
Semakin malam pasar malam semakin ramai. Puncaknya adalah selesai salat Isya. Jalanan di sekitar pasar malam ramai merangkak. Tempat parkir yang diperuntukan untuk pengunjung penuh dengan kendaraan roda dua dan empat.
Arion bahkan kesulitan untuk mencari tempat parkir. Untunglah tukang parkir gerak cepat untuk menemukan lokasi parkir mobil mewah itu.
Lokasi parkir Arion dan Karina berada sedikit jauh dari pasar malam. Mereka harus berjalan kurang lebih 50 meter dari lokasi utama. Arion siap siaga menjaga Karina.
Keduanya berjalan santai dan riang menyusuri trotoar ditemani sorot lampu jalan dan kendaraan serta sinar rembulan.
Beragam wahana bermain, stand untuk kulineran, stand untuk berbelanja aksesoris dan sandang berjajar di dalam lokasi pasar malam siap memanjakan pengunjung. Tentu saja untuk mencoba atau membelinya harus membayar.
Arion dan Karina menuju tempat permainan menembak. Senapan plastik dengan peluru karet menjadi senjata. Arion dan Karina tersenyum miring melihat wajah meremehkan pemilik tempat.
Dalam sekali permainan, dua boneka sudah di tangan. Pemilik tempat melongo melihat semua peluru tepat sasaran.
Karina dan Arion melanjutkan langkah mereka. Menilik sekitar mencari sesuatu yang lain yang menarik.
Karina merasa permainan yang ada terlalu mudah dan membosankan. Arion mengikuti keinginan Karina saat mengakuinya ke jajaran stand kuliner.
Ternyata pasar malam ini bukan pasar malam biasa. Pengelola pasar malam bekerja sama dengan pemerintah kota.
Pasar malam ini menawarkan permainan tradisional, kuliner tradisional, produk kesenian dan kerajinan tangan dari berbagai provinsi. Ini lebih mirip pameran produk dari berbagai provinsi negara ini.
Bahkan bunga saja dijual di sini. Di dalamnya juga ada stand penyuluhan dan pengenalan mengenai narkoba, pergaulan bebas, merokok, dan masalah lain yang banyak terjadi di masyarakat, khususnya di generasi muda.
Jadi di sini bisa bermain sekaligus belajar.
Kini Karina dan Arion duduk di kursi yang tersedia, menikmati makanan yang keduanya beli.
Karina asyik dengan cumi gorengnya sedangkan Arion dengan kebab. Mereka makan sembari menikmati pemandangan sekitar. Arion merangkul Karina dengan satu kaki dinaikkan ke kaki yang satu.
"Ah, aku penasaran bagaimana rasanya berjalan di bawah pedang," ujar Karina menatap Arion dengan sorot mata yang penasaran.
"Pedang pora?"tanya Arion.
Karina mengangguk.
"Aku juga penasaran. Apakah kita perlu mencobanya untuk mengetahui bagaimana rasanya?"tanya Arion menggenggam jemari Karina.
Makanan mereka sudah habis.
"Boleh. Kapan?"tanya Karina.
"Bagaimana jika besok? Pas peresmian," saran Arion.
"Besok ya? Oke deh," setuju Karina.
"By de way, aku penasaran bagaimana Satya melewati malam pertamanya. Sayang menurutmu apa mereka akan melakukan hal 'itu'?"tanya Arion penasaran.
Ia dan Karina juga tertegun menyaksikan Riska yang mencium Satya duluan. Jika di sana para tamu undangan senyum - senyum sendiri, maka di kamar tadi, Arion dan Karina ikut berciuman.
Keduanya terpana saat menyaksikan khidmatnya prosesi Pedang Pora. Berjalan di bawah pedang yang digenggam oleh prajurit berseragam lengkap ditambah musik dari marching band membuat keduanya ingin merasakan hal tersebut.
"Tergantung isterinya juga sih. Tapi ku rasa Satya juga tidak akan menyentuh gadis kecil itu. Palingan Satya hanya akan menggoda gadis kecil itu," jawab Karina.
"Aku pernah memberi Satya pilihan," ujar Karina.
"Pilihan?"tanya Arion.
