
Matahari telah berada di ufuk barat. Langit sudah mulai gelap. Di sini lebih gelap daripada di luar. Kala panas saja di sini gelap apalagi malam?
Udara menjadi semakin dingin, suara binatang khas malam mulai terdengar bersahutan. Suasana ini mencekam bagi mereka yang tidak biasa tapi bagi Aleza dan anggota, ini bukan masalah.
Aleza, Syaka, dan lainnya terus menyingkirkan reruntuhan. Dengan banyak orang serta alat bantu, mereka bisa meminimalisir waktu. Dari semua yang tertimpa, hanya Enji dan Bayu yang belum ditemukan.
Yang lain ditemukan dalam kondisi dua kondisi, tewas dan sekarat. Baik yang tewas maupun sekarat, kecuali kedua penculik semua dibawa ke markas.
Untuk kedua penculik, selain tewas karena tertimpa reruntuhan, ternyata mereka memiliki luka tusukan di pinggang, entah itu ulah penyelamat atau ulah mereka sendiri. Tapi itu tidak menutupi bahwa mereka telah tiada.
"Ketua saya menemukan mereka!"pekik salah seorang anggota.
Aleza, Syaka, dan lainnya bergegas menghampiri anggota yang menemukan Bayu dan Enji. Enji memeluk Bayu, terlihat erat.
Enji ditemukan dalam keadaan bersimbah darah. Kemeja putih yang Enji gunakan, bagian punggungnya robek, berubah menjadi merah, belum lagi darah yang keluar dari mulut dan telinga.
Enji segera dievakuasi. Bayu tak sadarkan diri, hanya memiliki sedikit cedera sebab Enji menjadikan dirinya tameng melindungi Bayu.
Aleza sedikit merasa lega, Syaka menatap Bayu yang dinaikkan ke atas brankar kemudian dimasukkan ke dalam mobil.
"Ikutlah dengan mereka, aku masih ada urusan di sini," ujar Aleza.
Ia melihat besarnya kepedulian Syaka terhadap Bayu. Tanpa banyak acara, Syaka langsung berlari masuk ke dalam mobil. Aleza tersenyum tipis.
Mobil yang membawa Enji dan Bayu melaju meninggalkan lokasi ini. Aleza dan beberapa lainnya masih tinggal. Aleza memerintahkan bawahannya untuk menghancurkan bangunan yang masih berdiri.
Setelah runtuh semua, reruntuhan itu disiram dengan bahan bakar lalu disulut oleh api. Tapi sebelum itu kedua mayat penculik diletakkan di tengah reruntuhan.
Hawa dingin menjadi pudar karena panas yang tercipta. Aleza menatap dingin kobaran api.
Inilah akibatnya mencari masalah dengan Pedang Biru, terutama keluarga Queen. Ini masih imbalan kecil, andai kau tertangkap hidup kau pasti akan memilih mati daripada hidup. Kau akan kehilangan semangat hidup, tapi semua tidak terjadi karena kalian sudah mati!
Aleza sendiri bahkan kurang merasa puas.
"Aku akan kembali ke markas, kalian selesaikan sisanya!" ucap Aleza datar.
"Baik, Ketua."
Aleza masuk ke dalam mobil, menuju markas. Aleza menunggu kondisi pasti Bayu dan Enji sebelum melapor pada Karina.
*
*
*
"Queen, misi selesai. Tapi Tuan Muda Enji dan Bayu terluka parah."
"Terluka?"
"Benar Queen."
Karina mengesah dengan laporan Aleza.
"Tuan Muda Enji menderita luka paling parah. Tulang rusuk dan tulang belakang patah, patah tangan dan kaki, serta tulang tengkorak juga retak. Beliau sekarang dinyatakan koma oleh dokter setelah melewati masa kritis. Sedangkan Tuan Muda Bayu hanya mengalami patah tangan dan luka luar. Dokter mengatakan bahwa besok Tuan Muda Bayu sudah sadar. Untuk tim sendiri, 6 tewas dan 2 koma. Kedua penculik tewas dalam misi. Saya membakar mayat mereka di reruntuhan bangunan," papar Aleza dengan nada datar.
