
Aleza bangun terlambat pagi ini karena tidak bisa tidur semalaman. Lingkar mata hitam Aleza terlihat jelas. Aleza mengerjap pelan, wajahnya kusut, kepala terasa pusing.
"Aku sudah mendapat jawabannya!"gumam Aleza, berdiri dan segera menuju kamar mandi. Aleza cuci hanya muka dan gosok gigi. Keluar dengan tergesa, merapikan rambutnya sedikit kemudian segera keluar kamar. Di meja makan, tidak ia temui Emir. Biasanya jika ia bangun terlambat pasti selalu menunggunya untuk sarapan. Aleza bertanya pada pelayan yang kebetulan melewati meja makan.
"Di mana Pangeran Emir?"tanya Aleza.
"Pangeran Emir? Pangeran Emir pergi bersama dengan Sultan Osman dan Tuan Rayan. Ada apa Nona?"
"Kemana?" Agaknya Aleza lupa mengenai pembicaraan tadi malam dengan Emir.
"Ke kota X Nona. Hari ini Pangeran akan melamar salah satu anak pedagang besar di sana," jawab pelayan tersebut, heran dengan Aleza. Biasanya jika tidak ada urusannya dengan pekerjaan, Aleza tidak pernah menanyakan keberadaan Emir. Jika itu masih masa pembangunan, pelayan tidak terlalu heran, sayangnya pembangunan telah selesai, hubungan pekerjaan juga berakhir, mengapa Aleza menanyangkan keberadaan Emir?
"Sudah berapa lama mereka pergi?"
"Sekitar satu jam yang lalu, Nona."
"Sial!"gerutu Aleza, segera berlari menuju garasi. Di luar garasi, dua mobil jeep yang diperuntukan untuk mengantar mereka sudah siap berikut dengan anggota timnya.
"Ketua saatnya pulang!"seru anggota timnya. Aleza menggeleng. Menyuruh sopir dan semua penumpang salah satu jeep turun. Patuh, mereka bingung dengan wajah Aleza yang tampak panik.
Brum.
Aleza melajukan mobil dengan tergesa dan kini keluar dari kediaman.
"Ada apa dengan Ketua?"
"Berdasarkan pengalamanku, Nona sedang mengejar Tuan Emir."
"Mengejar Tuan Emir?"sahut yang lain dengan nada tidak percaya.
"Benar."
"Apakah dunia terbalik?"
"Sepanjang pengetahuanku mengenai Tuan Emir dan Ketua, cinta itu bertepuk sebelah tangan. Apakah akhirnya hati Ketua luluh?"
"Kau tidak sepenuhnya benar, Kawan. Ketua itu sebenarnya mencintai Tuan Emir. Tapi Ketua takut dengan cinta, masa lalu yang kelam mengekangnya. Mungkin Ketua sadar bahwa Tuan Emir sungguh-sungguh mencintainya tanpa mempermasalahkan masa lalunya kelak. Ku pikir juga ada dukungan dari Queen."
"Hei George, darimana kau tahu Ketua punya masa lalu pelan?"tanya temannya heran.
"Apa kalian lupa? Aku ini ikut dengan Queen menjemput Ketua dari tempat terkutuk itu. Aku juga jadi tangan kanannya saat Ketua masih menjadi Ketua markas negara B," jelas pria yang bernama George itu.
"Tak ku sangka Ketua yang kaku dan dingin itu akhirnya luluh dengan cinta Tuan Emir."
"Sekeras-kerasnya batu akan hancur dengan tetesan air terus menerus. Begitu juga dengan hati yang keras, bisa luluh dengan cinta dan perhatian terus menerus."
"Tapi … ku dengar Tuan Emir melamar seseorang hari ini. Apakah pengejaran Tuan Emir akan berhasil?"
"Percayalah, Ketua pasti berhasil."
"KETUA KAMI MENDUKUNGMU!!"
Sayangnya teriakan mereka tidak didengar Aleza yang sudah pergi jauh. Tim itu segera menuju bandara ketika Aleza mengirim pesan agar mereka berangkat lebih dulu. Balasan berisi dukungan pun dikirimkan.
