Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 142


__ADS_3

"Happy wedding Joya, Darwis," ujar Karina pada Joya dan Darwis yang mendekat pada mereka.


"Karina? Arion? Aku kira kalian datang waktu resepsi," kaget Joya menunjukkan senyum manisnya.


Arion menunjukkan wajah datarnya, takut Karina nanti salah mengartikan jika ia tersenyum. Karina menggandeng erat lengan kiri Arion. Pandangan Arion tetap ke depan.


"Ya, aku datang sekarang karena permintaan suamimu," jawab Karina acuh melirik Darwis. Darwis terkekeh. Joya memicingkan matanya, menerka hubungan antara Darwis dan Karina. 


"Kalian saling kenal?" tanya Joya penasaran. 


"Ya begitulah," jawab Karina  lagi. Darwis tersenyum melihat aura cemburu Joya. 


"Sejak kapan?" tanya Joya lagi. Hatinya mulai memanas. Mengira Karina adalah masa lalu Karina.


Ck, dulu Arion sekarang Darwis. Wanita ini memang tidak mudah diterka, kesal Joya dalam hati.


"Sejak lama," jawab Karina memancing Joya.


"Mengapa kau tak jujur padaku?" tanya Joya kesal pada Darwis.


"Ku kira kau tahu. Kan kasino yang aku pimpin bekerja sama dengan Pedang Biru, nah kebetulan waktu penandangan kontrak ekskusif, Nona Karina sendiri lah yang menghadiri," jawab Darwis santai, tanpa rasa bersalah.


Joya mengerucutkan bibirnya.


"Jangan cemberut atau aku akan memakanmu sekarang," bisik Darwis namun ditangkap telinga tajam Karina.


"Kalau mau makan ya makan saja, sudah halal malu-malu, sebelumnya langsung makan, cepat sana mumpung ada waktu," sindir Karina meledek Darwis dan Joya. Joya tentu saja memerah malu dan kesal. Ia menyembunyikan wajahnya di pelukan Darwis.


"Cie, langsung nemplok kayak cicak, sudah sana Wis, lanjut ke tahap berikutnya," lanjut Karina senang menggoda pengantin yang baru sah ini.


"Darwis," rengek Joya. Terdengar menggoda di telinga Darwis. Mendapat kode dari Karina yang bertanda lampu hijau, Darwis dengan gagah langsung menggendong Joya. Gaun yang Joya gunakan juga tak ribet dan kebanyakan lipatan. Simpel seperti long dress. 


Joya semakin malu kala para tamu undangan yang menghadiri ijab qabulnya melihat mereka dengan senyum-senyum. Ayahnya pun tampak mengacungkan jempol memberi semangat. Darwis menaiki tangga menuju kamar Joya. 


"Mereka serasi," ucap Arion.


"Ya untuk beberapa saat ke depan saja," jawab Karina pelan.


"Mengapa?" tanya Arion tak mengerti.


"Karena akan ada kejutan dari Darwis dan dariku tentunya," jawab Karina.


"Kejutanmu selalu ditunggu Karinaku, Sayang," sahut Arion.


"Kita pulang?" tanya Arion. Sudah dua jam mereka di sini. Waktu menunjukkan jam makan siang.


"Hmm … oke deh," jawab Karina. Mereka menyambangi pemilik rumah yang berbincang dengan rekan bisnisnya.


"Selamat Tuan Reza," ucap Karina yang membuat Reza menoleh dan membalasnya dengan senyuman.


"Selamat atas pernikahan Joya, Tuan Reza," tambah Arion.

__ADS_1


"Ah terima kasih, Tuan dan Nyonya Wijaya," sahut Reza.


"Hmm … sebelumnya mohon maaf, karena ada insiden kemarin kami tidak sempat membawa hadiah, kami hanya datang orang saja," ucap sesal Arion.


"Tidak masalah Tuan, kehadiran dan doa Anda berdua adalah hadiah yang paling sempurna, sebelumnya juga mohon maaf karena kesibukan saya, saya belum sempat mengunjungi Anda. Turut berduka atas kecelakaan yang menimpa Anda," sesal Reza membungkukkan badannya sesaat.


