Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 224


__ADS_3

Di taman, Gerry menceritakan semua yang baru saja ia lakukan pada Li dan Gerry. 


"Ku kira dia warga negara ini, rupanya dia anak perantauan." Akhir cerita Gerry dengan wajah kusut dan disangga tangan tangannya. 


"Hm, ya sudah tunggu saja, jika dalam dua minggu ia tidak pulang kemari juga, ya tinggal kamu susul. Sekalian saja lamar, kan beres." Li tersenyum memberi semangat pada Gerry, sahabat dan saudaranya itu. 


Gerry menatap Li dengan wajah rumitnya.


"Aku setuju kau dengan Mira. Ku dengar dia adalah wanita baik. Aku tidak akan susah-susah ke rumah sakit jika kau menikah dengannya. Cukup panggil dia ke kamar untuk mengecek kehamilanku," ujar Elina santai, mendapat hadiah selentikan di hidungnya. Elina mengusap hidungnya yang sedikit sakit.


"Bicara sih enak. Memangnya melamar anak orang itu mudah? Perkenalan resmi saja belum. Baru jumpa dua kali, diapun belum mengenalku, masa' aku datang dengan cincin langsung melamarnya?"sungut Gerry kesal dan lesu.


"Intinya didirimu! Kau sudah yakin belum jika ia memang jodohmu? Lihatlah kami, kamu tahu sendiri kan? Lihat Karina dan Arion, tidak ada sesi pacaran," sahut Li santai.


Gerry terdiam. Ia mengingat saat ia bertemu, berbicara dan mengingat Mira. Semuanya membuat hatinya berdebar dan tidak nyaman. Jantungnya bergedup kencang dan rasa gugup menyertainya. Gerry tidak pernah seperti ini sebelumnya, melihat wanita berbusana namun telanjang pun dia tidak berdebar, hanya datar dan dingin. Sudah banyak wanita yang ia temui, hanya pada Mira hatinya merasa nyaman.


"Kalau begitu. Lebih baik kamu merenung dulu, minta petunjuk. Jika memang ia sudah menjadi pilihanmu dan pilihan Allah, cepat atau lambat, kalian akan bersatu. Jadi, bukankah lebih cepat lebih baik? Niat baik harus segera disegerakan Gerry," saran Elina, melihat kebimbangan di wajah Gerry. Gerry menghela nafas dan tersenyum tipis lalu mengangguk.


"Hati adalah kuncinya," balas Gerry. 


*


*


*


Di penjara, di mana Novan ditawan dengan kondisi yang bisa dikatakan memprihatinkan. Lukanya yang basah, nampak memerah dan berair karena hanya diobati sekedar. Rasanya sangat menyakitkan. Perih, sampai ke tulang lainnya. 


Meringis saat ada nyamuk atau lalat yang hinggap di sana. Novan hanya bisa diam agar rasa sakitnya tidak terlalu terasa. Ruangan ini cukup kecil, ukuran 2x2 meter. Dan hanya ia sendiri sebab ini ruangan khusus untuk yang berurusan langsung dengan Karina. 


Novan duduk di kursi sembari melihat ke arah jendela yang terbuat dari besi. Melihat cahaya mentari yang menjadi satu-satunya penerangan.


Ceklek.


Kriek.


Pintu terbuka lebar. Arion dengan senyum sinisnya masuk. Kedua tangan berada di saku celana. Novan tersenyum tipis. Matanya menatap lekat Arion.


"Jaga pandanganmu!"ketus Arion.


"Auh, kau punya waktu untuk menjengukku Tuan Muda?"tanya Novan meringis.


"Tidak! Aku mau mengambil nyawamu!"sahut Arion menatap datar Novan.


"Ouh, baiklah. Ambillah. Tolong akhiri rasa sakit ini," balas Novan sukarela untuk dihukum. Arion mengeryit.


