Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 144


__ADS_3

"Ji kita berangkat malam ini? Yakin?"tanya Faisal yang tiba sore tadi. Waktu menunjukkan pukul 20.00. Enji yang memakai jaket hangatnya menoleh.


"Ya, besok pagi kita harus sudah di sana," jelas Enji tersenyum.


"Ah, senyummu membuatku meleleh, Ji, maukah kau jadi suamiku?"tanya Riri menggoda.


Faisal menoleh kesal ke arah Riri. Riri malah cuek dan menghampiri Enji yang telah siap sedia. Memegang tangannya dan bergelayut manja. 


"Uh kau tak malu punya suami brondong?"tanya Enji mengelus puncak kepala Riri dan mencuri pandang ke arah Faisal. Wajah Faisal menggelap. Hatinya cemburu. Riri calonnya, tunangannya. Hati Riri miliknya bukan pria lain walaupun itu Enji.


"Tak masalah. Kalau berondong tampan sepertimu, wanita mana yang tak mau? Nenek-nenek bau tanah saja pasti mau padamu, bagaimana? Mau jadi suamiku?"jawab Riri mengerling ke arah Faisal.


"Ya harus dapat persetujuan Ibu ratu. Pasangan Raja haruslah Ibu ratu yang memilih, semoga Ratu mendapat restu," jawab Enji.


Faisal panas, dengan cepat menarik tangan Riri dalam pelukannya.


"Hei, apa yang kau lakukan?" Pekik kesal Riri. Wajahnya kini menempel pada dada Faisal. Debaran jantung Faisal dapat Riri dengar.


Dia cemburu?batin Riri.


"Hei apa-apaan kau Sal? Calon istriku malah kau peluk sembarangan," kesal Enji. Akting saja.


"Siapa bilang dia calon istrimu? Dia tunanganku. Calon istri yang telah ku tunggu 20 tahun," ketus Faisal menarik tangan Riri keluar dari kamar Enji. Enji terkekeh dan menggeleng.


"Ambillah, Riri adalah Ririmu, kak Karina adalah kesayanganku. Kakak aku datang," gumam Enji menarik satu koper mini berisi barangnya.


Enji keluar kamar dan melihat Riri dalam penjara tangan Faisal dengan tubuh bersandar pada dinding. Enji yang kepo langsung mengambil posisi ngintip.


"Ri, kau ingat aku kan?"tanya Faisal pelan penuh harapan.


"Aku ingat. Kau kan dokter Enji. Aku bukan pikun," jawab Riri tegas.


"Bukan itu, kau ingat masa kecil kita kan?"tanya Faisal.


"Aku lupa masa kecilku," jawab Riri.


"Kau tak ingat aku? Cincin rumput? Mahkota rumput? Di bawah pohon maple? Riri Anastasyah? Aku pangeran selendangmu, Faisal Wibowo, kau tak ingat aku?"tanya sedih Faisal.


Riri diam, menatap dalam manik mata sedih Faisal. Riri sebenarnya sudah mendapatkan kembali ingatannya. Siapa dirinya sebenarnya.


"Apa buktinya?"tanya Riri. Faisal menurunkan satu tangannya dan membuka liontin kalung pada lehernya. Ada foto masa kecilnya bersama Riri yang tersenyum kala berjanji bersama sampai maut memisahkan.


Riri mengeluarkan air matanya. Itu memang benar fotonya. Di hadapannya pangeran selendangnya, kekasih masa kecilnya, anak lelaki yang selalu hadir dalam mimpinya dalam potongan samar. Riri langsung memeluk Faisal erat. Faisal membalas pelukan tersebut dengan erat pula. Menumpahkan kesedihan dan keharuan yang ia pendam.


Enji tersenyum bahagia. Terlintas ide jahilnya. 


"Cie, sudah pelukan saja. Gak jadi mau jadi ratu di hatiku? Ah Ri kau pemberi harapan palsu. Hatiku hancur berkeping-keping. Padahal tadi kau baru melamarku," keluh Enji muncul dari persembunyiannya.


"Kau!" Kesal Faisal melepas pelukannya.


"Kan tadi cuma akting Ji, kau tak tahu saja sikapku," jawab Riri santai.


"Ya ya, aku cuma alat membuat Faisal cemburu," ucap malas Enji.