Karina terdiam sejenak mendengar pemaparan Aleza. Ia juga tidak menyangka akan jadi seperti ini. Karina menghembuskan nafas kasar.
"Queen saya tidak bisa menjalankan misi dengan baik. Mohon menghukum saya," ujar Aleza.
"Tidak Aleza. Setiap misi ada resiko. Kamu tetaplah di sana sampai kondisi mereka membaik. Untuk hukuman, latihlah dirimu agar lebih baik lagi. Tapi jika kau tetap memaksa, pergilah ke perpustakaan. Bersihkan ruangan C," ucap Karina tegas.
"Baik Queen."
Suara Aleza terdengar tidak keberatan, malah terdengar lega.
Karina memutus panggilan. Karina menutup mata, tangannya memijat dahi, kepalanya sedikit pusing. Dahi Karina berkerut tipis. Mata yang terpejam itu bergerak, gelisah.
Karina membuka mata saat mendengar suara pintu dibuka.
"Wajahmu masih kecut, apa Aleza belum memberi kabar?"tanya Arion.
"Sudah, tapi mereka berdua terluka. Satu koma satu lagi katanya besok baru sadar," jawab Karina.
"Syukurlah. Walaupun terluka setidaknya mereka masih bernafas. Aku sudah menyelidiki mengenai identitas penculik. Mereka adalah orang yang di blacklist dari dunia kerja mereka. Mereka terkenal kejam, setiap korban yang mereka culik selalu pulang dengan organ yang tidak lengkap. Tapi sebelum membedah, mereka memeras keluarga korban. Mereka penjahat sejati," ungkap Arion.
Karina menatap Arion, mengangguk menyetujui.
"Ya Ar. Kau benar, setidaknya mereka selamat. Aku sudah lega sekarang," ucap Karina tersenyum.
Arion tersenyum, membalas senyum Karina.
"Kalau begitu ayo kita ke rumah Mama dan Papa. Mereka pasti sudah menunggu," ajak Arion.
Karina mengangguk. Ia berdiri, mengambil syal dan tas.
__ADS_1
"Ayo."
Karina dan Arion keluar dari kamar menuju mobil yang berada di depan lobby. Suasana markas tidak terlalu ramai, suara binatang malam menjadi alunan tetap setelah matahari terbenam di markas Black Diamond.
Pohon cemara bergoyang diterpa angin, suara gesekan antara dedaunan dan angin tersengat di telinga Karina dan Arion. Arion merapatkan jaketnya saat keluar dari lobby. Udara di hutan jauh lebih dingin daripada pemukiman. Arion membukakan dan menutupkan pintu untuk Karina.
Setelah memasang sabuk pengaman, Arion melajukan mobil keluar dari markas, melewati jalan berbatu di kegelapan malam dan setelah beberapa waktu kemudian melaju di jalan beraspal dan memasuki permukiman.
*
*
*
"Makanlah. Aku belum melihatmu makan sejak aku melihatmu."
Aleza menghampiri Syaka yang duduk termenung di depan ruang rawat Bayu. Syaka menoleh, wajahnya terlihat lelah.
"Aku tidak lapar, Kak."
Aleza memang menyuruh Syaka memanggilnya dengan sebutan kakak. Bagi Aleza itu lebih enak didengar daripada memanggilnya ketua ataupun nona.
"Kau mau menemani Bayu berbaring di dalam? Jika Bayu sadar nanti, ia butuh apa-apa dan mencari dirimu, pasti dia akan mengamuk melihatmu berbaring di ranjang sebelahnya. Makanlah, jika tidak demi kesehatanmu sendiri, makanlah demi Bayu," bujuk Aleza.
Syaka terdiam. Tak lama Syaka mengangguk. Aleza tersenyum. Syaka berdiri, menuju ruang makan.