"Walaupun aku tidak bisa mendapatkamu Tuan, setidaknya akan lebih menyenangkan bisa tiada karenamu," lanjut Novan, menatap Arion dengan wajah serius. Arion mendecih.


Rasa jijik mengerayai Arion. Tubuhnya bergidik mengingat bagaimana gigihnya Novan hendak menodainya.


Arion mengedarkan pandangannya, sebab ini pertama kalinya ia memasuki penjara Pedang Biru. Di dinding, terdapat senjata tajam aneka jenis dan alat penyiksaan lainnya. 


Arion mendekati dan mengambil satu pisau yang sangat tajam. 


"Kau lancang! Bagaimana mungkin aku membunuhmu tanpa menyiksamu? Kau akan merasakan hidup segan, mati tidak bisa. Barulah kau akan pergi," ucap dingin Arion. Mendekati Novan.


Mata Novan tampak terbelalak. Sirat rasa takut terpatri di mata. Tubuhnya bergetar melihat Arion yang mendekatinya. Nafasnya tak beraturan.


"Tanganmu, lancang. Hatimu berani dan dia keluar jalur." Arion menunjuk lengan, dada dan arah ************ Noval. Entah mengapa, Novan masih sempatnya malu karena Arion menunjuk adiknya.


"Kau mau mana dulu yang diproses? Tangan, hati atau dia? Aku tidak keberatan memotong satu lenganmu lagi? Tapi aku ragu kau akan langsung tiada, jadi kita mulai dari dia!" Pintu tertutup keras bersamaan dengan suara lengkingan Novan yang memecahkan gendang telinga. Tak lama suara tangis terdengar. Teriakan dan tangisan itu terdengar menyayat hati. Para penjaga, tampak saling lirik dan menelan ludah.


Benar-benar pasangan yang cocok!batin mereka.


 


Di dalam, Arion menyeringai, Novan menggeliat dengan rasa sakit di pangkal pahanya. Rasanya tidak bisa dilukiskan. Bagaimana rasanya yang seharusnya dipotong saat umur 10 tahunan, dipotong dalam keadaan sadar, tidak dibius dan rasa perihnya, menyiksa!


Darah membasahi celana Novan. Matanya terpejam dengan dahi mengerut keras. Giginya saling bergertakan. 

__ADS_1


"AHHHHH!"  Sekali lagi, Novan teriakan.


"Sakit?"tanya Arion, tidak lebih tepatnya ledekan.


"Ini tidak seberapa dengan rasa malu dan jijik yang ku rasa! Untung saja istriku, wanita yang berbeda! Kau tidak tahu akibat apa dari tindakanmu! Kebodohanmu menargetkanku sebagai mangsa!"desis Arion. Mengepalkan tangannya. 


Dengan nafas menderu, Novan membuka satu matanya.


"Tamatkan saja riwayatku Tuan," pinta Novan. Arion terkekeh dan kembali mengambil sebilah besi panjang, tipis, berwarna putih dan sangat tajam.


Baru saja Arion hendak kembali melakukan aksinya, pintu terbuka. Arion melirik dan Novan memejamkan matanya, bersiap lagi dengan rasa sakit yang akan didapat.


"King, Queen memanggil Anda," ujar penjaga yang merupaka utusan Karina.


"Hm, katakan padanya, sebentar lagi aku datang," sahut Arion.


"Tapi King, Queen mengatakan sekarang. Dan untuk tahanan ini, Queen memerintahkan untuk menjadi mainan para kucing." Penjaga utusan ini menunjukkan wajah prihatinnya saat menyebutkan para kucing. Arion menurunkan senjatanya dan mengeryit.


"Kucing? Miu?"beo Arion. Penjaga itu mengangguk.


"Oh, baiklah. Laksanakanlah!"lanjut Arion, membuang kasar senjata di tangan dan melangkah keluar. Meninggalkan Novan yang merasa nyawanya sudah di ujung. 


Membasuh wajah dan membersihkan noda darah yang menempel padanya. Dengan wajah ceria dan senyum mengembang, Arion segera melangkah menuju ruangan Karina. 


