Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 250


__ADS_3

Mira menghela nafas kasar lalu meraih gawai canggihnya. Ia mengeryit melihat notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal. Mira membukanya dengan wajah penasaran.


"Kau kejam sekali," gumam Mira membaca pesannya.


[Kau pergi tidak pamit, pulang juga tidak memberitahuku!]


Mira mengubah raut wajahnya menjadi kesal.


"Apa orang ini mengira aku jalangkung?" gerutu Mira.


Mira membaca pesan yang baru masuk dengan nomor yang sama.


[Kau keterlaluan. Membacanya namun tidak membalasnya. Hei Mira kau tidak merindukanku kah?]


Mira menggertakkan giginya kesal.


[Siapa kau?!]


[Aih, kau bahkan melupakanku. Haruskan kamu mendengar suaraku?]


[Cukup sebutkan namamu! Jangan bermain teka-teki. Aku juga tidak ingin mendengar suaramu!]


[Kau jadi membosankan Mira. Apa kau jadi wanita dingin selama menjadi janda?]


Wajah Mira mengeras seketika. Ia meninggalkan room chat lalu mengaktifkan mode diam dan melemparkannya ke atas ranjang.


Mira menyobek-nyobek kertas melampiaskan kekesalannya. Matanya berkilat kesal.


"Dasar orang aneh! Dia pikir dia siapa?" omel Mira.


Mengingat siapa dia, Mira teringat Gerry. Mira lantas duduk diam dengan bibir tertutup rapat. Matanya berubah menjadi sendu.


Mira memikirkan jawabannya untuk Gerry. Sejak hari di mana Gerry menyatakan lamaran kepadanya, baik Mira maupun Gerry sama sekali belum berbicara. 


Mama sudah merestui. Tinggal Papa, sepertinya memang Gerry adalah pelabuhanku, pikir Mira.


Mira segera kembali mengambil handphonenya dan memilih mengirim pesan pada Gerry. 


[Baiklah, aku tahu kamu kesal. Good night, Mira].


Mira mengabaikan pesan itu dan segera berbaring menatap langit-langit dan dengan perlahan menyunggingkan senyum.


*


*


*


Keesokan harinya, Karina dan Arion memutuskan ke butik sebelum ke kantor untuk membeli pakaian yang akan mereka kenakan untuk peletakan batu pertama pembangunan panti asuhan Bintang Biru.


Tak lupa mereka juga mengabari Amri dan Maria yang masih betah di negeri gingseng itu.


Entah apa yang kedua orang itu lakukan. Arion hanya berharap semoga Maria kembali tidak dalam keadaan berbadan dua. Walaupun divonis sulit hamil lagi. Tidak menutup kemungkinan hamil bukan?


 


Enji dan Bayu juga dikabari. Mereka berdua tiba lebih awal dari Karina dan Arion. Bayu diizinkan terlambat dengan alasan urusan keluarga.


Pihak sekolah tidak berani membantah secara pemilik sekolah sendiri yang mengatakannya. Bisa-bisa mereka yang dihukum karena membantah.


Karina dan Arion saling pandang melihat Jesica yang berdiri tegak di dekat mobil. Pakaian Jessica sudah mirip bodyguard. Mengenakan topi dan kacamata. Rambutnya diikat satu dengan outfit serba hitam.


Jessica tampak sedikit terkejut dengan kehadiran Karina dan Arion. Ia tidak menyangka bisa bertemu langsung dengan dua sosok pemegang kendali bisnis kota dan negara ini.


"Perkenalkan asisten pribadiku. Baguskan, Kak?"


Enji memeluk Karina dan bertos ria dengan Arion. Karina meneliti penampilan Jessica dan hanya bergumam sebagai jawaban.


Ck, dia kira aku barang apa? kesal Jessica dalam hati.


Ini adalah yang sulit ia lakukan. Tersenyum di wajah mengumpat di dalam hati.

__ADS_1


"Dia manusia Zi! Bukan barang. Katakanlah. Bagaimana Kak? Cantikkan?" celetuk Arion, malah dihadiahi mata kesal Karina.


Kini Jessica tersenyum. Rasanya dipuji Arion, melayang. Tapi seketika jatuh melihat tatapan tajam Karina.


"Ck, ayolah. Aku harus pergi ke sekolah segera," keluh Bayu yang merasa jengah.


Enji setuju. Jesica apalagi. Kini rasanya tidak nyaman.


Mereka segera masuk dan memilih pakaian mereka. Untuk Maria dan Amri disesuaikan dengan pilihan mereka. Butik yang mereka masuki termasuk butik baru.


Karina ingin melihat dan menerka apakah ia cocok dengan butik ini. Jika cocok mungkin akan ia jadikan sebagai mitranya.