__ADS_1


"Jadi tadi gak benar?"tanya Faisal. Enji dan Riri mengangguk. Faisal menepuk dahinya sebab terpancing dengan itu.


Enji mengkode Riri. Barang-barang Enji dan Riri sudah masuk bagasi duluan. Riri mengangguk.  Dengan langkah pelan Riri dan Enji berdekatan.


Hap, tangan mereka bertautan dan segera kabur menuju mobil. Faisal terkejut dan langsung mengejar.


"Enji kembalikan putriku," teriak kesal Faisal.


"Putrimu adalah orangku dan kakak. Jika kau mau dia, susullah kami ke markas Pedang Biru, hadapin dulu kakakku," sahut Enji. Langsung melaju membawa mobil Faisal. Ya jadinya Faisal di tinggal. Apalagi mobilnya di bawa. Sial. Faisal meruntuk kesal memandangi mobilnya yang menjauh.


Dengan kesal ia memesan taksi online melalui handphonenya. Sebelum itu ia mengunci semua akses masuk rumah. 


Tunggu, Pedang Biru? Itukah nama mafia besar. Dan Enji bilang kakak, Riri orangnya. Berarti Enji adiknya leader Pedang Biru. Astaga, Putri kecilku masuk dunia gelap? Maafkan pangeranmu ini Ri, aku gagal menjagamu.


Malah harus minta izin wanita itu, malah diakan terkenal kejam dan dingin. Semangat Faisal. Cintamu yang hilang telah kembali. Tunjukkan kesungguhanmu dengan memperjuangkanmu. Riri aku akan menjemputmu dengan baja putih. Aku masih Faisal yang dulu, menantimu selama dua puluh tahun. 


Tring.


Cepatlah susul. Kau mau ditinggal. Pangeran selendangku jangan berubah jadi pangeran keong. Aku tak sanggup kehilanganmu lagi.


Pesan dari Riri, membuat senyum Faisal mengembang. Suara taksi membuatnya menoleh dan segera menaiki taksi pesanannya.


Oke. Tunggu aku Putriku.


Balas Faisal tersenyum penuh arti.


***


Dua puluh menit kemudian Faisal menyusul menaiki pesawat yang siap lepas landas. 


Nafas Faisal ngos-ngosan. Ia menatap Enji dengan kekesalan yang membuncah. Enji hanya tersenyum menanggapinya santai.


"Di mana Riri putriku?"tanya Faisal yang menemukan Riri di samping Enji.


"Kamar, tidur," jawab Enji. Faisal mangut. Meraih minum dan menenggaknya higga tandas. Mendaratkan bobot tubuhnya di kursi pesawat. Tepat pukul 21. 25 pesawat lepas landas menuju negara Y. Besok pagi baru nyampek. Jadi bobo manis dulu mereka.


***


Resepsi Darwis dan Joya telah usai. Kini mereka memasuki kamar mereka. Pandangan Joya jatuh pada sesuatu di atas ranjang. 


"Ini jadiah untukku?"tanya Joya, mengira itu dari Darwis.


Darwis mengerutkan dahinya dan menggeleng. Hadiahnya belum ia berikan. Besok pagi atau lusa baru ia berikan.


"Mungkin dari Papa atau dari tamu lalu pelayan taruh di situ," ucap Darwis. Joya mengambil bingkisan berbentuk persegi panjang itu. Ia memeriksa bentuk untuk menerka apa isinya. Sedangkan Darwis lanjut mandi sebab tubuhnya terasa lengket.


Joya merobek pembungkusnya. Itu adalah frame foto yang berisi lukisan. Lukisan bukan foto.


Mata Joya menyipit melihat isi lukisan itu. Rumpun bambu, wanita yang seperti meminta ampun, terus ada lelaki memegang campuk.


Joya meneliti lebih jauh, latar belakang lukisan ini mirip dengan halaman belakang rumahnya. Wanita ini, wajahnya menunduk, warna merah di punggung melukiskan darah yang keluar. 


"Mama?"gumam Joya. Lukisan Wanita itu mirip sekali dengan Elsa. Dan pria yang memegang cambuk itu adalah.

__ADS_1


"Papa?!" Joya terkejut setengah mati. Siapa yang melukis lukisan ini? Mengapa bisa menggambarkan Papanya kejam terhadap Mamanya? Mereka keluarga harmonis kala Mamanya masih hidup. Papanya sangat mencintai keluarganya. 


