Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 319


__ADS_3

Matahari telah terbenam sempurna. Lampu beragam bentuk, warna, dan ukuran menjalankan tugas mereka sebagai penerangan.


Bulan bersama dengan bintang - bintang  mulai menunjukkan sinarnya. Langit malam sungguh cerah. 


Karina menatap langit dari jendela kamar. Memainkan jari dengan mata menerawang jauh. Netra hitam itu mengedip perlahan diikuti senyum tipis penuh teka-teki.


Karina mengalihkan pandangan ke meja yang di atasnya terdapat segelas wine. Karina menjangkau wine tersebut.


"Langit begitu cerah malam ini, juga terasa sedikit sunyi. Haruskah aku membuat sesuatu yang membuat esok lebih menarik?"gumam Karina menggoyangkan gelas kemudian meminum wine hingga tandas. 


Karina mengusap bibir dengan punggung tangan, matanya melirik berkas di atas meja.


Tok.


Tok.


Tok.


Karina berbalik menatap pintu.


"Karina, apa kau di dalam?" 


Itu suara Li. Karina meraih remote untuk membuka pintu.


"Ada apa?"tanya Karina yang heran melihat wajah Li yang tampak panik.


"Ada masalah! Pasien uji coba tewas!"seru Li.


Mata Karina melebar.


"Apa?!"


Karina meletakkan kasar gelas di atas meja. Melangkah tergesa menghampiri Li. Karina menarik kerah baju Li, mata Karina menatap tajam Li.


"Apa yang terjadi? Bukankah tadi dia baik-baik saja? Kemana tim medis?"tanya Karina cepat.


"Memang benar. Tapi tiba-tiba saja dia mengalami kejang dan sesak nafas, setelah itu hidupnya berakhir. Dokter mengatakan bahwa penyakitnya tiba-tiba saja kambuh. Selain itu riwayat penyakit lain menjadi faktor pendukung nyawanya tidak tertolong. Karina tolong jangan marah," jelas Li dengan nada takut dan gemetar melihat wajah Karina yang menggelap.


"Sialan!"umpat Karina melepas kasar kerah baju Li. 


"Kalian tahu berapa sulitnya mencari penderita kanker darah hah?"cecar Karina mengacungkan telunjuk ke wajah Li.  Padahal uji coba belum dilakukan, tapi pasiennya sudah tewas duluan.


"Karina tenangkan dirimu. Kami akan menemukan lagi manusia yang menderita kanker darah. Kami akan mencari ke seluruh penjuru!"


Li melangkah mundur melihat tatapan sengit Karina. 


"Mencari katamu? Maka carilah sebanyak mungkin!"sahut Karina dingin. 


"Akan aku pastikan hal itu terjadi!"jawab mantap Li. 


Karina menunjuk keluar menyuruh Li keluar. Li menunduk hormat kemudian keluar secepat kilat.


"Ah sial, sial, sial! Mengapa maut selalu menghalangi?!"gerutu Karina yang emosinya mulai tidak terkontrol.


"Akh … darahku kembali panas!"gumam Karina. 


Karina segera mengambil tas dan keluar dari kamarnya. Karina menuju parkiran. Karina mengaktifkan mode kontrol suara.


Setelah memasukkan tujuan dan kecepatan mobil, mobil putih itu melaju tanpa sopir dengan Karina yang duduk di kursi penumpang.


Karina mengambil air dingin di kulkas mobil, menenggak separuh. Sisanya Karina gunakan untuk membasahi handuk, mengusap wajah dan lehernya. Nafas Karina sedikit menderu. Matanya kembali menatap datar ke depan.


"White, tambah kecepatan!"perintah Karina kepada sistem mobilnya.


"Cukup," ujar Karina setelah mobil melaju dengan kecepatan yang Karina inginkan.


Karina kemudian menyuruh White menyambungkan panggilan kepada salah satu bawahannya.


"Tunda eksekusi. On time pukul 02.00 nanti!"


Aku harus menahannya. Arion pasti sudah di rumah. Terlebih tidak seru jika ramai orang, batin Karina.


*


*


*


Karina memang sudah lebih dulu memberi tahu Arion bahwa ia pulang lembur. Kini Karina telah melewati gerbang biru kediamannya. Mobil putih itu berhenti tepat di depan rumah. Pintu terbuka otomatis.


 Sebelum keluar dari mobil, Karina mengubah raut wajahnya menjadi datar tanpa beban. Ia tidak ingin Arion khawatir dan banyak tanya. Karina tidak ingin mendengar banyak suara apalagi harus menjawab pertanyaan.


