
Seminggu sudah Ferry belum sadarkan diri. Perawatan yang maksimal telah dilakukan. Tapi ya namanya koma, hanya bisa menunggu saatnya. Sadar atau tidur selamanya. Yang pasti bagi keluarga, selama jantung masih berdetak, perawatan sampai akhir. Wulan kembali hari minggu kemarin, maklum sebentar lagi akan diadakan ulangan tengah semester. Mamanya pun ikut menemani pulang.
Hanya papanya Ferrylah yang tinggal itupun untuk satu hari ini saja, sebab besok papanya Ferry akan menyusul Wulan dan istrinya ke negara F, lengkap dengan Ferry bersamanya. Agar lebih mudah baginya, perusahaan juga ia anggurin selama seminggu, mau sampai kapan bergantung dan memerintah sang sekretaris. Kasihan juga lama-lama.
Papanya Ferry, Andi mendatangi kediaman Karina untuk menyampaikan masalah Ferry yang akan meneruskan perawatan di negara mereka sendiri.
Dengan kata-kata penuh pertimbangan dan kehati-hatian agar tak salah bicara ataupun menyinggung Karina serta Arion, Andi berbicara pada keduanya.
"Baiklah. Itu hak Anda selaku orang tua dari Ferry. Saya juga mohon maaf sebesar-besarnya sebab karena saya juga Ferry jadi begini," ujar Arion.
"Anda salah Tuan, sayalah yang harusnya memohon maaf atas kelalaian putra saya dalam mengemudi, karena putra saya Anda jadi begini," sergah Andi pelan.
Karina mengeryitkan dahinya. Biasanya orang berebut benar, ini malah berebut mengakui kesalahan.
"Tapi Ferry lebih parah keadaannya dari saya," ujar Arion.
"Tapi …." Ucapan Andi dipotong langsung oleh Karina.
"Ini bukan salah mereka berdua, kecelakaan ini direncanakan. Jadi yang salah adalah sang pelaku pembuat perencana. Heran deh," gerutu Karina kesal.
"Rencana? Jadi hasil penyelidikan pihak kepolisian itu meleset?" Andi terkejut. Ia menatap Karina meminta jawaban. Sedangkan Arion, diam karena ia sudah tahu akan hal itu.
"Tidak meleset hanya kurang. Kerja mereka bagus, very good," jawab Karina melipat kedua tangannya di atas paha.
"Astaga! Anakku sayang siapakah gerangan dirimu?"gumam Andi sedih, memikirkan siapa pelakunya.
"Anda tak perlu risau sebab yang diincar adalah kami berdua bukan Ferry, jadi Anda dapat membawanya pulang ke negara F, semua biaya akan saya tanggung," ucap Arion.
"Rumah sakit juga Tirta Hospital, akan saya suruh mereka menyiapkan semua berkas," tambah Karina.
Andi tertegun, ia kira Karina dan Arion akan lepas tangan karena hal ini, nyatanya tidak. Ia tersenyum.
"Ah ya bagaimana jika Siska merindukan Ferry? Apa dia ikut ke sana?"tanya Arion.
"Itu keputusan Siska," jawab Karina.
"Saya belum memberitahu Siska, sore nanti baru," ujar Andi.
"Hmm … lakukan apa yang terbaik saja," ucap Karina. Andi mengangguk dan segera pamit. Mengurus segalanya untuk pulang ke negaranya.
Karina bersandar pada bahu Arion. Arion menggerakkan tangannya mengusap lembut rambut Karina.
"Sayang," panggil Arion.
"Hm," sahut Karina memejamkan matanya.
"Apa ada kabar terbaru mengenai Robetto itu?"tanya Arion.
"Hm, mereka hilang dalam pemantauan. Entah di mana mereka sekarang. Aku yakin pasti cepat atau lambat mereka akan muncul lagi," jawab Karina lesu.
"Jadi kita harus tingkatkan kewaspadaan," saran Arion.
"Ya begitulah. Tapi aku rasa sistem rumah ini cukup untuk itu. Sebentar aku kebalkan lagi keamanannya. Sandi gerbang juga harus ganti, jika tidak anak nakal ini akan bebas keluar masuk rumah," sahut Karina melirik Enji yang datang dari arah dapur dengan semangkuk sedang cemilan dan laptopnya. Enji tak bisa pisah dengan sang laptop.