Itu adalah pemikiran Joya. Joya luruh jatuh dari atas ranjang dan berusaha mengingat apa saja kejadian penting saat mamanya masih hidup.


"Ada apa honey? Mengapa kau duduk di lantai?"tanya Darwis yang baru keluar dari kamar mandi dengan sudah berpakaian lengkap.


Joya melirik Darwis dan tetap diam. Bungkam tak berucap hanya bibir yang terkatup rapat.


Darwis mengambil lukisan yang tergeletak di lantai. Mengamatinya dan menarik senyum tipis.


Karina, kau langsung memberi clue, lihat apa yang akan terjadi selanjutnya, batin Darwis.


"Bukankah ini lukisan ayahmu? Mengapa menghukum wanita ini? Tunggu ini kan lukisan ibumu? Apa Papa kejam dulu?"tanya Darwis.


Joya tetap diam. Pikirannya menerawang masuk ke masa lalu. Saat ia pulang dari camping musim panas yang diadakan selama 4 hari, Joya menemukan ibunya demam tinggi di kamar Elsa dan  Reza. Kala itu Reza berada di luar.


Joya yang panik dan sedih melihat ibunya langsung memanggil pelayan untuk ke rumah sakit. Luka cambukan, Joya kaget kala itu. Usianya yang baru 8 tahun hanya bisa menangis. Menunggu sang ayah datang dan meminta jawaban atas pertanyaan di benaknya.


Ibumu sempat diculik oleh para musuh ayah sayang. Mereka kejam dan membuat ibumu begini. Maafkan ayah. Ayah tadi menyelidiki siapa mereka. Itulah jawaban Reza.


Lantas mengapa tidak dibawa ke rumah sakit? Tunggu ibu semakin parah baru?


Ibumu tak mau ke rumah sakit. Dia bersih keras mau dirawat di rumah.


Lalu mengapa ayah pergi? Ibukan butuh ayah?


Ayah terpaksa. Ibumu memaksa ayah untuk tetap bekerja. Ayah bisa apa? 


Ingatan  Joya kembali dari masa lalu. 


"Aku harus tanya pada Ayah!" Joya langsung berdiri, merebut lukisan di tangan Darwis dan tanpa mengganti pakaian ia menuju kamar ayahnya. Darwis mengikut dengan senyum sinisnya.


Mengetuk pintu dan memanggil ayahnya. Reza yang sudah mau terlelap bangun dan dengan langkah gontai membuka pintu. Joya langsung menunjukkan lukisan itu.


"Ini apa artinya Pa?"tanya Joya datar berusaha menahan air mata. Mata Reza langsung membuka sempurna. Ia mengerjapkan matanya melihat lukisan itu.


Lukisan aku menyiksa Elsa dulu? Bagaimana bisa sesempurna ini? Joya, tidak aku harus membuat Joya tidak percaya lukisan itu.


"Nak itu hanya orang iseng dan iri. Ingin membuat kita terpecah. Papa mohon jangan percaya," ujar Reza.


"Tapi lukisan ini nyata sekali. Goresannya dibuat sepenuh hati Pa. Joya bisa lihat pola lukisan ini sama dengan lukisan Mama. Apa Mama masih hidup?" Joya tak percaya itu. 


Elsa? Astaga mengapa aku lupa Elsa adalah pelukis, benar, goresan kuasnya unik khas Elsa. Apa Elsa berhasil keluar atau bagaimana?batin Reza.


"Nak percaya sama papa. Papa tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Itu adalah pekerjaan plagiat, atau musuh kita. Sayang Papa sangat mencintai Mamamu. Tidak akan sanggup tangan ini mengangkat cambuk mencambuk Mamamu," ujar Reza memegang pundak Joya.


Joya menggeleng tak percaya. Sangat sulit. Tapi benar Joya harus menyelidiki hal ini dulu baru bisa ambil kesimpulan.


"Baiklah. Joya percaya. Joya mohon Papa cari siapa yang mengirim lukisan ini, Joya gak mau Mama gak tenang di atas sana gara-gara plagiat ini," pinta Joya. Reza mengangguk mantap. Joya kembali melangkah menuju kamarnya.


"Malam Pa," ujar Darwis. 


"Hm," gumam Reza. 

__ADS_1


__ADS_2