"Hahaha … tak apa, saya paham," jawab Arion tersenyum.


"Sebelumnya mohon maaf Tuan, kami tidak enak jika tidak membawa hadiah. Jika saya ada waktu saya akan mengirim hadiahnya pada Anda dan juga putri Anda," ujar Karina.


"Hmm … terserah Anda saja Nyonya. Ah ya, saya dengar Anda berdua mencari donor mata?"tanya Reza.


"Ya," jawab Karina dan Arion singkat. 


"Jika berkenan bolehkah saya ikut membantu? Hitung-hitung sebagai balasan atas perbuatan saya dulu," tanya Reza hati-hati tak mau menyinggung ratu dunia bawah ini.


"Hmm bagaimana ya Tuan, saya tak mau merepotkan Anda. Terima kasih atas niat baik Anda," jawab Arion.


"Tidak merepotkan kok," terang Reza.


"Kalau begitu terima kasih banyak," balas Arion.


"Hm … kami izin pulang Tuan Reza," ucap Karina yang diam sesaat tadi.


"Baiklah," ujar Reza. Karina dan Arion segera pamit. Karina dan Arion segera melangkahkan kaki mereka keluar dari rumah Argantara. Saat di pintu, Karina menghentikan langkahnya dan melihat sekilas ke belakang. Arion tentu saja ikut berhenti, sebab tangan mereka berpegangan.


Hmm … balasan perbuatanmu dulu? Maaf Paman, nyawa keluargaku tak dapat diganti dengan bantuan yang kau tawarkan, batin Karina sinis.


Pak Anton dengan sigapnya membuka pintu mobil. Tak lama, mobil putih itu melaju meninggalkan kediaman Argantara.


"Markas Pak," titah Karina yang membuat Arion mengeryit.


"Mau ngapain ke markas? Ada hal penting? Atau ada hubungannnya dengan kenapa kau gemetaran tadi?" terka Arion penasaran.


"Hmm," gumam Karina sebagai jawaban. Arion menggerakkan alisnya tanda mengerti. Jika sudah begitu pasti musuh kali ini berbahaya dan dapat dipastikan pernah berhubungan dengan Karina sebelumnya.


Bintang berkobra, mengapa kalian kembali dan mengusik hidupku? Belum cukupkah masa kecilku kalian ambil? geram Karina mengeraskan rahangnya.


Karina menunjukkan wajah geramnya dan melempar pandangan ke arah jendela, menatap pepohonan yang ditanam di pinggir jalan. 


Arion yang tak bisa melihat hanya bisa diam dan menggenggam erat tangan Karina. Sedangkan Pak Anton, merinding melihat wajah geram-segeram-geramnya yang sudah sangat lama tak Karina tunjukkan. 


Siapa yang mengusik Nona? Dilihat dari ekspresinya pasti cinta lama yang bersemi kembali, eh salah musuh lama yang kembali datang, batin Pak Anton berusaha tetap menyetir ke depan.


"Siapa yang membuatmu gemetar? Pasti kekuatan mereka besar," tanya Arion.


"Mereka? Lambang bintang dan kobra, kamu tahu bukan siapa mereka? Ya walaupun sudah hilang selama lebih dari satu dekade, kau sebagai king sebelum ku geser pasti tahu siapa mereka," jawab Karina berusaha menahan emosi yang meledak.


Sabar Karina, ingat janinmu, batin Karina. 


Bintang dan kobra? Arion berusaha mengingat. Hmm … ingatannya samar. Wajar saja, ia hanya ia bagaimana dulu mafianya hancur di depan mata.

__ADS_1


Satu dekade lebih? Ah Arion ingat! Cerita waktu zaman SD, di depan baik namun di belakang menculik anak usia 5 sampai 10 tahun untuk dijadikan alat yang bebas mereka perintah dan kontrol.


Anak di usia segitu masih mudah dilatih dan gampang diancam. Melakukan pelatihan keras serta uji coba hasil penelitian organisasi tersebut. 


"Kamu … salah seorang korbannya?" tanya Arion hati-hati.