*
*
*
Sudah lebih dari satu jam Aleza berkendara. Dengan kemampuan Aleza melacak keberadaan Emir, Aleza mendapatkan titik keberadaan mereka. Hanya saja Aleza cukup heran dengan titik yang tidak bergerak, diam di tempat. Hal ini justru membuat Aleza semakin panik dan putus asa. Ia semakin menginjak pedal gas. Dua puluh menit kemudian, Aleza tiba di titik itu. Ia keluar mobil dengan wajah heran, melihat sekitar yang padang pasir, tak ada satupun rumah. Hanya ada tanaman kaktus. Melihat ke depan mendapati mobil jeep yang tak lain mobil yang dinaiki Emir, Osman, dan Rayan berhenti.
Aleza melepas kacamatanya, melihat Emir yang duduk sembari mengipasi tubuhnya. Osman juga tampak duduk frustasi. Tak bisa disangka … seorang Sultan dan Pangeran duduk di pinggir jalan dengan wajah kusam.
__ADS_1
"Kalian kenapa?" Osman dan Emir menoleh, terkejut mendapati Aleza yang berjalan mendekati mereka.
"Leza!" Aleza tersenyum tipis. Emir buru-buru turun dan berdiri di hadapan Aleza. Rayan menoleh dari arah depan mobil, wajahnya juga terkejut. Pakaiannya kotor, wajahnya juga ada goresan hitam.
Rayan meninggalkan bagian depan mobil dan berdiri di samping Osman. Mobil mereka mogok. Ah ini hanyalah alasan Emir yang bekerja sama dengan Rayan. Mobil benar-benar mogok, sengaja memilih yang seharusnya diservis hari ini.
Osman tak mampu berkata-kata mendengar alibi kedua pria itu. Iya hanya bisa menggerutu dalam hati.
"Kau baru mau pulang?"
Aleza menggeleng.
"Lantas? Bukankah ini juga jalan menuju bandara. Dan mengapa kau hanya sendiri? Mana anggota timmu? Dan ...." Emir bertanya beruntun, Aleza dengan cepat meletakkan telunjuknya di bibir Emir. Mata Emir terbelalak.
"Berhenti bertanya. Dengarkan dulu ucapanku," ucap Aleza. Emir menunjukkan wajah penasaran, mengangguk. Aleza menarik kembali jari telunjuknya. Tampak mengumpulkan keberanian untuk mengatakannya. Baru saja Aleza membuka mulutnya, anggota timnya lewat.
"KETUA SEMANGAT! KAMI MENUNGGU UNDANGAN DAN MAKAN DAGINGNYA!"
Aleza mengerjap, canggung dengan teriakan anggota timnya itu. Emir bingung.
"Undangan? Makan daging? Apa maksudnya, Leza?" Emir menggaruk kepalanya bingung.
Aleza menarik nafas dan menghembuskannya cepat.
"Dengarkan aku Emir. Jangan melamar wanita manapun!"
"Apa maksudmu!" Osman berseru kesal. Rayan yang paham situasi langsung menarik Osman menjauh.
"Mengapa Leza? Bukankah kau tidak mencintaiku? Aku juga harus mementingkan klanku," ucap lembut Emir.
Aleza menggeleng.
"Tidak. Tidak Emir. Aku … aku juga mencintaimu!" Tanpa aba-aba Aleza memeluk erat Emir. Emir membeku. Ia tak salah dengarkan kan?
"Apa karena kelamaan menunggu Rayan, aku tertidur?"
Ahhhh!
Emir berteriak sakit.
"Bod*h! Ini kenyataan! Emir aku Aleza mencintaimu. Aku juga menerima lamaranmu! Ayo kita menikah!"seru Aleza berapi-api.
"A-apa? Bukankah?"
"Bohong! Aku berbohong. Aku-aku punya ketakutan terdapat cinta. Emir maukah kau mendengar ceritaku?"
Aleza berpaling, menatap tanah gersang dengan tatapan teduh. Emir berdiri di samping Aleza.