"Hm. Aku membebaskannya dari perintahku. Aku membebaskannya untuk tetap atau tidak menikah dengan Riska. Tapi apa jawabannya dia tetap memilih pernikahan. Satya sudah menjadikan Riska sebagai pilihan terakhirnya," ungkap Karina.
"Pria dewasa akan pandai mengontrol emosi dan perilakunya. Pria dewasa akan cenderung mengunakan akal ketimbang emosi dan perasaan. Aku sudah mengerti, Satya-mu punya kontrol diri yang tinggi bukan?"ucap Arion.
"Darimana kamu tahu?"
"Waktu malam pernikahan Gerry dan Mira. Bukankah kita menyaksikan perbuatan Satya pada Riska di kamar? Walaupun mabuk Satya punya tingkat kesadaran dan kontrol tinggi yang tinggi untuk tidak menodai Riska. Semua bawahanmu itu sama seperti dirimu," ujar Arion mencolek hidung Karina.
Karina menepuk dahi pelan seraya tertawa.
"Ah lupakan saja dulu mereka. Biarkan mereka menjalani rumah tangga yang seperti benih baru ditabur. Di sana mereka tengah menikmati acara resepsi yang menyebalkan. Lebih baik kita lanjut bersenang-senang. Kedua anakmu ingin makan lagi," putus Karina menatap Arion tersenyum.
Tanpa kata andalan 'anak - anakmu' saja Arion sudah mengikuti keinginan Karina apalagi dengan tambahan kata-kata itu?
"Baiklah. Sayangku dan my baby twins ingin makan apa?"tanya Arion lembut mengusap perut Karina.
Arion tersenyum lebar usapannya direspon oleh kedua anaknya. Tendangan kecil.
"Gula kapas," jawab Karina dengan nada anak kecil.
"Gula kapas? Satu saja ya," ucap Arion.
"Pelit," celetuk Karina mencembikkan bibir.
"Perhatian asupan gulamu, Sayang," ujar Arion membelai lembut rambut Karina.
__ADS_1
"Hmph. Ya sudah deh," sahut Karina dengan nada ketus.
Arion terkekeh. Dengan gemas Arion mencubit kedua sisi pipi Karina.
"Em … em … sakit," keluh Karina.
Cup.
Cup.
Arion mencium pipi Karina, kanan dan kiri.
"Ayo," ajak Arion berdiri.
Arion mengulurkan tangannya. Masih dengan tatapan kesal Karina menerima uluran tangan Arion. Keduanya melangkah mencari penjual gula kapas. Senyum Karina kembali ketika di tangannya sudah terdapat gula kapas berukuran besar berbentuk hati.
Arion menggeleng kecil melihat tingkah Karina. Sungguh saat ini Karina tidak seperti seorang Presdir perusahaan hebat ataupun Queen mafia besar. Karina lebih mirip seorang istri yang sangat manja pada sang suami.
Dan memang benar, Karina memang manja pada Arion, tapi manjanya tidak merugikan siapapun. Karina tidak perlu bantuan Arion untuk menyingkirkan seseorang yang menyinggungnya.
Karina tidak perlu punggung Arion untuk bersembunyi, Karina hanya perlu Arion untuk bersandar.
Karina dan Arion melangkah bersama dan saling berpegangan menjalani kehidupan mereka. Mereka saling melindungi, mereka tidak ingin menjadi beban satu sama lain.
Sembari menghabiskan gula kapas mereka, Arion dan Karina melihat aksesori berupa gelang, gantungan kunci, dan bandana.
"Aahh kau lebih cocok dengan bandana ini," ujar Karina memakaikan bandana berbentuk telinga kelinci pada Arion.
Arion mengerjap, menyentuh telinga kelinci kain itu. Karina tertawa geli.
Karina sendiri menggunakan bandana berbentuk telinga harimau.
"Bagaimana dengan yang ini?"
Arion mengganti bandana yang ia gunakan menjadi berbentuk telinga harimau yang sama seperti Karina.
Karina menilai.
"Hm cute only mine, cool to others, yes?"
"Alright."
Berpindah ke gelang. Gelang berwarna biru muda menjadi pilihan.
"Tuan, Nyonya, apakah Anda berdua ingin menuliskan sesuatu di gelang ini? Sayang akan menuliskannya," ujar penjual ramah.