"Ya, aku salah satunya. Jarum yang menusuk kulitku menyalurkan berbagai cairan ketahanan tubuh akan teringat dan menghantuiku jika mau disuntik. Aku trauma dengan jarum suntik," jelas Karina.


Arion akhirnya tahu alasan di balik histeris Karina kala mau disuntik. Hatinya meringis, sakit dan berdarah. Selain itu juga kagum dengan Karina. Sebab setelah sindikat itu terbongkar kebanyakan korban memilih bunuh diri tak tahan dengan bayang-bayang kejadian yang mereka alami selama penculikan serta banyak juga yang menjadi gila hingga akhirnya meninggal untuk selamanya.


Hanya terhitung jari yang bisa keluar dari hal itu, itupun harus melalui terapi panjang serta yang pasti mental yang kuat dan kokoh.


Tak mengherankan dengan ketahanan tubuh Karina. Sebab cairan yang disuntikkan akan tetap ada di dalam tubuh. Tak bisa dibersihkan lagi. Banyak peneliti dunia yang mengecek sampel darah untuk meneliti cairan yang sudah tercampur dengan darah itu, hingga akhirnya mereka menyerah setelah sekian tahun meneliti tak ada satupun yang cocok. Apalagi nama bahan yang sungguh sulit dicari serta hanya satu dua bahan saja yang berhasil diidentifikasi.


Sayangnya mereka tak pernah menyangka bahwa gadis kecil yang tak lain Karina mengingat jelas bahan-bahannya. Hingga saat beranjak dewasa Karina membuat cairan itu sendiri untuk tetap mempertahankan daya tahan tubuhnya.


"Kau ternyata takut dengan jarum kecil dan tipis itu, tak ku sangka," lakar Arion tertawa kecil.


"Hmm … kecil tapi menyakitkan. Mending aku, daripada kamu takut sama kaki seribu, baru lihat foto saja kamu sudah lari tunggang langgang," balas Karina.


Arion tertegun. Hanya dia, Maria dan Amri dan dua sahabatnya yang tahu itu. Lantas bagaimana Karina bisa tahu? Dia kan tak pernah cerita.


"Aku gadis kecil yang memarahimu dulu, masih ingat? Di bawah pohon mangga yang rindang serta anak laki-laki yang menangis kelaparan. Lupa bawa uang, tak bawa handphone, tak pakai jam, cuma celana pendek, baju kaos garis pelangi dan topinya yang lucu, lupa alamat rumah lagi, tak tahu jalan pulang, sungguh miris," terang Karina mengingat masa sebelum ia diculik. 


Arion mengeryitkan dahinya dan menunjukkan wajah bingungnya. Ditilik lebih jauh, ia pernah mengalaminya. Saat di negara kakeknya. Dan gadis kecil? Ingat, ingat dan ingat. 


Ah Arion ingat syair namun lupa kuncinya. Ingat kejadian itu tetapi samar dengan wajah malaikat kecilnya.


"Kau malaikat kecilku?" tanya Arion ragu.


"Yang memberiku puding mangga, dan memaksaku memakannya padahal aku benci buah itu?" tanya Arion lagi.


"Ya, itu aku Arion Sayang. Aku malaikat kecilmu juga istri kecilmu," sahut Karina mencium singkat dahi Arion.


Arion langsung merengkuh Karina dalam pelukannya. Air mata tumpah rua di pipinya. 


"Kau bukan kecil, tetapi istri besarku yang dingin," ralat Arion.


Lima menit berlalu, posisi mereka masih sama. Pak Anton lebih memilih memutar lagu romantis dan syahdu mengiringi pertemuan itu. 


"Sejak kapan kau menyadari aku adalah anak itu?" tanya Arion meraba dan menggapai pipi Karina.


"Sejak kau melamarku," jawab Karina.


"Maka dari itu kau setuju menikah denganku?"tanya Arion lagi.


"Salah satunya, dan karena air mata ibumu seperti yang ku jelaskan sebelumnya," terang Karina.


"Ah, malaikat kecilku, kau tumbuh sangat cantik dan sekarang kau adalah istriku," ucap Arion senang.


***

__ADS_1


__ADS_2