Merasa terpanggil, Enji duduk di samping Kiri Karina. Padahal ia tadinya mau ke pendopo menikmati angin sepoi-sepoi. Cemilan dan laptopnya ia letakkan di atas meja. Matanya menatap Karina minta jawaban.
"Apa?" tanya Karina.
"Kakak ada apa memanggilku?" tanya Enji.
"Siapa yang memanggilmu?"tanya Karina lagi.
"Tadi kakak menyebut anak nakal, itu aku kan? Terus mau ganti kata sandi, emang bisa? Ntar ku retas loh," cerocos Enji, memasukkan cemilan ke mulutnya. Baru mau menjawab, Karina malah disodori cemilan dari Enji. Ya dimakanlah.
"Kau bisa meretas apapun, tapi tidak dengan sistem yang aku buat." Karina tersenyum skat mat untuk Enji. Enji mendengus. Benar tidak salah tapi sakitnya tuh di sini. Enji lanjut ngemil, sembari membuka laptopnya dan masuk ke dalam sistemnya. Tak lupa mencari dan mengecek informasi tentang apa yang ingin ia dapatkan.
Karina menyuapi Arion. Arion menerima dengan hati senang. Karina teringat akan sesuatu, perintahnya terhadap Li dan Elina. Mereka kan ke negara boyband yang mau dicomot leadernya sekalian bulan madu.
Karina mengambil handphonenya dan mencari kontak Li. Langsung menelponnya.
"Halo Karina," jawab Li. Dari suara latar belakangnya, Li sepertinya berada di dekat jalan raya. Ada suara whas wuss kendaraan lalu lalang.
"Bagaimana?"tanya Karina penasaran.
"Masih mau masuk ke BHE, nanti malam kami juga akan kembali dengan tangan yang sering merusak barang itu tentunya," jawab Li.
"Oh, cepatlah, aku tak sabar mencubit pipinya," ujar Karina memejamkan matanya. Enji menoleh dan menaikkan satu alisnya. Arion tampak mencembikkan bibirnya. Tadi malam Karina tak hentinya membahas tentang leader itu, yang jeniuslah, cool, penyabar lain banyak lainnya. Hati suami mana yang tak panas mendengar istri memuji pria lagi di depannya, sekalipun itu idol bintang dunia.
Sama handphone saja kadang Arion cemburu apalagi sama manusia.
"Mana istrimu?"tanya Karina. Karina memeluk Arion. Meredakan cemburu sang suami.
"Tidur di hotel setelah begadang," jawab Li.
"Hm buat yang banyaknya," pinta Karina.
"Kak Li bawakan juga kembaranku itu, aku mau tahu kami sedarah atau tidak," seru Enji dengan berteriak.
"Woi telingaku masih berfungsi dengan baik, jika telingaku bermasalah nanti akan ku kick kau ke lubang buaya!"balas kesal Li. Berdengung rasanya telinganya.
"Hahaha buaya apa neh? Kau saja yang masuk sana, aku masih punya banyak impian, kau kan sudah tua, buyut," balas Enji.
"Auh," ringis Enji merasa telinganya ditarik.
__ADS_1
"Nanti dulu impianmu itu, kau juga sudah tua, anakmu sudah enam tahun," ketus Karina.
"Oke," pasrah Enji mengusap telinganya yang merah.
Li di tempatnya tersenyum senang. Karina mewakilinya melampiaskan kekesalan terhadap Enji.
"Ehm, apa aku bawa kembaran Enji juga?"tanya Li memastikan.
"Bawa saja semua, rumahku lebih dari cukup untuk mereka tinggal," jawab Karina.
"Oke," sahut Li. Karina mematikan panggilan.
"Ye semuanya kau bawa," keluh Arion.
"Biarin namanya juga ingin," sahut santai Karina.
"Kak barang-barangmu jaga dengan baik, leadernya itukan terkenal dengan dewa penghancur," ujar Enji memberi peringatan. Karina mengangguk.
"Tenang saja, jika ia menghancurkan barangku, maka akan dapat imbalan dia." Karina tersenyum smirk. Enji bergidik. Kasihan dengan leader itu nantinya.
"Oh ya kak aku ada kabar gembira untuk kakak berdua, coba tebak," ucap Enji bahagia. Arion menunjukkan wajah serius sedangkan Karina wajah santainya.
"Kamu sudah dapat ibu untuk Bayu?"tebak Karina asal.
