Istri Kecilku Yang Dingin

Istri Kecilku Yang Dingin
IKYD EPISODE 99


__ADS_3

Hari berganti menjadi malam. Bulan dan bintang menghiasi langit malam. Kota semakin hidup dengan gemerlap aneka rupa warna lampu. Semilir angin malam menyapa kulit yang tidak tertutup kain.


Jalanan kota padat akan kendaraan. Banyak anak muda yang keluar bersama dengan pasangannya. Tak hanya anak muda, pasangan yang sudah menikah pun ikut memenuhi trotoar.


Menikmati malam yang indah. Tak terkecuali, Karina dan Arion adalah salah satunya. Dengan saling bergandengan tangan  mereka menyusuri trotoar. Senyum menghiasi wajah mereka. 


"Makan malam di mana?" tanya Arion sembari mengedarkan pandangannya ke jalanan. Ia bersyukur menuruti saran Karina agar tak membawa kendaraan.


Lagipula tujuan mereka hanya berjarak sekitar 200 sampai 300 meter dari hotel, yang mana tujuan mereka ada pasar malam di dekat taman kota.


"Jalan saja dulu. Kalau ada yang menarik menunya kita mampir," jawab Karina. 


Sekitar tiga menit berjalan, Karina menghentikan langkahnya. Menatap salah satu tempat makan dengan nama menu nasi kalong.


"Makan di situ yuk. Kayaknya menunya unik deh," ajak Karina menunjuk tempat makan itu.


"Nasi kalong? Kalelawar maksudnya?" tanya Arion. Karina menaikkan bahunya tak tahu. Ia segera menarik Arion ke sana.


Ternyata tempat makan itu ramai akan pembeli. Karina mengedarkan pandangannya, mencari tempat duduk. Ada tempat kosong di pojok. Karina segera memesan dua porsi nasi kalong kemudian duduk di tempat yang kosong. 


"Sayang apa kebersihannya terjamin?" tanya Arion berbisik.


"Hmmm … aku rasa aman-aman saja. Soalnya yang makan juga ramai," jawab Karina melipat kedua tangannya di atas meja. Menunggu pesanan datang.


"Nanti kalau kamu sakit bagaimana?" tanya Arion lagi.


"Bukan kamu yang takut sakit? Tenanglah Arion, semua kualitas makanan di sekitar sini terjamin oleh badan kesehatan kota. Jadi kamu tenang saja, aku dulu sering kemari. Tapi menu ini menurutku masih baru satu tahunan," jelas Karina.


Arion lebih tenang mendengarnya. Karena banyaknya pesanan dan pelanggan, menu pesanan Karina baru tiba sepuluh menit kemudian. Arion menatap ngeri nasi yang berwarna ungu di atas piring.


"Sayang nasinya keracunan ya? Kok ungu sih? Apa ini makanan pelakor yang rambutnya ungu? Yang sering aku lihat di komik online? Kebanyakan warna rambutnya ungu," tanya Arion ngeri. Sedangkan Karina sudah mulai makan melirik Arion.


Karina mulai kembali menyendok nasi kalong dan mengarahkannya ke mulut Arion.


"Makan saja," ujar Karina. Dengan ragu Arion membuka mulutnya dan melahap nasi kalong. 


Mereka segera menyantap makan malamnya, tentu saja saling suap-menyuapi. Setelah makanan di piring meluncur ke lambung masing-masing, Karina dan Arion segera membayar pesanan, melanjutkan perjalanan menuju pasar malam yang sudah di depan mata.


Mereka berkeliling dan mencoba apa saja yang menarik. Terakhir mereka memutuskan naik bianglala. Karina bersandar pada dada Arion, menikmati indahnya rembulan dari atas bianglala. Tampak banyak pergerakan Arion mengam


bil handphonenya dan memotret dirinya bersama Karina dengan pose mencium pucuk kepala Karina. Puas dengan beberapa foto yang ia ambil, Arion kembali menyimpan handphonenya.


Karina kembali membuka matanya, menoleh ke semua arah dengan tatapan tajam. Arion mengernyikan dahinya. 


Karina menatap cukup lama salah satu gedung yang berada di sekitar pasar malam. 


"Ada apa Sayang?" tanya Arion penasaran.


"Hmm … aku ngerasa kayak ada yang mengintai kita," jawab Karina menatap Arion serius.


