
"Adik. Sekarang namanya adalah Bayu Tirta Sanjaya," tegas Karina.
"Baiklah Nona. Akan saya siapkan semua surat dan berkas adopsi," ucap Marisa tersenyum.
"Hmm …," singkat Karina menyilangkan kakinya. Sekitar lima belas menit kemudian, Bayu kembali lagi ke ruangan Marisa dengan membawa tas berukuran sedang.
"Aku sudah siap Kakak," ujar Bayu tersenyum manis.
"Hmm … oke sekarang namamu adalah Bayu Tirta Sanjaya. Mengikut nama belakang keluarga Kakak," terang Karina.
"Baik Kakak. Bayu akan jadi anak yang baik. Bayu akan buat Kakak bangga," ucap mantap Bayu.
Karina mengobrol cukup lama dengan Bayu. Sekitar dua puluh menit kemudian semua surat dan berkas mengenai adopsi Bayu sudah selesai.
Marisa segera menyerahkannya pada Karina. Karina menerima dan mengecek setiap berkas dengan teliti. Tak lama ia berdiri dan menjabat tangan Marisa.
"Terima kasih. Saya pamit dulu," ucap Karina.
"Seharusnya sayalah yang berterima kasih Nona. Anda sudah menyelesaikan masalah kami," ralat Marisa tersenyum.
"Bayu pamit dulu sama ibu Marisa," ujar Karina.
Bayu mendekat pada Marisa. Marisa menahan tangis harus berpisah dengan Bayu. Namun, apa daya ini adalah pilihan anak berusia enam tahun ini. Bayu sendiri bukannya tak merasa sedih.
Ia merasa sangat berat berpisah dengan Marisa dan teman-temannya. Tapi keinginan dan tekad untuk menjadi orang yang hebat agar bisa melindungi orang-orang yang sayangi lebih kuat.
Marisa berlutut mensejajarkan tubuhnya dengan Bayu. Bayu langsung memeluk Marisa erat.
"Bayu, kamu jadi anak baik ya. Jangan nakal," pesan Marisa menepuk pundak kecil Bayu.
"Memangnya aku nakal?" tanya Bayu menahan tangisnya.
Marisa tersenyum dan mencubit hidung Bayu.
"Setiap malam kamu selalu mengganggu teman-temanmu dengan menghidupkan loudspeaker sekuat-kuatnya. Mengganggu kenyamanan. Belum lagi jika pagi, kamu selalu buat ulah. Entah menyembunyikan pakaian dalam teman-temanmu entah itu membangunkan mereka dengan menyiram air dan masih banyak lagi," jawab Marisa. Bayu nyengir kuda mendengar itu. Wajahnya memerah menahan malu.
"Hehehehe gak janji ya," sahut Bayu langsung mendekati Karina dan memegang telapak tangan Karina.
"Mari kita pulang," ucap Karina menggandeng Bayu keluar menuju mobil. Marisa mengekor.
Di luar, Arion heran melihat Karina yang menggandeng anak yang pernah masuk menerobos ruangan Marisa.
"Kita pulang, Ar," ucap Karina.
"Kakak aku pamitan dulu ya," ujar Bayu. Karina mengangguk.
Bayu segera menghampiri teman-temannya untuk mengucapkan perpisahan. Arion mendekati Karina.
"Kamu adopsi dia?" tanya Arion pelan. Karina mengangguk.
"Sebagai apa? Anak atau Adik?" tanya Arion lagi.
"Adik," jawab singkat Karina.
"Adik? Gak anak? Imut loh anaknya," saran Arion. Karina menatap datar Arion.
"Gak!!" tolak Karina. Arion mengangkat bahunya terima-terima saja.
"Bayu … apa sudah selesai? Kakak masih ada hal penting," panggil Karina melambai pada Bayu.
Bayu mengangguk dan kembali menghampiri Karina. Arion segera menggendong Bayu dan memegang tangan Karina menuju mobil. Sekarang mereka sudah seperti keluarga yang sangat bahagia. Bayu melambaikan tangannya pada teman-temannya.
"Kak Bayu berkunjunglah jika kau senggang," teriak Amel. Bayu menaikan ibu jarinya setuju.
"Hati-hati Nona," ujar Marisa.
Tin.
Tin.
Arion menekan klakson mobil tanda berpisah. Perlahan, mobil mulai meninggalkan panti asuhan. Di dalam mobil, Bayu duduk tenang tak bersuara.
