
"Kau berhasil menghidupkan darah membunuhku Sayang," ucap Karina dingin. Dengan langkah pasti Karina mendekati Arimbi yang ketakutan melihat wajah Karina.
"Seharusnya kematian langsung padamu tadi. Tetapi kau memintaku menyiksamu terlebih dahulu," ucap Karina mengangkat tinggi pedangnya dan memotong tangan kanan Arimbi.
Teriakan kesakitan kembali bergema. Rudi meneteskan air matanya. Para anggota lain hanya mampu memejamkan mata sebab di belakang kepala mereka sudah ditodongkan pistol yang siap menembus kepala mereka oleh pasukan elit.
Karina asyik bermain dengan Arimbi. Mutilasi adalah kesenangan Karina. Sentuhan terakhir seperti biasa jantung dan kepala.
"Bungkus ini," perintah Karina pada Li seraya melemparkan kepala Arimbi. Li segera melaksanakan.
Karina berjalan mendekati Rudi yang terduduk lemas. Fisiknya yang sudah renta tak kuasa menahan kenyataan di depan matanya.
Karina mengangkat dagu Rudi dan mengoleskan darah Arimbi yang menempel pada pipinya.
"Darah putrimu untuk darah keluargaku," ucap Karina dingin.
"Benarkah kau keturunan Tirta Sanjaya?" tanyanya lirik.
"Benar. Kau benar. Sekarang saatnya mengirimmu menyusul ketiga rekanmu," sahut Karina.
Tak mau lama-lama, Karina menyuruh Gerry membius Rudi. Rudi tak sadarkan diri.
"Kesepuluh orang ini bawa ke markas. Dan para mayat-mayat ini tumpukkan di dalam markas mereka dan kembang api raksasa," perintah Karina pada Li dan Gerry serta pasukan elit.
Karina segera meninggalkan markas pedang hitam menuju motornya. Setengah jam kemudian, Li, Gerry dan pasukan elit menyusul.
"Beres Queen," lapor Gerry.
Karina tersenyum puas. Segera ia menekan tombol dan ….
Wosh ….
Boom ….
Boom ….
Boom ….
Whing ….
Bom yang dipasang oleh Rian dan Satya saat mencari Lala meledakkan markas. Api membumbung tinggi menyambar apa saja yang ada di dekatnya. Kebakaran hebat terjadi.
"Ayo pergi," ujar Karina ketika mendengar suara sirine.
Ya. Aleza sengaja menghubungi pemadam kebakaran agar segera menjinakkan api agar tak menghanguskan hutan di utara markas atas instruksi Karina.
Karina and the gank meninggalkan tempat mereka dan menuju kediaman Karina. Luka di tubuhnya terutama di pergelangan kakinya sudah diobati oleh Aleza.
Pukul 05.30, mereka tiba di kediaman Karina. Rian, Satya, Andi dan Lala menunggu resah di gerbang. Mendengar deru motor memasuki kediaman, Rian, Satya, Andi dan Lala segera keluar.
Karina melemparkan bungkusan pada Andi.
"Hadiah untukmu," ujar Karina langsung masuk ke dalam dan menuju kamarnya. Andi menatap selidik bungkusan itu. Matanya membulat melihat kepala mantan kekasihnya.
Tak berapa lama Aleza dengan Darwis tiba di kediaman. Darwis segera membuka bagasi mobil dan menyuruh pasukan elit membawanya ke dalam.
***
Pukul 07.30, setelah sarapan, semuanya berkumpul di ruang belajar kecuali pasukan elit.
"Bik Ana. Maafkan kasalahan saya. Saya terpaksa melakukannya demi keselamatan adik saya," sesal Andi membungkukkan badannya.
"Sudahlah. Aku hanya ingin kejelasan kematian putriku," ujar Bik Ana. Di mata Bik Ana, Lala mirip dengan putrinya.
"Baikkah. Tinggal satu langkah lagi," ucap Karina.
__ADS_1
"Rian, Satya dan Darwis tetap berada di sini. Aku amanahkan rumah ini pada kalian. Li dan Gerry beserta pasukan elit kembali ke negara Y setelah ini. Dan kau Andi ikut aku ke rumah sakit membumihanguskan para tikus yang merusak nama baikku," ucap Karina memberi arahan.
"Tapi Queen. Kami ingin ikut dengan Anda kembali," rengek Darwis. Karina mengerutkan dahinya heran.