"Mengintai?" tanya Arion ikut menatap gedung yang Karina tatap. Menajamkan mata melihat apakah ada seseorang di sana. Nyatanya gedung itu sepi tak ada orang. Hanya ada lampu sebagai penerangan agar tak terlalu gelap.


 "Perasaan kamu saja mungkin,"ucap Arion.


Karina melirik ke gedung yang ia curigai. Menarik senyum tipis.

__ADS_1


"Mungkin juga. Perasaan aku sangat sensitif sama suara senjata. Sekecil apapun itu," ujar Karina.


Tak salah dia memang seorang Queen, batin Arion takjub. 


Perlahan Arion menggenggam tangan Karina erat dan mendekatkan wajahnya ke wajah Karina yang masih memandang gedung. Saat Karina menoleh ke arah Arion, otomatis bibir mereka bertemu.


Dengan cepat Arion langsung mencium Karina lebih dalam. Karina memejamkan matanya dan membalas ciuman Arion. Beberapa detik kemudian, Karina menjatuhkan dirinya mendorong Arion agar terlentang di kursi bianglala.


Swosh.


Duang.


Terdengar suara tembakan, seperti sengaja diarahkan kepada Karina dan Arion. Tetapi meleset karena Karina sudah menunduk. Alhasil peluru hanya mengenai besi bianglala. Arion membulatkan mata, suara tembakan sukses membuat para pengunjung pasar malam terkejut dan berhamburan keluar. 


Dor.


Dor.


Dor.


Lagi-lagi tembakan diarahkan ke bianglala. 


"Ahhh … ada yang tertembak," jerit salah seorang wanita yang naik bianglala. Arion berusaha melepaskan ciuman Karina, tempat ini tidak aman. Tetapi Karina malah menahan kepala Arion. Matanya terus terpejam. 


Petugas bianglala segera dengan cepat menurunkan para pengunjung yang naik, satu persatu dari mereka turun. Karina melepaskan ciumannya setelah sampai di bawah. Turun dengan wajah datar dan membuka tas selempangnya.


Arion segera menarik Karina pergi. 


"Tunggu Ar," pinta Karina datar menghentikan langkahnya.


"Mereka mengincarku. Aku akan bertanggung jawab," ucap serius Karina mengeluarkan pistolnya.


"Hah? Sayang ayolah. Ini acara bulan madu kita bukan perang," bujuk Arion. Ia sendiri tak tahu siapa yang menyerang mereka.


Andaikan saja ia yang menyuruh, dalam Black Diamond hanya sedikit yang menjadi sniper ulung, itupun sudah pada tewas lima tahun lalu. Tinggal ia, Sam dan Calvin lah yang menjadi sniper ulung. Artinya ini bukan rencananya, melainkan rencana orang lain. Sam dan Calvin besok baru menyusulnya.


Tapi siapa? batin Arion penuh tanda tanya.


"Jika kau tak mau ikut, silahkan saja lari. Aku akan membunuh sialan itu," desis Karina dingin.


Aku menyerah, batin Arion.


"Oke aku ikut. Aku tak mau mempermalukan Black Diamond di depan Pedang Biru. Bisa habis kamu ledek nanti aku. Tapi aku tak membawa senjata," putus Arion berkacak pinggang. Menatap Karina dengan wajah serius.


Karina membuka tas selempangnya. Mengeluarkan pena pedang laser biru dan memberikannya pada Arion.


"Beruntung dirimu bisa menggunakan pedang laser milikku. Tekan tombol atasnya maka itu akan berubah menjadi pedang laser biru," ucap Karina segera melangkah kan kakinya menuju gedung yang ia lihat sewaktu di bianglala.


Meninggalkan Arion yang masih terbengong dengan pedang laser Karina.


"Ck. Pedang mainan kah? Tapi pakai sajalah. Dari pada aku yang dipotong olehnya," gumam Arion segera menyusul Karina. Mencoba membelah jalan di mana para pengunjung masih panik.


Pihak kepolisian dengan cepat tiba di pasar malam. Mengevakuasi pengunjung yang terluka dan tertembak. Mereka segera menyisir seluruh seluk beluk pasar malam. Mencari hal-hal yang mencurigai dan memeriksa rekaman di sekitar pasar malam. Mengerahkan anjing pelacak memeriksa tempat yang dicurigai. 