"Bayu, pakai liontin ini," perintah Karina memberikan liontin yang diberikan Marisa padanya tadi.
"Baik Kakak," jawab Bayu patuh. Ia segera memakai liontin itu di lehernya. Perjalanan kembali ke hotel membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit.
Namun, bukannya kembali ke hotel, Arion malah mengemudikan mobilnya menuju mall terbesar di kota A, yang mana mall ini adalah bagian dari Jaya Company.
"Mau kemana?" tanya Karina heran.
"Ke mall. Beli perhiasan untuk kamu dan juga perlengkapan untuk Bayu," jawab Arion menoleh ke arah Karina.
"Tumben baik. Uang belanja saja telat," sahut Karina menatap Arion.
"Ya kan aku mau jadi suami yang romantis. Lagi pula akukan belum pernah beliin apapun untuk kamu setelah menikah," ucap Arion memegang telapak tangan Karina.
"Hmm … nyetir lihat depan," ketus Karina. Ia terkekeh namun tetap menurut. Ia kembali melihat ke depan.
"Bagaimana bisa aku melihat ke depan? Sedangkan di sampingku ada bidadari turun dari surga?" tanya Arion menaikkan alisnya.
"Gombal. Lihat di belakang ada anak kecil," kesal Karina memperingatkan.
Arion melirik ke belakang melihat Bayu. Bayu malah anteng memainkan laptop yang ia bawa dari panti sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke enam.
"Kamu ngapain Bayu?" tanya Arion.
"Main Kak," jawab Bayu. Karina tersenyum kecil.
Sungguh mirip dengannya, batin Karina.
"Ohh …," sahut Arion.
Tak lama mereka tiba di mall, Wijaya City. Arion segera memarkirkan mobilnya dan menarik tuas rem tangan.
"Ayo turun," ucap Arion melepas sabuk pengamannya dan segera turun diikuti Karina dan Bayu. Arion kembali menggendong Bayu namun ditolak oleh Bayu.
"Kakak, aku sudah besar. Bukan anak kecil lagi," ketus Bayu. Arion menggaruk kepala yang tak gatal. Karina menahan tawanya.
"Sudah ayo. Pegang tangan Kakak sini," ajak Karina. Bayu segera memegang tangan Karina.
"Ayo suamiku Sayang," ajak Karina menggandeng tangan Arion dan menariknya. Tujuan pertama mereka adalah toko perhiasan terbesar di mall ini.
__ADS_1
"Ada yang bisa dibantu Tuan?" tanya pegawai toko.
"Tunjukkan satu set perhiasan terbaru dan paling cantik di toko ini," jawab Arion. Dengan senang hati pegawai itu langsung mengeluarkan beberapa set perhiasan berbeda corak.
"Silahkan dipilih Tuan," ujar pegawai itu.
"Karina Sayang ayo sini kamu pilih," ujar Arion. Karina mendekat dan memilih perhiasan yang ada di atas etalase. Namun, tak ada yang menarik perhatiannya.
"Ada yang lain?" tanya Karina pada pegawai itu.
"Sebentar Nyonya," jawab ramahnya dan segera mengambil satu set perhiasan yang terbuat berlian berwarna biru. Senyum Karina merekah.
"Aku pilih ini. Kebetulan aku ada gaun yang senada," ucap Karina.
"Apakah kamu tak mau mencobanya?" tanya Arion.
"Boleh. Pakaikan," jawab Karina menjulurkan tangannya. Arion langsung mengambil gelang dan memakaikannya pada tangan Karina
"Cantik sekali," puji pegawai toko.
"Ada yang lain Nyonya?" tanya pegawai itu lagi.
"Hmm ... coba lihat kalung dan cincin zamrud itu," seru Karina menunjukkan cincin dan kalung dengan batu berwarna hijau.
"Hmm … apakah di sini ada jam tangan untuk anak usia 6 tahun?" tanya Arion lagi.
"Ada Tuan. Sebentar saya ambilkan," jawab pegawai itu mengeluarkan beberapa model jam tangan.
"Bayu … sini Sayang. Kamu pilih jam yang kamu suka," ujar Arion. Bahu mendekat. Arion segera memangkunya.
Ada banyak pilihan. Di mana jam tangan ini sudah digital. Fungsinya bukan hanya untuk melihat waktu. Jam tangan yang di tunjukkan adalah jam tangan yang memiliki kegunaan sama seperti handphone android. Di mana ada fitur panggilan telepon, musik, berkirim pesan layaknya fitur yang terdapat pada android canggih.