Seperti biasa, Bik Mirna langsung menyambut Karina dengan segelas air mineral. Karina mendaratkan tubuhnya di empuknya sofa sembari minum. Mengedarkan pandangan mencari keberadaan Arion. Karina menatap Bik Mirna bertanya keberadaan Arion.

__ADS_1


"Tuan ada di dapur, Nona. Sedang mempersiapkan makan malam," ujar Bik Mirna mengalihkan pandangan ke arah dapur.


"Dia pasti pulang cepat ya?" 


Bik Mirna menggeleng.


"Tuan tiba di rumah pukul 18.30, Nona. Beliau langsung memasak setelah Magrib," jelas Bik Mirna lagi.


"Baiklah. Aku mengerti. Ah ya bagaimana keadaan Pak Anton? Sudah lebih baik?"tanya Karina cemas dengan sopir setianya itu.


"Beliau sudah lebih baik Nona. Obat yang Anda berikan mempercepat kesembuhannya," jawab Bik Mirna tersenyum. 


Karina mengangguk.


"Nona, apakah hari Anda sangat berat hari ini?"


Karina melemparkan tatapan tajam pada Bik Mirna. Bik Mirna segera menunduk dan meminta maaf. Karina menghela nafas pelan.


"Aku baik-baik saja. Bibi kerjakan saja pekerjaan yang belum selesai. Saya akan ke dapur," ujar Karina.


"Baik, Nona." 


Bik Mirna berlalu pergi. Karina berdiri dan melangkahkan kaki menuju dapur. Arion tidak menyadari kehadiran Karina. Pria tinggi itu hanya terfokus mengaduk masakan, terlebih posisinya membelakangi Karina. 


Karina menyandarkan bahu ke bingkai pintu, kedua tangan menyilang di dada, bibir tersenyum lebar. Perasaan Karina lebih baik setelah melihat pria yang ia cintai. Ya cinta adalah obat.


Sejenak Karina merasa dunia ini terbalik. Seharusnya Karina lah yang berada di saja bukan Arion. Seharusnya Karina yang menunggu Arion pulang, bukan sebaliknya. Tapi apa mau dikata? 


Mereka sama-sama pengusaha yang tidak bisa meninggalkan pekerjaannya. Beruntung Karina memiliki suami yang tidak memaksakan kehendaknya sendiri. 


Karina melangkah pelan tanpa suara mendekati Arion. Mengintip masakan apa yang Arion buat. 


"Sup apa itu?"tanya Karina yang merasa asing dengan apa yang Arion masak. 


Arion terkesiap dan menoleh ke samping. Mengedip cepat saat matanya beradu pandang dengan manik hitam Karina.


"Hei."


Karina menyenggol lengan Arion. 


"Aigo. Kau mengejutkanku," protes Arion kemudian mencium pucuk kepala Karina.


Karina tertawa menunjukkan deretan gigi putih bersih. Arion tersenyum manis dan ikut tertawa.


"Kau tidak tahu? Ini sup rumput laut," ujar Arion dengan nada tidak percaya.


"Rumput laut?"beo Karina.


"Mengapa kau memasaknya?"tanya Karina lagi. 


Ia memang tidak mood menjawab, tapi mood bertanya.


"Ku dengar sup rumput laut ini sehat untuk tubuh. Vitamin K, kau tahu fungsinya kan? Aku membuatnya agar jika kau terluka, darahmu cepat membeku. Selain itu menurut internet, rumput laut juga kaya akan yodium dan kalsium. Aku ingin tulang-tulangmu dan anak - anak kita kuat sejak dini. Dan yang paling penting adalah sup ini rendah kalori," jelas Arion sembari mematikan api kompor gas.


Karina mengangguk paham.


"Mengapa baru sekarang?"tanya Karina lagi.


 Kali ini Arion menjawab dengan menyengir, dengan cepat memegang kedua pipi Karina, mendaratkan ciuman di kening Karina.


Karina mendengus senyum.


"Maafkan aku," pinta Arion lembut.


"Selain ini kau masak apa lagi?"tanya Karina.


 Mulutnya seakan tidak lelah mengeluarkan pertanyaan demi pertanyaan. 


"Ehm ada sup kepala kakap, tumis jagung muda dan brokoli, satu lagi udang goreng," jawab Arion melihat ke arah meja makan. 


Saat kembali melihat Karina, Arion menahan tawa melihat air liur Karina yang hampir menetes.


"Kau sangat lapar ya?"ledek Arion mengusap air liur Karina dengan bibirnya. 


Karina tertegun, matanya melebar menyadari bibir Arion menempel pada bibirnya.


Karina menarik bibirnya tersenyum. Kedua tangan ia kalungkan pada leher Arion. Arion mengeryit tipis, matanya tampak terkejut sesaat. Hanya sesaat, di detik berikutnya, bibir mereka sudah bertautan  dengan lidah saling membelit.


