Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 170


__ADS_3

Tak terasa sudah dua hari berlalu, hari yang Arion dan Karina serta orang terdekat mereka tunggu tiba. Pagi harinya tepat pukul 08.10, dokter mengetuk pintu ruang rawat Arion dan izin masuk. 


Bersama seorang suster yang membawa nampan, sang dokter mendekati ranjang Arion. Karina, Amri dan Maria menyingkir ke sisi lain ranjang berseberangan dengan posisi dokter dan perawat. Ketujuh member Karina suruh pulang ke rumah, Enji masih dalam perjalanan pulang setelah mengantar anaknya ke sekolah.


"Bagaimana Tuan? Sudah siap untuk melihat indahnya dunia kembali?" tanya dokter tersenyum seraya mengambil gunting.


"Tentu. Aku tak sabar bisa melihat dunia lagi. Terutama istri serta orang tuaku," jawab Arion tersenyum lembut.


Tangannya menggenggam lembut erat tangan kanan Karina. Untung saja obat-obatan yang Karina gunakan manjur dan sangat efektif. Lukanya telah sembuh, hanya saja masih meninggalkan bekas luka.


"Baiklah. Kalau begitu saya akan mulai melepas perban Anda," tutur dokter, menggunting perban dan melepasnya perlahan.


Tak butuh waktu lama, perban itu telah terlepas sempurna. Mata Arion masih terpejam, menunggu intruksi dokter. Karina, Amri dan Maria menunggu dengan tak sabar dan serius.


"Nah sekarang coba gerakan mata Anda dan buka perlahan. Perlahan saja agar lebih menghayati," tutur dokter lagi.


Perlahan Arion menggerakkan kelopak matanya yang menutup. Sangat perlahan.


"Agak sulit kah?" tanya Karina.


"Lumayan, rasanya mataku seperti dilem," jawab Arion.


"Ayo Ar, kamu pasti bisa," ucap Maria.


"Pelan tapi pasti, okey!" timpal Amri. Arion tersenyum dan mengangguk. 


Perlahan tapi pasti, kelopak mata Arion mulai membuka, menyipit kala cahaya menyapa netranya.  Mengerjap perlahan menghilangkan pandangan buram akibat terlalu lama merem.


Akhirnya setelah semua tahapan, Arion membuka sempurna matanya. Ia tersenyum mendapati warna dan cahaya yang dapat ia lihat.


"Tuan, ini berapa?" tanya dokter mengangkat dua jari tangannya.


"Dua?" Arion mengernyit.


Sang dokter kembali menanyakan pertanyaan yang sama dengan jarak yang berbeda. Setelah puas sang dokter kembali mendekati Arion dan mengecek lagi kondisi matanya.


"Bagaimana dok? Semua aman saja kan?" tanya Amri tak sabar.


"Alhamdulillah. Semuanya aman Tuan. Operasi dan hasilnya berhasil. Selamat Tuan Arion, Anda dapat melihat kembali. Jagalah mata Anda sebab mata adalah jendela dan warna dunia, hari ini mungkin Anda diberi kesempatan untuk melihat kembali dengan donor mata. Jagalah dan sayangi nyawa kita sepenuh hati. Love yourself," ujar sang dokter.


"Jendela dunia itu buku, warna dunia itu cinta. Orang buta pun dapat merasakan warna dunia dengan cinta, ucapanmu kok jadi melantur. Tentu saja semua orang harus mencintai dirinya sendiri. Cintai diri sendiri barulah cintai orang lain. Koreksi dan nilai diri sendiri baru orang lain," ucap Karina.


"Lah kalian berdua ngapain ngomong ngelantur? Ambil saja hikmahnya. Ngapain merembeh sampai ngambil kutipan pidato RM di sidang PBB?" heran Amri.


"Sayang," panggil Arion menatap Karina dengan senyuman lembutnya dan tatapan penuh kasih, cinta serta kerinduan.


"Ya," sahut Karina.


"Saya pamit keluar, Tuan, Nyonya. Tuan Arion jangan lupa minum obat terakhir Anda," pamit dokter. Karina, Arion, Amri dan Maria mengangguk.


"Akhirnya aku bisa melihat wajahmu lagi, aku sangat bahagia sekali," ujar Arion. Karina tersenyum dan memeluk Arion. 


Kedua berpelukan dengan erat. Karina bernafas lega kini masalah terberatnya selesai. Tingga beberapa masalah lagi yang harus ia tuntasnya. Sebelum masalah itu merembet menjadi masalah baru. 


"Jadi kamu senangnya lihat Karina saja? Mama sama Papa gak gitu?" Maria cemberut.