Pilihan mereka jatuh pada batik berwarna biru. Pilihan mereka akan dikirim langsung ke kediaman mereka. Setelah itu mereka keluar butik. Karina telah mendapat keputusannya. Batik di butik ini memiliki kualitas yang terjamin. Karina ingin menariknya ke bidang fashion dan menjadikannya barang ekspor. 


Jessica membukakan pintu untuk Bayu. Bayu naik duluan. Enji berbincang sejenak dengan Karina dan Arion.


"Jadi Kakak akan mengadakan pesta akhir tahun di hotelmu? Berarti Kakak akan mengundang semua relasi bisnis termasuk aku kan?" tanya Enji.


Karina mengangguk. 


"Kak kamu tahukan aku tidak punya pasangan untuk pergi ke pesta," keluh Enji. 


Karina mengangkat bahunya acuh. Mata Arion malah mengisyaratkan Jesica. Enji mengeryit.


"Kak dia itu asistenku. Bukan pacarku," jelas Enji  berbisik.


"Sama saja," sahut Arion.


Enji mendengus. Bayu menekan kesal klakson mobil. Mereka segera berpisah. 


*


*


*


Gerry terperanjat dengan notifikasi pesan dari Mira. Bukan pesannya tapi isi pesannya. Seketika ia berteriak kegirangan. Hatinya sangat bahagia. Isi pesannya adalah Mira menerima lamarannya.


Sungguh ... ini adalah hari berbahagia Gerry. Akhirnya penantian singkatnya dijawab tuntas dengan kata "ya".


Akhirnya wajah Gerry yang beberapa hari belakangan ini ditekuk bak dompet akhir bulan kini cerah seperti habis gajian. 


"Tapi bagaimana dengan restu?" tanya Li.


"Restu? Hm kami akan berusaha. Kalian lupa dengan kata-kataku kemarin? Masalah restu bisa diatasi. Yang penting Mira setuju dulu. Yang lain belakangan," jawab Gerry santai.


Wajahnya tetap menunjukkan reaksi bahagia, tidak ada kekhawatiran sama sekali. Baginya yang penting Mira setuju maka masalah lain pasti beres.


"Karina?" tanya Elina ikut nimbrung.


Gerry tersenyum.


"Pasti setuju. Darwis sama Joya saja direstui. Masa' aku dan Mira tidak? Kan kami satu area. Sama-sama Pedang Biru," jawab Gerry.


Elina  dan Li mendengus senyum. Apapun yang terbaik untuk Gerry pasti mereka dukung. 


"Lalu apa rencanamu?" tanya Li serius. 


"Tidak ada. Aku hanya menunggu Mira kembali." 


"Lebih baik kamu bahas dengan Karina, jadi akan lebih enak ke depannya," saran Elina yang disetujui Li.


Gerry mengeryit sesaat. Tak lama ia mengangguk. 


*


*


*


Lonceng jam istirahat ke dua berbunyi nyaring ke penjuru sekolah. Di istirahat kedua ini Bayu biasanya keluar kelas sekedar melihat lorong atau bercengkrama dengan teman sejawatnya.

__ADS_1


Yang dibahas pun tidak jauh-jauh dari pelajaran, game, serta olahraga. Paling keras membahas hubungan Bayu dan Lia, itupun kalau ada yang berani mulai. Sebab baru saja satu kata yang keluar jika menyinggung Lia, maka tatapan mata Bayu yang tajam langsung membungkam mereka.


Teman-temannya heran dengan Bayu. Pemuda cilik itu seakan tidak ada niat untuk dekat dengan gadis manapun. Jangankan dilihat, dilirik saja tidak. Malah wajahnya datar lagi. Kalau lagi kesal ketusnya minta ampun.


Sekelas enggak ada yang berani mendekat, kecuali Lia. Gadis cilik dengan netra hazel itulah yang berani menyapa Bayu. Ya walaupun jawabannya tatapan ketus dan mata acuh.


Saat Bayu dan teman-temannya berbincang di depan kelas, tiba-tiba ada beberapa anak perempuan yang dilihat dari bet kelasnya adalah siswi kelas lima.


Mereka berjumlah tiga orang, mendekat malu-malu ke arah Bayu. Mereka membawa sesuatu yang disembunyikan di belakang tubuh mereka. 


Mereka berdehem serentak saat berada di di belakang Bayu. Bayu berbalik dan mengeryit. Sedangkan teman-temannya tersenyum masam.


Ini sudah anak perempuan ke sekian kalinya yang berusaha mendekati Bayu, mereka sering kali cari perhatian atau salah tingkah, jika mengenai Bayu. 


"Ada apa?"


Bayu mengeluarkan nada ketus dan wajah juteknya.


"Hem ...ckemarin aku habis pulang dari luar negeri. Jadi aku beliin ini buat kamu. Terima ya," ujar anak perempuan berwajah manis dengan rambut yang digerai sepundak.


Anak rambut menutupi dahinya. Sepasang anting melekat indah di daun telinganya.


