menunjukkan gelagat takut dan hendak menangis saat Rena memindahkannya dalam pelukan Mira. 


Tak lama, tangis Reksa pun pecah yang membuat Mira dan Rena panik. Mira menepuk pelan bokong Reksa berharap baby Reksa berhenti menangis, sayangnya makin menjadi tangisannya. 

__ADS_1


"Aduh, Abang kenapa? Enggak mau sama aunty ya?" tanya Mira segera memberikan baby Reksa pada Rena.


"Rena kamu tenangi dulu Reksa, ajak keluar sana, taman cocok itu," saran Intan yang segera diikuti oleh Rena, ia diikuti sang suami bergegas keluar rumah.


Mira menunjukkan wajah bersalahnya. Riska malah menahan senyum dan Tuan Adiguna menggelengkan kepalanya. Intan menghela nafas menatap Mira.


"Ternyata Mira belum cocok sama anak kecil. Aduh Mira, ternyata kamu ini belum cocok jadi Ibu ya? Anak segitu kamu takuti, nangis jadinya kan," ujar Intan disertai gelengan kepalanya.


Mira menatap Intan tidak mengerti. Setelah mencerna ujaran Intan dengan seksama, barulah dia paham dan tertawa canggung.


"Aduh Kakak ini aneh deh. Masa' dokter kandungan tidak cocok dengan bayi dan anak-anak?" celetuk Riska yang disambut kekehan Intan dan Tuan Adiguna. Mira tersenyum malu. 


"Pantas saja kamu dan Eko belum memiliki momongan,seperti Mira harus menahan diri dari kelucuan anak kecil, benarkan Ma," timpal Tuan Adiguna. Intan mengangguk.


"Ih bukan gitu loh. Kan tugas Kakak cuma memeriksa kandungan Ris, bukan merawat bayi. Tugas kakak itu saat di dalam kandungan, bukan di luar kandungan. Lagian pipi Reksa gembul banget, gemas kan Kakak jadinya," sangkal Mira membela dirinya.


"Kamu enggak tahu ya, Reksa itu paling takut pipinya dicubit sama disentuh. Kalau nekat, tuh akibatnya. Baru niat saja sudah nangis," papar Intan. 


"Iya Kak, aku menyentuh pipinya kemarin saja dia sudah nangis," timpal Riska membenarkan ucapan Intan.


Akhirnya Mira tahu, ia kira memang dirinya yang tidak cocok dengan anak kecil, rupanya itu alasan baby Reksa menangis. Mira menghela nafas lega kemudian tersenyum.


...****************...


...****************...


...****************...


Padahal suara fals, tapi sangat berenergik, efek pakai handset kali ya. Ditambah dengan gerakan pinggul yang sangat woah.


"Tuan, tas Anda sudah berada di ruang kerja," ucap pelayan yang bertugas membawa barang-barang yang Arion bawa masuk. Arion mengangguk mengerti kemudian melepas jasnya dan memberikannya pada pelayan tersebut.


Arion segera masuk ke dalam rumah dan mengedarkan pandangannya. Ia memilih pulang cepat sebab Bik Mirna tadi menyampaikan padanya bahwa Karina sudah pulang. Entahlah, Arion heran dengan Karina yang tidak pernah menunjukkan bebannya seakan masalah hanya mainan baginya, ya masalah adalah permainan takdir.


Tak mendapati Karina di ruang tamu, keluarga, dan dapur, Arion melangkah menuju kamar, kamar juga kosong. 


"Nona ada di kolam belakang Tuan, kalau tidak salah sedang memberi makan ikan ******," ucap Bik Mirna memberitahu keberadaan Karina.


Arion yang baru tiba di anak tangga terakhir mengangguk.


"Enggak dari tadi sih Bik?" Ya sedikit menyampaikan kekesalannya.


"Saya kan ke belakang Tuan, mana tahu kalau Tuan sudah pulang," sahut Bik Mirna.


Arion mendengus dan segera melangkahkan kaki menuju kolam belakang. 


Setibanya di sana, Arion melihat Karina yang tengah duduk di lantai kolam dengan kaki yang dijulurkan masuk menyentuh air kolam. Tatapan Karina tertuju pada green house yang berisikan sebagian koleksi tanaman obat dan hias Karina yang bernilai jual tinggi. Bahkan satu saja sebanding dengan harga rumah dan mobil.

__ADS_1


Entahlah, Arion tidak tahu apa yang Karina tengah pikirkan atau apapun itu yang ada di dalam otak Karina, baginya yang penting Karina bahagia sudah cukup. 


Arion melangkah pelan tanpa suara dan duduk di samping Karina. Karina agaknya melamun akut hingga tidak menyadari kehadiran Arion, sepertinya berada di sini menurunkan kewaspadaannya. 


"Assalamualaikum, Sayang," sapa Arion lembut sukses membuat Karina menoleh dengan wajah datarnya. Karina sama sekali tidak tampak terkejut, ia malah menatap heran Arion.