"Ikut? Tak mau di sini?" tanya Karina. Serentak Trio Tampan mengangguk. Karina menghela nafas.
"Baiklah. Kalian bertiga ikut pulang dengan Li dan Gerry," putus Karina.
"Lalu Anda?" tanya Rian.
"Aku pulang naik pesawat pribadi suamiku," sahut Karina.
Mereka hanya ber-oh-ria saja. Karina segera meninggalkan ruang belajar diikuti Andi dan Lala menuju mobil yang sudah terpakrir di depan rumah menuju rumah sakit.
Sedangkan Li, Gerry, trio tampan dan pasukan elit menaiki bus menuju bandara. Aleza menyusul Karina dengan membawa lima orang pengawal.
Setibanya di rumah sakit Karina memakai topengnya dan menuju ruang meeting rumah sakit. Mengadakan pemeriksaan dadakan. Semua dokter serta petinggi rumah sakit kalang kabut. Mereka tak menyangka hal ini akan terjadi. Apalagi yang merasa melakukan kesalahan.
"Sudah selesai?" tanya Karina dingin menatap semua orang di hadapannya yang menggigil resah.
Ada wajah penuh percaya diri, wajah takut, resah, dan lain sebagainya. Apalagi Rizal yang mendengar kabar musnahnya pedang hitam dan munculnya Lala serta Andi di samping presdir mereka.
"Sudah Nona," sahut salah seorang dari mereka.
"Bagus," ucap Karina melirik Andi dan Aleza serta lima pengawalnya melakukan perintah sebelum masuk ke ruang meeting. Yang dilirik Karina langsung bergerak.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
Bugh.
"Apa ini?" tanya Rizal kesal.
"Apa ini? Lalu apa ini?" tanya balik Karina pada Rizal seraya melempar setumpuk berkas ke hadapan Rizal.
Dengan ragu, Rizal membacanya. Matanya membulat. Ini semua adalah bukti serta catatan permintaan organ tubuh.
"Ini apa?" tanya Karina lagi.
"Ini fitnah Nona. Saya tidak terlibat. Ini semua adalah surat dari dokter Andi," elak Rizal.
"Fitnah? Tapi saya menerimanya sendiri dari kamu," ucap Karina dingin.
"Bawa dia dan berikan pada Lulu," perintah Karina pada Aleza.
"Nona, apa tidak sebaik kita serahkan saja ke pihak kepolisian," ujar Andi tak tega.
"No. Yang bermasalah denganku ada ganjaran yang sangat khusus," tolak Karina.
"Bawa dia pergi. Jika meronta patahkan saja lehernya," perintah Karina lagi. Semua yang mendengar itu membeku kecuali orang Karina.
"Apa?" tanya Karina dingin. Mereka menundukkan kepala takut.
"Selain empat orang ini lainnya keluar," ucap Karina.
Patuh. Itulah yang mereka lakukan. Tak butuh waktu lama bagi Karina membersihkan rumah sakitnya dari para pencemar nama baik dan tidak bertanggung jawab serta menyeleweng dari prosedur.
Para perawat yang tidak kompeten dipecat dan diganti dengan para perawat pedang biru. Sedangkan para wali atau keluarga yang mengeluh dan menuntut rumah sakit diberi penjelasan yang benar dan santunan bela sungkawa dan permohonan maaf mereka. Satu persatu masalah diselesaikan.
Pukul 10.10 masalah beres semua. Karina segera menuju bandara diantar oleh Andi dan Lala.
__ADS_1
"Terima kasih telah memaafkanku dan menyelamatkan adikku, Nona," ujar Andi.
"Jangan lakukan lagi. Kali ini aku bisa mengerti. Lain kali jangan harap," ucap Karina tegas.
"Baik Nona," balas Andi mantap.
Lala tak bisa berbicara sebab lidahnya yang dipotong sewaktu penyekapan. Bahkan Andi tak puas dengan kepala Arimbi. Oleh karena itu, Karina mengawetkan jantung Arimbi sebagai hadiah untuk Lala.
"Aku pergi," ucap Karina menaiki tangga pesawat. Andi dan Lala melambaikan tangan mengucapkan selamat jalan. Karina membalas lambain tangan mereka. Pukul 10.30, pesawat Wijaya take off menuju negara Y.