Bayu menatap datar apa yang anak perempuan itu berikan. Sebuah kotak sepanjang penggaris tiga puluh centimeter berwarna emas disertai dengan hiasan bunga.


Bayu tersenyum miring.


"Kamu royal sekali, Nona. Harga coklat ini sebanding dengan harga sepeda motor ayahku. Aku merasa tidak pantas menerima makanan semahal ini. Simpan saja untukmu sendiri. Bagiku itu tidak akan ku makan. Aku tidak makan coklat atau berikan saja pada orang lain jika kamu merasa tidak bisa menerima barang yang akan kamu berikan kepada orang lain," ucap Bayu menolak kotak yang sudah ia ketahui duluan isinya.


Wajah anak perempuan itu tampak kecewa dengan mata berkaca-kaca.


"Yu, kamu enggak kelewatan? Dia anak pengusaha besar loh. Bisa gawat kamu kalau dia lapor sama Papanya," bisik salah seorang teman Bayu pada Bayu.


Bayu tampak tenang dan acuh.


"Aku ... aku khusus beliin buat kamu. Mustahil aku memberikannya untuk orang lain. Terima ya," pinta anak perempuan berambut sepundak itu lagi, memelas.


Bayu menggeleng. Teman-temannya tidak ada yang berani menyela. Bayu orang yang serius, sulit diajak bercanda.


"Buang saja kalau begitu," sahut Bayu enteng.


Anak perempuan itu mengubah raut wajahnya menjadi kesal. Ia menghentakkan kakinya kesal dengan tangan menggenggam erat kotak coklat.


"Ckckck! Dasar gunung es!" pekik anak perempuan itu kesal lalu pergi.


Kedua temannya saling pandang dengan tatapan ragu. Bayu tersenyum miring. 


"Ada lagi?" tanya Bayu dengan nada mengintimidasi.


Kedua anak perempuan itu menatap Bayu dengan jantung berdebar. Ragu, mereka tetap menyerahkan sesuatu yang akan mereka berikan pada Bayu.


Ada topi dan sebuah pena. Mereka memberikannya bersama-sama. Kali ini Bayu tampak tersenyum tipis. Ia menatap kedua anak perempuan itu dengan tangan menerima kedua barang tersebut.


Teman-temannya tampak tertegun dengan Bayu. Baru kali ini Bayu mau menyentuh pemberian dari anak-anak perempuan di sekolah ini.


Senyuman pun disunggingkan kedua anak perempuan itu. Mereka menunduk dengan wajah yang bersemu, terlebih saat Bayu memakai topi berwarna hitam itu serta  menaruh pena di saku bajunya.


"Hm ini bagus. Tapi maaf aku tidak bisa menerimanya. Aku punya banyak barang seperti ini di rumah. Takutnya tidak akan ada gunakan untukku. Lagipula aku tidak cocok dengan keduanya sama sepertinya yang tidak cocok dengan kalian berdua. Aku suka warna biru bukan hitam. Keluargaku selalu memberikan yang terbaik untukku. Kalian sudah gadis kecil yang kesekian kalinya memberikan diriku hadiah. Tapi aku tidak bisa menerimanya. Ini aku kembalikan. Sama kalian pasti ada gunakan atau berikan pada mereka, pasti diterima kok," ucap Bayu panjang lebar menolak tegas hadiah pemberian itu.


Matanya melirik rekan-rekannya.


Terkejut. Itulah yang dua anak perempuan itu lakukan. Mereka kira Bayu menerima hadiah mereka nyatanya cuma dipakai semenit doang.


Dengan sedih mereka mengambil kembali hadiah mereka. Wajah mereka memerah malu. Bayu acuh dan melangkah pergi. Tapi baru dua langkah ia jalan, Bayu menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Kalian ... lebih baik fokus pada pendidikan kalian. Masalah jodoh pasti ada jawabnya. Kalian putri dari keluarga yang cukup terpandang. Jangan mengemis cinta. Harga kalian lebih mahal dari sebuah topi dan pena," ucap Bayu lalu berbalik lagi dan masuk ke dalam kelas.


Ya begitulah Bayu. Tidak mau menerima apapun dari siswi yang menaruh perhatian padanya. Kedua anak perempuan itu mengeryit kemudian melangkah pergi dengan kesal dan sedih disusul dengan lonceng masuk kelas. 


"Aku takut kamu yang akan mengemis cintaku suatu saat nanti Bayu," bisik Lia saat hendak mengambil barisan.


Bayu melirik dengan mata tidak suka.

__ADS_1


"Aku menunggunya, Nona Graham!" sahut Bayu dengan suara pelan.


Bayu aku sudah sering membaca novel. Setiap pria dingin pasti punya hati. Akan ada saat hati dingin itu meleleh. Saat itulah ... kita akan bersatu! batin Lia menatap punggung Bayu dari tempatnya


__ADS_2