 

__ADS_1


Dengan langkah tegas, Karina menaiki tangga gedung itu, cahaya dari pedang laser memberi penerangan di tengah kegelapan. 


Sesampainnya di rooftop, Karina mengedarkan pandangannya. Meneliti setiap sudut yang lumayan terang.


"Tidak ada orang Sayang. Aku rasa dia telah melarikan diri," ujar Arion pelan.


"Hmm … manusia telah pergi tetapi jejaknya pasti ada yang tertinggal sekalipun hanya segumpal debu tapak kakinya," balas Karina berjalan menuju pinggir rooftop yang di pagar oleh besi setinggi satu meter.


"Sayang ada aroma samar kayu manis," imbuh Arion.


Karina menajamkan penciumannya. Karina lantas memegang jam tangannya.


"Markas 07 Kirim pasukan investegasi ke rooftof Budi Collection. Ada yang menyerangku," perintah Karina melalui jam tangannya yang terhubung langsung ke seluruh sistem keamanan Pedang Biru. Markas 07 adalah sebutan untuk markas Pedang Biru di negara A dengan pusat di kota ini.


"Penembak jitu, jenis kelamin wanita, jarang dari sini ke bianglala sekitar 200-250 meter. Aroma kayu manis? Hanya ada satu kelompok dunia bawah yang menggunakannya. Tapi apa masalahnya denganku?" pikir Karina bingung.


"Wanita? Kau yakin?" tanya Arion tak percaya dengan dugaan Karina.


"Hmmm … tadi sewaktu di bianglala, samar aku melihat rambut panjang dengan pakaian serba hitam, penutup wajah dan dari body cukup meyakinkan dia wanita," terang Karina meneliti lantai semen yang dipijaknya.


Arion mengangguk pelan. Tak lama terdengar suara deru baling-baling. Angin kencang menerpa wajah Karina. Arion berdecak kagum. 


Bisakah kau tak pamer di depanku ini, Sayang? ratap Arion dalam hati.


Helikopter mendarat mulus di lantai rooftop. Tak lama keluarlah seorang pria muda dengan kacamata hitam menutupi matanya. Diikuti dengan tiga orang lainnya.


Pria itu dan tiga lainnya menunduk hormat pada Karina. Karina menyilangkan tangannya kesal.


"Lama sekali. Apa perjalanan udara juga macet hah?" ketus Karina membuat mereka berkeringat dingin.


"Maaf Queen," sesal Pria itu.


"Cepat uji tempat ini."titah Karina duduk di kursi yang dibawa oleh bawahannya. Arion juga mendapatkan kursi dan duduk bersebelahan dengan Karina.


Salah seorang bawahannya membawa nampan berisi dua buah gelas dan sebotol wine.


"Silakan Queen," ujarnya dengan hormat.


Mata Arion melotot melihatnya, dengan cepat ia menampik tangan Karina yang hendak mengambil gelas. Karina menoleh ke arah Arion.


"Tidak boleh minum alkohol," larang Arion penuh penekanan. Karina mengerutkan dahinya.


"Mengapa? Aku biasa minum alkohol," tanya Karina tak terima.


"Tidak. Aku bilang gak boleh ya gak boleh," tegas Arion yang sontak membuat bawahannya menaikkan senjata.


"Owh … santai kawan. Aku hanya memperingati istriku," ujar Arion kaget seraya menaikkan tangannya. Ia merasa kini tengah berada di kandang buaya. Karina menaikkan tangannya menyuruh bawahannya menurunkan senjata.


"Ya kenapa gak boleh?" tanya Karina lagi.


"Gak bagus untuk kesehatan kamu. Apalagi rahim kamu. Kan kita janji sama Papa dan Mama dalam satu bulan kamu akan mengandung cucu mereka," terang Arion. Karina mendengus kesal.


"Ganti dengan coklat hangat. Bawa wine itu kembali," titah Karina pada bawahan yang memegang nampan itu.


"Baik Queen," sahutnya segera berbalik.

__ADS_1


"Tunggu. Bawa wine itu padaku. Queen-mu tidak boleh minum tapi aku boleh," tahan Arion membuat bawahan Karina menoleh dan meminta pendapat Karina. Karina mengangguk. 


__ADS_2