"Jawab dong salam aku, kok malah ngelihati wajah aku? Aku tahu kok aku tampan, kami bebas menikmati wajah tampan aku setiap saat," tegur Arion sembari menjadi merak, memuji dirinya sendiri. Tak salah sih, kan semua dimulai dari diri sendiri. Love your self.


Cintai dirimu sendiri baru cintai orang lain. Karina mendengus dengan merak suaminya. 


"Waalaikumsalam, tumben jam segini sudah pulang? Enggak lembur? Perasaan perusahaan kamu ada beberapa masalah deh." Arion mendengus sebal dengan ucapan Karina.


"Suaminya pulang cepat malah dicurigain, ketus Arion. 


Karina cuek dan memalingkan wajahnya melihat kakinya yang dikerubungi oleh ikan c*pang. Rasanya geli-geli gimana gitu, yang pasti Karina nyaman. Diraihnya pakan ikan berbentuk butiran halus lalu kaki sebar di kolam.


Ikan-ikan peliharaannya makan dengan lahap, tapi tidak sampai kekenyangan, segala yang berlebihan itu terkadang tidak baik.


"Hm, kamu dari mana perusahaan aku ada masalah? Kamu jelajahi perusahaan aku ya?" tanya Arion penasaran, secara ia belum bercerita apapun pada Karina.


"Bukan hal sulit, tanpa aku jawab kami sudah tahu jawabannya," sahut Karina santai.


Ya, sudahlah, Arion seharusnya tidak perlu menanyakan hal itu, pantas saja Karina mengatakan tumben.


Arion menghela nafas. Wajahnya menjadi muram dengan lelah yang sangat terlihat. Ia lepas alas kakinya dan melakukan hal yang sama seperti apa yang Karina lakukan. Memang perusahaan ada beberapa masalah, cukup merepotkan.


"Ya, hari ini cukup melelahkan, makanya aku pulang untuk melepas lelah, menatap wajah dan senyummu sukses membuat rasa kesal, lelah dan segala beban terangkat. Kamu adalah moodku Sayang," ucap Arion. Karina melirik.


"Aku tahu," sahut Karina singkat.


"Ada beberapa pengiriman barang yang tertunda karena cuaca buruk, jalur pengiriman lewat laut dan udara memang tergantung cuaca. Belum lagi deadline yang di akhir bulan ini dan sebagian besar material yang hendak pakai, lenyap disapu banjir. Terpaksa buat plan baru. Dan satu lagi, kamu pasti sudah mendengar berita tentang kecelakaan di proyek pembangunan mall siang tadi, untung saja hanya luka ringan tapi berdampak parah sama bangunan nya. Kas perusahaan pasti akan berkurang banyak, dan ada perusahaan aneh yang menyusup ke ruanganku, aku yakin ada urusannya dengan tender bulan Januari nanti, aku kesal sekali, sederhana tapi merepotkan," terang Arion menceritakan masalah di perusahaannya. Wajahnya ditekuk. Kecelakaan di proyek mall itu untung saja tidak tercium publik, hanya bagian dalam saja yang tahu dan semua sepakat tutup mulut. Lagipula, kesalahan bukan datang dari struktur bangunan tetapi kesalahan pekerja.


"Lantas mengapa kamu kembali? Jangan katakan kamu lembur di rumah," tanya Karina. 


"Ya, sayangnya iya. Akan lebih bersemangat lembur di kamar bersama kamu, daripada aku lembur sendirian di kantor, ngantuk sendiri, tidak ada yang menyemangati. Aneh rasanya sekarang lembur sama Ferry. Temani aku ya," jelas Arion menunjukkan wajah berharapnya. Karina menatap Arion dengan ekspresi datarnya.


"Ya sudah. Aku temani. Lagipula aku free besok. Agenda besok cuma peletakan batu pertama pembangunan panti," ucap Karina.


Arion tersenyum dan menarik Karina dalam keluhannya. Diciumnya pucuk kepala Karina dengan kasih sayang.


Selepas magrib, Arion langsung mengerjakan pekerjaannya yang dibawanya dari kantor. Di ruang kerja, nyatakan Karina bukan hanya menemani Arion, keduanya bekerja sama memecahkan masalah perusahaan Arion. 


Saat waktu Isya datang, keduanya berhenti untuk salat dan makan malam, selepas itu kembali tenggelam dalam lembur mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.00, Arion melihat Karina yang sudah terlelap di atas meja dengan kedua tangan sebagai bantalnya.


Untungnya semua sudah selesai, hanya tinggal pemeriksaan kembali memastikan ada yang kurang apa tidak, berdua dengan yang lebih ahli memang memangkas waktu. Ia akui bahwa Karina memang jauh di atasnya, tapi itu tidak membuatnya minder.


Arion lantas menggendong Karina dan membawanya ke kamar, membaringkannya di ranjang serta menyelimutinya. Tak lupa, Arion mencium kening Karina lalu kembali ke ruang kerja. 

__ADS_1


__ADS_2