Arion menekan tengkuk Karina, memperdalam ciuman. Mata Karina terpejam menikmati ciuman sebagai menu pembuka makan malam.


"Ugh." 


Karina melenguh saat ciuman itu selesai.

__ADS_1


"Apakah harimu berat?"tanya Arion yang sekilas merasakan kegundahan Karina. 


Karina menggeleng.


"Biasa saja," jawab Karina menuju meja makan. 


Arion menggeleng pelan. Ia mengambil mangkuk putih untuk menyajikan sup rumput laut.


Arion menyusul ke meja makan. Dilihatnya Karina tengah menyiapkan dua porsi makanan, tentunya untuk mereka berdua.


Arion duduk di samping Karina.


"Ar bagaimana jika kau menjadi koki di restoranku saja?"tawar Karina.


"Bagaimana dengan perusahaan? Aku tidak yakin Papa mau menjadi pimpinan lagi," sahut Arion, malah meladeni tawaran Karina.


"Gampang. Perusahanmu akan aku ambil alih," jawab Karina tersenyum lebar.


"Hahaha … bisa saja kau ini. Tapi Sayang, aku hanya memasak untukmu dan keluarga, tidak untuk orang lain," tolak halus Karina yang membuat Karina tersenyum lebar.


"Aku hanya bercanda," canda Karina. 


"Kau ini," gemas Arion mengacak-acak rambut Karina. 


"Ar," rengek Karina menahan tangan Arion.


"Maafkan aku. Sebaiknya kita segera makan," ujar Arion. 


Arion menyuapi Karina, bergantian. Kini makanan di meja hanya tersisa piring dan nodanya saja. Karina mengusap bibir dengan tisu, begitu juga dengan Arion.


"Aih aku lupa mengucapkan selamat padamu. Selamat Sayang, game kerja samamu dengan perusahaan asing itu sudah menembus 4 juta download. Kau isteriku yang sangat hebat," ujar Arion. 


"Benarkah? It's amazing! Thank God," ucap Karina bahagia. 


Karina segera mengambil handphone dan mengecek play store.


Karina menutup mulut melihat jumlah yang mendownload game yang baru dirilis tadi pagi. Ternyata melebihi targetnya.


"Aku penasaran bagaimana gamenya. Sepertinya kita harus mencobanya setelah kau mandi dan kita Isya," tutur Arion.


"Setuju. Aku akan segera mandi."


Karina meninggalkan meja makan menuju kamar. Arion kembali menggeleng melihat tingkah Karina. 


Karina menatap meja makan. Ia mendesah pelan melihat peralatan makan yang kotor.


Arion berdiri, membereskan meja makan. Melangkah ke dapur, memakai apron kemudian mencuci peralatan makan kotor.


Harus mandiri. Tidak boleh mengandalkan siapa pun.


*


*


*


Kini Arion dan Karina duduk berhadapan dengan laptop berada di hadapan masing-masing. 


Setelah serangkai persetujuan yang biasanya dimunculkan saat pertama kali masuk, kini mereka mengisi biodata masing-masing.


Setelah itu mereka memilih karakter dalam game dan memilih masuk ke server mana. 


"Ayo kita menikah dulu," ucap Karina memberikan instruksi.


"Kau tidak sabaran ya," ejek Arion.


Setelah pernikahan mereka diresmikan di dalam game, Karina dan Arion memulai misi. Menaikkan level dan mengoleksi berbagai macam atribut, juga meningkatkan skill dan skin mereka.


Baru saja dua jam mereka bermain, mereka sudah menduduki sepuluh pemain teratas di dalam server mereka. Arion dulu baru Karina.


"Ah aku lelah," ujar Karina menutup laptop.


"Istirahatlah duluan. Aku mau mengecek email dulu," suruh Arion menatap Karina yang lelah.


Karina mengangguk dan segera beranjak naik ke ranjang. Karina merebahkan tubuhnya di empuknya ranjang, menarik selimut sebatas dada. Mata Karina masih menatap Arion yang fokus ke laptop. 


Sekitar setengah jam kemudian, Arion telah selesai dengan laptopnya. Arion menutup laptop, menoleh ke arah Karina yang sudah terlelap. Arion melangkah menuju kamar mandi. 


Tak berselang lama, Arion keluar dengan wajah yang lebih segar. Arion segera menyusul Karina ke alam mimpi. Sebelum tidur, Arion mengecup kening, pipi kanan, pipi kiri serta bibir Karina. Karina hanya menggeliat pelan sebagai respon.


*


*

__ADS_1


*


__ADS_2