Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 220


__ADS_3

Setengah jam kemudian, lebih cepat sepuluh menit dari biasanya sebab jalanan lenggang, mobil yang dinaiki Karina dan Arion berhenti beriringan di depan teras rumah. Kedua sopir itu segera membukakan pintu untuk majikan mereka.


Arion dan Karina mengeryit dan saling pandang melihat ada satu mobil dan satu sepeda motor terparkir di halaman, dan itu adalah mobil orang tua Arion dan motor Enji.


"Ada urusan apa mereka kemari malam-malam?" tanya Karina, dijawab gelengan kepala Arion.


"Aku tidak tahu. Ayo masuk dan bertanya," jawab Arion, memeluk pinggang Karina dan melangkahkan kaki masuk. Pintu dibukakan oleh pelayan. Seperti biasa, dua gelas coklat hangat Bik Mirna sajikan untuk Karina dan Arion.


"Tuan dan Nyonya besar beserta Den Enji dan Bayu ada di ruang tengah Non, Tuan Muda. Mereka sudah menunggu sejak azan isya berkumandang. Untuk den Enji datang setelah magrib," terang Bik Mirna memberitahu.


"Alia juga ikut?" tanya Arion. Bik Mirna mengangguk. Keduanya segera menuju ruang tengah. 


Terlihat, Enji dan Bayu memainkan handphone, Maria dan Amri bermain dengan Alia. Mereka menoleh ke arah Karina dan Arion saat mendengar langkah kaki.


"Assalamualaikum," sapa Arion dan Karina bersamaan.


"Waalaikumsalam," jawab mereka kompak.


Maria berdiri dan mencium pipi Karina lalu mengajaknya duduk. Arion mendaratkan tubuhnya di sofa tunggal.


"Dari mana saja kalian? Mengapa pulang selarut ini?" Amri menatap Arion dan Karina. Kedua orang itu kompak mendatarkan wajah lalu memasang senyum bersalah.


"Kami dinner tadi Pa, Ma," jawab Arion. Mereka tidak berbohong, mereka memang sempat makan malam di sebuah rumah makan pinggir jalan. Pekerjaan boleh CEO, gaya hidup, orang biasa.


"Oh, pantas saja. Tapi, jangan sering keluar malam. Gak baik," nasehat Maria. Hei Mama, kamu juga keluar malam.


"Iya Ma," jawab singkat Arion.


"Kalian langsung dinner setelah pulang kantor? Sepertinya kalian berdua tidak ada yang pulang?" tanya penasaran Enji.


"Iya," jawab Karina, melirik Enji menyuruhnya diam. Enji memutar bola matanya malas.


"Oh, iya ada acara apa Papa dan Mama malam-malam begini ke rumah?" tanya Arion. Amri memberikan Alia pada Maria. Karina gemas dan memegang pipi Alia. Alia nampak sudah tertidur dengan mata tertutupnya.


"Bayu, bawalah Alia ke kamar, dia akan terganggu dengan pembicaraan ini," suruh Karina pada Bayu. Bayu mengangguk. Karina juga memanggil dan menyuruh Bik Mirna menemani Bayu dan Alia. Maria memberikan Alia dalam gendongan Bik Mirna, Bayu mengikut di sampingnya.


"Begini Ar, sebenarnya kemarin malam Papa dan Mama mau bertandang kemarin. Akan tetapi, ternyata Alia sakit. Suhu badannya meningkat, jadi kami harus ke rumah sakit," ucap Amri mulai menjelaskan maksud kedatangannya. Karina membulatkan matanya.


"Dokter mengatakan bahwa itu ada efek dari sisa obat yang diberikan pada Alia saat penculikan. Tapi syukurlah, obatnya dapat diserap habis dan kondisi Alia membaik." Maria menimpali ucapan Amri. Karina dan Arion menghela nafas lega sekaligus geram mengingat kejadian di negara sana sewaktu mereka liburan.


"Astaga? Kasihan anak itu. Tapi, mengapa hanya satu hari dirawat?" ujar sedih Karina.


"Karena dokter mengatakan kondisinya sudah baik, maka kami membawanya pulang. Begitu pulang, kami langsung kemari," jawab Maria lagi. 