Sedangkan Novan, dibawa pindah ke ruangan para kucing. Para penjaga nampak takut, saat memasukkan Novan ke ruangan itu. Novan melihat suasana gelap, tidak ada sedikitpun cahaya. Beda dengan ruangannya. Udaranya pun panas dan pengap. Erangan dan ringisan pun kembali ia teriakan. 


Tak berapa lama, Novan merasa ada yang mengendus tubuhnya, ada kumisnya, juga geraman. Mata kuning yang bersinar. Seketika, jantung Novan seakan terhenti.


Teriakan kembali bergema, menyisahkan rasa takut di hati para penjaga yang mendengarnya.


*


*


*


Arion melangkah menuju kamar, sebab Karina tidak berada di ruangannya.


"Yang, kamu menganggu kesenanganku," protes Arion. Karina hanya memutar bola matanya.


"Maafkan aku Sayang, ada tamu di rumah, kita harus segera pulang," rayu Karina, menggandeng lengan Arion mesra. Arion menunjukkan wajah sebal dan ditekuknya. Akan tetapi dalam hati, cerah.


"Eh, tunggu. Tumben kamu peduli dengan tamu? Siapa dia memangnya?"tanya Arion curiga. Karina hanya tersenyum sebagai jawaban. Menambah rasa penasaran. 


Beberapa pemikiran tentang siapa yang bertandang ke rumah pun menghampiri.


Setibanya di mobil, Pak Anton membukakan pintu dan menutupkannya. Lalu segera mengemudikan mobil ke luar markas.


"Karina, Bayu dan Enji setelah kita pisah tadi, aku tidak melihat batang hidungnya?" Dengan nada datar tanpa menatap Karina. Karina mendengus. 


"Mereka sudah besar, untuk apa dicariin!"sahut Karina.


"Hm," gumam Arion.


Karina mengambil handphonenya. Arion hanya melirik dengan senyum tipisnya.


"Sudah!"ucap Karina. Karina mengirim pesan singkat kepada Enji mengabarkan bahwa mereka pulang duluan.


Karina lantas menyandarkan bahunya pada bahu Arion. Tangannya memeluk tantan Arion. Karina lantas memejamkan matanya.


"Setia dan selamanya denganku, My Husband!"gumam Karina.


Arion tersenyum.


"Tentu, istriku, satu kamu selamanya," sahut Arion mengecup puncak rambut Karina. Karina tersenyum lebar.


*


*

__ADS_1


*


Rian dan Satya pamit pulang setelah menemani Darwis sampai petang datang. Kini Darwis tinggal sendiri menemani Joya yang terbaring di ranjang rumah sakit dengan mata yang tertutup. 


Gerry memegang telapak tangan Joya dan meletakkan di pipinya. Air mata Gerry menetes mengingat kondisi Joya. 


"Benang kankernya semakin menyebar Tuan. Kami tidak tahu apakah beliau akan bertahan sampai melahirkan."


Perkataan Dokter masih terngiang di pikirannya. Sedangkan penitian masih belum menemukan titik terang. Padahal sudah kontrol rutin dan melakukan anjuran dokter. Hasilnya, bukan menghambat, malah semakin menyebar.


Dan sekarang, Darwis tidak tahu kapan Joya membuka mata. 


Kepala Darwis terasa pusing. Urusan kasino sementara dihandle Rian dan Satya. Perut Darwis berbunyi minta diisi. Darwis melihat jam dinding. Tak terasa sudah pukul 20.00. Darwis memegang perutnya dan menatap Joya. Masih menutup.


Darwis lantas mengecup telapak tangan Joya lalu berdiri dan melangkah keluar. Semenit kemudian, seorang suster masuk dan memeriksa peralatan yang melekat pada Joya lalu duduk di sofa. Ia diperintahkan Darwis untuk menjaga Joya selama ia keluar. 