"Hmm … ada hubungannya dengan kami, kabar bahagia, kamu mau punya anak lagi?"tebak Arion. Enji tersedak. Dengan cepat minum jus jeruk milik Karina.
"Astaga kalian berdua mikir apa sih?"heran Enji.
"Jadi?"tanya Arion. Enji menghela nafas.
"Aku dapat donor mata untuk kakak, dan setelah aku konfirmasi, semuanya cocok. Warna matanya juga indah, kakak pasti suka," terang Enji menunjukkan layar laptopnya.
Data lengkap tentang donor mata tertera di sana. Karina menatap Arion, Arion membeku. Hatinya senang bercampur haru. Dengan cepat Karina memeluk Arion. Berbagi bahagia lewat pelukan. Air mata Arion pun jatuh membasahi pipinya.
Tersedu di pelukan Karina. Enji tersenyum bahagia. Senang dirinya bisa berguna dan aktif lagi untuk Karina.
"Aku gak dipeluk?"tanya Enji.
Karina menoleh ke arah Enji.
"Tentu saja Ji, sini kamu jadi pengawal bayangan kakak lagi, ah tidak kamu adikku, adik tercintaku bukan lagi bawahanku," jawab Karina. Enji langsung nimbrung memeluk Karina. Percakapan itu didengar oleh Bik Mirna dan Pak Anton. Mereka berdua tentu saja ikut bahagia.
Tetesan air mata juga mereka keluarkan.
"Thanks Ji, kamu penolong kakak," ucap Arion serak, tersenyum bahagia.
"Sudah sepantasnya kak. Aku tak mau kakak cantikku ini sedih terus karena itu," ujar Enji.
Hmm, aku bisa membuat rencana untuknya. Tuan Robetto tak akan ku biarkan kau merusak kebahagianku, batin Karina.
***
Li menatap puncak bangunan BHE, kacanya silau diterpa matahari pagi, maklum di negara ini masih pukul 09.00, sedangkan di negara Karina sudah pukul 14.00.
Li memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Sesuai jadwal yang Li dapatkan, harusnya lima menit lagi boyband itu tiba di BHE. Tak lama masuklah mobil yang Li pastikan adalah boyband tersebut.
Li langsung menghubungi direktur BHE, sudah dapat akses sebab kan organisasi dan perusahaan Karina yang berkuasa.
"Selamat pagi Tuan Li," sapa direktur BHE.
"Hmm, saya mewakili Queen Pedang Biru meminta agar mereka bertujuh ikut dengan saya ke negara Queen saya," ucap Li tegas.
"Bertujuh maksudnya Blue Boys?"tanya direktur memastikan.
"Hm, siapa lagi jika bukan mereka. Awalnya cuma si leader itu saja yang mau saya pinjam akan tetapi Queen menitahkan untuk semua membernya ikut," jawab Li.
"Hmm kapan Anda akam membawa atau mereka ke negara Anda?"tanya direktur.
"Sekarang juga. Aku ada di depan gedungmu sekarang. Jaket biru dekat gerbang," ujar Li.
"Baik. Saya akan konfirmasi dulu terhadap manajer mereka," balas direktur.
"Satu lagi, cuma member, rahasia serta non kamera dan manajernya tak boleh ikut," peringat Li.
"Baik," ucap direktur. Panggilan berakhir.
***
Sang direktur BHE menuju jendela ruangannya, melihat Li yang menatap ruang kerjanya.
Astaga, mengapa Queen bisa tertarik terhadap mereka? Tapi gak heran sih merekakan sudah bintang dunia. Tapi ngeri-ngeri juga aku menyetujuinya. Walaupun terkenal welas asih, kekejaman mereka juga terkenal. Haih tapi jika tidak semua akan terdampak. Setujui sajalah, batin direktur.
Ia segera memanggil manajer idol tersebut ke ruangannya. Tak butuh waktu lama manajer boyband itu datang dengan tergesa dan wajah penasaran. Tak biasanya sang direktur memanggilnya.
"Pagi direktur," sapa manajer.
"Apa kegiatan mereka hari ini dan seminggu ke depan?"tanya direktur.
"Jadwal hari ini cuma latihan koreografi serta latihan kebugaran. Setelah itu ada jadwal wawancara di acara … itulah jadwal mereka," terang manager.
"Batalkan semua itu," titah direktur. Sang manajer tersentak kaget. Bingung, jadwal sudah disusun sedemikian rupa hendak dibatalkan?
"Anda serius? Apa ada jadwal yang kurang berkenan di hati Anda?"tanya manajer.