"Intinya?" tanya Arion tak sabar. Ia menatap Amri, mendesaknya agar cepat menjawab, sebab jujur saja, mata Arion sudah berat dengan sejuta lelah di tubuh. Ingin segera menyelam di pulau kapas. 


"Apa kalian sudah menemukan makam Azri dan Ibu Andini? Papa terus kepikiran tentang itu, sebab selama di negara B, kita tidak mencarinya," jawab Amri.


Karina dan Arion saling pandang. Arion menggeleng setelah diam sesaat, sedangkan Karina dengan dahi mengerutnya. Amri menatap harap Karina. Tak lama Karina mengesah pelan dan menggeleng juga. Karena setelah itu ada banyak agenda dan masalah, hal yang penting malah terlupakan. Maria dan Enji memilih diam sebab mereka tidak berada di tempat dan tidak tahu apa yang terjadi. 


"Aku tidak mencarinya. Aku lupa akan pesan terakhir kakek," ucap Karina dengan nada menyesal. Amri menghembuskan nafas nanar.

__ADS_1


"Tapi tenang, Karina akan segera menyuruh orang Karina mencari dan menemukannya dan dimakamkan dengan layak," ujar Karina tegas, mengambil handphone-nya.


"Benar, Ar juga akan kerahkan Black Diamond ikut mencari," timpal Arion.


"Tidak Karina, Ar, "tegas Amri. 


"Lantas? Apa Papa sendiri yang hendak turun tangan ke negara B?" sergah Arion setelah melirik Karina. Amri mengangguk.


"Iya, Papa yang akan turun tangan. Memimpin pencarian," jelas Amri.


"Kalau begitu, baiklah. Karina dan Arion juga akan tetap menyebar anggota untuk membantu. Karena biar bagaimanapun ini adalah tanggung jawab kami. Kami tidak bisa lepas tangan begitu saja walaupun Papa sudah menghandlenya," putus Karina yang diangguki Arion.


Amri tersenyum mengiyakan. Sedangkan Maria, tampak tidak setuju.


Menyadari tatapan kesal sang istri, Amri menoleh. Ia bingung dengan ekspresi Maria.


"Mama tidak setuju Papa ke negara B?" tanya Amri hati-hati.


"Bukan Mama tidak setuju, tapi Papa mau meninggalkan Alia dan Mama berdua di rumah? Sedangkan kondisi Alia harus dipantau menyakinkan bahwa kandungan obatnya sudah tidak ada setelah tiga hari ke depan. Mencari makam yang tidak pernah diketahui bentuk dan rupanya serta alamatnya bukan perkara mudah Pa," ujar Maria.


Amri tersenyum. Ia memang tidak pernah berpisah dengan sang istri. 


"Apa Mama mau ikut dengan Papa?" tanya Amri lembut memegang tangan sang istri. Maria mengangkat pandangannya dan mengangguk.


"Ya sudah, Papa, Mama dan Alia berangkat saja ke negara B. Bisa dianggap sekalian nostalgia di rumah kakek," saran Arion.


"Baiklah," jawab Amri. Maria tersenyum cerah. Dan memegang tangan Amri yang memegang tangannya.


"Secepatnya. Bila perlu besok pagi kami sudah berangkat," jawab Amri. 


"Hm, kalau begitu, akan segera Ar atur penerbangan untuk Mama, Papa dan Alia," ujar Karina.


Setelah berbincang sejenak, Karina memanggil Bik Mirna. Tak lama Bik Mirna datang dengan Alia di gendongannya. Tidak didapati Bayu ikut dengannya. 


Bik Mirna menyerahkan kembali Alia pada Maria. Amri dan Maria lalu segera berpamitan.


"Bayu mana, Bik?" tanya Enji.


"Sudah tidur Den, padahal tadi katanya mau begadang mabar atau nobar ya tadi  sama Aden, malah kalah sama kantuknya," jawab Bik Mirna.


"Zi," panggil Karina datar. Enji menatap Karina, Enji kaget dengan mata kesal Karina.