"Aku juga ingin tahu. Aleza terima kasih. Aku sangat bahagia," ucap Emir, memberanikan diri menggenggam jemari Aleza. Emir was-was tangannya ditepis, tapi genggaman tangannya dibalas oleh Aleza.
"Ku harap kau tidak berubah setelah mengetahuinya," harap Aleza.
"Pasti!" Tanpa ragu Emir menjawab. Sedikit kelegaan Aleza rasakan.
"Emir hal utama yang harus kau ketahui adalah aku bukanlah wanita yang suci. Kehormatanku sudah ternoda. Apakah kau masih ingin mendengarkan?"
Emir diam tidak menjawab. Matanya menatap rumit Aleza. Ada sedikit kekecewaan di hatinya. Tapi jika ia saja sakit mendengarnya, bagaimana dengan Aleza yang menceritakan dan mengalaminya?
Emir mengangguk. Mengeratkan genggaman tangannya.
"Lanjutkan!"
"Aku lahir dari keluarga yang berkecukupan tapi itu hanya keluargaku, tidak denganku. Aku hanyalah anak hasil hubungan gelap ayahku. Di rumah dulu, selain nenek tidak ada yang peduli denganku. Semua mencaci dan menghinaku. Tidak ada yang peduli dengan perasaanku. Apakah salahku dilahirkan dari hasil hubungan gelap? Aku juga tidak mau dilahirkan jika tahu begitu keadaannya."
__ADS_1
Suara Aleza tercekat. Dadanya terasa sesak. Tanpa diminta, air mata luruh dari netra birunya. Aleza memejamkan matanya, berusaha tenang untuk melanjutkan ceritanya. Emir bisa merasakan kesedihan Aleza.
"Tidak. Itu bukan salahmu. Itu adalah salah orang tuamu!"ujar Emir, merasa sedih juga geram dengan masa lalu Aleza.
"Siksaan dan cacian itu makananku sehari-hari. Hingga akhirnya nenekku sakit, butuh biaya besar untuk pengobatannya. Keluargaku tidak peduli. Aku saat itu masihlah anak berusia 16 tahun, aku berusaha mencari kerja, sayangnya aku ditolak di mana-mana. Jalan satu-satunya adalah memohon pada ayahku. Ayahku pada akhirnya setuju. Tapi ada harga yang harus ku bayar. Sangat mahal tak terkira dengan uang harus ku relakan demi nenek. Sayangnya … setelah kehormatanku hilang, nenekku juga tidak selamat. Siksaan dan hinaan terus mengalir dari mulut mereka. Aku sudah jadi pela*ur di usia remaja. Emir apa aku pantas untukmu? Kau begitu terhormat, sedangkan aku begitu hina."
Aleza menunduk. Emir masih mencerna cerita Aleza.
"Aku marah besar saat itu. Aku gelap mata. Emosi dan kebencian di hatiku meluap. Dan aku membunuh semua keluargaku. Aku juga berniat bunuh diri di tempat, sayangnya polisi datang dan menghentikan tindakanku. Aku tahu selanjutnya kan? Aku jadi tersangka, mendekam di sel dingin. Tapi itu lebih baik daripada rumah yang seperti neraka!" Nada bicara Aleza menjadi dingin, tatapan matanya juga dingin. Aura yang tadi sedih menjadi dingin. Aleza menarik senyum smirk.
"Aku puas walaupun harus di penjara! Mereka mati di tanganku! Hahaha sungguh tidak ada penyesalan. Satu-satunya penyesalanku adalah gagal menyelamatkan nenek. Emir apa sekarang kau berubah pikiran?" Aleza menatap Emir teduh. Sorot matanya menunjukkan kepasrahan atas apapun jawaban Emir.
"Lantas bagaimana kau keluar dari penjara?" Aleza terkejut, Emir masih ingin mendengarnya? Wajahnya tenang, tapi itulah yang membuat Aleza was-was.