Aleza masuk ke dalam ruangan Bayu. Dilihatnya Bayu yang masih tidak sadar. Plaster di dahi, di beberapa jari, dan hidung, jarum infus di pergelangan tangan, serta oksigen di hidung. Aleza menatap sendu Bayu. Ia merasa bersalah.
"Cepatlah sadar Bayu. Ayahku membutuhkan dirimu," gumam Aleza.
Ia memanggil perawat untuk menganti infus yang sudah tinggal sedikit.
*
*
*
"Apa?"
Maria dan Amri terkejut mendengar kabar Enji dan Bayu. Mereka saling tatap dengan wajah sedih. Kedua menghela nafas panjang.
"Yang utama mereka selamat. Kita berdoa agar mereka cepat sadar," ujar Amri.
Karina dan Arion mengangguk.
"Syaka tidak diculik Ma. Dia baik-baik saja," jawab Arion.
Maria mengangguk paham.
"Apakah Jesicca tahu mengenai hal ini?"tanya Amri.
"Jesicca?"
Karina dan Arion kompak bertanya, sepertinya mereka lupa mengenai Jessica.
"Iya. Jessica, pacar Enji," jelas Amri.
"Tidak. Ia tidak tahu dan tidak boleh tahu. Berita mereka terluka tidak boleh diketahui publik, termasuk pacar atau semacamnya yang tidak ada hubungannya keluarga, dia orang luar!"tegas Karina.
"Baiklah, kami mengerti. Mama juga setuju, selain karena alasan itu, kita tidak akan membebani Aleza dengan memberitahu kondisi Enji. Anak itu juga tengah kalut. Tadi siang ia kemari memohon pinjaman. Ibunya kembali drop. Sampai sekarang Mama belum tahu kabar mereka," tutur Maria.
"Benarkah?"tanya Karina.
"Kamu bisa memeriksanya sendiri, Sayang," sahut Maria.
"Hm tidak perlu, tidak ada urusannya denganku," jawab Karina acuh.
"Lantas bagaimana dengan perusahaan Enji? Tidak mungkin perusahaannya kosong pemimpin," tanya Amri.
"Bagaimana? Tentu saja Karina yang akan menanganinya. Benarkan Sayang?"
Arion menjawab seraya menyenggol lengan Karina. Karina menyelis kesal pada Arion.
"Kalau begitu apa lagi yang dikhawatirkan? Tentu saja tidak ada bukan?"
Maria berucap dengan tersenyum lembut.
"Kami akan menginap," ujar Arion.
Maria langsung berbinar senang.
"Benarkah?"
"Iya Ma," jawab Karina.
__ADS_1
"Yeah. Akhirnya bisa masak sarapan bareng menantu."
Maria melompat girang. Bahkan Maria berjoget salah satu gerakan yang sedang trending di aplikasi lambang musik.
"Oh yeah!"
Amri menggelengkan kepala geli dengan reaksi Maria. Memang Maria sudah sering meminta Arion dan Karina untuk tinggal beberapa hari di rumah ini, sayangnya keduanya selalu menolak dengan berbagai alasan.
Karina dan Arion malah melongo dengan aksi yang baru saja mereka saksikan.
"Mama ternyata jago dance, tapi aku rasa lebih jago lagi dirimu. Kau bahkan bisa menirukan dance grup terkenal hanya dalam sekali lihat. Aku yakin jika seandainya kau debut jadi idol, pasti akan terkenal dalam waktu singkat," bisik Karina.
Arion mendengus. Ia ini seorang CEO, seorang pemimpin dari perusahaan besar, otak perusahaan terbesar kedua di negara ini. Iya kali disuruh jadi idol walau ada kata andai tetap saja ia tidak akan pernah mau.
"Karina besok kita masak bersama, lalu berkebun, berbelanja, masak makan siang, kemudian …." Amri menutup bibir Maria dengan jari telunjuk.
"Karina itu CEO. Besok ia harus ke perusahaan. Apa Mama lupa?"tanya Amri.
"Eh iya juga ya. Mama lupa."