"Kak, aku janji gak bakalan sering mabar sama Bayu. Kami mabar setelah semua tugas selesai. Gak sampai begadang kok," janji Enji dengan wajah seriusnya.


"Bukan itu, kalian mabar kok tidak mengundangku?" Enji kik-kuk seketika.


Arion menggelengkan kepalanya dan Maria serta Amri saling pandang. Satu sisi, Karina suka mabar game online and battle.


"Hehehe, selanjutnya akan Enji undang ya Kak," ujar Enji. Karina menunjukkan wajah sebalnya.


"Jangan lupa, undang aku juga," peringat Arion. Karina dan Enji menatap Arion tak percaya.

__ADS_1


"Kau, juga pemain game Ar? Perasaan di handphone-mu gak ada aplikasinya." Karina menyenggol Arion meminta jawaban. 


"Tinggal instal kan?" jawab Arion santai. Karina berdecak lidah, jika dilanjut mungkin Arion akan mengatakan aku akan beli baru jika penyimpananku tidak cukup, kalau perlu beli setokonya. Kalau kurang, beli perusahaan game-nya.


"Baiklah Kak," ucap Enji pasrah. Karina tersenyum puas.


*


*


*


"Hati-hati di jalan Ma, Pa," ujar Karina melambaikan tangannya.


Arion menawari mama dan papanya untuk menginap namun ditolak dengan alasan akan repot bolak-balik jika pulang pagi. Mereka harus ke bandara pagi hari.


"Pak Jo, hati-hati menyetirnya. Awas saja kalau Mama dan Papa serta Tante saya terluka, akan saya gantung Bapak," pesan Arion pada sopir Amri dan Maria. Pak Jo mengangguk cepat. Amri dan Maria terkekeh. Mobil itu segera melaju meninggalkan kediaman Karina.


*


*


*


"Kamu, ada apa kemari Zi?" tanya Arion saat mereka kembali ke ruang tengah.


"Bayu minta menginap di sini Kak, besok kan hari libur, Bayu mau ngajak jalan-jalan katanya, dia gak mau pergi berdua sama Ayahnya, gak seru," jawab Enji, mengerucutkan bibirnya ke depan.


"Jalan-jalan? Tapi seperti aku tidak bisa Zi," ujar Karina.


"Mengapa?" tanya Enji penasaran. Arion juga penasaran. Kakaknya ini jika hari merah biasanya bersantai di rumah, paling batter nongkrong di pantai. 


"Aku besok harus ke markas. Memeriksa sejenak lalu ke laboratorium untuk meneliti tubuh bawahan Elina yang dihukum mati karena berkhianat. Dia membocorkan rancangan senjata pada MHZ. Awalnya aku tidak peduli, akan tetapi dia adalah bawahanku juga, setiap anggota punya chip, sedangkan padanya tidak ada. Untuk itu, aku harus meneliti tubuhnya untuk memjawab kebingunganku," ujar Karina.


"Em, yakin tidak bisa ditunda Kak?" tanya Enji hati-hati, ia tak mau menyinggung sang kakak. Karina menggeleng. Ia harus segala menyelesaikan hal ini.


"Lihatlah besok," tukas Karina, senyum Enji terbit perlahan. Lalu mereka bertiga langsung menuju kamar masing-masing. 


Setibanya di kamar, Enji mendapati Bayu yang terlentang tidur di lantai. Untung sang permadaninya agak tebal, jadi tidak terlalu sakit. Enji menggelengkan kepalanya dengan senyum di bibir. 


Bayu memang pecicilan dalam tidurnya, jika di kediamannya, Enji akan menidurkan Bayu di bagian ranjang yang berbatasan dengan dinding. Sedangkan di sini, ranjang terletak di tengah. 


Enji segera menggendong Bayu dan menaikkannya ke ranjang. Bayu membuka matanya sedikit dan menggumam.


Enji segera naik ke tempat tidur, menarik selimut dan memeluk Bayu agar tidak kembali jatuh. 


"Jangan lasak, ayah akan memelukmu. Tidurlah yang nyenyak, permata hati Ayah dan anak emas Ayah," bisik Enji. Memejamkan matanya. Bayu merapatkan tubuhnya pada sang Ayah.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2