__ADS_1


Karina dan Arion lepas berpelukan. Kedua menatap Maria dengan tatapan lucu.


"Tentu saja aku senang Ma. Bisa kembali melihat orang yang paling berjasa dalam hidupku. Aku bahagia dan bersyukur, Tuhan memberiku kesempatan untuk melihat kembali," ujar Arion.


"Hm, karena kamu sudah sembuh, maka besok kamu mulai kembali kerja, memimpin perusahaan. Papa mau liburan habis ini," ucap Amri.


Dahi Arion mengerut. 


"Maksud Papa Arion mulai ngantor besok?" tanya Arion memastikan.


"Ya iyalah, masa' tahun depan," ketus Amri.


"Kalau bisa gak papa, Pa." Arion tertawa diikuti Karina dan Maria.


"Begitukah? Kalau begitu aku akan pergi tanpa melihat cucu nanti. Menggantikanmu saja selama dua minggu lebih aku sudah angkat tangan mau kau buat sampai tahun depan, sudahlah. Aku mau ke kantor. Mama ikut tidak?"


Amri berkata dengan kesal pada anaknya dan lembut pada istrinya.


"Mama ikut Pa," jawab Maria.


Akhirnya Maria dan Amri pamit untuk berangkat ke kantor. Karina dan Arion kembali berpelukan dan mengucap syukur. Tak lupa, Arion mengusap lembut perut Karina yang mulai menonjol. Dengan nada lembut ia mengajak anak yang masih dalam kandungan itu berbicara.  


"Jika nanti dia laki-laki aku akan memberikan nama Bintang, jika perempuan akan ku namanya Biru," ujar Arion pada Karina. Memberitahu nama sederhana namun bermakna mendalam pada anaknya kelak.


"Aku setuju denganmu jika ia laki-laki. Namun jika ia nanti perempuan akan ku namakan Barbara atau Bilqis," sahut Karina.


Arion mengenyit dan menatap Karina.


"Barbara? Kamu mau ngasih nama anak kita nanti Bar-bar?" Arion kesal dengan Karina.


"Ternyata kamu ngaku kamu bar-bar. Beritahu aku, apa saja yang kau lakukan selama aku tak dapat melihat. Karina, kau bertempur dengan siapa? Telapak tangan dan bahu kananmu itu terluka. Aku diam selama aku masih menutup mata karena aku malas nanti mendengarmu berkelit. Sekarang ayo cerita padaku," ucap Arion. Karina tampak membulatkan matanya, sekilas saja.


"Di rumah saja. Ceritanya panjang karena dimulai dari belasan tahun silam. Sudahlah. Aku tak apa kok. Hanya luka kecil begini. Sekarang ayo sarapan dan minum obatmu. Habis itu kita pulang ke rumah. Aku bosan di rumah sakit saja," jawab Arion.


"Oh, baiklah." Arion mengangguk dan meminta Karina menyuapinya. Karina menggerutu namun tetap mau. Setelah selesai, Karina membereskan beberapa barang yang harus dibawa pulang. Tentu saja Arion ikut membantu. Kalau berpangku tangan bisa kena marah ia oleh Karina.


"Kakak, aku datang," seru Enji masuk melenggang santai.


"Waalaikumsalam Zi," sahut Arion dan Karina yang telah selesai berberes dan bersiap untuk pulang.


Enji tersentak, kemudian menggaruk kepala dan tersenyum malu.


"Assalamualaikum Kak," ujar Enji.


"Waalaikumsalam," jawab Karina dan Enji.


"Itu baru salam yang benar. Ada yang benar dan penuh doa mengapa harus menggunakan yang lain? Ingat jangan asal mengubah bacaan salam, ucapkanlah yang benar. Sama seperti bahasa inggris, bahasa arab pun salah pengucapan salah makna. Hati-hati, ucapan itu doa, jelas?" 


Karina menatap Enji, Enji mengangguk. 


"Kak Ar," panggil Enji, menghampiri Arion dan memberinya pelukan. 


"Halo anak nakal, akhirnya kita bisa bertemu lagi, maafkan kesalahanku dulu ya," ujar Arion.


"Hm, bukan masalah," sahut Enji.

__ADS_1


"Sudah, ayo kembali. Aku khawatir dengan kondisi rumahku," ajak Karina. Enji dan Karina mengangguk.


Ketiganya lantas keluar dari ruangan ini dan menuju parkiran di mana mobil mereka berada. Pak Anton dengan sigap membuka pintu ketika melihat majikannya datang.


 Enji memasuki mobil yang ia bawa tadi. Dengan kecepatan sedang kedua mobil itu membelah jalanan kota. 