Arion dan Karina pulang dari pasar malam ketika waktu sebentar lagi menunjukkan pukul 23.00. Lelah tapi puas. Keduanya pulang dengan hati yang bahagia.
*
*
*
Riska terbangun dengan mata panda. Riska takut ia dimakan oleh Satya jika ia lengah. Agaknya Riska lupa Satya punya kontrol diri yang tinggi. Tapi ini juga bukan sepenuhnya salah Riska. Dasar Satya saja yang candu menjahili Riska.
Tadi malam setelah acara resepsi pernikahan yang melelahkan, Satya masuk ke kamar pengantin yang sudah didekor seindah dan seromantis mungkin dalam keadaan pura-pura mabuk.
Riska yang baru saja merembahkan tubuh kecilnya di atas ranjang tentu saja terkejut. Satya berhenti di dekat ranjang, mata emerald yang sayu itu menatap mawar yang ditata membentuk huruf love di tengah ranjang. Tatapan Satya beralih menatap sang istri yang terdiam tegang menekuk lutut. Senyum Satya mengembang.
"Isteriku saatnya menjalankan kewajibanmu," ujar Satya dengan nada serak yang dibuat-buat.
Riska tampak takut, gugup, menekan ludah saat Satya berjalan mendekatinya.
"Kak, jangan sekarang ya, aku masih takut," ujar Riska hati-hati.
Satya sudah duduk di hadapan Riska, menatap Riska yang menunduk. Tangan Satya terulur mengangkat dagu Riska. Mata emerald dan dan coklat itu beradu pandang.
Hati Satya berdebar, begitu juga dengan hati Riska.
"Jangan menunduk ketika berbicara denganku. Tatap mataku agar aku selalu melihat mata memikatmu," ujar Satya lembut.
"Aku malu, Kak," jawab Riska lirik.
"Untuk apa malu? Kita sudah sah," tutur Satya.
"Kakak juga malu tadi kan?"sarkas Riska yang membuat Satya tersenyum canggung.
"Jika banyak orang aku canggung. Jika hanya kita berdua …."
Satya mengerling menggoda Riska. Riska terkesiap, pipinya memanas.
"Boleh aku menciummu?"tanya Satya yang membuat Riska bimbang.
__ADS_1
Ia mendengar dari teman-temannya kalau nafsu pria dewasa itu besar. Dari teman pria, Riska mendengar bahwa hubungan intim dimulai dari ciuman. Riska takut setelah ciuman berakhir Satya akan merobek selaput dara yang selama ingin dijaga.
"Hanya ciuman di bibir dan leher, bolehkan?"
Mata Satya memancarkan cahaya yang tidak bisa Riska tolak. Riska mengangguk.
Perlahan Satya mendekatkan bibirnya ke bibir Riska. Di detik berikutnya, bibir mereka sudah menyatu dan saling membalas. Satya memperdalam ciumannya. Riska kembali melingkarkan kedua tangan pada leher Satya.
Setelah puas dengan bibir, ciuman Satya turun ke leher Riska. Riska melenguh menikmati sentuhan lidah Satya.
Satya menepati janjinya. Satya tersenyum puas setelah membuat leher Riska basah. Riska membuka mata, mendapati Satya tengah membuka baju.
"Kakak, kakak mau ngapain? Ngapain buka baju?"seru Riska panik, melempar bantal pada Satya.
"Kamu kenapa sih?"heran Satya meneruskan membuka kancing bajunya.
"Riska enggak mau. Riska takut," panik Riska, mulai menangis.
Satya mengeryit.
"Apa aku mengatakan aku akan memakanmu?"tanya Satya heran.
"Tadi Kakak mengatakan saatnya aku menjalankan kewajibanku. Aku enggak mau Kak," jawab Riska.
"Astaga. Aku lupa. Aku hanya pura-pura mabuk tadi. Aku hanya bercanda. Kau kau tahu alasanku membuka baju?"
Riska menatap mata Satya.
"Aku sudah menyentuh bibir dan lehermu. Akan adil jika kamu juga menyentuh tubuhku. Lihat, sentuh dan rabalah dada dan perutku," ujar Satya.