__ADS_1
"Tidak! Suruh kemari mereka bertujuh. Ingat batalkan semua jadwal. Jadwalkan ulang minggu depan," titah direktur.
"Baik," jawab patuh manager dan segera keluar ruangan.
Lima menit kemudian ke tujuh member mengetuk pintu dan masuk setelah mendapat izin dari direktur.
"Pagi direktur," sapa mereka bertujuh.
"Pagi my Boy Band," jawab direktur.
"Duduk," titah direktur. Boy Band tersebut duduk di sofa yang tersedia di ruangan direktur.
"Jika boleh tahu ada apa Anda memanggil kami semua?"tanya sang leader teman-temannya.
"Kemasi barang-barang kalian secepatnya setelah ini," ujar direktur.
"Hah?"reaksi mereka kaget. Pikiran negatif langsung memenuhi otak mereka. Mereka mau diusir kah dari BHE? Apakah mereka mau dibubarkan.
"Apa maksud Anda direktur?"tanya member termuda yang mendapat julukan golden maknae atau rabbit tak suka.
"Apa kami melakukan kesalahan?"tanya member tertua.
"Kami mau kemana?"tanya sang leader. Panik tapi tetap santuy.
"Ke Pedang Biru Mafia," jawab seseorang. Membuat ketujuhnya plus direktur menoleh ke sumber suara, pintu masuk, Li masuk dengan tangan yang ia masukkan ke kantong celana.
"Hah? Pedang Biru Mafia?"kaget mereka bertujuh bersamaan.
"Anda bagaimana bisa masuk?"tanya direktur heran.
Li mengangkat kartu berwarna biru dari saku bajunya. Mata direktur membulat sedangkan Boy Band tersebut. saling pandang.
"Kartu itu? Bagaimana bisa Anda mendapatkannya?"heran direktur.
"Dari Karina, CEO KS Tirta Grub," ujar Li. Direktur menautkan alisnya. Artinya Queen dan CEO KS Tirta Grub satu tubuh. Oh my God! Ternyata keberuntungannya hari ini. Hasil didikan perusahaan yang ia pimpin dilirik perusaan besar itu.
"Ada siapa?"tanya member yang paling ceria alias Hopenya para Purple.
"Direktur kami ke sana bersamanya?"tanya member termuda kedua di boy band tersebut.
"Apa manajer kami ikut? Ada acarakah? Setahuku mereka tertutup," ujar sang leader.
"Karina? Oh yang dari negara Y itu ya?"tanya member tertua kedua, atau kita panggil saja Agus ataupun kakak kedua.
"Dari mana kamu tahu?"tanya member termuda ketiga atau kakak keempat.
"Lihat siaran langsungnya, wajahnya cantik, tapi sudah ada yang punya," terang kakak kedua.
"Mengapa kau tak cerita pada kami?"tanya kakak keempat lagi.
"Lupa," jawab kakak ketiga.
"Shut! Cepat kemasin barang kalian dan naik ke rooftop," titah Li jengah.
"Buat apa? Barang kami di rumah!" Jawab golden maknae.
"Ya tinggal ambil, cepat helikopter telah menunggu," jawab Li.
"Helikopter?"beo mereka. Mereka segera ngikut Li dengan rasa penasaran dan pembincang tentang kegiatan mereka. Kehormatan bisa bertemu dengan CEO KS Tirta Grub.
***
NB. Mohon maaf readers atas perubahan beberapa nama, diantaranya adalah nama para member boy band asal korea selatan tersebut. Akan tetapi, namanya masih merujuk ataupun berhubungan dengan mereka kok, gak bakalan melenceng. Yaitu:
Untuk sang leader ataupun Kim Nam Joon namanya disini adalah sang leader, atau Koya, jadi jangan bingungnya jika saya menulis nama mereka bergantian.
Untuk Kim Seok Jin, nama disini adalah Kakak pertama, atau RJ.
Untuk member tertua kedua, kakak kedua atau Agus.
Untuk member ketiga tertua yaitu J-Hope, kakak ketiga atau Hope or Mang.
Untuk Park Jimin, namanya adalah kakak keempat atau Mochi, atau Chimmy.
Untuk Kim Taehyung, namanya adalah Tata.
Untuk Jungkook, namanya adalah Kuki, atau golden maknae.
Sekian. Semoga paham.
***
Like
comment
plus vote ya
TBC.
__ADS_1