
Lain halnya dengan Karina, Arion kini sedang galau. Karina tak kunjung menghubunginya, berulang kali ia melihat handphonenya berharap ada notifikasi. Akhirnya ia memutuskan pulang ke rumah.
Haih, mengapa dia hilang kontak? batin Arion.
Arion cemas sebab saat ia mencoba menghubungi Karina tapi selalu tidak aktif.
Sesampainya di kediaman Wijaya, Arion memasuki rumah dengan wajah kusut. Bahkan Amri dan Maria yang berada di meja makan mengajaknya makan malam pun tak ia hiraukan.
Hatinya cemas dengan Karina yang berada sendirian di negeri orang. Ya walaupun baru satu serasa seabad. Arion melangkahkan kakinya menuju kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Satu tangannya menggapai foto Karina yang terpajang di nakas.
"Sayang aku rindu," gumam Arion.
Saat sedang asyik-asyiknya menatap foto Karina, Arion dikejutkan dengan suara berisik di depan pintu kamarnya. Pakai ada suara nyanyi dan dentingan panci segala lagi.
*Pabila diri dilanda rindu
Hati gelisah badan pun lesu
Dibilang sakit bukan penyakit
Tahu-tahu badan semakin kurus
Aduh-aduh sakit penyakit cinta*
Arion menutup kepalanya dengan bantal saat mendengar papanya bernyanyi menggoda dirinya dari luar kamar.
"Papa berhenti. Berisik tahu," teriak Arion kesal. Bukannya berhenti malah semakin lanjut. Malah terdengar suara gitar dan sorakan dari para pelayan.
*Dokter dan dukun tak mampu bicara
Aduh-aduh sakit penyakit cinta
Tiada obatnya hanya si dia
Pabila diri dilanda rindu
Sepanjang malam tak dapat tidur
Suara kerosak dikira dia
Tahu-tahu tikus mencari mangsa
Dari itu kalau jatuh cinta
Jangan seru-seru, santai-santai saja*
*Dari itu kalau jatuh cinta
Jangan berat-berat, ringan-ringan saja
Kalau terlalu seru, nggak kuat nahan rindu
Kalau terlalu berat, nggak kuat nahan*
Ah, gawat ….
"Papa berisik tahu. Malam-malam malah dangdutan,"teriak Maria kesal.
"Gak papa kali Ma. Jarang-jarang Papa bisa godain Arion tanpa tatapan tajam menantu es kita," sahut Amri melanjutkan nyanyiannya. Maria hanya dapat menghembuskan nafas kasar.
**Aduh-aduh sakit penyakit cinta
Hati baru senang jumpa si dia
Aduh-aduh sakit penyakit cinta
Perut sudah kenyang ingat si dia
Aduh-aduh sakit penyakit cinta*
*Tidak perlu uang datang si dia
Rasa mau gila tanpa si doi*….*
__ADS_1
.
.
.
Ceklek. Arion membuka pintu kesal. Ia menatap Amri dengan wajah kusutnya.
"Makanya kalau kasmaran jangan terlalu dalam. Baru sehari saja sudah galau merana. Dasar pengantin baru stok lama," ledek Arion langsung kabur ke menuju kamarnya.
"Papa gak ada akhlak. Salah apa dapat bapak kaya gitu," gerutu Arion membanting keras pintu dan masuk ke kamar mandi.
"Cepatlah pulang Sayang. Apa kau bahagia melihatku dibully Papa terus?" gumam Arion pelan.
Ingatannya kembali pada malam minggu yang sangat terkenang dalam benaknya.
Selesai mandi, Arion kembali melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dan tidur dengan memeluk foto Karina.
***
Negara K, apartemen Darwis, Rian dan Satya. Ketiga pria tampan itu tengah saling berbincang di ruang tengah di temani beberapa botol vodka dan wanita seksi. Darwis menatap datar kedua temannya yang asyik minum. Ia sendiri duduk agak jauh dari Rian dan Satya. Cukup Joya seorang yang merasakan keperkasaannya.
"Besok kita pulang," ujar Darwis memberitahu Satya dan Rian.
Mereka berdua hanya mengangguk. Lebih satu hari berdasarkan rencana mereka.
"Gue masih penasaran sama loe. Bagaimana bisa loe masih hidup sedangkan jantung loe sama Joya?" tanya Rian penasaran di sela-sela minumnya.
"Itu bukan jantungku," jawab Darwis.
"Jadi apa? Jantung kucing?" tanya Satya ikut nimbrung.
"Jantung manusialah," jawab ketus Darwis.
"Lantas?" tanya Satya dan Rian bersamaan.
"Ahhh …," desah Rian saat ada tangan yang menyentuh juniornya yang masih terbalut pakaian lengkap.
Tak mau kalah Satya pun begitu dengan satu wanita lagi cuma bedanya ia berbaring dengan wanita di atas tubuhnya. Melihat itu, Darwis malah mengingat Joya.
"****. Tidak bisakah kalian berhenti? Besok kita kembali. Aku tak mau membanguni kalian," kesal Darwis.
"Kami bisa bangun sendiri," sahut Rian.
"Alasan. Kebiasaan kalian jika sudah bercinta kalian akan bangun jam 12 siang," sindir Darwis.