Satu hal lagi, Bik Ana ikut dengan Andi dan Lala sebagai ibu angkat mereka karena Andi dan Lala merupakan yatim piatu.
Di pesawat, Karina membuka laptopnya. Mengecek email dari Lila dan Raina. Ada satu laporan yang membuatnya penasaran. Ada yang mengintai perusahaannya tiga hari berturut-turut. Dan setelah diselidiki lebih jauh ternyata itu adalah Joya. Siapa lagi kalau bukan dia!
Tiba-tiba saja hari Karina resah gelisah. Ada rasa sakit di sudut hatinya.
"Apa ini? Firasat buruk?" gumam Karina resah. Ia mengalihkan perhatian ke arah jendela pesawat menatap awan dan langit biru.
Ia berharap ini cuma sekedar perasaan.
***
Pov Arion.
Jiwa dan ragaku terguncang hebat. Bagaimana tidak? Ketika aku bangun aku menemukan sosok wanita lain di ranjangku yang mana itu bukan istri tercintaku, Karina.
Dan parahnya lagi, tubuhku polos tanpa sehelai benangpun hanya dibalut selimut. Dengan tangan gemetar, Aku membalikkan punggung wanita itu dan dia adalah mantan kekasihku, Joya.
Rasanya duniaku runtuh. Ini bukan kamarku melainkan kamar hotel. Perkataan Karina terngiang di kepalaku. Dia benci penghianatan, dan sekarang aku menghianatinya. Dengan segera aku memakai pakaianku dan meninggalkan hotel kembali ke rumah. Meninggalkan Joya yang masih lelap tertidur.
Kini aku berada di kamarku. Meruntuki kebodohanku. Bagaimana bisa itu terjadi? Dan sialnya aku tak mengingat apapun. Yang aku ingat hanyalah Sam dan Calvin mengajakku ke bar. Bagaimana bisa aku berakhir di hotel? Apa ini semua ulah Joya? Tapi tak mungkin. Bagaimana bisa wanita yang selama ini aku kenal sangat baik melakukan itu?
Aku mendesah pelan mengingat Karina. Apakah aku harus menceritakannya atau tetap diam? Ah mengingat itu, aku teringat bahwa hari ini Karina kembali. Rasa bersalahku semakin bertambah. Dengan cepat aku membersihkan diri yang terdapat banyak bekas. Lima belas menit kemudian, aku selesai mandi dan segera keluar. Aku mengambil handphoneku dan ternyata ada notifikasi dari Karina. Dia sudah lepas landas dan diperkirakan tiba pukul12.40. Berarti itu 30 menit lagi. Astaga?!!
Dengan secepat kilat aku memakai pakaianku dan menyamar kunci mobil untuk menjemput Karina di bandara. Hari ini aku tak ke kantor. Semuanya aku serahkan pada Ferry.
Pov Arion end.
***
Tepat pukul 12.40 pesawat Wijaya landing di kota C. Dengan langkah agak pincang sebab luka di kakinya, Karina menuruni tangga pesawat. Ia alihkan perhatian dan pandangannya mencari keberadaan Arion.
Kemana dia? Tak mungkin meeting kan? batin Karina.
Dengan sedikit kesal, Karina menarik koper dan melangkahkan kakinya menuju cafe terdekat. Sesampainya di cafe, Karina menghubungi Arion.
"Sayang kamu di mana?" tanya Arion langsung ketika panggilan dijawab.
"Cafe," jawab Karina singkat.
"Tunggu aku di sana," ujar Arion.
"Hmm …," sahut Karina. Panggilan berakhir.
Tak lama kemudian, Arion tiba di cafe dan menemukan Karina tengah menikmati jus alpukatnya.
Senyum Arion mengembang. Rasa bersalah pun ikut membuncah. Dengan langkah gelisah dan bahagia, Arion menghampiri Karina.
"Sayang …," panggil Arion ragu. Karina menoleh ke sumber suara. Senyumnya mengembang seketika.
"Kau lama sekali," ucap Karina manyun.
"Maaf," sesal Arion. Karina dan Arion langsung berpelukan erat.
Karina menumpahkan segala kekesalan dan kebahagiannya di pelukan Arion. Arion malah semakin, semakin merasa bersalah.
__ADS_1
"Mengapa kau pulang lalu pergi lagi?" tanya Arion pelan.
"Ya aku kangen dirimu," jawab Karina mendongakkan wajahnya menatap manik mata Arion.