Maria menggaruk kepala dengan tersenyum lebar.
"Tidak apa Pa. Karina akan ke perusahaan setelah makan siang. Menghabiskan waktu dengan Mama adalah tugas Karina sebagai menantu," tutur Karina.
"Sayang?"
Arion terkejut. Begitu juga dengan Amri. Maria kembali melonjak senang.
"Jika begitu, Ar akan pulang untuk makan siang," putus Arion.
"Oh yeah. Makan siang bareng, Mama merindukannya!"
*
*
*
Jessica berjalan memasuki perusahaan dengan tatapan kosong. Ia sangat lesu, tidak bersemangat, juga ada raut kecewa, marah, dan sedih. Ekspresinya campur aduk.
Sapaan beberapa kenalannya di perusahaan pun Jessica abaikan. Ia berjalan, tapi tidak menuju meja kerjanya melainkan ke ruangan Enji dulu. Jessica ingin memeriksa apakah Enji sudah datang atau belum secara ia tidak menjemput Enji hari ini.
Tentu saja Enji tidak ada di ruangannya. Pria itu kan terbaring koma di brankar di luar negeri sana.
Apa yang terjadi? Mengapa kau hilang kontak? Mengapa kau mengabaikan diriku? Mengapa kau tidak ada di saat aku membutuhkan dirimu? Dimana kau Enji?!
Jessica menatap dingin ruangan Enji. Ia kemudian memutar langkah, sebuah amplop coklat ia pegang dengan erat.
Aku kecewa! Aku marah padamu!
Jessica masuk ke dalam ruangan HRD.
"Apa ini Jessica?"tanya pimpinan HRD.
"Surat pengunduran diri. Saya mengundurkan diri dari perusahaan ini," jawab Jessica datar. Jessica juga meletakkan kunci mobil di meja.
Pimpinan HRD tampak terkejut. Ia membuka dan membaca surat yang diberikan Jesicca.
Jessica memang karyawan baru akan tetapi merupakan karyawan yang menjanjikan.
"Apa alasannya?"tanya Pimpinan HRD.
"Alasan pribadi," jawab Jessica.
Pimpinan HRD menggelengkan kepalanya. Ia melepas kacamata, menyatukan tangan di atas meja, menatap tajam Jessica. Jessica sedikit terkesiap dengan tatapan tajam itu.
"Kau sudah menandatangi kontrak. Jika kau mengundurkan diri, maka kau harus membayar pinalti kontrak sebesar yang ada di kontrakmu. Kau pasti membacanya secara utuh sebelum tanda tangan, bukan?"
Jessica terdiam, tatapan mata acuh kini berubah bimbang. Biaya pinalti cukup banyak, menembus angka milyaran. Ia lupa dengan kontrak kerja. Ia kalut dan melupakan hal-hal penting setelah sang ibu dinyatakan meninggal.
"Selain itu kau juga bertanggung jawab langsung kepada Presdir sebagai asisten pribadinya. Jika mau mengundurkan diri sebelum kontrak berakhir, maka kau harus membayar pinalti dan mendapat persetujuan dari Presdir!"ucap tegas Pimpinan HRD.
"Baik. Kalau begitu saya akan menunggu Presdir datang! Tapi saya izin cuti hari ini sampai lusa. Ibu saya baru saja wafat. Saya dalam keadaan berkabung," ucap Jessica.
"Turut berduka cita untukmu Jessi. Semoga kamu dan keluarga diberi ketabahan," ujar tulus Pimpinan HRD.
Jessica mengangguk. Ia berbalik, bersiap keluar.
"Tunggu."
Jessica kembali berbalik menghadap Pimpinan HRD.
"Kunci mobilmu ketinggalan. Ini adalah hak spesial Presdir untukmu selama kau jadi karyawan di sini. Ini juga tanggung jawabmu!"
Jessica mengangguk dan mengambil kembali kunci mobil, bergegas keluar menuju tempat parkir.
__ADS_1
Baik. Aku akan menunggu. Menunggu penjelasan darimu!