Satya dan Rian menggerutu kesal. Dengan berat hati mereka menghentikan aktivitas panas mereka dan menyuruh wanita-wanita itu keluar.
Tinggallah Mereka bertiga sekarang.
"Akan aku ceritakan," ucap Darwis serius.
"Apa yang mau diceritakan?" tanya Rian lupa akan pertanyaannya.
"Masa laluku dengan Joya,"ketus Darwis.
"Oh …," sahut Rian.
Darwis segera menceritakan masa lalunya.
Flashback Darwis atau Darendra.
Mendengar permintaan Joya membuat Daren linglung. Sepulang sekolah seperti biasa ia kembali dengan bus menuju apartemennya. Sesampainya di apartemen kecilnya, Daren menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang kecilnya. Pikirannya melayang mencari jawaban.
Tak lama Daren duduk dan menyenandungkan sepenggal lagu mewakili perasaannya.
…
*Mengapa kau tak membalas cintaku
Mengapa engkau abaikan rasaku
Ataukah mungkin hatimu membeku
__ADS_1
Hingga kau tak pernah pedulikan aku
Cobalah mengerti keadaanku
Dan cobalah pahami keinginanku
'Ku ingin engkau menjadi milikku
Lengkapi jalan cerita hidupku
Hei pujaan hati, pujaan hati*…
Selepas menyanyikan itu Daren jatuh tertidur.
…
Malam pun tiba, Daren terbangun dan mengedarkan pandangannya. Gelap. Perlahan Daren turun ranjang dan menghidupkan lampu apartemen.
"Baiklah. Jika itu keinginanmu aku akan memberikannya," gumam Daren menuju dapur dan mengambil pisau tajam.
Ia menatap datar pisau itu dan segera kembali ke kamar. Sebelum melakukan aksinya, Daren menulis sebuah surat.
Selesai itu Daren membuka bajunya. Ia mulai memejamkan matanya dan mengarahkan pisau ke dadanya. Saat ujung pisau mulai melukai dadanya ada yang menahan tangannya dan melemparkan pisau itu ke sembarang arah.
Plak ….
Satu tamparan mendarat di pipi Daren. Daren terteguh. Siapa yang memasuki apartemennya. Ia mulai membuka matanya.
"Queen?" kaget Daren.
"Apa kau kemari untuk menghantarkan nyawa, Darwis?" tanya dingin orang itu.
"Aku mencintainya Queen. Dia menginginkan jantungku. Aku akan memberikannya," lirik Darwis. (Nama Daren adalah samaran, Darwis adalah nama asli.)
"Kau lupa dengan janjimu," geramnya yang tak lain adalah Karina yang masih berusia 13 tahun .
Ya, Karina sudah mendirikan organisasi mafianya saat berumur delapan tahun.
Darwis tersentak kaget. Ia menundukkan kepalanya.
"Siapa gadis yang membuatmu jadi begini?" tanya Karina.
"Bukan siapa-siapa Queen," jawab Darwis.
"Haih ternyata wanita bernama Joya itu sangat hebat ya? Apakah kedinginannya mengalahkanku?" tanya Karina penasaran.
Darwis menggeleng pelan. Karina kecil mendengus kesal dan mengambil kotak obat untuk menghentikan darah yang keluar akibat goresan pisau. Darwis diam saja tak melawan.
"Aku kecewa denganmu. Kau melanggar janjimu. Besok pagi kau akan ku kirim ke Negara K bersama Rian dan Satya belajar mengurus kasino yang baru aku dirikan," ucap Karina datar setelah selesai mengobati luka Darwis.
"Tapi bagaimana dengan sekolah dan Joya?" tanya Darwis lirik.
"Urusanku," ketus Karina membaringkan Darwis dan menyuruhnya tidur, sedangkan Karina pergi entah kemana.
Keesokan paginya, Darwis sudah bersiap pergi ke bandara bersama Karina, Ia melirik Karina yang tersenyum sinis menatap kotak merah di tangannya.
"Apa itu Queen?" tanya Darwis penasaran.
"Permintaan wanita yang kau sukai itu," jawab Karina. Di perjalanan menuju bandara, Karina berhenti di tempat pengiriman barang untuk mengirim kotak di tangannya ke tempat seseorang.
" Apakah Joya akan mengiraku mati?" gumam lirik Darwis, selesai itu, Karina kembali ke mobil dan menuju bandara lalu terbang ke negara B.
"Lepaskan topengmu. Kini tak ada lagi Daren yang culun. Kau bisa mengejarnya lagi nanti saat kau bertemu denganya secara tidak sengaja. Terserahmu mau melakukan apa. Aku tak peduli asal tak berkaitan dengan nyawamu," tegas Karina.
Darwis melepas topengnya dan menatap rumit Karina.
"Terserah? Apapun itu?" tanya Darwis.
"Terserahmu. Mau kau paksa dia menikah denganmu atau kau apakan lah dia? Jadi simpanan pun tak masalah. Itu bukan urusanku," jawab Karina.
Flashback Off.
"Itulah alasannya aku bercinta dengan Joya," terang Darwis mengakhiri ceritanya.
__ADS_1