Pilihan Bayu jatuh pada warna army. Arion pun tak menolaknya.
"Kamu gak beli Ar?" tanya Karina heran sebab sedari tadi tak memilih satu perhiasan untuk dirinya sendiri.
"Aku bingung mau beli yang mana," jawab Arion.
"Hmm … kamu lebih baik beli jam tangan aja. Sini aku pilihin," saran Karina melihat etalase berisi jajaran jam tangan mewah.
Pilihannya jatuh pada jam tangan berwarna hitam dengan pinggiran lingkaran jam berlapis emas.
"Mbak yang lihat yang ini," ucap Karina. Pegawai itu segera mengambil pilihan Karina. Setelah menerimanya, Karina langsung memakaikannya di pergelangan tangan kiri Arion.
"Perfect," puji Karina. Arion tersenyum dan melihat jam tangan itu.
"Kamu gak beli?" tanya Arion.
"Gak. Jam tangan aku sudah banyak," jawab Karina.
"Oke Mbak. Hitung semuanya," pinta Arion mengeluarkan kartu debitnya.
"Totalnya 500 juta rupiah Tuan," ujar pegawai toko setelah menghitung semua perhiasan yang dibeli Arion.
"Ini kartu Anda Tuan. Terima kasih telah berbelanja di toko kami. Semoga Anda puas dengan pelayanan kami," ujar pegawai itu menyerahkan kembali kartu Arion.
"Sama-sama," jawab Arion mengambil kartunya dan beranjak keluar dari toko perhiasan diikuti dengan Karina yang membawa paperbag berisi perhiasan.
Tak lupa Bayu yang selalu memegang tangan Karina. Karina mensejajarkan langkahnya dengan langkah Arion. Saat melewati toko handphone dan laptop, Bayu menghentikan langkahnya yang otomatis langkah Arion dan Karina ikut terhenti.
"Ada apa?" tanya Arion heran.
Bayu mengarahkan tangannya menuju puluhan laptop yang berjajar rapi di etalase. Karina mengerutkan keningnya. Ia ingat bahwa hobi Bayu adalah meretas.
"Kau mau laptop baru?" tanya Karina. Bayu diam tak menjawab.
"Jawab Kakak Bayu," tambah Karina. Bayu mengangguk.
"Laptop kamu kenapa?" tanya Arion.
"Laptop aku sudah mulai rusak Kakak. Sebab ibu Marisa membelinya setengah pakai," jawab Bayu.
"Sebulan yang lalu malah sempat kebanting ke lantai," tambah Bayu.
"Sudah ayo Kakak belikan. Tapi kamu harus belajar dengan giat dan rajin ya," putus Karina menarik tangan Bayu masuk ke dalam toko.
Arion menunggu di luar saja. Sekitar sepuluh menit kemudian, Karina dan Bayu keluar dengan membawa paperbag besar berisikan laptop dengan merk apel tergigit.
"Sudah ayo. Kita pulang,",ajak Karina. Arion mengangguk dan mengambil alih paperbag yang Karina bawa.
"Kamu temani aku ya ke pertemuan CEO nanti malam," pinta Arion.
"Hmm … lalu Bayu? Dia ikut juga kan?" tanya Karina.
"Terserah. Yang penting kamunya temani aku," jawab Arion. Karina menghentikan langkahnya.
"Berarti aku harus beli baju buat Bayu dong. Arion kamu duluan saja ke mobilnya. Aku ke toko baju sebentar," ujar Karina langsung mengajak Bayu pergi mencari toko baju.
"Kakak apa ini gak berlebihan? Belum satu hari aku ikut Kakak, Kakak sudah habisin banyak uang untukku," ucap Bayu pelan.
"Anak manis. Sekarang kamu adalah adik Kakak. Adik dari CEO KS Tirta Grub. Jadi kamu gak perlu merasa bersalah atau apalah itu," jelas Karina. Bayu menatap Karina haru.
Akhirnya mereka masuk ke dalam toko baju khusus anak kecil. Karina segera memilihkan baju untuk Bayu.
"Kakak yang ini saja. Senada dengan jam tanganku ini," ucap Baju saat Karina menunjukkan baju berwarna hitam bercampur warna merah dengan sepatu berwarna putih.