"Pertemuanku dengan Queen sebenarnya jauh sebelum aku kehilangan kehormatanku. Saat itu Queen masih menjadi seniorku di sekolah. Saat itu aku hanya tahu Queen itu siswi yang tertutup dan sangat pendiam. Tapi saat menatap seseorang seakan menguliti orang. Kata-kata pertamanya padaku sangatlah ku ingat jelas, "semakin kau diam semakin kau mudah ditindas." Aku tidak mengerti ucapannya saat itu. Baru mengerti saat aku kehilangan harga diri dan nenekku."
"Sebenarnya aku tidak masalah hidup di penjara. Lagipula aku ditakuti di dalam sel. Sayangnya, takdir berkata lain. Queen datang dan membebaskanku. Dia mengajakku untuk ikut bersamanya, menjanjikan kehidupan yang layak. Aku tanpa ragu mengikutinya dan sampai saat ini aku tetap setia padanya. Tak terasa sudah sepuluh tahun berlalu." Menceritakan hal itu, Aleza tersenyum lembut. Matanya tampak berbinar. Aura bahagia membuat Emir terkejut.
"Jadi Emir, apakah kau masih mau menikah denganku?" Aleza menatap Emir datar. Emir mengulas senyum, memutar tubuh Aleza menghadap dirinya.
"Apa itu yang membuatmu menolak cintaku?" Aleza mengangguk.
"Dasar wanita b*doh! Kau kira hanya kau sendiri yang mempunyai masa lalu kelam? Aku juga punya. Jangan lupa tanganku juga berlumuran darah para saudaraku."
"Lantas dengan …."
"Aleza aku sangat senang kau jujur denganku. Mengenai hal itu, tindakan itu memang tidak bisa dibenarkan juga tidak sepenuhnya disalahkan. Kau terjebak di situasi rumit. Keadaan yang memaksamu. Aku sama sekali tidak keberatan. Aleza kau mencintaimu bukan karena ragamu. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, apapun keadaanmu!"
Emir menarik Aleza dalam peluknya. Keduanya berpelukan erat. Osman dan Rayan menyaksikan kedua insan itu berpelukan erat. Osman menghela nafas kasar.
"Aku tidak bisa untuk tidak merestui mereka," ucap Osman pelan.
"Terima kasih, Paman!"jawab Rayan, tersenyum haru melihat Emir dan Aleza.
"Aku akan segera ke negaramu, aku akan melamarmu lagi!"ucap Emir bersemangat.
"Aku akan menunggumu!"sahut Aleza.
"Tapi Emir, ada satu hal lagi, ada harga yang sangat tinggi untuk menikah denganku. Aku mungkin tidak masalah tapi Queen sangat ketat dengan calon-calon pasangan anggotanya. Kalau tidak salah ingat, hantaran dan mas kawin kakak-kakakku paling rendah lima milyar. Emir kau harus mempersiapkan baik-baik lamarannya."
"Leza ekor rubahmu kelihatan juga ya. Kau ini wanita matre ya?" Emir berkata dengan nada menyindir, mencubit gemas pipi Aleza.
"Sudah ku katakan, itu tergantung Queen. Kau harus memenuhi semua kriteria yang ia buat."
"Akan ku pastikan dulu!" Emir menghubungi Karina. Setelah dijawab langsung menanyakan kebenaran ucapan Aleza tadi.
"Hei Emir, ingin menikahi tangan kananku? Tidak semudah itu. Tapi yang terpenting siapkan saja hantaran sebaik mungkin juga ada beberapa ujian yang harus kau lalui."
Karina menutup telpon. Emir menatap Aleza.
"Kau benar. Baiklah. Aku akan mempersiapkan semuanya. Tunggu aku di sana!"
Aleza mengangguk. Menyentuh pipi Emir, mendekatkan wajahnya. Saat bibir mereka hampir bersentuhan, Emir memalingkan wajahnya. Aleza mengeryit heran.
"Kita belum sah, Leza," dalih Emir.
"Tapi tadi malam kau …."
"Itu hanya keinginan hati yang tiba-tiba. Leza jangan salah sangka, aku harus menjaga kehormatanmu sampai kita menikah." Aleza terenyuh dengan ucapan Emir.
"Baik. Aku akan menunggu."
*
__ADS_1
*
*