Di kantin, Darwis memesan makanan dan makan dengan tidak bersemangat. Biar bagaimanapun, ia harus optimis bersama Joya. Akan bodo' rasanya jika ia ikut menyiksa diri. Bagaimana ia bisa menjaga Joya, jika ia sendiri lemah?


Suap demi suap ia masukkan. Rasanya hambar di mulutnya. Padahal itu merupakan makan terbaik di kantin ini. Selesai makan, Darwis membayar dan kembali ke ruangan Joya. 


"Kau bisa kembali bertugas. Terima kasih telah menjaga istriku," ucap tegas Darwis. Suster itu mengangguk.


"Sama-sama Tuan, sudah kewajiban Saya," sahut Suster menunduk dan undur diri.


Darwis lalu kembali duduk dan menatap wajah Joya sesaat. 


"Cepatlah sadar Sayang. Jangan membuatku tersiksa," pinta Darwis, berdiri dan mengecup kening Joya cukup lama. 


Darwis kembali duduk, menunggu Joya bangun, lambat laun berubah jadi rasa kantuk.


*


*


*


Kini Karina sudah berada di ruang tengah dengan pakaian yang sudah berganti. Sedangkan Arion berada di ruang kerjanya. Di depannya, duduk seorang anak lelaki berusia sekitar 13 tahunan dengan wajah menunduk. Ia meremas celana yang ia gunakan mengurangi rasa takut dan gugup.


"Nama." Ia mengangkat wajah saat Karina dengan nada dinginnya bertanya pada dirinya.


"Syaka," jawab anak lelaki itu pelan. 


"Hm, darimana kau tahu alamat rumahku?"tanya Karina lagi.


"Dari Ayah dan Ibuku," jawabnya, sorot matanya berubah, jadi sedih. 


"Apa urusanmu denganku?"


"Ayah dan Ibu mengatakan aku sudah dibeli oleh seorang wanita muda yang sangat berkuasa. Mereka mengatakan menukarku dengan nyawa mereka berdua dan akan diserahkan padamu saat aku berusia 20 tahun. Namun, sebelum itu terjadi, mereka tewas dalam kecelakaan seminggu lalu. Katanya, aku harus mencarimu untuk mengabdi dan mereka juga meninggalkan flashdisk ini sebagai bukti," jelasnya, mengeluarkan sebuah flashdisk warna putih dan menyerahkannya pada Karina. Karina melirik lalu mengambilnya.


"Aku membelimu? Syaka? Syaka? Sudah berapa tahun?"tanya Karina lagi.


"Sekitar lima tahun lalu," jawab Syaka.


"Baiklah, kamu bisa kembali lagi besok pagi untuk mengambil ini," ucap Karina memainkan flashdisk di tangannya.


"Tapi, tapi aku tidak punya rumah di sini. Rumahku di luar kota, butuh berjuangan sampai kemari. Lagipula, aku tidak ada uang untuk menginap di hotel. Hanya sisa 5000 ini," ujar Syaka, meronggoh kantong dan memperlihatkan sisa uangnya. Hati Karina berkedut kasihan.


"Aih sudahlah. Bik." Karina memanggil Bik Mirna, Bik Mirna yang sedang berada di dapur.


"Saya Non," jawab Bik Mirna.


"Antarkan dia ke kamar tamu, tapi … bersihkan dia dulu di belakang. Saya akan ke kamar," suruh Karina tegas. Bik Mirna mengangguk.


"Dan, antarkan makan malam saya dan Arion ke kamar," ujar Karina lagi, berdiri dan menuju kamarnya.


Syaka menatap Bik Mirna dengan mata mengerjapnya. Mata jernih dengan bibir yang sedikit terbuka, ditambah kulit putih namun sedikit kusam karena debu, Bik Mirna tersenyum lembut.


"Mari Nak," ajak Bik Mirna.

__ADS_1


"Baik Bibi," jawabnya segera.


__ADS_2