"Oke. Bungkus semua yang adik saya coba. Ini untuk pembayarannya," perintah Karina memberikan kartu goldnya pada pegawai toko.
Tak lama mereka keluar dengan Karina membawa tiga paperbag berisi pakaian Bayu. Senyum manis menghiasi wajah Bayu sedang Karina ya tetap wajah datar nan dinginnya.
Arion dan Bayu langsung menuju mobil di mana Arion sudah menunggu cukup lama.
***
Malam hari pun tiba. Pertemuan CEO sudah dimulai dan berlangsung di hotel yang sama di mana Arion dan Karina menginap. Arion dan Karina sudah selesai bersiap.
Malam itu Karina memakai gaun biru bertabur permata serta perhiasan yang dibelikan Arion tadi siang. Sedangkan Arion memakai toxedo berwarna biru senada dengan gaun Karina. Hanya Bayu sendiri yang berbeda.
__ADS_1
"Sudah siap semua?" tanya Arion merapikan lengan jasnya.
"Sudah. Ayo berangkat," jawab Karina selesai mengoleskan listip pada bibir cherrynya.
"Sudah Kakak," jawab Bayu memakai kaca matanya.
"Oke. Let's go," seru Arion. Mereka keluar beriringan dari kamar.
Arion segera mengunci pintu kamar dan menggerakkan tangannya mengisyaratkan akan Karina menggandeng tangannya. Karina menghembuskan nafas dan mengaitkan tangannya pada Karina, sedang Bayu memegang tangan kiri Karina.
Acara besar itu dilaksanakan di ballroom lantai bawah Blue Hotel Ballroom ini mampu menampung sekitar 3000 orang.
"Undangannya Tuan," pinta petugas keamanan yang berjaga di depan pintu masuk setiap ballroom. Terdapat empat pintu masuk ballroom yaitu pintu utara, selatan, timur dan barat.
"Ini," ujar Arion memberikan undangan berlapis emas itu.
"Silahkan masuk Tuan, Nyonya, Tuan muda," ujar petugas keamanan sopan. Arion, Karina dan Bayu mengangguk dan langsung masuk.
Ternyata para tamu undangan sudah memenuhi meja yang tersedia di ballroom. Rak-rak makanan dan minuman baik jus maupun alkohol berjejer manis di pinggir ballroom. Tak lupa aneka dessert juga disajikan membentu piramida.
"Kita telat," keluh Arion.
"Kakak ipar …." Suara panggilan terdengar di telinga Karina. Karina familiar dengan suara itu. Sam.
"Kakak ipar kau juga ikut?" tanya Sam semangat. Tak lama Calvin ikut bergabung. Karina menatap kesal Sam.
"Ya jelas ikutlah. Orang sudah berdiri tepat di hadapannya. Pakai acara nanyak gak berfaedah lagi," kesal Karina.
"Hei Bro. Tumben telah loe," ledek Calvin memeluk Arion tanda persahabatan.
"Biasa. Kan gue bukan single lagi," sahut Arion.
"Hehehe … nyindir loe ya," kekeh Calvin.
"Hai kakak ipar? Apa kabar dan siapa anak manis ini?" tanya Calvin mencubit pipi Bayu. Bayu yang tak suka pipinya dicubit menatap tajam Calvin yang menbuat Calvi terhenyak.
"Dia adikku. Bayu Tirta Sanjaya," jawab Karina.
"Ohh adik aku kira anak," celetuk Sam.
Cukup lama mereka berdiri. Tak lama ada relasi bisnis Arion yang menghampiri mereka.
"Halo Tuan muda Arion," sapa Vian, CEO dari perusahaan NNE.
"Hai Tuan Vian," sambut Arion merentangkan tangannya meminta pelukan.
"Hahahaha … kau terlalu formal kawan. Panggil saja namaku tanpa embel-embel Tuan. Aku merasa sangat tua jika dipanggil tua," seloroh Vian.
"Kau kan sudah tua kawan. Usiamu sudah hampir 30 tahun tapi kau masih betah melajang," ledek Arion.
"Hmm … aku bukan kau yang si playboy," sungut Vian.
"Shut. Aku bukan playboy. Aku sudah menikah," ralat Arion. Mata Vian melebar.
"Serius? Kok kau tak mengundangku?" tanya Vian tak percaya.
"Maaf kawan. Undangannya terbatas. Tapi aku berusaha menghubungimu namun tak dapat tersambung," jelas Arion.