Mata Riska turun menatap dada dan perut Satya. Mata Riska melebar mendapati pemandangan indah di hadapannya. Riska menelan ludah.
"Ayo."
Tangan Riska terulur perlahan, menyentuh perut Satya.
Tangan Riska beranjak naik menuju dada. Dengan penasaran Riska menyentuh benjolan kecil di dada Satya yang membuat Satya mengerjap kaget. Riska malah terkekeh.
Tangan Riska kembali turun ke perut. Menusuk perut Satya dengan jari telunjuknya.
Saat Riska asyik dengan perut Satya, tiba-tiba saja Satya berdiri dan kembali mengancingkan kemejanya. Sorot mata Riska terlihat kecewa.
"Ingin lagi? Maka batter dengan itu."
Satya menunjuk dada Riska. Riska langsung menyilangkan kedua tangan di dada.
"Aku sudah puas!"
"Hm."
Satya kemudian berbaring di sisi ranjang yang masih kosong. Mawar hati itu sudah berubah bentuk.
Riska tidur membelakangi Satya. Saat hendak memejamkan mata, mata Riska kembali melebar merasakan tangan kekar memeluk pinggang. Hembusan nafas terasa di pucuk kepalanya.
"Tidurlah. Tapi jangan pecicilan atau kau akan membangunkan singa tidur. Akan sulit bagimu untuk kembali menidurkannya," bisik Satya.
Alhasil Riska yang tidurnya memang pecicilan diam tidak berkutik, memastikan ia tidur diam.
Satya yang baru bangun mendapati Riska sudah tampil cantik dengan balutan dress toska. Satya segera bangun, menyapa Riska kemudian membersihkan diri.
*
*
*
Satya merasa bingung saat Intan dan Tuan Adiguna mengajaknya berbicara enam mata. Kini Satya duduk di hadapan Intan dan Tuan Adiguna dengan tatapan mata bertanya.
"Nak, apakah benar nama keluargamu Anderson?"tanya Tuan Adiguna mengawali pembicaraan.
Satya mengangguk. Satya memang tidak memberi tahu nama lengkapnya kepada Tuan Adiguna dan publik sebelum janji pernikahan itu ia ucapkan. Yang tahu nama lengkap Satya hanyalah anggota kelas S Pedang Biru dan Queennya.
"Apakah nama ayahmu William Anderson dan ibuku Cynthia Anderson serta nama saudara laki-lakimu Leon William Anderson?"tanya Intan serius.
Satya kembali mengangguk dengan tatapan bingung. Darimana mereka tahu mengenai keluarganya?
"Apa hubungan kalian dengan keluargaku?"tanya Satya heran dengan tatapan mata menyelidiki.
"Puji Tuhan. Ini suatu keajaiban," ucap Tuan Adiguna dengan penuh rasa syukur.
"Dengarkan pria tua ini Nak. Orang tuamu dan kami adalah sahabat dekat. Kami sudah bagaikan saudara. Kau mungkin tidak ingat karena masih terlalu kecil. Ketika kau berusia sekitar tiga tahunan, keluarga kalian pindah ke luar negeri. Awalnya semua aman-aman saja sampai terjadi konflik di negara kalian yang menyebabkan ayah, ibu dan kakakmu meninggal. Kala itu aku mencarimu. Tapi aku tidak pernah menemukanmu. Aku mengira kau sudah tiada, tapi aku salah. Kau tumbuh menjadi seorang pria yang membanggakan," papar Tuan Adiguna dengan wajah berseri-seri.
Satya terdiam mendengar pemaparan Tuan Adiguna. Ia mengingat, tapi tidak ada memori mengenai kedua orang ini.
__ADS_1
"Tuhan itu Maha Adil dan Pemurah. Dulu kami berniat menjodohkan kakakmu dengan anak kami, Rena. Tapi kejadian itu membuatnya tidak terlaksana. Dan lihatlah sekarang, Tuhan menjodohkan kamu dengan anak kami. Sungguh pemegang rahasia terbesar dan terhebat tetaplah Dia. Kami sangat senang karena itikad baik yang pernah pupus kini menjadi kenyataan," tutur Intan.
"Ya. Anda benar. Aku sangat bersyukur dengan fakta ini," sahut Satya tersenyum.