Empat puluh lima menit kemudian, kedua mobil itu tiba di kediaman Karina. Karina segera turun dari mobil diikuti Arion dan Enji. Melepas kacamata dan menyimpannya. 


Arion menghirup nafas dalam dan membuangnya perlahan. Miu dengan berlari dari halaman belakang datang menghampiri mereka yang hendak masuk ke dalam rumah.


"Oh hai Miu, senang bisa melihatmu," sapa Arion ramah mengusap kepala Miu. 


"Jantan, di mana Naina?" tanya Karina. Miu menoleh ke arah Karina, menunjukkan tatapan kesalnya.


"Jangan menatapku seperti itu. Kau kan memang jantan jadi apa salahnya aku panggil kau jantan?" heran Karina. Arion dan Enji terkekeh.


Tak lama, Naina datang menyusul. Ia memohon maaf pada Karina dan segera membawa Miu kembali ke belakang. Sebab ini waktunya mandi, tapi Miu kabur saat mendengar suara mobil yang sangat ia hafal.


Karina, Arion dan Enji segera memasuki rumah. Di ruang tengah, Para member tengah berkumpul semua, agaknya mereka membahas tentang pekerjaan mereka. Ketiganya pun lantas duduk dengan gaya masing-masing.


"Kak, kita buat acara kecil-kecillan yuk, BBQ di sini. Mumpung ramai orang kan seru," saran Enji.


"Woah? BBQ-an? Aku ikut boleh?" tanya RJ antusias.


"Tapi kita kan pulang sore nanti, mana bisa ikut gabung?" ujar sedih Tata.


"Boleh tuh, kebetulan Lila dan Raina juga telah kembali. Siska pun akan kembali bersama Ferry dan tiba sore nanti. Li dan Elina juga sedang bahagia. Tak ada salahnya," setuju Karina. 


Blue Boys menunduk sedih sebab tak bisa ikut dalam acara itu. Mereka akan kembali sore nanti pukul 16.00, jadwal liburan mereka bersama Karina telah usai. 


Memang mereka bisa membuat acara itu sendiri, tapi lebih nikmat lagi jika bersama Karina dan lainnya.


"Ya, kami tak bisa ikut, padahal kan aku ingin," ujar sedih Koya.


Karina, Enji dan Arion saling melempar pandang. Heran dengan ketujuh orang di depan mereka ini. Tetapi ketiga segera menyadari alasan di balik kesedihan.


Karina lantas mengambil handphone-nya. Menghubungi Li yang membuat seisi ruangan membulatkan mata mereka.


Apa dia ini lebih berkuasa dari pemimpin negara ataupun direktur kami? Bisa langsung telpon izin kami keluar. Kalau begitu jika kami ingin liburan tanpa kamera bisa minta tolong dengannya, batin ketujuh member takjub.


Sultan mah bebas, mana berani nolak permintaan itu, bisa remuk tuh perusahaan jika menolak Karina, batin Arion.


Mulai deh menggunakan kekuatan kekuasaannya. Memang enak ya jadi orang berkuasa tanpa titel politik, eh lupa orang-orang kakak kan banyak yang masuk  ke dalam dunia politik, astaga! Intinya aku bangga jadi adikmu Kak! batin Enji.


Setelah mendapat kepastian dari Li. Barulah Karina buka suara pada orang di ruang tengah kini.


"Kalian pulang besok siang, agensi kalian sudah memberi izin, jadi mari bersiap untuk acara BBQ-an nanti malam. Kita bagi tugas, Ar kamu hubungi Sam, Calvin, Ferry juga Faisal, Enji kamu atur tempatnya di halaman." Karina memberi intruksi satu demi satu.


Semuanya mulai bergerak, kecuali Karina yang bertugas sebagai pengawas dan membantu sesekali. Bik Mirna bersama Pak Anton segera berangkat ke supermarket untuk membeli bahan untuk BBQ. 


Setelah persiapan aman, barulah mereka beristirahat. Waktu menunjukan pukul 16.00, harusnya sih ketujuh member mulai terbang, tapi kini mereka berbaring nyaman bak di pantai di permadani ruang tengah.


Karina mengerjakan tugasnya. Karina dengan serius membaca laporan yang Lila dan Raina kirimkan. Ia tersenyum puas sebab target rencana perjalanan bisnis sesuai rencana.


Arion pun mulai memeriksa perkembangan perusahaan, terutama proyek Tirta Garden. Ia tersenyum puas melihat itu. 

__ADS_1


Cara kerja setiap manusia dan perusahaan memang berbeda.


__ADS_2