"Hahahah… salahku juga. Handphoneku disita oleh Mamaku. You know lah," tawa Vian mengerakkan jarinya seperti bermain game. Memang perusahaan yang dipimpin Vian bergerak di bidang game baik online maupun offline.
"Dia anak dan istrimu?" tanya Vian menunjuk Karina dan Bayu yang berada di samping Arion.
"Bukan. Eh Vian perkenalkan ini Bayu dan ini Karina istriku. Karina ini Vian, rekan bisnis sekaligus sahabat lamaku," jelas Arion.
"Salam kenal. Aku Vian Atmadja," ujar Vian memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya. Karina menatap datar Vian.
"Karina," singkat Karina tanpa membalas uluran tangan Vian.
"Sudah lanjutkan saja obrolan kalian. Aku mau bergabung dengan Lila dan Raina," ucap Karina datar langsung menarik tangan Bayu meninggalkan Arion yang terbengong.
"Eh ... Sayang tunggu," seru Arion. Namun ia tak dapat beranjak dari tempatnya sebab semakin lama semakin banyak relasi bisnis yang menghampirinya.
Bahkan ada yang membawa serta anak perempuan mereka dengan tujuan menarik perhatian Arion dan menjadikan Arion menantu mereka. Padahal mereka tahu bahwa Arion sudah menikah namun ya pandang mundur.
Karina menggerutu kesal. Inilah salah satu penyebab Karina malas ikut atau bergabung dalam acara-acara pertemuan atau semacamnya, sebab menurutnya banyak sekali yang memakai topeng alias bermuka dua.
"Nona …," panggil Lila pelan.
"Ya? Lila?" jawab Karina.
"Nona saya dan Raina sudah menyiapkan meja khusus untuk Anda," ujar Lila.
"Tunjukkan jalannya," perintah Karina.
"Baik Nona," jawab Lila langsung beranjak menunjukkan di mana meja Karina.
"Silahkan Nona," ujar Karina menarik salah satu kursi untuk Karina duduk. Karina mengangguk. Ternyata Raina menunggu di meja ini. Di atas meja sudah terhidang aneka jenis makanan dan minuman. Baik makanan berat maupun penutup.
Raina menarik kursi untuk Bayu. Lila dan Raina sudah tak heran sebab Karina sudah memberitahu mereka akan Karina yang mengadopsi seorang anak laki-laki sebagai adik.
"Hai Bayu. Nama Kakak Lila. Kamu bisa memanggil Kakak, kak Lila," ujar Lila memperkenalkan dirinya.
"Hai Kakak aku Bayu," balas Bayu tersenyun manis.
"Halo anak manis. Nama kakak Raina. Kamu bisa manggil Kakak cantik ini kak inces," ujar Raina dengan nada centil.
"Heh? Cantik? Tapi gak laku-laku," ledek Karina bertopang dagu memperhatikan Bayu yang mulai menyantap cake yang tersaji.
"Nona perkataanmu sungguh tajam mematahkan hatiku," keluh Raina. Lila menahan tawanya.
"Sudah. Bagaimana perkembangannya?" tanya Karina mulai membahas bisnis.
"Semua lancar Nona. Kerjasama dengan Jaya Company sudah beres sedangkan masalah pembelian kawasan apartemen sudah tuntas. Dan untuk yang lain, aman semua Nona," jelas Lila.
"Good. Sekembalinya dari sini, segera hubungi perusahaan konstruksi untuk membangun kawasan apartemen menjadi negeri dongeng," perintah Karina. Lila dan Raina mengangguk paham.
Setelah itu, Lila dan Raina pamit untuk menyapa para tamu sebab KS Tirta Grub adalah salah satu tuan rumah serta penyumbang dana terbesar acara penyelenggaraan pertemuan CEO terbesar ini.
Karina malah sibuk menyicipi satu persatu hidangan yang tersaji. Bayu masih asyik dengan cakenya. Mulutnya belepotan sebab ada noda coklat yang berserakan di mulutnya.
"Lap mulutmu Sayang," ujar Karina. Bayu patuh dan mengambil tisu mengelap mulutnya.
Saat asyik makan, ada yang menghampiri mejanya. Karina berhenti sejenak menyantap makanannya.
__ADS_1
"Hai cantik boleh gabung?" tanya seorang pria muda tersenyum pada Karina. Karina menatap datar pria itu lalu lanjut menyantap makanannya.